"Kamu menghancurkan mimpiku demi ambisimu, dr. Naya. Sekarang, giliran aku yang akan menghancurkan segalanya darimu."
Tujuh tahun lalu, Aksa Dirgantara dibuang secara tak hormat dari fakultas kedokteran akibat sebuah skandal kelam. Ia kehilangan masa depan, harga diri, dan wanita yang paling dicintainya, Naya—yang ia yakini telah memfitnahnya demi merebut satu-satunya kuota beasiswa spesialis bedah ke luar negeri.
Kini, Aksa kembali. Bukan lagi sebagai pria yang bermimpi memakai jas putih, melainkan sebagai CEO miliarder dingin dan tak kenal ampun yang baru saja mengakuisisi rumah sakit tempat Naya bekerja. Niat Aksa hanya satu: menghancurkan karir gemilang Naya yang kini telah sukses menjabat sebagai Kepala Bedah, dan memaksanya berlutut di bawah kakinya.
Siksaan demi siksaan diberikan. Aksa mencekiknya dengan jadwal operasi yang mustahil, tekanan dari para direksi, dan hinaan yang menggores harga diri. Namun, betapapun kerasnya Aksa menyiksa, Naya tetap berdiri tegak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14.Penyesalan Terlambat
"Bawa bajingan ini dari hadapanku sekarang juga, Dimas!" bentak Aksa dengan suara parau yang menggema memekakkan telinga. Tangannya menunjuk tajam Bima yang masih terkapar gemetar di lantai ruang kerjanya sendiri. "Seret dia ke ruang tahanan keamanan bawah tanah! Jangan biarkan dia minum atau duduk sampai polisi datang menjemputnya!"
Dimas mengangguk tegas tanpa banyak bicara. Dua petugas keamanan internal langsung masuk dan meringkus kedua lengan Bima tanpa ampun.
"Lepaskan aku! Pak Aksa, tolong ampuni aku! Aku bisa jelaskan semuanya!" teriak Bima meronta-ronta panik. Wajah pria buncit itu memucat pasi saat diseret paksa. "Naya juga salah! Dia sengaja menyembunyikan ini dari Bapak selama tujuh tahun!"
"Tutup mulut kotor itu!" raung Aksa kalap. Ia menyambar asbak kaca dari meja dan melemparnya kuat-kuat ke arah dinding tepat di sebelah kepala Bima. Prang! Asbak itu hancur berkeping-keping. "Satu kata lagi keluar dari mulutmu, kupotong lidahmu detik ini juga!"
Bima langsung bungkam, menangis ketakutan setengah mati saat tubuhnya diseret menghilang di balik lorong.
Aksa memejamkan mata rapat-rapat. Dadanya naik turun memburu. Ia perlahan menunduk, memungut kertas perjanjian usang yang penuh bercak air mata Naya dari lantai. Tangannya bergetar hebat. Rasa bersalah yang teramat besar menghantam kewarasannya bertubi-tubi tanpa henti.
Semua wajah pucat Naya, rintihan tertahan wanita itu di ruang komite, dan darah segar yang menetes deras dari pergelangan tangannya berkelebat silih berganti menghantui otak Aksa.
"Maafkan aku, Naya. Maafkan aku," rutuk Aksa berulang kali seperti orang gila yang kehilangan akal sehat.
Aksa melipat kertas itu, memasukkannya ke dalam saku jas dalam, lalu berlari keluar ruangan seperti kesetanan.
"Pak Aksa, Bapak mau ke mana?" panggil Dimas dari belakang.
"Urus semuanya di sini! Aku harus mencari Naya!" sahut Aksa tanpa menoleh sedikit pun. Pikirannya cuma satu. Ia harus menemukan Naya, berlutut memohon ampun, dan membawa wanita itu ke rumah sakit bedah saraf terbaik untuk menyelamatkan tangannya.
Langkah panjang Aksa berderap menuruni tangga darurat karena tidak sabar menunggu lift. Ia menerobos pintu lobi utama rumah sakit bagai badai. Hujan badai sedang turun sangat deras di luar, menyapu jalanan dengan angin kencang. Kilat menyambar terang membelah langit gelap.
Aksa berlari menembus hujan tanpa peduli jas mahalnya basah kuyup. Ia melompat masuk ke dalam mobil sport hitamnya, menyalakan mesin, dan langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Ban mobilnya berdecit keras bergesekan dengan aspal basah, melesat meninggalkan pekarangan rumah sakit.
Di dalam mobil, dada Aksa terasa mau pecah. Napasnya memburu cepat. Kaca depannya dihantam air hujan lebat, tapi pandangan Aksa justru dipenuhi bayangan mengerikan dari rumah sakit.
Naya jatuh berlutut, memegangi tangan kanannya yang lumpuh. Wanita itu menatap Aksa dengan kekosongan absolut dan bergumam, 'Kau bukan Aksa yang dulu.'
"Bodoh! Laki-laki bodoh!" umpat Aksa keras. Ia memukul setir mobilnya berulang kali, melampiaskan amarah dan kebencian pada dirinya sendiri.
Naya mengorbankan impian terbesarnya tujuh tahun lalu supaya Aksa tidak membusuk di penjara. Naya menelan semua cacian kotor Aksa, menerima hukuman potong gaji, dan menggantikan jam jaga demi melindungi tim dokter mudanya. Naya bahkan mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan menteri di meja bedah.
Dan apa balasan Aksa? Ia justru berubah menjadi monster tiran yang meremukkan tangan malaikat pelindungnya sendiri.
"Naya, kumohon bertahanlah. Jangan pergi dulu. Izinkan aku menebus semuanya," bisik Aksa dengan bibir bergetar. Air mata penyesalan bercampur dengan keringat dingin membasahi wajah sang CEO.
Mobil Aksa membelah jalanan licin dengan kecepatan mematikan, mengabaikan klakson marah dari pengendara lain. Jantungnya berdetak gila-gilaan. Ketakutan terbesar mulai merayapi tengkuknya. Bagaimana kalau Naya pergi jauh dan tidak mau lagi melihat wajahnya selamanya? Bagaimana kalau tangan Naya benar-benar cacat permanen karena keangkuhannya?
Rem berdecit tajam memekakkan telinga saat mobil Aksa berhenti sembarangan di depan lobi Apartemen Griya Senja. Ia membanting pintu mobil, berlari masuk ke dalam gedung dengan pakaian basah kuyup yang meneteskan air ke lantai lobi.
Aksa menerobos masuk ke dalam lift. Ketegangan membuat detik demi detik terasa seperti berjam-jam. Langkah Aksa lebar dan tergesa menyusuri lorong lantai lima. Napasnya putus-putus saat ia tiba di depan pintu unit bernomor lima ratus dua belas. Pintu apartemen Naya.
Aksa mengangkat tangan, berniat menggedor pintu kayu itu sekeras mungkin. Namun, ujung jarinya menyadari sesuatu yang janggal. Pintu itu sedikit terbuka. Tidak terkunci rapat.
Firasat buruk langsung mencekik leher Aksa dengan sangat kuat. Jantungnya mencelos jatuh ke perut.
"Naya?" panggil Aksa pelan, suaranya bergetar hebat menahan tangis.
Tidak ada jawaban. Sepi. Hanya ada suara hujan deras dari jendela kaca yang dibiarkan terbuka di dalam.
Aksa mendorong pintu itu kasar hingga menabrak dinding. Matanya menyapu sekeliling ruangan depan dengan liar. Kosong. Apartemen kecil itu sunyi senyap.
"Naya! Kamu di mana?! Naya, tolong jawab aku!" teriak Aksa putus asa sambil menggeledah dapur dan kamar mandi. Semuanya kosong. Tidak ada koper di sudut ruangan, tidak ada barang pribadi Naya di meja rias, tidak ada sepatu wanita itu di rak depan. Semuanya bersih tak bersisa seperti tidak pernah dihuni.
Kaki Aksa melangkah gontai, terseret lambat memasuki kamar tidur Naya yang pintunya terbuka lebar. Lemari pakaian di sana sudah terbuka kosong, tidak menyisakan satu potong baju pun.
Pria angkuh itu membeku di ambang pintu. Tatapannya tertuju lurus pada ranjang yang tertata sangat rapi.
Di atas seprai putih bersih itu, tergeletak sebuah jas snelli dokter berwarna putih cemerlang yang sudah dicuci dan disetrika tanpa noda sedikit pun. Itu bukan jas berdarah yang Naya lempar di ruang rapat. Itu adalah jas lama Naya, jas kebanggaan wanita itu saat pertama kali disumpah menjadi dokter bersama Aksa tujuh tahun lalu.
Tepat di atas dada jas putih kosong itu, tergeletak kunci apartemen dan kartu akses rumah sakit yang ditinggalkan begitu saja. Aksa mendobrak masuk terlalu lambat. Wanita yang ingin ia dekap erat dan ia mintai ampunan itu sudah pergi tanpa jejak, meninggalkannya sendirian terperosok dalam jurang kehampaan.
si bima jgn sampe kluar lagi dr penjara ,, biarin bocah tantrum tu duduk manis di penjara selama-lamanya 😏
koq gx ngundang2🤔
pijat aja semua...obatin aja...kalo perlu operasi jg sendiri...dokter lain mah cm remahan peyek...serah lu dah...gw yg cm baca tapi pengen nyakar lu Aksa 😤
mau liat Naya cepat sembuh gx ,, cemburu ny simpan dlu di kantong celana pak bos ,,
..yg bikin kek gini sapa cobak??? trus skrg butuh tenaga fisioterapi msh jg dicemburuin??? mau kau apa Bambang???😤😤😤
cerita ny seruuu ,,
semoga Naya bisa sembuh lgi tangan ny ,,
lanjuuut kak