DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Penyelidikan Rahasia
"Tragic Incident at St. Jude Academy: Former Student Investigation Covered Up."
Vino meneliti setiap baris kata dengan dada bergemuruh. Nama Darel tercantum jelas di sana, bersanding dengan nama seorang siswi yang menjadi korban obsesi gelapnya.
Sementara Vino sibuk membedah data di perpustakaan, Darel yang berada di kamar rumah Pradipta menerima pesan singkat dari rekannya di Inggris:
"Darel, ada yang mencoba menembus data arsip St. Jude Academy dari IP Indonesia. Seseorang sedang membuka berkas masa lalu kamu."
Tatapan mata Darel seketika membeku. Senyuman tenang nan santun yang biasa menghiasi wajahnya lenyap tanpa sisa, digantikan oleh pendar mata yang amat gelap dan pekat. Darel sadar waktunya sudah sangat terdesak. Jika Vino berhasil membeberkan bukti-bukti itu, seluruh citra yang ia bangun bertahun-tahun akan runtuh seketika.
***
Layar laptop di hadapan Vino memancarkan pendar cahaya biru yang dingin. Jemarinya membeku saat membaca baris demi baris dokumen polisi dan laporan medis berbahasa Inggris yang berhasil didapatkan Rian.
Nama korbannya adalah Emily Watson—siswi berprestasi di St. Jude Academy, London.
Tiga tahun lalu, Darel menjadi sangat terobsesi pada Emily. Modus operasinya persis sama dengan apa yang dilakukannya pada Aira saat ini:
berpura-pura menjadi penolong yang hangat, meracuni pikiran Emily agar menjauhi teman-temannya, lalu mengisolasi cewek itu secara perlahan.
Saat Emily menyadari kebenaran tersebut dan berusaha melarikan diri dari cengkeraman Darel, Darel nekat mengejarnya di tengah badai salju.
Kejadian itu berakhir tragis—Emily terjatuh ke dalam danau es yang membeku setelah dipojokkan oleh Darel. Meski berhasil diselamatkan, Emily mengalami trauma psikologis yang sangat parah dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit jiwa hingga saat ini.
Keluarga Pradipta cabang Inggris memakai kekuasaan dan uang dalam jumlah besar untuk meredam kasus ini dari media, lalu mengirim Darel kembali ke Indonesia seolah tak terjadi apa-apa.
"Bangsat..." desis Vino tajam. Rahangnya mengeras, matanya memerah menahan amarah yang membakar dada.
Darel bukan sekadar sepupu yang menyebalkan atau rival percintaan. Darel adalah seorang sosiopat berbahaya yang tak segan-segan menghancurkan hidup seseorang demi memuaskan obsesinya.
Vino langsung memindahkan seluruh berkas itu ke dalam flashdisk, menyimpannya rapat-rapat di saku jaketnya. Ia tahu, ia harus bertindak cepat sebelum Darel menyadari bahwa rahasia tergelap nya telah terbongkar.
***
Di kediaman Pradipta, Darel duduk di depan meja belajarnya. Tangan kanannya menempelkan kompres es pada sudut bibirnya yang memar akibat pukulan Vino kemarin malam.
Tatapan mata Darel seketika membeku. Kompres es di tangannya merosot jatuh ke lantai marmer.
Senyuman tenang nan santun yang biasa menghiasi wajahnya lenyap tanpa sisa, digantikan oleh pendar mata yang amat gelap dan pekat.
"Vino..." desis Darel pelan, suaranya terdengar begitu dingin dan bergetar.
Darel sadar bahwa waktunya sudah sangat terdesak. Jika Vino membeberkan bukti-bukti itu ke keluarga besar dan pihak berwajib, seluruh rencana dan citra yang ia bangun bertahun-tahun akan hancur berantakan dalam semalam.
Darel tidak bisa lagi bermain halus. Ia harus mempercepat rencananya untuk membawa Aira pergi secara paksa sebelum Vino sempat bertindak.
Darel berdiri dari kursinya, melangkah menuju lemari pakaian tersembunyi di sudut kamar. Ia menarik sebuah koper hitam ukuran sedang, memasukannya beberapa pakaian, paspor, serta dua tiket penerbangan sekali jalan ke luar negeri yang sudah disiapkannya sejak lama atas nama dirinya dan Aira.
Sambil merapikan koper, Darel mengambil sebuah botol kecil berisi cairan obat tidur dosis tinggi dari dalam laci meja. Ia menyunggingkan seringai tipis yang amat mengerikan.
"Kamu yang memaksa saya melakukan cara kasar ini, Vin," gumam Darel seraya menatap pantulan dirinya di cermin. "Malam ini... Aira bakal ikut saya, dan kamu gak akan pernah bisa menemukan dia lagi."
Darel mengunci kopernya, lalu melangkah menuju pintu kamar Aira di ujung lorong dengan langkah kaki yang teramat pelan dan tanpa suara—menyiapkan perangkap terakhirnya di tengah pekatnya malam.