Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 : JAM DUA SIANG
Sepulang dari meeting bersama Jingga. Angkasa tidak langsung memenuhi janjinya pada Jingga. Dia masih berpikir, kapan waktu yang baik untuk jujur pada Istrinya, juga Angkasa tidak merasa hal tidak mendesak.
Lagipula Angkasa merasa tidak perlu buru-buru. Karena Bintang terlihat biasa saja. Tidak seperti orang marah, kesal, ataupun cemburu. Sehingga menurut Angkasa, rumah tangganya dalam kondisi aman.
Satu purnama berlalu, aktifitas di kantor normal seperti biasa.
Angkasa memang kadang ada menghilang tetapi tidak lama, juga jelas tujuannya. Dalam artian selalu cocok dengan jadwal yang Jingga pegang. Tetapi bukan berarti Bintang lengah.
Hingga di suatu siang.
“Mbak Jing, pak Dirut kemana?” tanya Bintang yang sebenarnya tau Angkasa pergi lagi tanpa ada catatan kaki.
“Hum … gak ada di jadwal. Mungkin lagi keliling atau hanya cari angin di luar.” Jawab Jingga yang baru sadar Angkasa ngilang lagi.
“Aku agak pusing. Ku pulang duluan ya. Udah ada janji pijat juga di rumah.” Pamit Bintang pada Jingga.
“Ibu gak apa-apa? Ku call Pak Angkasa yak?” tawar Jingga tulus.
“Jangan, gak usah. Aku sudah pesan taksi on line kok. Udah kirim chat ke Angkasa juga, bilang pulang duluan.” Lanjut Bintang meraih tasnya lalu benar pergi meninggalkan Jingga yang hanya mengangguk. Lalu mengetik sesuatu di HPnya.
“Kassa, lu di mana? Bintang pusing katanya. Lu tau?” Ini bukan chat dari asisten Bintang tapi dari Jingga ke mantan pacar yang bertujuan ingin menjaga keharmonisan rumah tangga Bosnya.
Centang satu abu-abu.
Tepat pada pukul dua siang.
Warung Bakmi Bumi Jawa sepi. Jam tanggung. Orang yang makan siang sudah pulang, yang makan sore juga masih kepagian.
Bumi sedang di belakang, mencuci wajan. Damar duduk di teras warung, di atas tikar plastik, main mobil-mobilan. Dan di sebelahnya, ada Angkasa. Duduk lesehan, kemeja kerjanya dilipat sampai siku, ikut main mobil-mobilan.
"Brummm... awas Ayah Angit mau nabrak!" Kata Angkasa.
Damar tertawa ngak. "Ayah Angit kalah! Aku menang!"
Itu pemandangan yang dilihat Bintang dari dalam taksi online yang baru saja berhenti tepat di depan warung itu. Iya, Bintang tidak sungguh pulang untuk pijat badan. Tetapi di sinilah dia sekarang. Di depan warung Bakmi Bumi.
Bintang tidak bilang mau kesana. Tidak ada chat "Kamu dimana? ". Ia juga bohong ke Jingga ”Udah kirim chat ke Angkasa juga, bilang pulang duluan “ Ia mau lihat dengan matanya sendiri ngapain aja Angkasa kalo lagi di warung Bumi.
Dengan matannya ia melihat ke akraban Angkasa dan Damar, dengan telinganya ia mendengar betapa anak itu sedang bahagia memanggil suaminya dengan sebutan Ayah Angit. Dengan tangan satu ia menutup mulutnya, seraya menggelang.
Bintang terpaku.
Ada marah, kesal, iba, perih juga.
Marah pada suami yang tidak pamit padanya.
Kesal karena lagi-lagi suaminya bohong.
Iba pada dirinya sendiri yang belum bisa memberikan keturunan untuk Angkasa.
Perih melihat anak itu memang butuh figur ayah.
Angkasa yang pertama kali melihat.
Wajahnya langsung pucat. Tidak mengira wanita yang berdiri mematung itu adalah istrinya.
"Tang..." Bumi yang dengar, langsung keluar dari belakang dengan tangan masih basah.
"Bu Bintang?" Bumi ikut berteriak memanggil Bintang dengan panik.
Damar berdiri karena Angkasa sudah tak meladeni dia lagi.
“Ayah Angit, kemana?” Damar berlari kencang berusaha meraih kaki Angkasa.
“Tang …” Panggil Angkasa tanpa peduli rengekan Damar.
“Damar…!” Bumi tak kalah gesit akan menangkap anaknya.
“Ayah … Angiiiit!” tangis Damar pecah, tepat saat ia berhasil memegang satu kaki Angkasa. Bersama dengan itu, Bintang juga sudah mendapat ojek yang mangkal di sekitar situ.
Naik.
Lalu kabur.
“Damar sama ibu, nak.” Bumi berusaha melepas pelukan erat Damar di kaki Angkasa.
“Gak mau. Aku mau main sama ayah …” rengeknya.
“Damar dengar ibu!” Hardik Bumi sungguh kesal pada anaknya sendiri.
“Jangan bentak dia.” Ujar Angkasa yang kemudian menggendong Damar.
“Ayah … aku mau main sama ayah.” Tangis Damar pecah di dada Damar.
“Tidak Langit, kamu harus segera susul Bintang. Dia akan salah paham kalau kamu terus begini.” Bumi berusaha mengambil Damar dari pelukan Angkasa.
“Umi … aku gak berbuat jahat di sini. Terserah dia mau salah paham, salah sangka atau apapun. Damar tidak boleh di bentak. Dia rindu peran ayah.” Angkasa keras kepala juga. Merasa tidak melakukan hal yang salah versi dia. Tetap lebih memilih Damar yang kini mulai tenang dalam pelukannya.
“Mainnya nanti lagi ya, tidur dulu sama ayah.” Angkasa dengan luwes masuk ke kamar tidur Bumi dan Damar. Masih terus berpelukan, Damar semakin tenang bahkan sungguh terlelap.
Barulah Angkasa pulang.
Senja datang, bersamaan dengan kedatangan Angkasa di rumahnya.
Rumah itu tampak sepi, seperti tidak ada tanda-tanda ada orang lain di dalamnya.
Bersambung …
Hayoooo
Kita buat kemana si Bintang ini gaes
Terimakasih jempol dan komenya.
Yuuk panggil yang lain biar tambah seru