Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Para tetua saling berpandangan dengan wajah merah padam menahan amarah yang meledak.
Uang yang digelapkan oleh Leo adalah uang hasil keuntungan yang seharusnya dibagikan kepada mereka semua.
"Kurang ajar! Pantas saja dividen saham kita terus menurun tiga tahun ini!" maki salah satu pemegang saham.
"Kamu ini benar-benar parasit keluarga! Beraninya kamu mencuri uang kami untuk main judi dan foya-foya!" teriak tetua yang lain dengan urat leher menonjol.
Leo dan Rika kini terpojok tanpa bisa memberikan bantahan apapun lagi.
Bukti yang disajikan oleh Nadia terlalu lengkap, rinci, dan tidak bisa dibantah oleh alibi murahan.
Lutut Leo terasa lemas hingga dia akhirnya jatuh terduduk di kursinya dengan pandangan kosong.
Rio berdiri dari kursi kebesarannya dan berjalan perlahan menghampiri meja tempat Leo duduk.
Langkahnya sangat pelan namun terasa sangat mengintimidasi bagi Leo yang sedang ketakutan.
Rio menopang kedua tangannya di atas meja dan menatap Leo tepat di matanya.
"Inikah kualitas darah murni yang ingin kalian jadikan pemimpin perusahaan ini?" tanya Rio dengan nada mengejek yang sangat menusuk.
Rio menoleh menatap para tetua yang tadi menuntutnya mundur.
"Jika kalian masih ingin memilih tikus pencuri ini sebagai direktur utama, silakan angkat tangan kalian sekarang," tantang Rio dengan suara berat.
Tidak ada satu pun tetua yang berani mengangkat tangan apalagi menatap mata Rio.
Mereka semua menunduk malu karena sudah salah membela orang yang justru mencuri uang mereka.
"Bagus, karena kalian semua sudah diam, maka dengarkan keputusanku sekarang," putus Rio kembali menatap Leo.
"Leo, kamu punya dua pilihan siang ini."
"Pertama, kembalikan seluruh saham keluargamu padaku tanpa ganti rugi sepeserpun."
"Lalu angkat kaki dari keluarga Sentosa dan jangan pernah memakai nama keluarga ini lagi."
Leo menelan ludah dengan susah payah mendengar pilihan pertama yang sangat merugikan itu.
"L... lalu apa pilihan yang kedua Rio?" tanya Leo dengan suara parau nyaris tak terdengar.
Rio menyeringai sangat lebar menampilkan sisi iblisnya yang tidak punya belas kasihan.
"Pilihan kedua, aku akan menyerahkan semua bukti ini ke kepolisian dan komisi pemberantasan korupsi hari ini juga."
"Kamu dan ibumu akan membusuk di penjara selama minimal dua puluh tahun ke depan," ancam Rio dengan sangat mematikan.
"Dan tentu saja, setelah kalian masuk penjara, saham kalian akan tetap aku sita secara paksa."
Mendengar ancaman penjara selama dua puluh tahun, Rika langsung menjerit histeris dan jatuh berlutut di lantai.
"Tidak! Tante tidak mau masuk penjara Rio! Tolong ampuni Tante dan Leo!" mohon Rika menangis memeluk kaki meja.
"Leo masih muda, masa depannya akan hancur kalau dia masuk penjara Rio, Tante mohon kasihani kami!" isaknya tanpa rasa malu sedikitpun.
Leo juga ikut merosot dari kursinya dan berlutut di samping ibunya dengan tubuh gemetar hebat.
Kesombongannya sepuluh menit yang lalu kini sudah hancur lebur berganti dengan ketakutan luar biasa.
"Aku pilih yang pertama Kak Rio! Aku serahkan semua sahamku padamu hari ini juga!" teriak Leo cepat karena terlalu takut dipenjara.
"Asalkan kamu tidak melaporkanku ke polisi, aku rela keluar dari keluarga Sentosa Kak!" mohonnya dengan air mata buaya.
Rio mendengus sinis dan menendang pelan tangan Rika yang mencoba memegang sepatunya.
"Tadi kamu memanggil ibuku gembel, sekarang kamu memanggilku Kakak?" ejek Rio menggelengkan kepalanya jijik.
"Nadia, berikan surat penyerahan saham itu padanya sekarang," perintah Rio tanpa mempedulikan tangisan mereka.
Nadia maju dengan langkah elegan dan menyodorkan dua buah map beserta pulpen hitam.
Dengan tangan yang sangat bergetar, Leo dan Rika menandatangani surat yang mengakhiri masa kejayaan mereka.
Seluruh harta, saham, dan kekuasaan mereka di Grup Sentosa resmi melayang dalam sekejap mata.
"Satpam, seret dua orang asing ini keluar dari gedung perusahaanku sekarang juga," perintah Rio setelah dokumen itu ditandatangani.
"Pastikan mereka tidak membawa barang apapun selain pakaian yang melekat di tubuh mereka."
Empat orang satpam bertubuh besar langsung masuk dan menarik paksa tubuh Leo dan Rika.
"Kakak ipar! Tolong kami Kak! Kami tidak punya rumah lagi kalau diusir begini!" teriak Rika memohon pada Bramantyo yang sejak tadi diam.
Bramantyo hanya memalingkan wajahnya dan menutup matanya tanda tidak peduli sama sekali.
"Tolong Rio! Kami mau makan apa besok Rio!" jeritan Leo dan Rika semakin menjauh sebelum pintu ruang rapat tertutup rapat.
Blam.
Pintu tertutup menyisakan keheningan yang mencekam di dalam ruang rapat tersebut.
Rio kembali berjalan menuju kursi utamanya dan duduk dengan sangat santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Dia menatap para tetua yang masih menundukkan kepala dengan keringat dingin bercucuran.
"Ada lagi yang ingin mempertanyakan kelayakanku sebagai Direktur Utama?" tanya Rio dengan suara santai namun penuh tekanan.
Para tetua serempak menggelengkan kepala mereka dengan cepat layaknya boneka.
"Tidak Tuan Direktur, Anda adalah pemimpin terbaik yang kami miliki," jawab salah satu tetua mewakili yang lain dengan suara patuh.
"Kami mendukung penuh semua keputusan Anda Tuan Direktur," tambah tetua lainnya membeo ketakutan.
Rio tersenyum puas melihat anjing-anjing tua itu kembali jinak di bawah kendalinya.
Mulai hari ini, tidak akan ada lagi satu orang pun di dalam keluarga Sentosa yang berani merendahkan dirinya apalagi ibunya.
Parasit terbesar sudah dibasmi, dan kekuasaan absolut Rio kini benar-benar tak tersentuh oleh siapapun.