NovelToon NovelToon
Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:103
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.

**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.

Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:

*"Om… aku mencintaimu."*

*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*

Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?

Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.

Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2

Pria di Balik Kemudi

Pintu mobil terbuka, lalu sepasang sepatu hitam menginjak aspal.

Seorang pria tinggi turun dari balik kemudi. Kemeja putihnya masih rapi meski lengan bajunya digulung sampai siku. Cahaya lampu jalan memantul pada jam di pergelangan tangannya.

“Kamu mau mati?” suaranya keras. “Kenapa berdiri di tengah jalan?”

Aku mundur satu langkah. Lututku gemetar begitu hebat hingga hampir terjatuh.

“Maaf.”

Hanya kata itu yang keluar. Kata yang selalu keluar setiap kali orang dewasa marah kepadaku.

Tatapan pria itu turun ke kakiku yang telanjang. Darah bercampur air hujan di telapak kiri. Lalu dia melihat bahu bajuku yang robek, pipiku yang panas setelah ditampar, dan bekas jari di lengan.

Kemarahan di wajahnya menghilang.

“Siapa yang melakukan ini?”

Suara langkah mendekat dari gang.

Aku segera bergerak ke belakang pria itu. Tanganku mencengkeram ujung kemejanya sebelum sempat berpikir. Dia menoleh sebentar, tetapi tidak menyuruhku melepaskan pegangan.

Bang Jagur berhenti beberapa meter dari kami. Dua anak buahnya berdiri di belakangnya sambil terengah-engah.

“Maaf, Pak. Anak itu bikin masalah.” Bang Jagur menyeka darah di punggung tangannya. “Dia ikut saya.”

Pria di depanku tidak bergeser. “Atas dasar apa?”

“Tantenya punya utang.”

“Saya tanya atas dasar apa anak ini harus ikut Anda.”

Bang Jagur tersenyum miring. “Urusan keluarga, Pak. Nggak perlu ikut campur.”

Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dia mengangkat kamera dan memotret wajah Bang Jagur, kedua anak buahnya, serta ujung gang tempat kami berasal.

“Apa-apaan?”

“Bukti.” Dia menekan nomor di layar. “Anda mengejar anak di bawah umur dalam keadaan terluka. Coba sentuh dia sekali lagi. Saya telepon polisi sekarang.”

Bang Jagur menatap mobil hitam itu, lalu kembali menatap pria tersebut. Wajahnya berubah ketika melihat pelat nomor dan mungkin menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.

“Pak Bram,” gumam salah satu anak buahnya.

Bang Jagur menyikut lelaki itu agar diam.

Pria bernama Bram tidak meninggikan suara. “Saya beri kalian tiga detik untuk pergi.”

“Dia punya utang sama saya.”

“Anak ini tidak punya utang kepada Anda.”

Bang Jagur mengatupkan rahang.

“Satu.”

“Pak, sebaiknya kita bicarakan...”

“Dua.”

Bang Jagur meludah ke tepi jalan. “Ayo.”

Mereka mundur, lalu masuk kembali ke gang. Sebelum menghilang, Bang Jagur menoleh kepadaku dan menggerakkan telunjuk di depan lehernya.

Tubuhku membeku.

“Jangan lihat mereka.”

Suara pria itu membuatku mendongak.

Dia memasukkan ponselnya ke saku, lalu membuka pintu penumpang. “Masuk.”

Aku tidak bergerak.

“Saya tidak akan menyerahkanmu kepada mereka.”

“Bapak mau bawa aku ke mana?”

Dia diam sejenak. Mungkin baru menyadari bahwa aku tidak punya alasan untuk memercayainya hanya karena dia memakai kemeja bersih dan memiliki mobil mahal.

“Ke rumah saya. Lukamu harus dibersihkan.” Dia menunjuk ponselnya. “Kalau kamu tidak nyaman, kamu boleh menelepon polisi dari dalam mobil. Kamu juga boleh turun di kantor polisi terdekat.”

Aku menatap gang yang gelap. Bang Jagur bisa kembali kapan saja.

“Siapa nama Bapak?”

“Bramantyo.”

“Aku Sekar.”

“Baik, Sekar. Sekarang masuk sebelum kakimu semakin banyak kehilangan darah.”

Aku duduk di kursi penumpang. Jok kulit yang lembut membuatku takut mengotorinya. Aku mengangkat kaki, berusaha agar darah tidak menyentuh alas mobil.

Bramantyo melihat gerakanku. Dia mengambil saputangan putih dari kompartemen dan meletakkannya di bawah telapak kakiku.

“Nanti kotor,” kataku.

“Bisa dicuci.”

“Kalau nggak bisa?”

Dia menyalakan mesin. “Bisa dibeli lagi.”

Jawabannya begitu sederhana hingga aku tidak tahu harus berkata apa.

Sepanjang perjalanan, aku menempelkan tubuh ke pintu. Gedung-gedung tinggi menggantikan gang sempit. Lampu kota memantul di kaca, terlalu terang untuk mataku yang mulai berat.

Bramantyo menelepon seseorang melalui pengeras suara.

“Mbok Nah, tolong bangun. Siapkan air hangat, antiseptik, pakaian perempuan, dan bubur.”

Suara perempuan tua menjawab dengan terkejut, “Ada apa, Den Bram?”

“Saya membawa seorang anak. Kakinya terluka.”

Dia melirikku. “Dan dia belum makan.”

Tanganku meremas ujung celana. Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku lapar.

Mobil memasuki jalan yang semakin sepi. Rumah-rumah di balik pagar tinggi tampak seperti hotel. Ketika gerbang besar terbuka, seorang petugas keamanan mengangguk hormat. Kami berhenti di depan rumah bercat putih dengan jendela-jendela tinggi.

Seorang perempuan berkerudung cokelat menunggu di teras.

“Ya Allah, Den.” Dia segera mendekat ketika aku turun. “Neng, pelan-pelan. Pegang Mbok.”

Aku mundur refleks saat tangannya terulur.

Perempuan itu langsung berhenti. “Nggih, tidak apa-apa. Mbok tidak akan memaksa. Namamu siapa?”

“Sekar.”

“Non Sekar mau berjalan sendiri atau dibantu?”

Tidak ada orang yang pernah menanyakan itu kepadaku.

“Dibantu boleh?”

“Tentu boleh, Non.”

Mbok Nah menyelipkan lengannya di bawah sikuku. Sentuhannya ringan, cukup untuk menahan berat tubuhku tanpa mencengkeram.

Di kamar mandi tamu, dia membasuh kakiku dengan air hangat. Perihnya membuat gigiku bergemeletuk. Mbok Nah tidak bertanya mengapa ada memar lama di punggung dan lenganku. Dia hanya menarik napas panjang, lalu mengoleskan antiseptik dengan tangan yang hati-hati.

“Kalau sakit, bilang.”

“Aku tahan.”

“Di rumah ini tidak perlu tahan semuanya sendirian.”

Aku menunduk agar dia tidak melihat air mataku.

Setelah berganti piyama longgar milik entah siapa, aku duduk di meja makan. Semangkuk bubur ayam mengepulkan aroma kaldu. Aku mengambil satu sendok kecil, lalu berhenti.

“Makanlah,” kata Bramantyo dari seberang meja.

“Ini untuk aku?”

Mbok Nah mengusap punggungku. “Iya, Non.”

Aku memasukkan bubur ke mulut. Hangatnya turun sampai perut dan membuat rasa sakit di sana semakin terasa. Aku ingin makan cepat, tetapi takut mereka mengira aku rakus.

Bramantyo memalingkan wajah seolah sengaja tidak memperhatikanku. “Mbok Nah, tambah satu mangkuk lagi.”

Aku menghabiskan dua mangkuk.

Baru setelah tanganku tidak terlalu gemetar, Bramantyo bertanya, “Orang tuamu di mana?”

Sendokku berhenti.

“Sudah meninggal.”

“Sejak kapan?”

“Lima tahun lalu. Kecelakaan.” Aku menatap sisa daun bawang di dasar mangkuk. “Setelah itu aku tinggal sama Bu Win. Dia adik Ibu.”

“Dia yang memukulmu?”

Aku mengangguk.

Pertanyaan berikutnya keluar pelan. “Sudah berapa lama?”

Aku menghitung tahun, tetapi semuanya terasa seperti satu malam yang sangat panjang.

“Sejak aku tinggal di sana.”

Mbok Nah menutup mulutnya. Bramantyo tidak berkata apa-apa. Rahangnya mengeras, tetapi tatapannya kepadaku tetap tenang.

“Malam ini dia membawa aku ke Bang Jagur,” lanjutku. “Katanya aku harus balas budi.”

“Tidak.”

Satu kata itu membuatku menatapnya.

“Kamu tidak berutang hidupmu kepada siapa pun.”

POV Bram

Sekar menceritakan lima tahun penyiksaan seperti sedang membacakan daftar belanja. Tidak ada tangisan keras. Tidak ada tuntutan. Anak itu bahkan meminta maaf karena menghabiskan dua mangkuk bubur.

Aku pernah kehilangan ayah dan ibu saat belum cukup dewasa untuk memahami arti kematian. Aku tahu rasanya pulang dan mendapati tak ada lagi tempat untuk menyebut rumah. Namun aku tidak pernah dipaksa membayar kehilangan itu dengan tubuh penuh lebam.

Anak ini, siapa yang tega?

“Sekar.”

Dia menegakkan punggung, bersiap dimarahi.

“Kalau kamu tidak mau kembali ke rumah Bu Win, kamu boleh tinggal di sini.”

Matanya membesar.

“Untuk berapa hari?”

“Selama yang kamu butuhkan.” Aku berhenti sejenak. “Kalau kamu bersedia, saya akan mengurus agar kamu menjadi anak angkat saya. Semuanya melalui prosedur yang benar. Kamu tetap boleh menolak.”

Jarinya mencengkeram ujung piyama.

“Kenapa?”

Sebelum aku menjawab, pintu ruang makan terbuka. Deni masuk dengan napas terburu dan ponsel di tangan.

“Pak Bram, maaf saya datang selarut ini.” Wajahnya tegang. “Ada masalah. Bang Jagur sudah lebih dulu membuat laporan.”

Aku berdiri. “Laporan apa?”

Deni menatap Sekar, lalu menurunkan suaranya.

“Mereka bilang Bapak menculik anak di bawah umur.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!