NovelToon NovelToon
KAMPUNG JIN

KAMPUNG JIN

Status: tamat
Genre:Horor / Rumahhantu / Misteri / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Devi Wahyuni Halim

Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.

Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.

Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.

Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.

Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Pertemuan Pertama Dengan Jin Islam

20 anak kecil bermata hitam itu masih duduk di halamanku sampai azan subuh.

Begitu suara azan subuh asli dari masjid kecamatan yang jauh terdengar, jam 04:12, mereka semua berdiri serentak. Tidak berlari. Mereka berjalan mundur ke arah Alas Purwo, wajah tetap menghadap rumahku, mata hitam mereka tetap menatapku, senyum sobek mereka masih ada. Satu per satu hilang di telan kabut tebal. Aku tidak tidur semalam, Aku duduk di tengah ruang, di antara keluarga Kiai Jirji yang cahayanya sudah sangat redup karena semalaman menjaga pagar.

  "Tuan, mereka pergi," kata Kiai Jirji dengan suara lelah. "Tapi nanti maghrib mereka akan kembali. Setiap malam sampai Tuan disumpah."

"Disumpah di mana? tanyaku.

    "Di masjid. Oleh Ustadz Malik. Tuan harus minta bertemu dengannya sendiri. Kami hanya penjaga rumah, bukan penjaga kampung. Hanya Malik yang bisa dengarkan sumpah Tuan jadi penjaga..."ucap Kiai Jirji.

Siang itu aku tertidur karena kelelahan, aku mimpi aneh. Mimpi rumahku penuh orang sholat, tapi semua wajahnya adalah tetanggaku, Pak Min, Bu Lastri, Pak Lurah, semua dengan mata hitam.

Aku terbangun jam 14:00 dengan keringat dingin. Rumah kosong. Keluarga Kiai Jirji tidak ada. Mungkin mereka istirahat di alam mereka.

Untuk pertama kalinya sejak aku pulang 3 hari lalu, rumah ini benar-benar sepi seperti rumah kosong biasa. Tidak ada cahaya, tidak ada bisikan ayat. Hanya suara angin dan jangkrik dari luar.

Aku merasa kesepian yang luar biasa. Dan takut.

Aku ambil wudhu dari kendi. Airnya dingin. Aku tidak pernah sholat selama 10 tahun di Surabaya. Tapi siang itu, entah kenapa, aku ingin sholat. Aku gelar sajadah lapuk milik kakek yang ada di lemari.

Aku sholat Dhuhur, gerakannya lupa-lupa ingat. Saat sujud terakhir, aku menangis. Bukan karena takut setan. Tapi karena aku kangen kakek. Kangen ibu. Saat aku angkat kepala dari sujud, aku kaget, di depanku, di atas sajadah sudah duduk seorang lelaki tua berjubah putih bersih. Janggutnya putih rapi, sorbannya putih, wajahnya teduh dan bercahaya tapi tidak menyilaukan. Matanya seperti mata manusia normal, coklat tua, penuh kasih sayang.

Aku mundur. "Siapa? tanyaku.

Lelaki itu tersenyum. "Tenang, Arga. Saya yang adzan dua malam lalu. Saya yang mendorongmu keluar dari masjid saat Banaspati menyerang..."ucap lelaki tua tersebut.

Itu Malik. Ustadz Jin Islam yang di masjid ghaib.

Tapi kali ini dia tidak terlihat seperti Jin raksasa bercahaya. Dia terlihat seperti manusia biasa, hanya saja pakaiannya terlalu bersih dan wangi kayu gaharu yang sangat kuat.

"Ini... ini pertemuan pertama kita yang benar," kata Malik. "Yang kemarin di masjid ghaib, kamu masih setengah sadar, sukma kamu yang saya tarik. Hari ini, saya datang sebagai tamu. Dengan izin Kiai Jirji, saya masuk rumah ini sebagai manusia..."ucap Malik.

Aku masih gemetar. "Kamu... Jin Islam? tanyakan lagi.

Malik mengangguk.

   "Saya Malik bin Alwi. Saya bukan Jin biasa. Dulu saya manusia, seperti kamu. Santri dari Pondok di Banyuwangi, mati dibantai Belanda tahun 1947 di hutan ini. Karena saya mati syahid sambil mengaji, Allah izinkan saya jadi penjaga. Jadi saya jembatan antara dunia kamu dan dunia mereka. Sama seperti kakekmu, sama seperti kamu nanti..."jawab Malik.

Dia menuangkan teh dari teko yang tiba-tiba ada di depannya. Tehnya mengepul, wanginya melati.

  "Minum, Arga. Teh ini dari alam kami. Bisa buat kamu lihat kami lebih jelas...."ucap Malik.

Aku pun minum , rasanya pahit, manis, hangatnya menjalar sampai ke ubun-ubun. Seketika pandanganku berubah.

Rumah yang tadi aku lihat kosong, sekarang terlihat ramai.

Di dapur, istri Kiai Jirji sedang masak, tapi masakannya bukan nasi, tapi cahaya yang dibentuk jadi nasi. Tiga anaknya bermain di kolong meja dan tertawa.

Di luar jendela, aku melihat dusun Krajan yang sebenarnya.

Bukan dusun mati seperti yang aku lihat pagi tadi. Tapi dusun yang penuh dengan dua lapis.

Lapis pertama, manusia. Warga yang mengurung diri di rumah, pucat dan ketakutan.

Lapis kedua, di atas atap-atap rumah mereka, di jalan-jalan, di pohon-pohon, ada ratusan makhluk hitam berbulu, bermata merah, duduk mengintai. Ada yang bentuknya seperti monyet besar, ada yang seperti asap hitam dengan tangan banyak. Mereka adalah Jin Kafir. Mereka mengepung dusun.

Dan di antara mereka, berdiri ratusan sosok berjubah putih bercahaya, membawa tongkat, berdiri tegak menjaga setiap rumah agar yang hitam tidak masuk. Itu pasukan Jin Islam.

Perang itu sudah terjadi, setiap hari, di depan mata manusia, tapi manusia tidak bisa melihat.

"Astaghfirullah..." bisikku.

"Sekarang kamu lihat, Arga?" kata Malik pelan. "Apa yang dilihat kakekmu selama 40 tahun. Kakekmu tidak gila. Dia memang melihat kampung ini dua lapis...."ucap Malik.

"Kenapa saya? Kenapa harus saya? Saya tidak bisa apa-apa, saya anak kota, saya tidak bisa ngaji lancar! Jawabku.

Malik tertawa kecil, tawa yang teduh.

"Karena darahmu, Arga. Darah penjaga tidak hilang walau kamu pergi 10 tahun. Ibu kamu punya darah itu, makanya Banaspati ambil dia duluan agar tidak ada penerus. Kakekmu adalah yang terakhir. Dia menunggumu 10 tahun, menolak mati, hanya untuk menunggu kamu pulang dan minum teh ini...."ucap Malik.

Malik mengeluarkan sebuah kitab kecil dari jubahnya. Kitab itu terbuat dari kulit kayu, tulisan tangan Arab Pegon Jawa kuno.

"Ini perjanjian leluhurmu. Ditulis Mbah Suro dan saya 40 tahun lalu. Isinya satu kalimat: 'Saya dan keturunan saya berjanji menjaga tanah ini agar gerbang tidak terbuka, dan sebagai gantinya, Jin Islam menjaga keluarga kami dari lapar dan gangguan..."ucap Malik lagi.

"Kalau saya tanda tangan, apa yang terjadi? tanyaku penasaran.

   "Kamu tidak akan bisa kembali menjadi manusia normal, Kamu akan lihat kami selamanya. Kamu akan dengar azan kami selamanya. Dan setiap malam Jumat Kliwon, kamu harus menjaga Pohon Beringin Kembar agar tidak ada warga yang kasih sesajen ke Jin Kafir. Gajinya? Kamu tidak akan pernah miskin, tidak akan pernah sakit, dan kampung ini akan hidup...."jawab Malik.

Dan kalau saya tolak? tanyaku lagi.

Malik menatap halaman, di mana bayangan 20 anak bermata hitam tadi masih membekas di tanah becek.

"Kalau kamu tolak, malam ini juga keluarga Kiai Jirji akan dibunuh Banaspati. Besok, warga satu dusun akan mati kesurupan massal. Dan kamu, kamu akan dibawa Banaspati ke Alas, jadi anak bermata hitam yang ke-21, selamanya mencari teman untuk menggantikan mu. Dan gerbang akan terbuka, Alas Purwo akan meluas sampai ke Banyuwangi kota...."jawab Malik panjang lebar.

Aku diam lama. Teh melati di tanganku sudah dingin.

Di luar, angin dari Alas Purwo membawa bau bangkai lagi. Suara jeritan anak-anak bermata hitam mulai terdengar lagi dari jauh, padahal masih siang.

Aku menatap Malik. Ustadz Ghaib itu mengulurkan tangannya.

"Jadi, Arga bin Suro bin... apakah kamu mau pertemuan pertama ini jadi sumpah setia pertama kamu kepada kami, Jin Islam? tanya Malik.

Aku tarik nafas panjang. Aku ingat ibu, kakek, Pak Min, Sinta, semua wajah tetangga yang tidak pernah terlihat tapi menulis 'bertahanlah'.

Aku letakkan tanganku di tangan Malik yang bercahaya itu. Tangannya hangat, seperti tangan kakekku dulu.

"Saya mau, Ustadz. Ajari saya jadi penjaga..."jawabku penuh dengan keyakinan.

Begitu tangan kami bersentuhan, seluruh rumah meledak cahaya putih yang sangat terang. Kitab kulit kayu itu terbakar jadi cahaya dan masuk ke dadaku. Panas, tapi tidak sakit.

Dari luar, seluruh pasukan Jin Islam yang berjaga di atap-atap rumah warga serentak mengucap Allahu Akbar. Suaranya menggema sampai ke hutan.

Dan dari dalam Alas Purwo, terdengar raungan marah Banaspati yang sangat keras, sampai pohon-pohon beringin bergetar.

Pertemuan pertama itu resmi.

Hari itu, Arga yang pulang sebagai cucu yang tidak diundang, resmi jadi murid pertama Ustadz Jin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!