Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18.Maaf.
Sinar matahari pagi menyelinap perlahan, menyentuh dedaunan hijau di halaman belakang kediaman Keluarga Zhang yang luas. Di sepetak kebun sayur yang rapi, tanah masih lembap oleh embun pagi, mengeluarkan aroma segar yang menenangkan. Di sana, Li Hua sibuk mencabut rumput liar di sela-sela tanaman, kedua tangannya tertanam dalam tanah, keringat halus menetes di keningnya. Di sampingnya, Qiao'er juga sibuk memindahkan bibit sayur ke tempat yang baru, napasnya sedikit terengah namun wajahnya tetap ceria.
"Nona, biarkan saya yang mengangkat keranjang itu," ucap Qiao'er lembut, mencoba merebut beban di tangan Li Hua. "Tangan Nona tidak boleh terlalu kotor, nanti terluka."
Li Hua tersenyum, menggeleng pelan sambil tetap mencabut rumput. "Tidak apa-apa, Qiao'er. Aku sudah terbiasa bekerja di desa dulu,jika tidak melakukannya bagaimana aku bisa hidup. Lagipula, tanaman ini butuh kasih sayang agar tumbuh subur. Kalau hanya diurus orang lain, rasanya tidak sama — seperti anak yang tidak dibesarkan sendiri."
Qiao'er tertawa kecil. "Nona ini bisa saja bicara... Tapi memang benar, tanaman yang dirawat dengan tangan sendiri tumbuh lebih kuat."
Belum lama mereka mengobrol, terdengar langkah kaki mendekat — langkah yang tegap, berirama, namun terdengar ragu. Li Hua menoleh dan melihat Li Yun berdiri di pinggir kebun. Ia mengenakan pakaian sederhana yang diberikan kepadanya, namun tetap berdiri dengan wibawa seorang pangeran, wajahnya tampak ingin berkata sesuatu namun terhenti.
Li Hua meletakkan cangkul kecil di tangannya, menyeka keringat di kening dengan punggung tangan. "Ada apa, Pangeran?" tanyanya ramah.
Li Yun menarik napas dalam, lalu berbicara dengan nada yang berusaha terdengar biasa saja. "Kalau... kalau kalian kekurangan tenaga, aku bisa membantu. Aku tidak ada pekerjaan lain pagi ini."
Mata Li Hua langsung berbinar cerah. Ia menghampiri pria itu dengan langkah ringan, senyumnya mekar begitu manis hingga membuat siapa pun yang melihatnya merasa hangat di hati.
"Benarkah, Pangeran? Wah, terima kasih banyak!" suaranya terdengar begitu gembira. "Kalau begitu, tolong bawakan air kotoran hewan di kandang belakang ya? Sudah dicampur air, tinggal dibawa ke sini. Sayur-sayuran ini butuh nutrisi itu agar tumbuh besar dan lebat."
Senyum di wajah Li Yun seketika lenyap. Matanya membelalak lebar, dahinya berkerut dalam, seakan baru saja mendengar hal yang paling tidak masuk akal seumur hidupnya.
"Kotoran hewan?" ulangnya, suaranya meninggi tak sadar. "Kau menyuruhku — aku, Pangeran dari Negeri Tang Liang — membawa kotoran yang bau itu?!"
"Ya, itulah pupuk terbaik," jawab Li Hua polos, lalu melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga tubuh mereka hampir bersentuhan. Ia mendongak menatapnya, matanya berkilau lembut, senyumnya begitu manis sehingga membuat jantung Li Yun berdetak tidak tenang. "Pangeran tidak mau membantuku?"
Li Yun menatap wajah gadis itu, tiba-tiba gugup. Ia menelan ludah, memalingkan wajah sedikit, suaranya terbata-bata.
"Aku... aku bilang tidak mau! Kau ambil sendiri saja sana!"
Li Hua tersenyum makin manis, mengingat betul bagaimana cara meluluhkan hati — wajah memelas, suara lembut, tatapan yang tak bisa ditolak.
"Tapi Pangeran..." suaranya melembut, penuh nada memohon. "Bukankah Pangeran sendiri yang menawarkan bantuan? Aku tidak pernah memintanya. Kalau memang tidak mau, tidak apa-apa kok... hanya saja Qiao'er dan aku sudah sibuk sejak matahari terbit. Lihatlah tangan kami..." ia mengangkat kedua tangannya yang penuh tanah, wajahnya tampak lelah dan sedih. "Kami sudah lelah sekali. Kasihan sayur-sayurku ini, mereka butuh perawatan agar tidak layu."
Li Yun menatap tangan kotor itu, lalu ke wajah gadis yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Hatinya mulai luluh. Ia menghela napas, bibirnya bergerak hendak berkata 'baiklah' — namun tiba-tiba, sebuah suara terdengar begitu jelas, seakan bergaung tepat di dalam kepalanya sendiri:
Kalau tidak mau bantu sana pergi, ganggu pekerjaan kami saja. Dasar pangeran manja!
Langkah Li Yun terhenti mendadak. Matanya membelalak. Itu... itu suara hati Li Hua?!
Ia menatap gadis yang masih tersenyum manis di hadapannya, lalu mengangkat kepalanya tegak, tatapannya berubah tegas.
"Aku tetap tidak pergi!" ucapnya mantap.
Senyum manis di wajah Li Hua lenyap seketika. Matanya menyipit, ekspresinya berubah tajam dan galak.
"Kalau tidak mau, duduk manis di pojok sana!" bentaknya, menunjuk bangku kayu di sudut halaman. "Jangan halangi kami bekerja! Dasar pemalas!"
Li Yun tersentak, wajahnya memerah padam karena marah. "Beraninya kau memakiku?!"
"Memangnya kenapa?" Li Hua mendekat sedikit, menatapnya dengan dagu terangkat. "Kau lupa? Sekarang kau ini pelayanku! Jadi aku bisa seenaknya memerintahmu!"
"Jadi sekarang wajah aslimu terbuka!" Li Yun tertawa sinis, namun matanya memancarkan kekecewaan yang dalam. "Ternyata kau tidak jauh berbeda dengan kedua saudaramu yang menyebalkan itu!"
"Hai... jangan samakan aku dengan mereka!" Li Hua menunjuk dadanya sendiri, suaranya naik setengah oktaf. "Aku ini baik hati! Aku melindungimu, memberimu tempat tinggal yang layak! Kalau tidak suka, silakan pergi! Pintu keluar ada di depan!"
"Nona!" Qiao'er berlari mendekat, menarik lengan tuannya pelan, wajahnya pucat melihat tatapan menakutkan di mata Li Yun. "Tolong jangan bicara begitu... Pangeran pasti tidak bermaksud buruk..."
Namun Li Yun sudah tidak sanggup menahan amarahnya. Ia melangkah pergi dengan langkah lebar, punggungnya tegak kaku, menuju bagian dalam rumah tanpa menoleh sedikit pun.
Li Hua berdiri mematung di tempatnya, menatap punggung pria itu yang menjauh hingga menghilang di balik pintu. Napasnya memburu, dadanya naik turun. Perlahan rasa bersalah mulai merayap di hatinya.
"Apakah aku tadi berbicara terlalu keterlaluan?" gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
"Nona?" Qiao'er mendekat, menatapnya cemas. "Ada apa, Nona?"
Li Hua menoleh, matanya memantulkan keteguhan baru. "Qiao'er..."
"Ya, Nona?"
"Bisa kau belikan ayam goreng khas Negeri Tang Liang di pasar luar?" tanyanya cepat. "Yang paling enak, yang paling terkenal ya."
Qiao'er mengerutkan kening. "Saya tidak tahu resepnya, Nona... tapi saya bisa membelinya sekarang juga."
"Baiklah, pergilah secepatnya."
Begitu melihat pelayan itu keluar gerbang, Li Hua segera berjalan cepat menuju kamar Li Yun yang pintunya tertutup rapat. Ia berdiri di depan pintu itu, menarik napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang berdebar, lalu mengetuk pelan.
"Pangeran..." panggilnya lembut. "Kau di dalam? Aku... aku ingin meminta maaf tadi. Bisakah kau makan siang bersamaku? Anggap saja sebagai permintaan maafku..."
Belum selesai kalimatnya terucap, terdengar langkah kaki mendekat dari samping. Seorang pelayan berdiri di sana, menatapnya dengan senyum yang tampak kaku.
"Nona Kedua, Nyonya Besar memanggil Nona sekarang," ucap pelayan itu tenang.
Li Hua menoleh, sedikit terkejut. "Ibu memanggilku? Sekarang?"
"Benar, Nona. Beliau menunggu di ruang tamu utama."
Li Hua melirik pintu kamar Li Yun sekali lagi, lalu menghela napas. "Baiklah... aku ikut."
Ia berjalan mengikuti pelayan itu, tanpa menyadari bahwa gadis ini bukan utusan ibunya — melainkan orang suruhan Shi Yin.
Sesaat setelah mereka pergi, pintu kamar Li Yun terbuka perlahan. Ia mengintip ke luar, melihat sosok Li Hua yang berjalan menjauh diikuti pelayan itu. Senyum tipis tak disadari muncul di bibirnya.
"Gadis itu benar-benar ingin meminta maaf..." gumamnya pelan. "Tapi untuk apa Nyonya Besar memanggilnya saat ini? Dan mengapa pelayan itu terlihat mencurigakan?"
Ia berjalan ke jendela, menatap ke arah jalan yang dilalui Li Hua, dahinya berkerut dalam. Ia ingin mengirim An Fu untuk mengikuti — namun An Fu baru saja berangkat kembali ke Negeri Tang Liang, karena kabar mendadak bahwa kakaknya jatuh sakit. Tidak ada orang lain yang bisa ia andalkan sekarang.
Li Yun menatap ke arah sosok yang semakin menjauh, perasaan gelisah mulai menggerogoti hatinya. Sesuatu terasa tidak benar. Namun ia tidak memiliki bukti apa pun, dan tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu — sambil berdoa, semoga firasatnya salah.