NovelToon NovelToon
Jodoh Di Tangan Sahabat

Jodoh Di Tangan Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:95.3k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hanya Diam

Lima hari berlalu sejak obrolan yang menguras emosi dan tenaga itu. Hari-hari sisa liburan di Dieng dihabiskan dengan atmosfer yang berusaha dijaga sebaik mungkin oleh semua orang. Seolah ada kesepakatan tak tertulis di antara mereka, baik Agnia, Bagas, maupun Dikta, tidak ada satu pun yang kembali menyinggung topik tentang perjodohan atau pernikahan.

​Hubungan Reyna dengan Agnia dan Bagas kembali hangat seperti sedia kala, Agnia benar-benar memegang janjinya untuk tidak mengungkit masalah itu lagi dan fokus dengan berbagai kuliner serta keindahan tempat wisata yang mereka kunjungi.

​Namun, di balik suasana ceria rombongan tersebut, Reyna merasakan perubahan yang sangat kentara dari sosok Dikta. ​Pria itu benar-benar memberi Reyna ruang yang sangat luas, bahkan terlalu luas hingga terkesan dingin dan menjaga jarak secara halus.

Jika di awal perjalanan Dikta kerap berjalan di sampingnya, memasangkan syal saat angin berembus kencang atau sekadar memberikan perhatian-perhatian kecil tanpa bersuara, kini pria itu membatasi interaksinya. Dikta lebih banyak menghabiskan waktu berdiskusi dengan Bagas, mengobrol santai bersama Faris dan Aldo atau sesekali melayani gurauan Anton.

​Ketika mata mereka tak sengaja beradu dalam kerumunan, Dikta hanya mengangguk singkat atau mengulas senyum tipis seadanya sebelum mengalihkan pandangan dan tidak lagi menatap Reyna dengan sorot ketenangan yang menghanyutkan seperti saat di pelataran Candi Arjuna atau saat berlutut di hadapannya di kamar vila.

​Awalnya, Reyna merasa sangat lega. Pria itu menuruti permintaannya untuk tidak mendesak dan sikap menghindar dari Dikta setidaknya membebaskan Reyna dari rasa canggung yang menghimpit serta pandangan menuntut dari orang-orang di sekitarnya.

​Namun, menginjak hari kelima, hari di mana mereka semua harus berkemas dan mengakhiri liburan untuk pulang ke Bandung, rasa lega itu perlahan bergeser menjadi sebuah keheningan yang aneh di dasar hati Reyna.

​Pagi ini, pelataran vila dipenuhi dengan kesibukan barang bawaan. Udara Dieng yang dingin menusuk tulang mengiringi langkah mereka yang sibuk memindahkan ransel dan oleh-oleh khas Dieng, seperti keripik purwaceng dan buah carica ke dalam bagasi mobil.

​"Rey, tas kamu yang ini ditaruh di bagasi mobil aja ya, biar nggak sempit di dalam," seru Agnia seraya membawa satu dus oleh-oleh.

​"Iya, Ni, makasih ya," sahut Reyna lembut, ia berdiri di dekat pintu bagasi mobil yang terbuka dan merapikan letak jaket tebalnya.

​Dari arah pintu penginapan, Dikta melangkah keluar membawa tas pakaian miliknya sendiri. Pria itu mengenakan kemeja kasual berwarna abu-abu gelap dengan lengan digulung hingga sik dan dipadukan dengan celana panjang hitam, penampilannya tampak sangat rapi dan segar meski perjalanan jauh menanti mereka.

​Saat melewati Reyna untuk meletakkan tasnya di bagasi, langkah Dikta sempat terhenti sejenak. Jarak mereka begitu dekat, hingga aroma kayu manis yang khas dari tubuh pria itu kembali menyapa indra penciuman Reyna.

​Reyna mendongak, refleks meremas jemarinya sendiri di balik saku jaket. "Dikta..." sapa Reyna pelan, memecah kecanggungan yang membeku di antara mereka selama beberapa hari terakhir.

​Dikta menoleh, menatap Reyna dengan manik mata hitamnya yang tenang dan sukar ditebak. "Iya, Rey?" sahutnya dengan suara bariton yang datar namun sopan.

​"Mmm... barang-barang di dalam sudah bersih semua. Terima kasih ya, sudah bantu angkut dus oleh-oleh tadi," tutur Reyna canggung, mencari alasan untuk sekadar mendengar suara pria itu.

​"Sama-sama," jawab Dikta singkat dan menyunggingkan senyum tipis, senyuman formal yang biasa ia berikan kepada orang luar.

"Kamu masuk duluan aja," ucap Dikta.

​Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut dari Reyna, Dikta menepuk pelan pinggiran bagasi, lalu berbalik melangkah menuju tempat Bagas dan Anton yang sedang memeriksa tekanan ban mobil.

​Reyna terpaku di tempatnya, menatap punggung tegap itu yang perlahan menjauh. Ada denyut halus di dadanya yang terasa begitu asing, sebuah perasaan kehilangan yang aneh.

'Bukannya ini yang aku minta? Bukannya aku yang menolak uluran tangan Dikta dan menegaskan kalau aku belum siap? Tapi, kenapa saat Dikta benar-benar menarik diri dan bersikap acuh tak acuh, aku malah merasa nggak suka ya?' batin Reyna merasa tidak tenang dan bertanya-tanya.

​Iring-iringan kendaraan akhirnya meninggalkan dataran tinggi Dieng, membelah kabut tipis dan menyusuri jalanan berliku menuju jalur selatan Jawa Tengah untuk kembali ke Bandung.

​Di dalam mobil yang dikendarai Bagas, suasana terasa cukup tenang. Agnia yang kelelahan tertidur lelap di kursi penumpang belakang disamping Reyna. Sementara Reyna, menatap luar jendela menyaksikan deretan pohon pinus dan perbukitan yang perlahan berganti dengan pemandangan pemukiman warga.

Perjalanan panjang itu, akhirnya membawa mobil yang dikendarai Bagas memasuki gerbang Kota Bandung menjelang petang. Lampu-lampu jalanan kota mulai menyala satu per satu, memantulkan pendar jingga di atas aspal yang basah oleh sisa gerimis sore.

​Di kursi belakang, Agnia terbangun dari tidurnya dan menggeliat pelan lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, ia melirik Reyna yang sejak tadi hanya diam menatap ke luar jendela dan memeluk tas kecil di pangkuannya dengan pandangan kosong.

​"Mas, kita antar Reyna pulang ke kontrakannya dulu ya, kasihan dia pasti capek banget," ucap Agnia.

​"Iya, Yang. Ini kita langsung ke kontrakannya Reyna kok," jawab Bagas, membelah kepadatan lalu lintas sore.

Dikta yang duduk di kursi penumpang depan pun hanya diam, ia tidak bersuara sama sekali kecuali jika diajak bicara. Tentu saja Reyna merasa tidak enak, tapi ia juga bingung harus melakukan apa.

Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai Bagas sampai di depan gang kontrakan Reyna. Reyna segera turun dan mengambil barang-barangnya.

"Makasih ya Agnia, Bagas... Dikta," ucap Reyna.

Bagas pun tersenyum sebagai jawaban, sedangkan Dikta hanya melirik Reyna dengan wajah datar.

"Sama-sama, Rey. Kapan-kapan, kita jalan-jalan lagi ya," balas Agnia.

"Pasti itu, aku pergi dulu," pamit Reyna.

Sebelum balik badan, Reyna menatap Dikta sebentar. Namun, wajah Dikta tetap datar tanpa menunjukkan minat, dan Reyna pun melangkah masuk kedalam gang untuk sampai ke kontrakannya.

Sambil meremas ujung bajinya yang meliuk ditiup angin sore, Reyna melangkah makin dalam menyusuri gang sempit menuju rumah kontrakannya. ​Suasana kontrakan menyambutnya dengan keheningan yang dingin, begitu kunci pintu berputar dan memicu derit singkat, Reyna melepas sepatu dan menyandarkan punggungnya di balik papan kayu yang lapuk. Ia mengembuskan napas panjang, membiarkan tubuhnya meluruh perlahan hingga terduduk di atas lantai semen yang dingin.

'​Bukankah ini yang memang kamu mau, Reyna?Kamu tidak punya apa-apa untuk ditawarkan. Kamu cuma seorang gadis yatim piatu tanpa pekerjaan, kamu tidak berhak menyeret hidup orang lain masuk ke dalam kekacauanmu,' batin Reyna sendiri seraya mengusap wajahnya yang letih.

.

.

.

Bersambung.....

1
Syifa Fauziah
😍😍
Aidil Kenzie Zie
Dikta junior sama Reyna junior bakalan launching buah kerja kerasnya pak Dokter 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
lah si Dikta ditinggal molor 🤣🤣🤣🤣
Nani Haryatiyati
wahhhhhhh, gejala awal akibat bergadang tanpa baju iniiiii🤣🤣🤣
lia juliati
😍
Felycia Fernandez
jadi pengen liat 😭
Sastri Dalila
😅🤗🤭
Sastri Dalila
🤭🤭
Sastri Dalila
🤗🤗
Sastri Dalila
🤭😅
Aidil Kenzie Zie
lah Nia ngga ngaca dulu apa y🤔🤔🤔🤭🤭🤭🤭wong punya suami sama-sama ganas 🤫🤫🤫
Valen Angelina
wkwkwkk gini2 klo suami istri liburan ya gtu gak jauh2 dari ranjang😂😂😂
Rizky Manik
agnia sok bilangin orang ya Rey, padahal dia juga olahraga🤣🤣🤣
lia juliati
mantabs
Rizky Manik
nakal kamu ya dikta🤣🤣
goda² Rey terus
langsung gas aja mas Dikta, gkusah pura² "sayangg banget yaa"🤭🤭🤭
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
klo salahpun, aq pribadi tetap aja ga tau krn ga ngerti🤭🤭
lia juliati
pacaran halal😍
lia juliati
tor sebernya dikta suka sama Reyna sejak kapan? apa pas acara buket bunga ya?
Sastri Dalila
🤣😅
Sastri Dalila
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!