NovelToon NovelToon
Pesugihan Ratu Ular

Pesugihan Ratu Ular

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-

Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.

Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 13

🍂🍂🍂🍂

Malam berangkas semakin larut melingkupi Desa Lemah Wungu, namun tak ada kedamaian di kediaman Pak Kades. Bau amis nanah bercampur aroma racun menyengat memenuhi kamar utama yang biasanya harum semerbak. Jeritan histeris Sekar tak kunjung reda, justru kian melengking memecah hening malam.

Di atas pembaruan, Sekar berguling-guling heboh. Tatapan matanya liar membelalak penuh ketakutan, menatap ke arah langit-langit kamar yang kosong.

"Ampun! Ampun, Nyai! Jangan lilit aku! Ular-ular itu... mereka mau memakan mataku! Ampunn!" jerit Sekar seraya mencakar-cakar dadanya sendiri. Bisul-bisul bernanah di kulit leher dan tangannya pecah, mengeluarkan cairan kekuningan bercampur darah kehitaman yang membakar kulitnya bagaikan siraman air keras.

Ibu Kades menangis histeris di pojok kamar, tak sanggup lagi menyaksikan penderitaan anak tunggalnya. Sementara itu, Pak Kades berdiri menggeram, kepalan tangannya bergetar hebat menahan amarah dan keputusasaan. Sudah tiga tabib tersohor dan dua paranormal didatangkan hari ini, namun semuanya melarikan diri ketakutan tanpa mampu meredakan siksaan tersebut.

"Sekar! sadar, Nduk! Ini Bapak!" seru Pak Kades seraya menahan kedua tangan anaknya yang terus mencakar kulitnya sendiri.

Tiba-tiba, Sekar mencengkeram erat kerah baju ayahnya. Matanya yang memerah dan sembab menatap Pak Kades dengan kepanikan luar biasa. Rasa sakit luar biasa yang tak tertahankan lagi meruntuhkan seluruh gengsi dan rasa takutnya.

"Pak... tolong Sekar, Pak... Sekar takut! Sekar tidak mau mati!" tangis Sekar pecah, suaranya parau dan terengah-engah.

Pak Kades merengkuh kepala putrinya dengan linangan air mata. "Siapa yang berbuat begini padamu, Nduk?! Katakan pada Bapak! Siapa dukun jahat yang berani mengirim santet mengerikan ini padamu?!"

Sekar menggelengkan kepala rapat-rapat, terisak hebat di dada ayahnya. "Bukan... bukan dikirim orang, Pak... Ini... ini balasan..."

Pak Kades tersentak kaku. "Balasan? Maksudmu apa, Sekar?!"

Dengan tubuh gemetar hebat dan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya yang mulai ditumbuhi ruam bersisik, Sekar akhirnya membuka mulutnya.

"Malam kemarin... Sekar gelap mata, Pak," aku Sekar dengan nada ketakutan yang teramat sangat. "Sekar kesal karena Bagas selalu dingin dan menolak Sekar... Padahal Sekar cuma mau Bagas berlutut dan menikahiku..."

"Sekar... apa yang sudah kamu lakukan?!" bentak Pak Kades, dadanya berdebar kencang membayangkan kemungkinan terburuk.

"Sekar... Sekar diam-diam pergi ke Desa Randu Kuning, Pak," tangis Sekar makin pecah, tak sanggup menatap mata ayahnya. "Sekar mendatangi pondok Mbah Suro... Sekar bayar dia pakai perhiasan emas untuk mengirim ajian pelet pengasihan ke rumah Bagas malam itu..."

"Gusti Pangeran!" pekik Ibu Kades dari sudut ruangan, menutup mulutnya tak percaya.

Pak Kades tertegun kaku, matanya membelalak lebar. Tangannya melonggar dari tubuh Sekar, menatap putrinya dengan kombinasi rasa syok, marah, dan tidak percaya.

"Kamu... kamu mendatangi dukun ilmu hitam untuk mempelet pria?!" suara Pak Kades gemetar membendung kemarahan yang membakar dadanya. "Kamu ini anak Kepala Desa, Sekar! Kenapa pikiranmu sedangkal ini?! Mau ditaruh di mana muka Bapak kalau warga sampai tahu?!"

"Sekar minta maaf, Pak! Sekar kapok!" jerit Sekar memohon-mohon, memegang kaki ayahnya. "Tapi begitu Mbah Suro menjalankan ajiannya, tiba-tiba ada gumpalan kabut hijau raksasa yang membalas... Kulit Sekar langsung terbakar panas bagai disengat ribuan ular! Tolong Sekar, Pak... sakit sekali!"

Pak Kades mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih. Hatinya panas bukan main. Di dalam pikirannya, ia sama sekali tidak mencurigai Bagas memiliki ilmu gaib atau sekutu siluman. Bagi Pak Kades, Bagas hanyalah pemuda lugu yang kebetulan mendadak kaya dari hasil kebun. Yang ada di benak Pak Kades saat ini adalah kemarahan mendalam kepada Mbah Suro—sang dukun yang dianggapnya tidak becus, ceroboh, hingga ajian ilmu hitamnya justru berbalik menghancurkan pemesannya sendiri.

"Dukun tak berguna!" geram Pak Kades dengan mata berkilat murka. "Ilmu hitamnya cetek tapi berani menerima bayaran mahal dari anakku! Pasti dia salah merapalkan mantra hingga ajian busuknya membalas memakan tuannya sendiri!"

Pak Kades bangkit berdiri, menyambar sarung dan parang yang tersandar di balik pintu.

"Pak! Mau ke mana, Pak?!" panggil suaminya panik.

"Aku akan ke Randu Kuning sekarang juga!" tegas Pak Kades dingin. "Dukun tua bangkai itu harus bertanggung jawab dan mencabut racun ini dari tubuh Sekar sebelum aku meratakan pondoknya!"

Dengan mengendarai kuda hitamnya, Pak Kades membelah pekat dan dinginnya malam menuju Desa Randu Kuning. Angin malam yang berhembus kencang tak sedikit pun menyurutkan amarah yang membakar dadanya. Di pikirannya, ia akan memaksakan Mbah Suro untuk meracik penawar atau menanggung akibat parangnya.

Setelah menempuh perjalanan melintasi lembah bukit yang sepi, Pak Kades tiba di pinggiran hutan Randu Kuning. Di sana, berdiri sebuah pondok bambu reot yang tampak gelap gulita tanpa penerangan lilin sedikit pun.

Aroma tempat itu tidak seperti biasanya. Bukan hanya bau klembak menyan yang menyengat, melainkan bercampur bau amis darah busuk dan racun kimia yang teramat tajam.

KREEEKKK...

Pak Kades mendorong pintu kayu pondok yang ternyata tidak terkunci. Ia melangkah masuk sembari menyalakan obor kayu di tangannya. Begitu pendar cahaya kuning menerangi ruangan sempit itu, Pak Kades mendadak terhenti kaku. Obor di tangannya hampir saja terjatuh.

"Gusti ..." bisik Pak Kades, tenggorokannya mendadak kering seketika.

Di pojok ruangan di atas tikar pandan yang bersimbah darah hitam kental, terbaring sosok Mbah Suro. Kondisi sang dukun teramat sangat mengenaskan melebihi apa yang menimpa Sekar.

Kedua kaki dan tangan Mbah Suro tampak melengkung patah dengan posisi yang tidak wajar—seolah-olah telah dililit dan dihancurkan oleh remukan kekuatan raksasa. Seluruh permukaan kulit tubuhnya melepuh membiru pekat, penuh dengan bisul-bisul besar bernanah busuk yang terus mengeluarkan cairan. Yang paling mengerikan, mata sang dukun membelalak putih tanpa hitam, sementara mulutnya menganga lebar dalam posisi menjerit tanpa suara, dipenuhi muntahan darah hitam bercampur bangkai ulat dan sisik ular yang membatu.

Pria tua yang dulu ditakuti karena ilmu hitamnya itu kini hanyalah sosok lumpuh total yang bernapas tersengal-sengal pendek bagaikan bangkai hidup.

Pak Kades mundur dua langkah, tangannya gemetar memegang gagang parang. Amarah yang tadinya meluap-luap seketika runtuh, berganti menjadi ketakutan dingin yang merayap di sepanjang tulang belakangnya.

Pak Kades memberanikan diri mendekat satu langkah, menatap wajah Mbah Suro yang membiru. "Mbah Suro... Mbah?!"

Mbah Suro yang setengah sadar dalam penderitaan abadi itu perlahan menggerakkan sudut matanya yang membiru. Dari tenggorokannya yang rusak, keluar suara desisan halus yang samar namun teramat mengerikan.

"Sssss... j-jangan... j-jangan usik..." desis Mbah Suro dengan napas yang tertahan di dada. "K-kekuatan itu... terlalu agung... B-Bukan untuk manusia..."

Pak Kades menelan ludah dengan susah payah. "Siapa... siapa yang membalas ajianmu, Mbah?! Apakah Bagas memakai penolak balak dari kyai?!"

Mbah Suro menggelengkan kepalanya yang terkulai lemah secara samar, matanya yang memutih memancarkan teror yang tak terbayangkan. "B-bukan penolak... Itu... penguasa... Ratu Ular..."

Kata-kata parau itu terhenti saat Mbah Suro kembali memuntahkan cairan hitam berbau sangit, lalu terkulai tak berdaya.

Pak Kades berdiri mematung di tengah pondok reot itu, napasnya memburu kencang. Ia memandangi dukun sakti yang kini lumpuh mengenaskan di depannya. Di benak Pak Kades, ia menyimpulkan bahwa Mbah Suro secara tidak sengaja telah membangunkan atau menyenggol kekuatan gaib tingkat tinggi yang mendiami Hutan Keramat Sendang Manten saat mencoba mengirimkan pelet malam itu. Pak Kades sama sekali belum menyadari bahwa "kekuatan agung" yang melumpuhkan dukun ini adalah sosok permaisuri gaib yang dipeluk erat oleh Bagas setiap malam Kliwon.

Dengan hati yang diliputi kecemasan luar biasa dan teror gaib yang membendung di dadanya, Pak Kades berbalik arah dan berlari keluar dari pondok reot tersebut. Ia tahu, penyakit yang menimpa putrinya bukanlah sekadar guna-guna biasa, melainkan hukuman dari kekuatan alam gaib yang tak tersentuh oleh manusia mana pun.

Bersambung...

1
Yiruma Nitya
Jadi makin penasaran, gimana adegan pas ketemu sama Ratunya
Yiruma Nitya
Aku mampir ya kak, baca pelan pelan semangat buat kknya, ceritanya bagus 👍
Yiruma Nitya: Iya kak mampirin aku juga ya masih belajar, mohon bimbingan dan koreksinya🤭👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!