NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Konflik etika / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

‎Anindya duduk di meja kerjanya yang baru di lantai tiga puluh. Komputer belum dinyalakan. Papan nama akrilik bening di atas mejanya bertuliskan SEKRETARIS EKSEKUTIF — tulisan itu sederhana, namun terasa berat menekan dadanya.

‎‎Pintu ruangan kerja terbuka. Hansen melangkah keluar.

‎‎"Anindya. Silakan masuk ke ruang Tuan Reynand."

‎‎Anindya menarik napas sejenak, lalu berdiri dan melangkah masuk. Di dalam ruangan yang luas itu, Reynand berdiri membelakangi pintu, menatap ke luar jendela kaca besar yang memandang ke hamparan kota. Di atas meja marmernya, sebuah map berwarna merah tebal tergeletak rapi.

‎‎"Selamat pagi, Pak," ucap Anindya sopan.

‎‎Reynand berbalik perlahan. Tatapannya lurus menatap ke arahnya, tanpa berkedip sedikit pun.

‎‎"Duduk," ucapnya singkat.

‎‎Anindya duduk di kursi di seberang meja. Jantungnya berpacu cepat, tangan di pangkuan saling meremas karena gugup.

‎"Ini tugas pertamamu," kata Reynand. Ia mendorong map merah itu perlahan ke arahnya. "Antarkan dokumen ini ke mansion, tepat ke tangan Nyonya Gisella."

‎‎Anindya menatap sampul map itu. Tulisan yang tertera di sana membuatnya nyaris berhenti bernapas.

‎‎SURAT GUGATAN CERAI

‎‎Darah seakan berdesir pelan di tubuhnya.

‎‎"Ehm... Pak," suaranya terdengar pelan namun berusaha tegas. "Mohon maaf sebelumnya. Bukankah tugas seorang sekretaris pribadi itu menjadwalkan rapat, mengetik surat-menyurat, dan menyiapkan dokumen pekerjaan?"

‎‎Ia mengangkat wajah, memberanikan diri menatap sekilas ke arahnya.

‎‎"Mengantar surat gugatan cerai... bukankah tugas demikian biasanya dilakukan oleh kurir, Pak?"

‎‎Ruangan itu hening sejenak.

‎‎Reynand menatapnya dalam waktu yang cukup lama. Tatapannya tajam dan meneliti, namun tidak terlihat tanda kemarahan.

‎‎"Kamu benar," ucap Reynand pelan namun jelas. "Itu bukan tugas seorang sekretaris."

‎‎Anindya menghela napas lega, bahunya sedikit merosot ke bawah.

‎‎"Tetapi," lanjut Reynand, nada bicaranya menurun dan terdengar lebih serius. "Saya tidak mempercayai siapa pun di perusahaan ini untuk mengantar dokumen tersebut. Kecuali orang yang baru saja saya kenal hari ini."

‎‎Ia berjalan memutar meja kerjanya, berhenti berdiri tepat di depan Anindya.

‎‎"Karena kamu belum memiliki kepentingan apa pun dengan siapa pun di sini. Termasuk dengan dia."

‎‎Anindya menundukkan pandangan. Wajahnya terasa panas membara.

‎‎"Jadi?" tanya Reynand menunggu jawaban. "Kamu bersedia, atau tidak?"

‎‎Anindya mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Bayangan pesan rumah sakit kemarin sore terlintas kembali di benaknya. Bayangan wajah ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Ia tidak boleh kehilangan pekerjaan ini.

‎‎Ia menarik napas panjang, lalu mendongak dengan tekad yang bulat.

‎‎"Saya bersedia, Pak."

‎‎Reynand mengangguk sekali, seakan sudah menduga jawaban itu.

‎‎"Baik. Hansen akan mengantarmu ke sana. Kamu yang masuk dan menyerahkannya langsung ke tangan Nyonya Gisella. Jangan titipkan pada siapa pun."

‎‎-

‎‎-

‎‎-

‎‎Map merah itu tergeletak di pangkuannya, terasa seberat batu yang menekan dada. Jendela mobil sedikit terbuka, angin pagi yang sejuk menyelinap masuk, namun tidak mampu mendinginkan kegelisahan yang menjalar di seluruh tubuh Anindya. Hansen menyetir dengan tenang, mobil melaju mulus membelah jalanan ibu kota yang mulai padat oleh kendaraan pagi hari. Dua puluh menit perjalanan terasa seperti berjam-jam bagi Anindya yang duduk diam memikirkan apa yang akan terjadi sesampainya di sana.

‎‎"Tadi di ruangan Tuan Reynand, kenapa menanyakan hal itu?" tanya Hansen tiba-tiba, memecah keheningan di dalam kabin.

‎Anindya tersenyum kecut, matanya masih menatap ke luar jendela pada gedung-gedung yang berlalu lalang.

‎‎"Saya hanya... kaget, Pak. Hari pertama bekerja, tugas pertama yang diberikan justru seperti ini. Saya pikir akan diminta menyusun jadwal atau mengetik laporan, bukan mengantar dokumen yang begitu sensitif."

‎‎Hansen mengangguk pelan, matanya tetap menatap jalanan di depan.

‎‎"Hati-hati saja saat bertemu Nyonya Gisella," pesannya dengan nada peringatan yang halus namun serius. "Beliau bukanlah orang yang sabar, apalagi jika menyangkut hal-hal yang menyentuh urusan rumah tangga dan keputusan besar seperti ini. Bersikaplah sopan, jangan banyak menanggapi jika beliau mulai marah."

‎Anindya mengangguk paham, meremas kedua tangannya di atas paha untuk menenangkan diri.

‎‎"Baik, terima kasih peringatannya, Pak Hansen."

Tak lama kemudian, mobil berbelok masuk ke kawasan perumahan elit yang tenang dan asri, lalu berhenti tepat di depan gerbang besi hitam tinggi. Di baliknya berdiri rumah besar bergaya klasik Eropa. Megah, dengan pilar-pilar putih menjulang. Namun semua jendelanya tertutup rapat tirai, membuatnya tampak dingin dan menolak siapa pun untuk masuk.

‎Anindya turun dari mobil dengan map merah itu masih tergenggam erat. Pintu utama terbuka sebelum ia sempat menekan tombol bel, dan ia dipersilakan masuk oleh pelayan. Pelayan itu menunduk, tidak berani menatap matanya.

‎‎Ruang tamu itu luas dan terasa sejuk dingin. Dominasi warna putih bersih dan perabotan berlapis emas terlihat sangat mewah, namun tidak memancarkan kehangatan sedikit pun. Anindya berdiri di dekat tengah ruangan, menunggu dengan hati yang berdebar semakin kencang.

‎‎Tak lama berselang, suara langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat, berdentang keras dan berirama di atas lantai marmer yang mengkilap.

‎‎Gisella muncul dari arah lorong dalam. Gaun berwarna merah menyala yang dikenakannya senada dengan warna map yang dipegang Anindya. Di tangannya masih tergenggam gelas berisi minuman anggur yang belum tersentuh banyak. Ia berhenti beberapa langkah di depan Anindya, matanya menelisik perlahan dari ujung kepala hingga ujung kaki wanita itu dengan tatapan yang tajam dan tidak ramah.

‎‎"Jadi kamu sekretaris barunya?" suaranya terdengar datar, disertai nada sinis yang samar.

‎‎Anindya sedikit membungkuk sopan, berusaha tetap tenang meski merasa sangat tidak nyaman diperhatikan sedemikian rupa.

‎‎"Selamat siang, Nyonya. Nama saya Anindya. Saya diutus oleh Pak Reynand untuk mengantarkan dokumen ini."

‎Ia menyodorkan map merah itu dengan kedua tangan, gerakannya sopan dan hati-hati.

Gisella mengambilnya dengan satu tangan, meletakkan gelas anggur di atas meja marmer dengan kasar hingga isinya hampir tumpah. Tanpa ragu ia membuka sampul map itu dengan gerakan cepat, lalu membaca isinya sekilas. Detik berikutnya wajahnya berubah seketika, pucat lalu memerah padam karena menahan amarah yang meledak.

‎‎"SURAT GUGATAN CERAI?!"

‎‎Suaranya meninggi hingga menggema di ruangan yang luas itu. Dengan gerakan kasar, ia membanting map itu ke meja marmer di sampingnya hingga berbunyi keras. Lembaran-lembaran kertas di dalamnya terlempar ke mana-mana, sebagian disobek kasar oleh tangannya yang gemetar karena kemarahan.

‎‎"Kurang ajar!" bentaknya keras, mata menyala penuh api kemarahan. "Tiga tahun! Tiga tahun kami menikah, dan dia pikir semuanya bisa diakhiri begitu saja dengan selembar surat ini?!"

‎‎Anindya mundur selangkah, terkejut melihat ledakan emosi yang begitu hebat.

‎‎"Nyonya... saya hanya diperintahkan untuk mengantarkan dokumen ini," ucapnya pelan dan hati-hati, berusaha menjelaskan posisinya yang lemah dan tidak bersalah. "Saya tidak tahu isinya..."

‎‎Gisella menoleh tajam ke arahnya, menatap dengan pandangan penuh kecurigaan.

‎‎"Kamu siapa sebenarnya? Jangan-jangan ini semua sudah direncanakan sejak lama oleh kalian berdua, bukan?"

‎‎Darah Anindya serasa berhenti mengalir. "Saya Anindya, Nyonya. Saya baru mulai bekerja hari ini sebagai sekretaris Pak Reynand. Saya tidak tahu apa-apa mengenai urusan rumah tangga Bapak dan Nyonya."

‎‎Gisella tertawa pendek dan sinis, suara tawanya terdengar getir dan penuh ketidakpercayaan.

‎‎"Hari pertama bekerja. Hebat sekali. Baru hari pertama sudah dipercaya mengantar dokumen yang begitu rahasia dan penting. Benar-benar luar biasa."

‎‎Ia menunjuk pintu keluar dengan gerakan tangan yang masih gemetar menahan amarah.

‎‎"Sampaikan pesanku pada Reynand. Katakan padanya, aku tidak akan menandatangani surat cerai ini, apa pun alasannya! Katakan, jangan bermimpi bisa melepaskan diri dari pernikahan ini dengan mudah. Aku tidak akan membiarkannya menang begitu saja. Sekarang... keluar dari rumahku! Dan jangan pernah kirim orang lain dengan surat serupa lagi!"

‎Anindya membungkuk terakhir kali. Map yang berserakan di lantai ia biarkan. Dengan langkah gemetar ia berbalik dan keluar, sementara di belakangnya suara pecahan kaca terdengar, Gisella melempar gelas anggurnya ke dinding.

"BAJINGAN KAU REYNAND!! AWAS SAJA KAU!"

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
erai kan gak harus kedua belah pihak setuju
〈⎳ FT. Zira
ancamanya aja yg gak efisien🤧
〈⎳ FT. Zira
sebutannya tetep pelakor ya walau mereka saling suka dan terjebak keadaan.. mulut netizen kan emng paling bener🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
Rey sih gak bakal mundur nin
Bunda HB
bu lady yg trhormat ank mu tdr dgn pria lain yg bernama Gavin .di namakan istri gatal...makanya di cerai sama suami nya 😅😅
🔥Violetta🔥: Astaga 🤣🤣 lady Gaga 🤭🤣✌️
total 1 replies
Fay
Kutunggu lanjutannya thor biar semangat ku kasi vote deh💪💪
🔥Violetta🔥: Wah terimakasih banyak kakak 🙏😘
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
ehh... gak bisa komen.. lagi revisi katanya🤧🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
dirimu punya hak apa nglarang, suami bukan/Slight//Slight/
〈⎳ FT. Zira
anakmu yg nyosor duluan loh nyonyaaa
〈⎳ FT. Zira
sengaja banget ngasih terapi jantung yak🤧
🍓ADIRA🍓
Ayooo cari tau Rey... 🧐
🍓ADIRA🍓
sepertinya si binik sama kekasih gelapnya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
yg salah y statusnya Reynand 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
MBOK YA JANGAN LANGSUNG PLAK TOH BUK 😎 TANYA DULU BAEK-BAEK GTU LOH 😠
🍓ADIRA🍓
iya iya yg lgi lope lope dah /Heart/🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Terbawa perasaan sesaat??? plis deh ya buk 😎 Reynand itu bukan anak 17 tahun lagi loh 🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️
🍓ADIRA🍓
maap sya klarifikasi y nyonya... anakmu itu loh yg demen ambil kesempatan dalam kesempitan dluan 😂😂😂🤣🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk calon besan tak boleh galak^ loh NyoMar 😂😂😂
kymlove...
beresin dulu aja ray hubungan mu sama gisella... cari taulah tentang gisella biar kamu tau keburukkan gisella, jadi jika beneran cerai km punya alasan yg kuat. untuk menggugat... biar semua tidak menyalahkan anindya jadi pihak ketiga terus...
kymlove...
hadeh.... udah ketebak pasti bakalan nyalahin nindya.... tapi ibuuuu..... kalau nindya pergi siapa. yang bakalan nanggung pengobatan mu!!!! mbok ya tolong jangan cuma lihat jeleknya aja!!! emang anak ibuuu jg mau terjebak sm. suami orang!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!