NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

🔥CRAZY UP🔥

Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.

Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.

Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Jumat pagi, 17 Oktober, telepon berbunyi saat kopi instan Alina masih terlalu panas untuk diminum. Nama yang muncul bukan Adrian dan bukan Dimas. Gita Ramadhani. Reporter ArusBisnis yang sudah lama meliput Mahendra, dan yang nomornya tersimpan dari kontak lama, dari masa Alina masih menawari siapa saja yang mau mendengar versi selain versi resmi.

Alina tidak mengangkat. Dering berhenti. Pesan masuk beberapa detik kemudian.

“Saya dengar ada kebocoran di data room akuisisi Pesisir. Kalau Anda punya sudut, saya siap dengar. Off the record.”

Alina membaca pesan itu dua kali. Off the record adalah janji yang mudah ditulis dan sulit ditarik kembali setelah kalimatnya sudah pindah ke catatan orang lain. Ia meletakkan ponsel di meja lipat, di samping coretan 12,4 dan 18,9, lalu mencuci cangkir yang sebenarnya belum ia pakai. Airnya mengalir terlalu lama.

Ketika ia duduk lagi, jari-jarinya sudah membuka balasan. Dua kalimat terbentuk sebelum ia sempat menamai itu sebagai keputusan.

“Ringkasan dan lampiran tidak sama. Ada vendor historis yang digeser, dan salah satunya masih hidup di draf.”

Nama Lazuardi belum ia ketik. Angkanya juga belum. Tapi dua kalimat itu sudah cukup untuk menunjukkan arah. Ia menatap layar. Kalau pesan ini terkirim, Adrian akan menutup semua pintu yang baru saja terbuka kemarin. Jejak yang masih berupa penahan di draf bisa hilang pada sore yang sama, dan yang tersisa hanya gosip yang tidak bisa ia buktikan.

Ia menghapus draf sampai kotak balasan kosong. Pesan Gita tetap ada. Alina tidak membalas. Ia membalik ponsel, layar menghadap meja, dan membuka buku catatannya tanpa menulis apa pun selama beberapa menit.

Gelisah itu tidak pergi hanya karena jempolnya berhenti. Siang hari ia berjalan sampai ujung gang dan kembali lagi. Sekali ia mengambil ponsel, membaca pesan yang sama, lalu meletakkannya tanpa mengetik. Hampir, pada hari seperti ini, terasa lebih dekat daripada tidak.

Ia membuka buku tabungan yang fotokopinya sudah pernah ia letakkan di meja netral. Halaman-halaman itu tidak berubah sejak ia menunjukkannya. Tidak ada aliran besar yang masuk ke rekening ayahnya. Fakta itu benar, dan justru karena benar ia ingin ada orang di luar Menara yang mencatatnya. Gita bisa menjadi orang itu. Gita juga bisa menjadi alasan semua salinan di dalam gedung ditutup sebelum Alina sempat mencocokkan satu baris lagi.

Alina memasukkan fotokopi itu kembali ke amplop cokelat. Ia tidak memotretnya. Ia tidak melampirkan apa pun. Di luar, sepeda motor lewat. Di dalam, pesan yang tidak dibalas tetap terbuka seperti pintu yang ia sendiri belum dikunci.

Panggilan dari Sari masuk pukul tiga. Satu kalimat, efisien, tanpa penjelasan di telepon. “Mbak Alina diminta ke ruang baca terbatas sore ini. Pak Dimas menunggu di lobi. Bawa identitas. Jangan bawa salinan apa pun.”

Alina berangkat dengan tas yang isinya pena, buku catatan kosong untuk halaman hari ini, dan dompet. Amplop cokelat ia tinggalkan di studio, di dalam lemari, di balik pintu yang biasa ia pakai sebagai papan. Di taksi ia hampir membuka pesan Gita lagi, hanya untuk memastikan ia tidak salah ingat kata “off the record”. Ia tidak membuka. Kalau ada yang nanti menanyakan isi pesan, ia ingin menjawab dari ingatan yang sudah ia putuskan untuk tidak dipelihara.

Sore itu lobi Menara lebih ramai daripada pagi kemarin. Alina menunggu di sisi yang tidak menghalangi antrean karyawan. Dimas turun tepat waktu, tidak tersenyum, dan tidak bertanya apakah ia membalas. Mereka naik ke lantai tiga puluh. Bukan ke lantai tiga puluh dua.

Adrian sudah ada di dalam ruang baca terbatas. Jasnya sama seperti kemarin. Cara ia meletakkan pena di atas meja tidak sama. Pena itu tidak sejajar dengan tepi map.

“Gita Ramadhani menghubungi Anda,” kata Adrian, tanpa basa-basi. “Saya tahu karena tim hukum memantau beberapa kontak yang biasa dipakai media untuk fishing. Nomor Anda masuk daftar sejak identitas Anda dibuka. Pagi ini kontak Gita mengirim pesan ke nomor itu. Saat tim hukum meneleponnya, dia bilang orang di ujung sana sempat mengetik lalu berhenti. Anda hampir membalas.”

Alina tidak menyangkal. “Saya hampir. Saya tidak jadi.”

“Hampir sudah cukup untuk membuat saya mempertanyakan apakah Anda masih bisa dikendalikan atau tidak.” Adrian tidak mengangkat suara. Kalimatnya hanya menjadi lebih pendek. “Kalau setengah informasi yang Anda pegang keluar ke media sekarang, Aruna akan mundur, Vanya akan naik, dan angka yang kita berdua lihat akan jadi bahan gosip, bukan bahan perbaikan.”

“Saya tidak membocorkan.”

“Saya tahu.” Adrian mengetuk laporan setebal beberapa halaman yang belum ia buka penuh. “Karena saya sudah meminta tim hukum menghubungi Gita dan memberitahu bahwa rumor itu tidak berdasar dan bisa berujung tuntutan jika diteruskan tanpa bukti. Dia mundur untuk sementara.”

Alina menatap laporan itu, lalu menatapnya. “Anda mematikan dari sisi Anda.”

“Saya mematikan karena kita berdua hampir membakar bukti yang sama.” Adrian menarik napas sekali, bukan untuk berpidato. “Anda hampir lewat media. Saya hampir lewat kepanikan deal. Pagi ini, sebelum Yusuf menelepon, saya sudah menyiapkan instruksi untuk Oscar. Satu kalimat. Cabut baris Lazuardi dari draf yang akan dilihat siapa pun di luar ruangan ini. Dimas yang menahan pena saya. Keduanya sama-sama merusak.”

Dimas duduk di sudut, buku catatan terbuka, dan tidak menambahkan cerita. Ia hanya mengangguk sekali ketika namanya disebut, kemudian kembali mencatat.

Ruangan itu tidak besar. Monitor di meja samping mati. Kerai jendela turun. Tidak ada orang lain yang bisa mendengar bahwa Direktur Utama hampir menghapus jejak yang kemarin ia janjikan tidak akan dihapus, dan bahwa perempuan di hadapannya hampir mengirim dua kalimat yang bisa membuat penghapusan itu terasa masuk akal.

Alina menunjuk monitor. “Nyalakan. Saya ingin melihat barisnya masih di tempat yang sama sebelum kita bicara soal kendali.”

Dimas menyalakan layar. Penahan yang kemarin ia lihat masih ada. PT Lazuardi Mitra Logistik tidak berpindah ke daftar selesai. Angka di lampiran tidak menyusut. Adrian tidak berkomentar selama Alina membaca. Ketika Alina mengangguk, Dimas mematikan lagi.

“Masih ada,” kata Alina. “Hari ini. Saya tidak tahu besok, kalau panik Anda lebih cepat daripada pena Dimas.”

“Itu sebabnya ada syarat,” jawab Adrian.

“Mulai sekarang,” kata Adrian, “setiap kontak media yang masuk ke Anda terkait Mahendra, teruskan ke Dimas dulu. Bukan karena saya tidak percaya Anda bisa menahan diri, tapi karena hampir sudah terjadi sekali.”

Alina tidak langsung menjawab. Ia memikirkan pesan yang masih ada di ponselnya, dan instruksi yang hampir keluar dari meja ini. Keduanya tidak terjadi. Keduanya sempat punya jari di atas tombol.

“Baik,” katanya. “Tapi syarat yang sama berlaku untuk Anda. Kalau Anda membersihkan jejak Lazuardi tanpa saya tahu, saya anggap Anda yang membakar.”

“Deal.”

Mereka tidak berjabat tangan. Hanya saling mengangguk. Yusuf tidak dipanggil ke ruangan itu. Cukup laporannya berada di meja, dengan kalimat yang sudah disampaikan ke Gita dan catatan bahwa tidak ada bukti yang diserahkan reporter kepada tim hukum. Adrian tidak meminta Alina menyerahkan ponsel. Alina tidak meminta salinan laporan.

“Pesan itu jangan Anda simpan sebagai cadangan,” kata Adrian. “Kalau suatu hari orang membuka ponsel Anda, setengah niat tetap bisa dibaca sebagai niat.”

“Saya akan menghapusnya.” Alina berdiri. “Dan instruksi yang hampir Anda kirim ke Oscar jangan Anda simpan sebagai pilihan yang bisa dihidupkan besok pagi.”

“Tidak akan.”

Dimas menutup buku. Di lift ia hanya berkata, “Kalau Gita menghubungi lagi, teruskan ke saya sebelum Anda membuka balasan. Bahkan kalau balasannya cuma ‘tidak’.”

“Saya mengerti.”

Di lobi, sebelum keluar, Alina berhenti di dekat gerbang QR. “Kalau tim hukum menahan Gita dengan ancaman tuntutan, rumor itu tidak mati. Hanya pindah tempat. Orang yang takut dituntut akan mencari sumber lain.”

“Makanya pesan berikutnya tidak boleh lahir dari ponsel Anda,” kata Dimas. Analoginya pelan, seperti orang yang menutup keran yang baru saja hampir luput. “Satu tetes sudah cukup untuk membuat orang mengira baknya bocor.”

Alina menerima itu tanpa berterima kasih. Ini bukan bantuan. Ini batas yang baru saja mereka bagi dua.

Malam itu, di studio, Alina membuka percakapan Gita dan menghapusnya. Tidak ada draf yang tertinggal. Ia mengecek folder terhapus dan mengosongkannya juga. Buku catatan tidak ia isi dengan isi pesan. Cukup satu baris: ia hampir mengirim, dan ia tidak mengirim. Lampu tangga masih mati ketika ia turun untuk membuang kantong kopi. Ia naik lagi tanpa menyalakan grup keluarga. Ibu di Bandung tidak perlu mendengar nama Gita malam ini.

Di Menara, Adrian mengarsipkan laporan tim hukum ke map yang sama dengan catatan penahan draf. Instruksi yang sempat ia ketik untuk Oscar ia hapus dari draf surel tanpa pernah menekan kirim. Nama Lazuardi tetap di versi yang dikunci sore kemarin. Tidak bersih. Tidak selesai. Hanya ditahan.

Keduanya hampir kehilangan kendali pada hari yang sama, dan keduanya memilih menahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!