Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rania, Galang & Zidan
Drttt...
"Siapa, sih? Ganggu banget, nggak tahu apa gue lagi menikmati hidup?" keluh Rania sambil meraih ponselnya yang berada di nakas.
"Galang?" gumam Rania membaca ID si penelepon. "Mau apa dia di jam sekolah?"
Firasat Rania mendadak tak enak. Hufftttt....
Dia segera mengangkat panggilan telepon dari keponakannya itu.
"Apa? Kenapa? Ngapain? Harusnya sekolah, kan? Emang udah jam istirahat? Kamu bolos lagi? Iya? Hah?" Cerocos Rania menjawab panggilan telepon dari keponakannya itu.
Terdengar helaan napas dari seberang sana, "Tanteku yang cantik jelita, manjalita, sejagat raya, jangan marah-marah nanti butuh krim anti aging, tahu." respon Galang, bikin emosi.
Rania memutar mata malas, "Udah, gak usah banyak nye-nye kamu. Ngapain nelepon tante jam segini?" tanya Rania tak sabaran. Lagipula tak mungkin keponakannya itu menelepon hanya untuk basa-basi.
"Itu hmm.... bisa nggak tante ke sekolah Galang sekarang?" tanya Galang, lirih.
"KAMU NGAPAIN LAGI, GALANG?!" Suara Rania langsung naik satu oktaf. Tidak salah lagi, Galang pasti berulah kalau sampai ia dipanggil ke sekolah.
"Tante, ini tuh urgent banget. Nanti aja marah-marahnya, ya, ya?" bujuk Galang, nada suaranya terdengar merayu.
Rania menghela napas panjang, "Tante lagi males, nih. Kamu selesein sendiri ya masalahmu." jawab Rania tapi dia turun dari tempat tidur.
"Ih, kok gitu?" protes Galang, "Masa tega sama keponakan? Tante lupa? Aku ini keponakan kesayangan tante?"
"Emang iya? Lupa tuh, kamu bukannya anak pungut, ya?" balas Rania, terdengar mengejek.
"Sejuta. Galang bayar sejuta, cash. Buruan tante ke sini!" Tegas Galang.
"Sejuta buat bensin seminggu juga nggak cukup, Galang." balas Rania, seolah penawaran Galang kurang. Padahal dia sudah membuka lemarinya memilih baju yang pantas untuk dikenakan ke sekolah Galang.
"Sejuta lima ratus, udah mentok. Cepetan ke sini!"
Rania bersorak dalam hati. Senang. Kapan lagi dia bisa morotin keponakan tajirnya itu. "Oke tante ke san---." Tut..tut...
"Lah dimatiin?" Kekeh Rania sambil menatap layar ponselnya. Perempuan 25 tahun itu langsung terkikik geli. Rania Arabella Pradipta selama ini tinggal dengan keponakannya, Galang. Ibu kandung Galang tinggal di luar negeri.
Tiga puluh menit kemudian Rania tiba di sekolah Galang. Salah satu SMA Populer di Jakarta. Dia memarkir mobilnya dengan rapi di parkiran khusus tamu. Sebelum keluar dari mobil, ia menelepon Galang.
"Tante udah di parkiran, nih. Kamu di mana?" tanya Rania, tanpa basa-basi.
"Tungguin bentar." jawab Galang, lalu panggilan telepon terputus.
Rania bisa melihat Galang berjalan ke arahnya dengan Zidan, sahabat baiknya. Namun, ada yang bikin Rania salah fokus. Wajah Zidan. Seperti habis dipukul.
Segera Rania turun dari mobil begitu Galang dan Zidan mendekat. "Ngapain suruh tante datang?" tanya Rania cepat. Dia mengalihkan tatapan ke Zidan. "Kamu juga kenapa lagi, Zidan? Habis baku hantam sama siapa?" selidik Rania.
"Tan, kita lagi butuh banget bantuan." sela Galang cepat, mendekat pada Rania.
Rania mengangguk santai, "Tau, kok. Kamu mau minta tante jadi walimu, kan? Ayo temui wali kelas kamu. Kesalahan apa lagi yang kamu buat hari ini." katanya sambil merangkul bahu Galang.
Namun, Galang menjauh cepat, "Bukan aku, Tan."
"Bukan kamu? Lah terus?" tanya Rania bingung.
"Aku yang butuh." sahut Zidan mengalihkan tatapan Rania berganti padanya. "Aku akan bayar tante mahal."
"Berapa?" tanya Rania, tertarik. Duit, duit, duit. Dia suka duit.
"Lima juta." jawab Zidan. "Tante cuma butuh pura-pura jadi calon mommyku aja. Ketemu wali kelas dan beresin masalahku hari ini." tambahnya cepat.
Rania mengerutkan dahi, agak curiga. "Memang kamu hari ini bikin ulah apa?"
Galang melangkah cepat ke sebelah Rania dan berbisik, "Dia abis nendang motor di parkiran sampai ambruk semua. Makanya butuh wali buat ngadep BK."
Rania agak melotot kecil mendengarnya, "Nendang itu Bola, Zidan. Bukan motor. Kayak banyak duit aja kamu buat ganti rugi." cibir Rania.
"Aku emang banyak duit, Tan." jawabnya angkuh.
"Duit bapakmu kali." ralat Rania.
"Nggak, duitku sendiri." bantah Zidan tak terima.
Rania mengangguk-anggukkan kepala, "Iyain aja, deh."
"Beneran." kata Zidan, haus validasi.
"Ya, ya. Kamu si paling banyak duitnya. Yaudah sana panggil orang tua kamu, Zidan. Ngapain malah minta bantuan tante?" tanya Rania sambil menggeleng kecil.
"Aku nggak punya orang tua." jawab Zidan, datar.
"Kamu yatim piatu? Sama dong, kita." Kan, malah jadi adu nasib.
"Hiss...Dia masih punya Daddy." sahut Galang informatif.
"Ya berarti panggil Bapakmu itu." Suruh Rania.
"Daddy nya di luar negeri." lagi-lagi Galang yang menjawab.
"Panggil nenekmu. Di luar negeri juga?" tanya Rania, serius.
"Neneknya nggak akan mau." Galang lagi, Galang lagi yang menjawab.
"Kenapa? Nenekmu udah tua banget?" Rania malah kayak detektif.
"Neneknya nggak peduli." Si Galang gercep banget jadi jubir Zidan.
"Kok gitu?" Heran Rania.
"Karena aku cucu haram." kali ini bukan Galang tapi Zidan yang menjawab. Jawaban yang langsung membuat Galang dan Rania terdiam.
Hening untuk beberapa saat.
"Tan, bantuinlah." desak Galang, sambil merangkul manja lengan tantenya.
"Aku tambah satu juta." kata Zidan menimpali. "Emang tante nggak kasihan sama anak haram ini?" Zidan langsung bertingkah sok memelas.
Rania menghela napas panjang, "Yaudah, tapi sekali ini saja." jawab Rania yang jujur saja merasa kasihan.
"Oke." Zidan mengangguk cepat.
Begitulah awal mula Zidan menjadi pengikut Rania sama seperti Galang. Mereka selalu saja membuat Rania membereskan semua masalah mereka dengan embel-embel wali.
Beberapa minggu kemudian.
"Udah dibilangin gak usah sok jadi jagoan masih aja betingkah. Gini 'kan jadinya bonyok kalian." omel Rania sambil mengobati lebam di wajah Galang dan Zidan.
"Kalau kali ini serius bukan salah kita, Tan. Kita mau ke lapangan basket tapi ada orang tawuran. Kita gak tahu apa-apa ikut dipukul." jawab Galang membela diri.
"Halah, basi. Tante nggak akan ya percaya sama kamu." ujar Rania menggelengkan kepala.
"Nyatanya kita pulang, Tan. Yang salah dibawa ke polsek, tuh. Tante cek aja ke polsek kalau nggak percaya." kata Zidan, ikut membela diri.
"Iya, percaya." Rania selesai mengobati keduanya. "Udah, tante mau keluar. Kalian makan habis ini, tante udah masak tadi." Kata Rania sambil merapikan kotak P3K yang tadi dibawanya.
"Aku mau pulang aja, Tan. Adikku hari ini pulang dari Bandung." ucap Zidan yang masih memiliki adik kecil berusia lima tahun.
Rania mengangguk, "Terus kamu, Lang? Mau ikut tante apa di rumah sendiri?"
"Aku di rumah aja, Tan. Mama mau vc nanti." jawabnya.
Lagi, Rania mengangguk, "Titip pesen bilangin ke mama-mu, untuk nggak lupa transfer tante, ya!"
"Iya, giliran duit aja tante semangat." cebik Galang. Dia memang hanya tinggal bersama tantenya karena mama-nya tinggal di luar negeri untuk bekerja sementara papanya sudah meninggal.
Hiiii bantu up dan share yah gaes