NovelToon NovelToon
Mafia Cacat Untuk Amira

Mafia Cacat Untuk Amira

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Orang Disabilitas
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Pintu kamar tertutup perlahan. Amira berdiri beberapa saat di balik pintu, membiarkan tubuhnya bersandar pada daun pintu. Senyum yang sejak tadi ia pertahankan di hadapan keluarganya akhirnya menghilang.

Dadanya terasa sesak. Air mata yang sejak tadi ditahannya kembali mengalir. Amira menutup mulut dengan kedua tangannya agar isakannya tidak terdengar sampai ke luar kamar.

Kenapa harus seperti ini?

Bukankah satu minggu sudah cukup untuk membuatnya menerima kenyataan bahwa Ricki bukan lagi miliknya? Lalu kenapa kabar pertunangan itu masih terasa seperti luka yang baru saja disayat?

Amira berjalan perlahan menuju tempat tidur. Ia duduk di tepinya, kemudian menatap meja kecil di samping ranjang. Di sana masih ada sebuah bingkai foto.

Foto dirinya dan Ricki. Mereka tersenyum bahagia susah tiga tahun. Dan tiga tahun itu  bukan waktu yang sebentar. Amira mengusap permukaan kaca bingkai itu dengan ujung jarinya.

“Kenapa, Mas?” Suaranya bergetar. “Kenapa kamu harus melakukan ini kepadaku, Tuhan kenapa harus aku lagi yang tersakiti? Apa belum cukup selama ini aku sudah diperlakukan tidak adil oleh keluargaku semdir?”

Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian kamar yang semakin membuat hatinya terasa kosong.

Ia mengambil foto itu, lalu memeluknya ke dada. Air mata jatuh perlahan, sudah tidak ada lagi di dunia ini yang bisa dipercaya. Amira memejamkan matanya. Andai saja nenek dan kakeknya masih hidup. Karena hanya kedua orang itu yang menerimanya di rumah ini.

Namun saat kedua orang itu sudah pergi barulah ia tahu bahkan ayahnya sendiri pun tidak menginginkan dirinya hanya karena dia anak wanita kedua.

"Ibu, andai kita pernah dipertemukan," ucapnya dengan tatapan nanar. "Aku akan bicara, aku rindu aku pingin peluk Ibu, di sini anakmu begitu menderita," ungkapnya dengan nada yang bergetar.

Bagaimana mungkin gadis itu tidak menangis, ia baru saja kehilangan orang yang ia percaya akan tetapi lelaki itu dalam waktu dekat ini akan bertunangan dengan kakaknya, Amira masih teringat.  Ketika semua orang menyalahkan dirinya, Ricki pernah berkata bahwa dirinya tidak perlu peduli kepada siapa pun.

Dan di saat Amira terluka pria itu pernah mengusap air matanya tapi pada kenyataannya lelaki itu juga pergi. Amira tertawa kecil di sela tangisnya.

“Bodoh.”

Ia mengusap air matanya. “Kenapa aku masih berharap?”

Perlahan, Amira meletakkan kembali foto tersebut. Ia berdiri di depan cermin.

Matanya sembap. Wajahnya terlihat jauh dari kata baik-baik saja. Namun Amira memaksakan sebuah senyuman.

“Aku baik-baik saja.” Ia mencoba tersenyum lagi. “Aku tidak akan menangis lagi ok. Amira kau kuat meskipun di dunia ini hanya sendiri."

Senyuman itu terlihat begitu rapuh.“Tiga tahun sudah berakhir. Aku harus bisa menerima.”

Tok.

Tok.

Tok.

Ketukan pintu membuat Amira segera mengusap wajahnya.

Mira?” Suara Alika.

Amira menarik napas dalam-dalam. “Iya?”

“Boleh masuk?”

Amira ragu sejenak. “Masuk saja.”

Pintu terbuka. Alika masuk sambil membawa segelas minuman. Tatapannya langsung tertuju pada wajah Amira.

“Kamu habis menangis?”

“Tidak.”

Alika tersenyum tipis. “Matamu merah.”

“Kelilipan.”

“Kelilipan sampai dua mata?”

Amira tidak menjawab. Alika berjalan mendekat, lalu duduk di sampingnya lalu beberapa detik mereka hanya diam. Kemudian Alika menghela napas.

“Mira, kamu marah sama aku?”

Amira menoleh. “Untuk apa aku marah?”

“Karena Ricki.”

Amira kembali menundukkan wajah. “Aku sudah bilang, aku tidak menyalahkanmu.”

“Aku tahu.” Alika menggenggam tangan Amira. “Tapi aku tetap merasa bersalah.”

Amira menatap tangan kakaknya yang menggenggam tangannya. Aneh. Di depan orang lain, Alika selalu terlihat begitu perhatian. Bahkan saat di ruang makan tadi, Alika seolah-olah membelanya.

Tetapi entah kenapa, Amira tidak pernah benar-benar merasa nyaman dengan perhatian itu.

“Ricki bukan milikku lagi,” ucap Amira pelan.

“Jangan bicara seperti itu.”

“Memangnya salah?”

“Tidak.” Alika tersenyum lembut. “Tapi aku tidak ingin kamu berpikir bahwa aku sengaja mengambilnya darimu.”

Amira menggeleng. “Aku tidak berpikir begitu.”

“Benarkah?”

“Iya.”

Alika terdiam sebentar. Kemudian ia berkata dengan suara pelan. “Sebenarnya aku juga tidak pernah menyangka orang tua Ricki akan memilihku.”

Amira menatapnya.  “Mereka yang datang kepada Papi?”

Alika mengangguk. “Iya.”

“Kenapa?”

“Aku juga tidak tahu.”

Alika menghela napas panjang. “Katanya mereka merasa aku lebih cocok dengan Ricki.”

Kalimat sederhana itu membuat dada Amira kembali terasa sesak. "Lebih cocok."

Bukankah Ricki mengatakan hal yang sama ketika memutuskannya? Tidak ada kecocokan. Jadi selama ini... apakah itu alasan sebenarnya?

Alika segera melanjutkan. "Tapi aku tidak ingin kamu salah paham. Kalau aku tahu akhirnya seperti ini, mungkin aku akan meminta mereka mencari perempuan lain.”

Amira tersenyum getir. “Lalu apa gunanya?”

Alika terdiam.

“Ricki sudah memilihmu.”

“Bukan aku yang memintanya.”

“Aku tahu.”

“Dan aku tidak pernah berniat merebut kebahagiaanmu.”

Amira menatap kakaknya cukup lama. Kemudian berkata, “Kalau begitu, menikahlah dengannya.”

Alika terlihat terkejut. “Kamu benar-benar tidak marah?”

“Tidak.”

“Kamu tidak membenciku?”

Amira menggeleng. “Aku hanya kecewa.”

“Kecewa kepada siapa?”

Amira menatap ke arah jendela. “Kepada diriku sendiri.”

“Kenapa?”

“Karena selama tiga tahun aku pikir aku mengenal Ricki.”

Alika terdiam.

Sementara Amira tidak tahu bahwa setelah mendengar kalimat itu, sudut bibir Alika perlahan terangkat. Senyuman yang hanya bertahan sesaat.

Kemudian ia kembali memasang wajah penuh perhatian. “Sudahlah, Mira. Jangan terlalu memikirkan semuanya.”

Alika berdiri. “Kamu harus fokus pada kuliahmu.”

Amira mengangguk. "Memang itu yang seharusnya aku lakukan, dan sekali lagi selamat," ucap Amira.

"Terima kasih."

Alika berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti.

“Oh iya.”

Amira menoleh.

“Kalau nanti ada orang yang bertanya tentang pertunanganku dengan Ricki, jangan merasa malu, ya.”

Amira mengernyit. “Kenapa aku harus malu?”

“Karena bagaimanapun juga, kalian baru putus.”

Alika tersenyum.

“Aku hanya tidak ingin orang-orang berpikir kamu tidak bisa menerima kenyataan.”

Amira terdiam jemarinya perlahan mengepal sedari tadi dia udah mencoba mengalah akan tetapi sang Kakak justru tiada henti menyudutkannya

"Tenang saja Kak, justru aku yang khawatir jika orang-orang mengatakan hal sebaliknya?"

"Maksud kamu apa?"

"Maksud aku gimana kalau orang-orang itu berkata, seorang kakak merebut pacar adiknya?"

Alika tersentak ia tidak menyangka jika Amira aman berkata seperti itu.  "Oh tenang saja aku tidak akan terpengaruh."

"Ya sudah kalau gitu aku tidak harus khawatir."

Seketika senyum pahit terbesit dari wajahnya Alika melangkah mundur lalu pergi, dalam hati ia menggerutu. "Kurang ajar kau Amira."

Begitu pintu kembali tertutup, ekspresi Alika berubah semakin kesal, wajah cerianya berubah menjadi kusut karena perkataan adiknya tadi.

Tatapannya menjadi dingin.“Jangan coba-coba menghalangi pernikahanku, Mira.”

Sementara di dalam kamar, Amira sama sekali tidak mengetahui perkataan itu. Ia hanya duduk sendiri. Mencoba memahami bagaimana hidupnya berubah begitu cepat.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Siang harinya, Amira akhirnya pergi ke kampus. Ia berusaha menjalani hari seperti biasa. Tersenyum ketika bertemu teman. Mengikuti perkuliahan.

Bahkan menjawab pertanyaan dosen ketika namanya dipanggil. Namun tidak ada satu pun yang benar-benar tahu bahwa di balik senyum itu, hatinya sedang berantakan. Saat jam kuliah selesai, Amira berjalan menuju parkiran.

Baru saja ia hendak membuka pintu mobil, ponselnya bergetar. Satu pesan masuk.

Dari Ricki.

Amira membeku. Tangannya berhenti di udara.

Ia menatap nama yang sudah seminggu berusaha ia lupakan.

Ricki. Pesannya singkat.

Mira, kita perlu bicara.

Amira mengernyit. "Untuk apa? Bukankah semuanya sudah selesai?"

Pesan kedua masuk.

"Aku ingin menjelaskan semuanya kepadamu."

Jantung Amira berdegup lebih cepat. arinya bergerak mengetik.

"Untuk apa?"

Pesan itu belum sempat terkirim ketika balasan Ricki muncul.

"Ada alasan kenapa aku meninggalkanmu."

Amira terdiam.

"Alasan?"

Selama seminggu ini, ia selalu bertanya-tanya mengapa Ricki tiba-tiba berubah. Apakah selama ini lelaki itu memang sudah tidak mencintainya? Atau ada sesuatu yang tidak pernah Ricki katakan?

Ponsel Amira kembali bergetar.

Temui aku sekali saja, Mira. Setelah itu, kalau kamu ingin membenciku, aku akan menerimanya.

Amira menggigit bibir. Ia tahu seharusnya tidak menemui lelaki itu. Apalagi Ricki sebentar lagi akan menjadi tunangan kakaknya.

Namun ada satu pertanyaan yang sejak seminggu lalu terus menghantui pikirannya.

Kenapa?

Akhirnya Amira mengetik satu kalimat. Kirim alamatnya.

Beberapa detik kemudian, sebuah lokasi masuk. Amira menatap layar ponselnya. Entah apa yang akan menunggunya di tempat itu.

Namun satu hal yang tidak Amira ketahui... pertemuannya dengan Ricki akan membuka sesuatu yang selama ini sengaja disembunyikan oleh keluarganya.

Bersambung...

1
Reni Anjarwani
lanjuttt 💪💪
Oma Gavin
semakin ricki penasaran dgn alika jgn kamu anggap kebohongan mu bisa tertutup rapat lagi bau bangkai nya sudah tercium
Yasinta Niken
lanjut ya tambah seru
ros
ceritanya menarik 👍
kaylla salsabella
makin penasaran
Oma Gavin
penasaran banget siapa ayah kandungnya alika
kaylla salsabella
la berarti yang anak kandung si amira
Yasinta Niken
lanjut tambah seru jangan putus lagi 💪💪💪
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Yasinta Niken
yang selalu mendapat yang terbaik untuk Ambar Alika anak siapa 🤭🤭🤭
Oma Gavin
akhirnya terbongkar alika anak selingkuhan ambar guma alika masih mau songong merasa kamu yg terbaik dan berhak hidup mewah ternyata kamu bukan anak ganjar
Oma Gavin
siapakah amira
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up💪
Yasinta Niken
kenapa kok putus2 saya senang ceritanya bagus 👍👍👍
kaylla salsabella
mungkin alika bukan anak kandung ganjar
Reni Anjarwani
semoga cpt terbuka rahasia yg disembunyikan ambar 🙏
Oma Gavin
fix alika anak ambar dgn dgn selingkuhan nya dan hanya amira yg sebenarnya anak kandung ganjar
Oma Gavin
kok aku curiga perusahaan ganjar milik mantan istrinya ibu amira
Oma Gavin
disaat Ganjar kritis antara hidup dan mati hanya darah amira yg bisa menyelamatkan nyawa ganjar, gimana alika kamu anak kesayangan tapi ternyata darah mu pun ngga sanggup menyelematkan ternyata kamu ngga guna jadi anak kesayangan
Yasinta Niken
saya bangga dengan kaisar Amira libas orang2 julid itu 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!