Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Tembok Keputusasaan
Wasit pertandingan, seorang Ksatria elit dari Asosiasi Petarung, mengangkat bendera merah tinggi-tinggi di udara. Udara di Koloseum Solaria terasa sangat padat. Ribuan pasang mata menatap lekat ke tengah arena, menahan napas menantikan pertumpahan darah.
"Pertandingan pertama..." suara wasit menggema melalui pengeras suara magis. "Mulai!"
Bendera merah dikibarkan ke bawah.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Leon melesat maju. Tanah berkerikil di bawah pijakannya meledak akibat tolakan kakinya yang bertenaga. Pedang Mythril Suci di tangannya berdengung nyaring, merespons Mana Core berelemen api murni milik sang pahlawan.
"Mati kau, Arthur!" raung Leon, suaranya dipenuhi amarah yang telah ia pendam berhari-hari.
Bilah pedang keperakan itu seketika terselimuti oleh kobaran api berwarna emas yang menyilaukan. Panasnya bahkan bisa kurasakan dari jarak sepuluh meter. Blazing Sun Strike—teknik andalan keluarga Leon yang di dalam novel selalu berhasil membelah musuh-musuhnya menjadi dua bagian.
Di kursi VIP, aku bisa melihat Pangeran Julian tersenyum puas, yakin bahwa masalah bernama Arthur Pendelton akan segera berakhir di tebasan pertama ini. Para murid di tribun mulai bersorak heboh.
Sementara itu, aku? Aku masih berdiri santai dengan kedua tangan di dalam saku celana panjangku.
Aku tidak memasang kuda-kuda sihir pertahanan. Aku tidak memanggil perisai bayanganku. Aku bahkan tidak bergerak satu inci pun dari tempatku berdiri.
Satu meter. Setengah meter.
Pedang berapi Leon menebas udara dengan kecepatan kilat, mengarah lurus ke bahu kiriku, berniat membelahku secara diagonal.
"Arthur, menghindar!" teriak seseorang dari kerumunan—entah siapa yang peduli, mungkin insting kemanusiaan yang tersisa dari salah satu murid.
Tapi aku tidak menghindar.
TRANGGG!
Suara benturan logam yang memekakkan telinga meledak di tengah arena. Gelombang kejut dari benturan itu menyapu debu dan kerikil di sekitar kami, menciptakan kawah kecil.
Sorak-sorai penonton mendadak tercekik di tenggorokan. Keheningan absolut kembali melanda koloseum.
Debu perlahan menipis, memperlihatkan pemandangan yang membuat akal sehat semua orang di tempat itu hancur berantakan.
Leon berdiri dengan posisi kuda-kuda menyerang, kedua tangannya mencengkeram gagang pedang Mythril itu erat-erat. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak lebar hingga nyaris keluar dari rongganya. Tangannya gemetar hebat, dan sedikit darah segar menetes dari telapak tangannya yang robek akibat efek pantulan serangannya sendiri.
Di depannya, aku berdiri tegak.
Pedang legendaris yang dilapisi api suci itu mendarat tepat di bahu kiriku. Seragam jas akademiku robek terbakar. Namun, di balik kain yang robek itu... kulit pucatku tidak tergores sedikit pun. Bilah pedang Mythril itu berhenti tepat di permukaan kulitku, tertahan oleh tulang selangka sekeras baja obsidian yang berada tepat di bawahnya.
Bukan hanya itu, api emas suci yang seharusnya membakar tubuhku perlahan-lahan padam, diserap diam-diam oleh pori-pori kulitku yang kini telah beradaptasi dengan Mana Kematian.
Aku menoleh, menatap mata Leon yang dipenuhi keputusasaan.
"Jas seragam ini dibuat oleh penjahit terbaik di ibukota, Leon," ucapku dengan nada bosan yang memecah keheningan. "Dan kau baru saja merusaknya."
"M-Mustahil..." bibir Leon bergetar. "Ini tidak mungkin! Pedang ini... sihir ini... kenapa kau tidak terpotong?!"
Leon menarik pedangnya dengan panik dan kembali menebas dengan membabi buta. Trang! Trang! Trang!
Ia menyerang dadaku, leherku, perutku. Setiap tebasan menghasilkan percikan api dan suara dentingan logam yang nyaring. Namun hasilnya tetap sama. Senjata legendaris itu terasa seperti pedang kayu mainan yang dipukulkan ke sebuah dinding benteng raksasa.
Di bangku VIP, Pangeran Julian bangkit berdiri dari kursinya. Cangkir anggur di tangannya jatuh dan pecah berkeping-keping. "Apa-apaan ini?! Sihir pelindung macam apa yang dia pakai?!" desis Julian panik.
Profesor Aegis yang duduk tak jauh darinya ikut ternganga. "B-Bukan sihir... Saya tidak merasakan fluktuasi mana pelindung sama sekali. Itu... itu murni ketahanan fisik!"
Di tengah arena, napas Leon mulai tersengal. Stamina dan mana-nya terkuras habis oleh serangannya sendiri yang dipenuhi kepanikan. Pahlawan itu melangkah mundur, matanya memancarkan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia akhirnya menyadari dinding keputusasaan yang berdiri di hadapannya.
"Sudah selesai memukulnya?" tanyaku santai, perlahan mengeluarkan tangan kananku dari saku celana.
Leon menelan ludah. Insting bertahannya menjerit, menyuruhnya untuk lari, tapi harga dirinya menahannya di tempat. "K-Kau monster..."
"Monster? Aku lebih suka sebutan visioner."
Dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata Leon, aku melangkah maju, memangkas jarak di antara kami. Tanganku bergerak, mencengkeram bilah tajam pedang Mythril itu dengan tangan kosong. Leon mencoba menarik pedangnya, tapi cengkeramanku pada bilah itu sekuat jepitan hidrolik baja. Tanganku sama sekali tidak berdarah.
Aku mencondongkan wajahku ke depan, berbisik tepat di telinganya. "Di pertemuan pertama kita, kau mematahkan tiga tulang rusukku karena kau merasa paling benar. Hari ini, aku akan mengajarimu hukum fisika yang paling dasar... Aksi selalu menghasilkan reaksi."
Aku melepaskan cengkeramanku dari pedangnya, menarik lengan kananku ke belakang, dan memusatkan sedikit kekuatan tulang obsidianku ke buku-buku jariku. Tidak perlu sihir. Tidak perlu elemen kegelapan. Hanya kekuatan fisik murni.
Aku meninju ulu hatinya.
Baaam!
Suara retakan tulang rusuk yang mengerikan terdengar jelas ke seluruh penjuru koloseum, menggaung melalui microphone wasit.
Mata Leon memutih. Udara di paru-parunya terhempas keluar secara paksa bersamaan dengan cipratan darah dari mulutnya. Pedang Mythril Suci terlepas dari genggamannya dan jatuh berdenting di atas lantai arena.
Tubuh sang Pahlawan terpental sejauh sepuluh meter, berguling-guling seperti boneka kain yang rusak, sebelum akhirnya menabrak dinding pembatas arena dengan keras. Retakan berbentuk jaring laba-laba muncul di dinding batu di belakang tubuhnya.
Leon merosot ke tanah. Tidak ada pergerakan. Ia pingsan seketika dalam satu pukulan.
Koloseum layaknya kuburan massal. Ribuan orang terdiam, syok berat. Otak mereka tidak bisa memproses apa yang baru saja terjadi. Leon, murid unggulan tahun pertama yang memiliki sihir api langka dan pedang suci peninggalan kerajaan... dikalahkan dalam satu menit, dengan satu pukulan fisik, oleh Tuan Muda Sampah yang bahkan tidak mengeluarkan sihir sama sekali?
Aku menurunkan kepalan tanganku, merapikan kerah jasku yang tersisa, lalu menoleh ke arah wasit yang masih mematung dengan mulut terbuka.
"Apakah kau berencana berdiri di sana sampai musim dingin tiba, Wasit?" tanyaku dengan nada memerintah. "Umumkan hasilnya. Atau kau mau aku memukulnya sekali lagi untuk memastikan dia sudah mati?"
Ucapan dingin itu menyentak sang wasit dari lamunannya. Pria berseragam ksatria itu menelan ludah kasar, berjalan setengah gemetar ke tengah arena, lalu mengangkat benderanya tinggi-tinggi.
"P-Pemenangnya... Arthur Pendelton!!"
Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada tepuk tangan. Para penonton terlalu takut untuk bersuara.
Aku memutar tumitku dan melangkah meninggalkan arena tanpa repot-repot melirik tubuh Leon yang sedang dievakuasi oleh tim medis. Saat aku berjalan menyusuri lorong keluar yang gelap, aku mendongak sesaat ke arah bangku VIP.
Pangeran Julian menatapku dari atas sana. Wajahnya yang tampan kini terdistorsi oleh amarah, ketakutan, dan rasa terhina yang luar biasa. Tatapan kami bertemu, dan aku memberikan senyum miring paling merendahkan yang bisa kubuat, sebelum akhirnya bayangan lorong menelanku sepenuhnya.
Skakmat ketiga, Pangeran.
Di dalam lorong gelap, Nox sudah menungguku. Gadis berambut perak itu duduk di atas salah satu patung ornamen, bertepuk tangan dengan riang.
"Bravissimo! Pertunjukan yang sangat kejam!" seru Nox. "Kau menghancurkan reputasi pahlawannya, mematahkan tulangnya persis seperti yang dia lakukan padamu, dan kau bahkan tidak menggunakan sihir bayanganmu. Kau murni merundungnya dengan tubuh barumu!"
"Menunjukkan seluruh kartumu di babak penyisihan adalah tindakan bodoh, Nox," balasku santai, melepas sisa jas akademiku yang robek dan melemparkannya ke tempat sampah terdekat. "Biarkan mereka berpikir ini hanya mutasi fisik. Saat kejutan aslinya tiba, mereka tidak akan sempat berkedip."
"Lalu, apa rencana selanjutnya, Penjahat Kecil?" Nox melompat turun, berjalan menyejajari langkahku. "Kau baru saja menampar wajah Putra Mahkota di depan umum. Dia tidak akan membiarkanmu bernapas lega minggu ini."
"Aku tahu," jawabku. "Karena itulah, kita tidak akan menunggu dia menyerang."
Aku menghentikan langkahku dan menatap Nox. Pendaran ungu redup di mataku berkilat berbahaya.
"Julian sangat menyukai Keadilan, bukan? Kalau begitu, besok malam... kita akan menghancurkan Gudang Senjata Bawah Tanah miliknya yang ilegal di pelabuhan. Mari kita lihat bagaimana reaksi sang Pangeran Suci ketika bisnis kotor pendanaan pasukannya dibakar habis oleh 'Penyihir Hitam' misterius."