NovelToon NovelToon
Setelah Aku Memilih Bercerai

Setelah Aku Memilih Bercerai

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Muncul Masalah

Pagi itu, suasana di lahan terasa lebih sibuk dari biasanya.

Keranjang-keranjang hasil panen tersusun lebih banyak. Cabai merah memenuhi sebagian besar, disusul sayuran daun yang tampak segar dan rapi.

"Ini semua kita bawa ke pasar?" tanya Yati sambil menatap hasil panen yang jauh lebih banyak dari biasanya.

Mela menggeleng pelan. "Enggak semuanya."

Semua menoleh. "Maksudnya?"

Mela mengusap tangannya, lalu mengambil secarik kertas kecil dari saku. "Kemarin ada yang datang."

"Siapa?" tanya Darmi penasaran.

"Pedagang dari kota," jawab Mela. "Dia punya beberapa warung makan. Katanya, butuh pasokan sayur tetap."

Mereka terdiam, saling panjang, mencerna kalimat itu

"Pasokan tetap?" ulang Surti.

Mela mengangguk. "Kalau kita bisa jaga kualitas dan jumlah, dia mau ambil rutin."

Perlahan, bibir mereka mengembang. "Wah... Serius, Mel?" tanya Darmi memastikan.

Mela tersenyum dan mengangguk mantap.

"Berarti, bisnis ini bukan main-main lagi. Bukan asal coba. Tapi, sudah berkembang pesat."

Mela tertawa kecil. "Ya, memang ini tujuan usahaku. Aku lihat, di sini belum banyak orang yang menanam sayur-sayuran. Mereka hanya menanam padi dan palawija. Jadi, aku nekad mengambil peluang ini dan hasilnya... " Mela merentangkan kedua tangannya.

Darmi dan yang lain, tersenyum sambil mengangguk bangga.

"Tapi, Mel, lahan mu sekarang cukup luas. Mungkin, kau membutuhkan pekerja tambahan," usul Asih. "Ya, Aku, sih tidak masalah harus bekerja di sini seharian. Apalagi, aku hanya ibu rumah tangga tanpa penghasilan dan, untungnya mertua dan suami sangat mendukung."

Yati dan Surti mengangguk setuju. "Kami juga," timpal mereka.

"Apa lagi, aku." Darmi tersenyum sendu. Setelah bercerai dengan suaminya, dia harus memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi, anaknya juga masih bersekolah.

Mela terdiam. Pandangannya beralih pada lahannya yang memang lebih luas dari sebelumnya. Lalu, beralih pada teman-temannya.

Memang benar, lahannya sekarang cukup luas. Dan, pasti pekerjaan mereka bertambah. Apalagi, Darmi dan yang lain juga harus mengurus rumah tangga, menyiapkan keperluan dan membersihkan rumah. Dan, hal itu tidaklah mudah.

"Baiklah, akan aku pikirkan," ucapnya akhirnya.

Dan, hari itu, hasil panen mereka tidak hanya dibawa ke pasar kecil desa tapi, sebagian langsung diambil oleh seorang pria paruh baya dengan mobil pick-up sederhana.

Pria itu datang dan langsung memeriksa sayuran satu per satu.

"Segar-segar, ya," gumamnya.

Mela berdiri di samping, menahan napas tanpa sadar, berharap akan menjadi pemasok tetap pria itu.

"Kalau bisa begini terus, saya ambil rutin tiap minggu," lanjut pria itu.

Bibir Mela mengembang. Lalu, ia mengangguk mantap. "Iya, Pak. Kami usahakan."

Pria itu tersenyum tipis. "Usahakan jangan sampai turun kualitasnya, ya."

"Pasti, pak. Saya akan menjaga agar kualitas sayuran kami tidak turun," sahut Mela.

Pria itu mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil. Ia sempat melambaikan tangan, sebelum mobil itu pergi membawa sebagian hasil kerja mereka.

Mela dan yang lain berdiri memandangnya, hingga mobil tersebut menjauh. Dan, beberapa detik kemudian—

"Mel!" suara Darmi terdengar pelan.

Mela menoleh. "Apa, mbak?"

"Itu... Usaha kita benar-benar jalan sekarang, ya?"

Mela tersenyum. Kali ini lebih yakin dari sebelumnya. "Iya, mbak. Semua berkat usaha kita bersama. Walaupun kita sempat gagal di awal, namun dengan tekad dan keyakinan, akhirnya kita bisa sampai di titik ini."

Darmi dan yang lain saling pandang dalam diam. Lalu, sedetik kemudian, mereka bersorak gembira.

"Yey... Usaha kita berjalan lancar!"

Mereka melompat kegirangan, dan berakhir saling berpelukan.

Mela yang dulu di remehkan, kini sudah bangkit. Tetangga yang dulu membicarakannya di belakang, sekarang menjadi sahabatnya dan, membantu menjalankan usaha pertanian bersama-sama.

Namun, tidak semua orang melihat itu dengan cara yang sama.

Di sudut pasar, beberapa orang mulai berbisik, membicarakan mereka, terutama Mela.

"Sekarang dia jadi bos, ya?"

"Baru juga mulai, sudah bawa-bawa orang kota."

"Jangan-jangan, nanti air sungai juga dia kuasai."

"Tapi, ini terlalu cepat. Belum ada setahun tapi, si janda itu sudah sesukses ini."

"Dia pasti pake cara licik dan merayu biar dapat narik penjual."

Tawa kecil terdengar. Tidak keras, namun cukup tajam.

Mela dan yang lain tidak menghiraukannya . Mereka terlalu senang dengan penghasilan hari ini. Dan, keberhasilan yang Mela capai, justru membuat orang-orang mulai tidak suka.

Seperti sore itu, saat Mela dan yang lain sedang mengatur aliran air, tiba-tiba suara keras terdengar.

"Airnya kok kecil, ya hari ini?"

Yati mengerutkan kening. "Perasaan tadi masih normal."

Darmi berjalan ke arah pipa, lalu berhenti. Ia berjongkok memeriksa pipa tersebut. "Mel!" panggilnya

Mela dan yang lain mulai mendekat. "Ada apa, mbak?"

"Ini... " Darmi menunjuk pipa yang terlepas.

Jelas sekali jika semua itu bukan karena jatuh. Tapi, seolah sengaja dicabut.

"Siapa yang lepas pipa kita?" tanya Surti kesal.

Tidak ada yang menjawab. Namun semua tahu, ini bukan kebetulan.

Mela terdiam, menatap pipa itu. "Ya sudah, Kita pasang lagi saja," ucapnya tenang.

"Mel, ini jelas-jelas ada yang—"Yati tidak melanjutkan saat Mela menggeleng pelan.

"Aku tahu," lirih Mela. Tangannya mulai memasang kembali sambungan pipa. "Kalau kita marah sekarang, yang ada malah jadi besar," lanjutnya.

Darmi menggertakkan gigi. "Terus kita diam aja, gitu?"

Mela berhenti sejenak, menatap mereka bergantian. "Kita buktikan saja, kalau kita bisa jalan tanpa mengganggu siapa pun."

Darmi mendengus kasar. "Kau terlalu baik, Mel."

"Iya," timpal Surti. "Kalau aku jadi kami, aku akan cari orang itu dan buat perhitungan dengannya."

Mela tersenyum, lalu berdiri. "Aku juga ingin begitu. Tapi, tanpa kita cari pun, suatu hari nanti orang itu pasti akan muncul sendiri."

Asih menghela napas panjang. "Baiklah, kami.ikuti ucapan mu. Tapi, sungai milik bersama. Siapapun boleh menggunakannya. Jika sudah seperti ini, kau harus berhati-hati, Mel."

***

Malam harinya, Mela duduk sendiri dengan buku catatannya.

Angka-angka pengeluaran dan pemasukan mulai bertambah. Dan, kemungkinan sampai ke depan.

Namun, pikirannya tidak sepenuhnya di sana. Ia teringat pipanya yang lepas, seolah di sengaja. Dan, tatapan orang-orang di pasar, bisikan-bisikan kecil mereka, semua kembali terngiang di benaknya.

Mela menutup buku itu perlahan dan menghela napas panjang.

"Ternyata, semua tidak cukup hanya bekerja keras," gumamnya pelan.

Ia menatap ke luar jendela. Langit malam terlihat gelap, angin berhembus pelan membawa hawa dingin yang menyesakan.

"Aku tidak boleh diam saja," gumamnya.

1
Sumar Sutinah
kejujuran itu penting dino
Sumar Sutinah
sudah hancur baru ingat sm orang yg sll setia, penyesalan tdk ada gunanya, dasar penghianat
Riski pasaribu pasaribu
ceritanya seru 👍

temen2 pembaca .silahkan baca juga Novel pertamaku "Pasha dan Rani"
dijamin ngakak,terharu sedih dan bikin penasaran.
Dede Djubaedah
💪🙏💪🙏🙏💪🙏💪🙏💪🙏🙏💪🙏💪😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍 tujuan 🤣🤣🤣🤣
Marina Tarigan
kamu yg menghancurkan rmh thga mela dan Rahman dam kamu curi uang dan perhiasan di rmh Rahman dan mereka jd gelandangan karena ulahmu dimana nuranimu camila sebentar ĺagi kamu akan ketemu Dimo
Marina Tarigan
mknya sifst iri itu jgn dipelihara teman2 kalian salah krang tjnghu alibatnya
Marina Tarigan
tak usah pikiri yg penting Dino menci taimu dgn tulus katena semua komentar itu tdk pernah ada odo amat biarkan meteka kepanasan
Marina Tarigan
orang gila lagi ngamuk
Marina Tarigan
sdb terlambst Rahman apapun kamu bilang kamu tdk punya tsring lavi
Marina Tarigan
.onyet mau memisahkan meli dan Dino oba saja
Marina Tarigan
Dyah i ni manusia langka ya udahpun sangat terpuruk hampir mati kelapsran ttp arogan kamu yg buay kalian hancur nek
Marina Tarigan
sdhlah ldpaskan mela dgn lapang dada tata hixjpmu kembali demi mada depan kalian semoga berhasil
Marina Tarigan
Rahman wanita kalau sdj terlampau sakit ayas perbuatan suaminya jauh lebih keras dp batu ksrang mknya
Marina Tarigan
semoga berhasil ya padajal mela sdj menerima lamaran Dino Diah
Marina Tarigan
hai Diah kenapa kamu matah pd Mela dia bukan siapamu lagi aroganmu selangit sdh jafi gelandangan masih vongkak
Marina Tarigan
namamya anak2 masih dibawah umur topu muslihst dia tak mengerti dia taju hanya kesenangan yg terpenuhi dan kamu Diah berkat kesombonganmu dan aroganmu anakmu hancur lebur menhjina trrus
Marina Tarigan
haha semua teman2 mela heboh banget gimana zDiah enak kan hinaanmu sm mela syukurin
Marina Tarigan
terima kasih camila kami berhasil menguras semua tanpa sisa
Marina Tarigan
namanya orang desa matanya hanya berucap sejauh penh
glihatan ya saja.
Anik Setyowati
aku tahu dino adalahbos yg selama ini,mbantu perusahaannya Rahman dan setelah Rahman menikah dengan Camila maka dia mencabut kerja samanya dengan perusahaan rahman👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!