NovelToon NovelToon
Silam 1989

Silam 1989

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: The Hollow Archive

Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konfrontasi di Kursi Belakang

Aris memacu Corolla DX miliknya menembus fajar yang mulai menyingsing di Kota Marunda. Alih-alih menuju kantor atau rumah aman, dia mengarahkan setir ke sebuah kedai kopi di sudut kota yang sudah buka sejak pukul lima pagi. Di sana, di meja paling pojok, seorang pria paruh baya berkacamata tebal sedang menyesap kopi susu sambil membaca draf tulisan.

Dia adalah Bramantyo, seorang wartawan investigasi senior dari harian Suara Marunda yang terkenal idealis dan tidak bisa dibeli oleh uang konglomerat.

"Kau tampak seperti orang yang baru saja lolos dari kejaran setan, Aris," sapa Bramantyo tanpa mengalihkan pandangan dari kertasnya saat Aris duduk di hadapannya.

"Lebih buruk dari itu, Bram. Aku baru saja menggali kuburan dinasti terbesar di kota ini," jawab Aris.

Dia meletakkan bundel dokumen tahun 1959 yang dibungkus jaket kulitnya ke atas meja.

"Aku butuh bantuanmu untuk mencetak peluru hitam. Kita harus mengekspos ini ke publik sebelum pengaruh Hadiningrat membungkamku selamanya."

Bramantyo membuka lembaran dokumen tersebut. Sorot matanya yang tadinya tenang berubah tegang saat membaca laporan otopsi korporasi fiktif dan peta batas tanah adat Desa Talas yang asli.

"Ini... berkas pembakaran lahan tiga puluh tahun lalu," bisik Bramantyo,. "Aku pernah mencoba mencari tahu tentang ini saat masih menjadi reporter muda, tapi semua jurnalis yang mendekati kasus ini mendadak hilang atau dipindahkan paksa ke luar pulau. Kau tahu risiko dari apa yang kau pegang ini, Aris?"

"Aku tahu. Rekanku, Januar, sekarang ditawan oleh warga Desa Talas sebagai jaminan atas dokumen ini. Aku punya waktu kurang dari tiga puluh hari untuk menyeret Hadiningrat ke pengadilan, atau Januar akan mati di altar mereka."

Bramantyo melepas kacamata, mengusap wajahnya yang tampak lelah, lalu menatap Aris dengan tajam.

"Keluarga Hadiningrat punya kendali penuh atas dewan redaksi utama kami. Jika aku menaikkan berita ini sebagai tajuk utama besok pagi, mesin cetak kami bisa disegel sebelum koran sempat diedarkan. Kita harus bermain cantik."

Bramantyo kemudian melipat dokumen tersebut dan memasukkannya ke dalam tas jinjingnya.

"Aku akan menyalin berkas ini dan mengirimkannya ke jaringan pers independen di ibu kota. Begitu berita ini pecah dari luar Marunda, aparat pusat akan turun tangan, dan Hadiningrat tidak akan bisa menyogok semua orang."

Namun, tepat saat Bramantyo menyelesaikan kalimatnya, sebuah mobil sedan hitam mewah dengan kaca gelap berhenti tepat di depan kedai kopi. Dua orang pria dengan pakaian safari necis turun dari mobil, mata mereka menyapu seisi kedai sebelum akhirnya tertuju pada meja Aris dan Bramantyo.

Aris tahu betul siapa mereka. Itu adalah orang-orang suruhan Keluarga Hadiningrat yang tampaknya sudah melacak pergerakannya sejak dari ruang arsip bawah tanah.

Aris menghembuskan asap rokoknya, tetap bersandar di kursi rotan itu dengan ekspresi wajah yang datar.

"Tetap di tempatmu, Bram," bisik Aris tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua pria bersafari yang berjalan mendekat.

"Jangan tunjukkan kepanikan sedikit pun. Masukkan tasmu ke bawah meja."

Bramantyo mengangguk, memosisikan tas jinjing berisi dokumen 1959 di dekat kakinya. Kedua pria berbadan tegap itu berhenti tepat di samping meja mereka. Salah satu dari mereka, yang memiliki bekas luka sayatan kecil di pipinya, menurunkan kacamata hitamnya.

"Detektif Aris," sapanya. "Tuan Besar menanti Anda di kediaman. Beliau ingin membicarakan perihal putrinya... dan barang lama yang Anda pinjam dari ruang arsip tadi malam."

Aris mematikan rokok kreteknya di asbak seng. Dia tidak meraih pistol revolver di balik jaketnya.

"Kebetulan sekali. Saya juga punya banyak hal yang ingin saya tanyakan pada Tuan Besar kalian," jawab Aris tenang.

Dia bangkit berdiri, lalu menoleh ke arah Bramantyo.

"Kopinya biar saya yang bayar, Bram. Nikmati sisa pagimu."

Itu adalah kode rahasia agar Bramantyo segera bergerak setelah mereka pergi. Bramantyo hanya mengangguk, memahami tanggung jawab besar yang kini ada di pundaknya.

Aris berjalan keluar dikawal oleh kedua pria tersebut. Dia diarahkan masuk ke kursi belakang mobil sedan hitam mewah yang terparkir di depan kedai.

Begitu pintu ditutup, suasana di dalam kabin mobil mendadak senyap, menyekat bisingnya jalanan Kota Marunda di tahun 1989 ini. Mobil segera melaju, menuju kawasan elite tempat istana keluarga Hadiningrat berdiri.

Selama perjalanan, tidak ada satu pun kata yang terucap. Aris hanya menatap keluar jendela, mengamati jam tangannya yang terus berdetak. Waktu jaminan untuk keselamatan Januar di Desa Talas kini resmi berkurang satu hari lagi.

Dia sengaja membiarkan dirinya dibawa agar bisa berhadapan langsung dengan otak dari seluruh konspirasi ini: Adiwangsa Hadiningrat, putra dari Bratasena Hadiningrat yang kini memimpin dinasti tersebut.

Tiga puluh menit kemudian, mobil memasuki gerbang besi tinggi yang dijaga ketat. Di ujung halaman yang luas dengan hamparan rumput hijau, berdiri sebuah rumah megah berarsitektur kolonial.

Aris dituntun melewati koridor panjang berlantai marmer, menuju sebuah ruangan luas yang menghadap langsung ke taman belakang. Di sana, duduk di sebuah kursi goyang kayu jati yang mewah, seorang pria tua dengan setelan jas rapi sedang membelakangi mereka.

Di sampingnya, berdiri Ajun Komisaris Hendra yang tampak gelisah. Pria tua itu perlahan memutar kursi goyangnya. Wajahnya yang dipenuhi kerutan wibawa menatap Aris dengan senyuman yang sulit diartikan.

"Selamat pagi, Detektif Aris," sapa Adiwangsa Hadiningrat, suaranya terdengar ramah namun penuh dengan intimidasi.

"Saya harus berterima kasih karena Anda telah menemukan putri kecil saya, Nirmala. Tapi, saya dengar Anda juga membawa sesuatu yang bukan hak Anda dari kantor polisi. Mengapa kita tidak menyelesaikannya secara kekeluargaan di sini?"

1
Syauqi Purnama
lanjutt dongggg😭😭😭
The Hollow Archive: D tunggu ya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!