Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Episode 1

Bab 1

Ulang Tahun yang Sepi

Sebatang lilin merah berdiri miring di atas sepotong martabak manis yang sudah dingin.

Aku menangkupkan kedua tangan di depan dada. Nyala kecil itu membuat gula dan margarin di permukaan martabak berkilau seperti krim kue ulang tahun. Kalau aku memicingkan mata, noda lembap di dinding dapur menghilang. Ember bocor di bawah wastafel juga tidak terlihat. Yang tersisa hanya cahaya lilin, wangi kacang yang tipis, dan aku yang genap berusia enam belas tahun malam ini.

Perutku berbunyi.

Aku belum makan sejak pagi, tetapi aku menahan diri untuk tidak menyentuh martabak itu. Sebelum meniup lilin, orang harus membuat permohonan. Begitulah yang pernah kulihat dari balik jendela rumah tetangga ketika anak mereka berulang tahun.

Aku memejamkan mata.

Semoga ada yang menyayangiku.

Permintaan itu terdengar serakah. Aku segera menggantinya dalam hati.

Tidak perlu sayang. Semoga besok Bu Win tidak marah.

Kunci beradu keras di pintu depan.

Mataku terbuka. Belum sempat aku meniup lilin, pintu kontrakan terbanting ke dinding. Langkah sandal berlari melewati ruang tengah. Bu Win muncul di ambang dapur dengan napas memburu. Kerudungnya miring, bedak di sekitar hidungnya luntur, dan tas hitam yang biasa dia bawa ke tempat arisan tidak ada di tangannya.

Tatapannya jatuh pada lilin.

“Kamu beli itu pakai uang siapa?”

“Uang kembalian dari warung, Bu. Cuma seribu. Martabaknya dikasih penjual karena sudah mau tutup.”

Aku buru-buru mematikan lilin dengan jari. Panasnya menyengat, tetapi aku tidak berani meniupnya. Bu Win tidak suka melihatku membuat keributan, bahkan keributan sekecil asap lilin.

Dia melangkah masuk dan mencengkeram pergelangan tanganku.

“Ikut Tante sekarang.”

“Ke mana?”

“Jangan banyak tanya.”

Jari-jarinya semakin kuat. Memar lama di lenganku berdenyut di bawah lengan baju.

“Tapi piringnya belum aku cuci.”

“Biar besok!” bentaknya. “Cepat pakai sandal.”

Nada suaranya berbeda dari biasanya. Bu Win sering marah, tetapi malam ini ada sesuatu yang lebih tajam di balik kemarahannya. Ketakutan.

Aku mengambil sandal jepit di dekat pintu. Tali sebelah kanan sudah dua kali kusambung dengan kawat tipis. Saat aku menunduk, Bu Win menarikku begitu keras hingga bahuku membentur kusen.

“Sakit, Bu.”

“Kalau kamu nurut, semua cepat selesai.”

Gang di depan kontrakan masih basah setelah hujan magrib. Air selokan mengalir hitam di bawah cahaya lampu warung. Televisi dari rumah-rumah yang berhimpitan saling bersahutan, bercampur suara motor dan orang menggoreng tempe.

Bu Win berjalan cepat tanpa melepaskan tanganku.

“Reno di mana?” tanyaku.

“Bukan urusanmu.”

“Bu, kita mau ke mana?”

Dia berhenti mendadak. Kukunya menekan kulitku.

“Sekar, Tante sudah memberimu tempat tinggal lima tahun. Tante kasih kamu makan. Tante sekolahkan kamu sebelum uangnya habis. Sekarang Tante cuma minta kamu bantu sekali. Masa nggak bisa?”

Dadaku terasa sempit.

Kalimat itu selalu muncul sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Sebelum dia menyuruhku berbohong kepada pemilik kontrakan. Sebelum dia mengambil uang peninggalan Ibu. Sebelum tangkai sapu mendarat di betisku karena nasi yang kutanak terlalu lembek.

“Bantu apa?”

Bu Win kembali berjalan.

“Nanti juga tahu.”

Kami melewati warung tempat aku membeli lilin. Penjualnya sedang menurunkan pintu seng. Aku ingin memanggilnya, tetapi Bu Win menoleh seolah tahu apa yang kupikirkan.

“Jangan bikin malu Tante.”

Aku menutup mulut.

Di ujung gang, suara kartu dibanting terdengar dari sebuah rumah bercat hijau kusam. Beberapa motor terparkir rapat di depannya. Asap rokok keluar dari jendela yang ditutup koran. Aku pernah disuruh menjemput Bu Win di sini sekali. Saat itu dia pulang menjelang subuh tanpa anting-anting dan memukulku karena tidak ada kopi.

Kakiku berhenti.

“Aku tunggu di luar saja, Bu.”

“Masuk.”

“Aku takut.”

Bu Win menarikku melewati pintu.

Udara di dalam lebih panas daripada gang. Bau rokok, keringat, dan kopi basi melekat di tenggorokan. Empat laki-laki duduk mengelilingi meja yang dipenuhi kartu remi dan lembaran uang. Dua orang berdiri di dekat pintu belakang. Mereka menoleh bersamaan ketika kami masuk.

Laki-laki berkemeja hitam di ujung meja menyandarkan tubuhnya. Bekas luka melintang di alis kirinya. Aku mengenalnya dari bisik-bisik tetangga.

Bang Jagur.

“Akhirnya datang juga,” katanya.

Bu Win mendorongku selangkah ke depan.

“Aku bawa jaminannya.”

Ruangan mendadak terasa terlalu sunyi. Bahkan kipas angin tua di langit-langit terdengar seperti sedang menggerus sesuatu.

Bang Jagur tertawa pendek. “Jaminan apa ini?”

“Keponakanku.” Bu Win menjilat bibirnya yang kering. “Dia bisa kerja. Masak, nyuci, bersih-bersih. Rajin. Nggak bakal kabur.”

Aku menatap wajahnya.

“Bu?”

Dia menghindari mataku.

Bang Jagur mengambil selembar kertas dari bawah asbak. “Utang lo dua puluh tiga juta, Win. Anak kurus begini mau lo hargai berapa?”

Dua puluh tiga juta.

Angka itu melayang di kepalaku, terlalu besar untuk kupahami. Aku hanya tahu martabak dingin tadi harganya delapan ribu sebelum penjual memberikannya kepadaku. Aku tahu satu bungkus nasi cukup untuk membuat perutku berhenti sakit. Aku tidak tahu berapa harga seorang manusia.

“Aku bisa bayar sisanya nanti,” kata Bu Win cepat. “Yang penting malam ini orang-orangmu jangan datang ke rumah lagi.”

“Bu, aku mau pulang.”

Tanganku mencari ujung bajunya. Bu Win menepisnya.

“Diam.”

“Aku janji akan kerja lebih banyak. Aku nggak akan minta uang sekolah. Aku bisa jual gorengan, aku bisa...”

“Kubilang diam!”

Telapak tangannya menghantam pipiku.

Kepalaku terlempar ke samping. Rasa asin memenuhi mulut. Saat aku kembali menatapnya, wajah Bu Win tampak kabur oleh air mata.

“Tante sudah nggak punya pilihan,” desisnya. “Anggap saja kamu balas budi.”

“Aku sudah kerja setiap hari.” Suaraku nyaris tidak terdengar. “Uang Ibu juga sudah Tante ambil.”

Wajahnya menegang.

Bang Jagur berdiri. Kursinya bergesek panjang di lantai.

“Urusan keluarga nanti saja.” Dia berjalan mengitariku, lalu menatap Bu Win. “Mulai malam ini utang lo gue tahan. Kalau anak ini bikin masalah, bunganya jalan lagi.”

“Iya, Bang. Dia penurut.”

“Bu, jangan.”

Aku memegang lengan Bu Win dengan kedua tangan. “Aku tidur di lantai juga nggak apa-apa. Aku makan sekali dua hari juga nggak apa-apa. Jangan tinggalin aku di sini.”

Untuk sesaat, matanya bertemu mataku.

Aku mencari sedikit rasa kasihan di sana. Lima tahun aku mencuci pakaiannya, memasak untuk Reno, dan memijat kakinya ketika dia pulang berjudi. Pasti ada satu bagian kecil dalam dirinya yang masih menganggapku keluarga.

Bu Win melepaskan tanganku satu per satu.

“Jangan cari Tante.”

Dia berbalik.

“Bu!”

Aku mengejarnya, tetapi Bang Jagur mencengkeram lengan atasku. Nyeri menembus sampai bahu. Bu Win terus berjalan. Kerudung miringnya menghilang di balik pintu tanpa sekali pun menoleh.

Sesuatu di dalam dadaku ikut pergi bersamanya.

“Lepasin!”

Aku meronta. Bang Jagur menarikku ke arah lorong belakang.

“Tenang. Jangan bikin gue susah.”

“Aku bukan barang! Aku bukan punya dia!”

“Mulai malam ini, lo bayar utangnya.”

Kedua lelaki di dekat pintu tertawa. Salah seorang bergerak menutup jalan keluar.

Aku menendang tulang kering Bang Jagur. Cengkeramannya mengendur sesaat, lalu kembali lebih keras. Rasa sakit membuat pandanganku memutih.

“Pegang anak ini!” bentaknya.

Sebuah tangan terulur dari kanan.

Aku tidak berpikir. Aku menunduk dan menggigit punggung tangan Bang Jagur sekuat tenaga.

Dia mengumpat. Rasa darah menyentuh lidahku. Begitu tangannya terlepas, aku menyelip di antara meja dan dinding. Seseorang berhasil menangkap ujung bajuku, tetapi kain tipis itu robek di bahu.

“Tangkap dia!”

Aku menerjang pintu.

Sandal kananku putus di anak tangga. Aku meninggalkannya. Kerikil menusuk telapak kakiku saat berlari melewati gang, tetapi rasa sakit itu kalah oleh suara langkah di belakang.

“Sekar!”

Teriakan Bang Jagur memantul di antara tembok kontrakan.

Aku berlari tanpa tahu ke mana. Napasku mengoyak tenggorokan. Perut kosongku seperti diperas. Kaki kiriku menginjak pecahan genting dan sesuatu yang hangat mulai membasahi telapak, tetapi aku tidak berhenti.

Warung sudah tutup.

Pintu-pintu rumah ikut tertutup.

Gang yang kukenal seumur hidup mendadak tidak punya satu pun tempat untuk bersembunyi.

Di depan, cahaya lampu kendaraan mengalir di jalan besar. Klakson bersahutan. Aku mendengar Bang Jagur semakin dekat, disusul napas kasar dua orang lainnya.

Kalau mereka menangkapku di gang sempit, tidak akan ada yang berani membantu.

Aku berbelok ke jalan raya.

Sebuah motor nyaris menyerempetku. Pengendaranya memaki, tetapi suaranya tenggelam oleh deru mesin. Lampu-lampu membuat mataku silau. Aku mengangkat tangan kepada mobil pertama. Mobil itu menambah kecepatan. Mobil kedua membunyikan klakson dan melewatiku.

“Tolong!”

Suaraku pecah.

Jari Bang Jagur hampir menyentuh rambutku dari belakang.

Di jalur paling dekat, sepasang lampu putih melaju cepat. Mobil hitam itu terlalu mengilap untuk jalan di lingkungan kami. Aku tidak tahu mereknya. Aku hanya tahu orang di dalamnya mungkin satu-satunya yang belum sempat memilih untuk mengabaikanku.

Aku menerobos ke tengah jalan.

Klakson panjang menjerit.

Ban mencengkeram aspal basah. Cahaya putih menelan tubuhku. Aku mengangkat kedua tangan, tetapi kakiku tidak sanggup bergerak lagi.

Mobil itu berhenti begitu dekat hingga lututku membentur bagian depannya.

Aku jatuh menelungkup di atas kap mesin. Logamnya hangat di bawah telapak tanganku. Dari belakang, Bang Jagur meneriakkan namaku.

“Tolong aku!”

Aku memukul kap mobil sekali, dua kali, sekuat tenaga.

“Tolong! Mereka mau menjual aku!”

Mesin masih menyala. Kaca depannya gelap. Selama satu detik yang panjang, tidak ada siapa pun yang bergerak di dalam.

Lalu terdengar bunyi kunci terbuka.

Pintu mobil itu perlahan terbuka.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
Episodes

Updated 125 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!