**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**
Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.
Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.
Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 rumor pasangan beda ras
Kurang dari seminggu kemudian, kediaman Altres akhirnya terlihat di balik gerbang kota Brune. Sebuah kereta kuda sudah menunggu mereka sejak di ujung jalan masuk, dan perjalanan terakhir itu berlangsung tenang di bawah langit sore yang kemerahan. Begitu roda kereta berhenti di halaman depan, Reynan sudah berdiri di sana dengan punggung tegak dan senyum yang ia tahan agar tetap sopan. Ajudan itu membungkuk dalam-dalam. "Selamat datang kembali, Tuan. Hamba lega Anda dan Nyonya tiba dengan selamat," ucapnya dengan suara yang tak mampu menyembunyikan kelegaan. Altres hanya mengangguk singkat, matanya sekilas menyapu halaman yang sudah beberapa hari ditinggalkannya untuk memastikan semuanya masih berada di tempat semula, lalu turun dari kereta dan tanpa banyak bicara mengangkat Veronica ke dalam gendongannya, membuat wanita itu menggerutu pelan sambil berpegangan pada bahunya.
"Aku bisa berjalan sendiri," protes Veronica dengan pipi menggembung.
"Dengan perut penuh emas?" Altres menjawab datar tanpa menurunkan pandangannya dari jalan di depan. "Kau akan merangkak sebelum sampai ke pintu."
Ia melangkah menuju gudang harta keluarga Vanguard, melewati para pelayan yang berhenti bekerja untuk menatap mereka dengan mata membulat. Beberapa di antaranya buru-buru menunduk ketika Altres melirik, tetapi bisik-bisik kecil tetap terdengar dari balik pilar-pilar bangunan, dan Veronica yang menyadarinya hanya menyembunyikan wajah di bahu suaminya dengan telinga memerah. Namun di depan pintu besi gudang yang dingin dan berat, langkahnya terhenti begitu saja, seperti seseorang yang baru teringat bahwa ia lupa membawa sesuatu yang sangat penting. Alisnya berkerut ketika ia menatap wanita di dalam pelukannya, lalu menurunkan nada suaranya seolah baru menyadari sebuah masalah besar. "Apakah emas di dalam tubuhmu bisa dikeluarkan dalam wujud manusia seperti sekarang?" Veronica mengerjap, lalu menggeleng pelan sambil menyandarkan kepalanya di dada Altres dengan mata setengah terpejam karena lelah. "Mustahil," gumamnya. "Semua harta itu tersimpan di perut naga, bukan di tubuh manusia yang kupakai sekarang."
"Kalau begitu kita butuh tempat yang luas," gumam Altres sambil berbalik arah.
Ia membawa Veronica ke halaman belakang yang terbentang lapang, tempat yang biasa dipakai untuk latihan para kesatria. Altres menurunkannya perlahan di atas rumput, lalu mundur beberapa langkah dengan tangan bersedekap, sementara Reynan memerintahkan para kesatria yang sedang berlatih untuk menyingkir ke sisi halaman. Veronica menatap sekelilingnya dengan ragu, seolah masih menimbang apakah ada cara lain yang lebih baik. Namun tatapan datar Altres membuatnya menyerah, dan ia menghela napas panjang seperti seseorang yang hendak menjalani hukuman, kemudian tubuhnya membesar, menyelimuti halaman itu dengan sisik merah yang berkilat di bawah cahaya matahari. Naga itu menunduk, mulutnya terbuka lebar, dan tubuhnya bergetar hebat sebelum semuanya tumpah dalam satu semburan panjang. Emas, berlian, dan permata jatuh bergemerincing seperti hujan logam, menumpuk menjadi gunungan berkilau yang tingginya hampir menyaingi atap bangunan terdekat. Para pelayan yang menyaksikannya dari kejauhan sampai lupa menutup mulut, sementara Reynan hanya bisa mengusap wajahnya dengan senyum tak percaya.
"Cepat angkut semuanya ke gudang," perintah Altres tanpa menoleh. "Jangan sampai ada satu koin pun yang tertinggal di halaman."
Dalam sekejap, para pelayan bergegas membawa peti, karung, dan gerobak dorong, bahkan beberapa kesatria ikut turun tangan dengan wajah tak percaya, mondar-mandir seperti barisan semut yang memindahkan remah-remah roti raksasa. Sementara itu Veronica kembali ke wujud manusianya, tetapi lututnya langsung goyah hingga ia terduduk di rumput dengan wajah pucat. Tangannya memegang perut sambil meringis, dan keningnya basah oleh keringat dingin yang menetes pelan ke pelipis. Ia merasa tidak enak karena perutnya terasa keras dan tegang, seakan masih ada sisa-sisa logam yang tertinggal di dalam sana.
"Perutku sakit sekali," keluhnya lirih sambil menarik napas pendek-pendek. "Rasanya seperti menelan batu, dan aku masih bisa merasakan ada yang tersisa di dalam sana. Jangan menatapku begitu, ini salahmu karena menyuruhku melakukannya."
Altres tak menjawab. Ia hanya melirik wajah pucat itu sekilas dengan rahang yang menegang, lalu berjongkok di depannya dan mengangkat tubuh lemas itu ke dalam gendongan sekali lagi dan membawanya masuk ke kamar. Begitu membaringkan Veronica di atas ranjang, ia memanggil Emma yang sudah menunggu di ambang pintu, menyuruhnya membantu istrinya membersihkan diri dan berganti pakaian. "Pastikan dia makan sesuatu yang hangat setelah ini," tambahnya singkat sambil melangkah menuju pintu. Emma menunduk patuh, tetapi tak bisa menyembunyikan senyum kecil ketika melihat Altres menarik selimut hingga ke dagu Veronica dengan gerakan canggung. Dari balik pintu yang setengah terbuka, ia masih sempat menoleh sekali lagi ke arah ranjang sebelum benar-benar pergi. Para pelayan yang melihat mereka dari lorong saling berbisik kagum, memuji kedekatan sepasang pengantin dari ras berbeda yang tampak begitu mesra.
Beberapa hari kemudian, bisikan itu menyebar menjadi rumor yang menjalar dari lorong-lorong rumah bangsawan hingga ke pasar-pasar Brune. "Duke Vanguard sedang berbulan madu dengan istrinya yang seekor naga," bisik mereka sambil menutup mulut dengan kipas. Beberapa orang menganggapnya tidak pantas. "Kesatria yang dijuluki pembunuh naga justru bermesraan dengan musuh bebuyutannya sendiri," desis seorang bangsawan tua. Ada pula yang bertanya-tanya, "Bagaimana mungkin mereka berhubungan padahal ras mereka berbeda?" dan pembicaraan itu terus berlanjut di meja-meja makan dengan bumbu tambahan di setiap putarannya. Namun tak sedikit yang justru tersenyum penuh harap. "Mungkin ini awal yang baik," kata seorang pedagang di pasar. "Siapa tahu suatu hari naga dan manusia benar-benar bisa hidup berdampingan."
Altres mendengar semua itu dari Reynan ketika sedang duduk di ruang kerjanya, setelah berhari-hari berusaha tidak peduli pada bisikan di sekelilingnya, dikelilingi tumpukan dokumen yang belum selesai ia tandatangani. Penanya berhenti di atas kertas, dan rahangnya mengeras. "Pemikiran orang-orang itu benar-benar aneh," gerutunya. Ia menutup berkas di tangannya dengan bunyi keras, lalu menatap Reynan yang sejak tadi berdiri dengan wajah tak bersalah, seolah ajudan itu sumber semua desas-desus tersebut. Reynan hanya menggaruk tengkuknya dengan ragu sambil menahan diri agar tidak tersenyum.
"Sebenarnya Tuan, rumor itu tidak terlalu aneh," ujar Reynan hati-hati. "Hamba sendiri melihat Anda menggendong Nyonya sampai ke kamar dengan begitu hati-hati. Siapa pun yang melihatnya pasti akan berpikir demikian."
"Itu hanya karena dia tidak bisa berjalan." Altres menyandarkan punggungnya ke kursi dengan tatapan tajam. "Lagi pula itu mustahil. Kami berbeda ras."
"Hamba hanya menyampaikan apa yang hamba lihat, Tuan," sahut Reynan cepat sambil menunduk, tetapi sorot matanya jelas menyiratkan keraguan. Altres kembali menunduk ke arah dokumen dengan pena yang digenggam terlalu erat, tetapi kata-katanya sendiri justru menggema di kepalanya hingga ia teringat percakapan setelah upacara pernikahan. Waktu itu, di tengah keramaian tamu yang bersulang, Grand Duke Floyen berbisik di dekatnya, "Alasan Veronica dipilih adalah karena ia lahir dari hubungan antara manusia dan naga." Altres tidak tahu apa sebenarnya perbedaan yang dimaksud, tetapi untuk sesaat pikirannya melayang pada hal yang tak seharusnya, yaitu tentang kemungkinan memiliki anak dengan naga itu.
Altres segera menarik napas dalam-dalam, mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan telapak tangan seolah ingin menghapus pikiran bodoh itu. Ia menikah hanya demi perdamaian antara dua ras, bukan karena alasan lain, dan ketika aliansi itu berakhir, mereka akan bercerai. Hanya itu, ia mengulanginya dalam hati seperti mantra yang harus dihafal. Namun sebuah pertanyaan menyelinap di sudut benaknya tanpa permisi, bagaimana jika aliansi itu terus bertahan karena hubungan keduanya? Bayangan Veronica yang tertawa kecil sambil bersandar di lengannya kembali muncul tanpa bisa ia cegah. Bayangan itu membuat dadanya terasa sesak dan wajahnya memanas tanpa alasan yang jelas.
Plak! Tangan Altres menampar wajahnya sendiri sekeras mungkin untuk menyadarkan dirinya dari pikiran liar yang tak masuk akal itu. Reynan tersentak mundur selangkah dengan berkas yang hampir terjatuh dari tangannya, matanya membelalak bingung menatap tuannya yang kini duduk tegak dengan pipi memerah dan wajah yang kembali sedingin es, seakan tidak ada yang terjadi sama sekali.