NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DARAH NONA MUDA

PEMBALASAN DARAH NONA MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vvhiiiiivhy

Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Percikan Api di Balik Topeng Aliansi

Lilin-lilin perak di ruang kerja Duke Killian memancarkan cahaya temaram yang menari-nari di atas permukaan meja mahoni hitam. Suasana di dalam ruangan itu begitu sunyi, menyisakan suara detak jam dinding kuno yang beritme konstan, seolah-olah sedang menghitung mundur waktu kehancuran seseorang.

Elena duduk dengan punggung tegak di kursi beludru di hadapan sang tirani berdarah dingin. Gaun malamnya yang berwarna biru safir kontras dengan atmosfer ruangan yang kelam. Di tangannya, ia memegang sebuah dokumen berisi rincian pasokan logistik dan pergerakan dana rahasia milik Gavin—suami dari kehidupan pertamanya, yang kini masih berstatus sebagai pangeran yang ambisius.

Killian, yang duduk bersandar dengan santai namun memancarkan aura intimidasi yang pekat, menatap Elena dari balik cangkir tehnya. Mata merahnya yang tajam seperti elang seolah mampu menembus isi kepala Elena.

"Kau membawa informasi yang cukup menarik malam ini, Lady Elena," suara Killian terdengar rendah, seperti geraman harimau yang sedang mengintai mangsanya. "Mengetahui jalur penyelundupan senjata ilegal milik Gavin di perbatasan barat adalah kartu as yang bagus. Namun, apa yang membuatmu begitu yakin aku akan menggerakkan pasukanku hanya demi memuaskan dendam pribadimu?"

Elena tidak gentar. Kehidupan pertamanya yang berakhir tragis di sel penjara bawah tanah yang dingin dan terbakar telah menempuh jiwanya menjadi baja. Ketakutan adalah kemewahan yang sudah lama ia buang.

"Ini bukan sekadar tentang dendam pribadi saya, Duke Killian," jawab Elena, suaranya tenang namun sarat akan penekanan. Ia meletakkan dokumen itu ke atas meja dan mendorongnya ke arah Killian. "Gavin tidak hanya mengumpulkan dana untuk kesenangannya sendiri. Dia sedang membangun pengaruh di kalangan bangsawan faksi selatan untuk menggulingkan posisi Anda sebagai Panglima Tertinggi Kekaisaran. Jika Anda membiarkannya tumbuh lebih kuat dalam tiga tahun ke depan, dialah yang akan menyeret Anda ke tiang gantungan."

Killian menurunkan cangkirnya perlahan. Suara dentingan porselen membentur meja terasa begitu nyaring di ruangan yang sepi itu. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang dingin dan misterius.

"Kau berbicara seolah-olah kau bisa melihat masa depan," bisik Killian, mencondongkan tubuhnya ke depan. Jarak di antara mereka mengikis, membuat Elena bisa mencium aroma maskulin bercampur kayu cendana yang kuat dari tubuh sang Duke.

Elena menahan napas sejenak, menjaga agar ekspresi wajahnya tetap datar. Aku memang melihat masa depan, Killian. Masa depan di mana pria itu membantai anakku dan membakarku hidup-hidup, batin Elena dengan kepalan tangan yang tersembunyi di balik lipatan gaunnya.

"Saya hanya seorang wanita yang pandai membaca arah angin, Duke," balas Elena tajam. "Dan saat ini, angin sedang berembus ke arah kehancuran kita berdua jika kita tidak bertindak cepat. Aliansi ini adalah jalan terbaik bagi Anda untuk membersihkan duri di dalam kekaisaran, dan bagi saya untuk memastikan Gavin mendapatkan tempat terdalam di neraka."

Killian terdiam beberapa saat, menatap Elena dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kilatan ketertarikan di matanya. Pria itu terbiasa melihat wanita gemetar atau memuja dirinya dengan tatapan penuh kepalsuan. Namun, Elena berbeda. Wanita di hadapannya ini menatapnya dengan tekad yang membara, dipadukan dengan kebencian murni yang diarahkan pada musuh yang sama.

"Baiklah," ucap Killian akhirnya, memecah ketegangan. Ia berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman kastil yang gelap. "Aku akan memutus jalur pasokan senjata milik Gavin di barat. Aku akan membuatnya merangkak dan kehilangan kepercayaan dari para investor rahasianya. Namun, sebagai gantinya, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku di perjamuan istana besok malam."

Elena menaikkan sebelah alisnya. "Apa yang Anda inginkan?"

"Gavin akan membawa adik tirimu, Clara, ke perjamuan itu untuk memperkenalkannya pada faksi bangsawan tinggi. Aku ingin kau menghancurkan panggung yang sudah mereka persiapkan dengan susah payah," ujar Killian dengan nada dingin yang kejam.

Mendengar nama Clara, dada Elena bergemuruh oleh amarah. Clara, adik tiri yang berpura-pura lugu namun menyembunyikan belati beracun di balik senyumnya. Di kehidupan lalu, Clara adalah wanita yang merangkak ke ranjang Gavin dan merebut takhta permaisuri setelah Elena disingkirkan.

"Tanpa Anda minta pun, saya akan melakukannya dengan senang hati, Duke," jawab Elena dengan senyuman yang tak kalah dingin.

Keesokan malamnya, Aula Utama Istana Imperial dipenuhi oleh kemegahan yang menyilaukan. Lampu gantung kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan yang menerangi ratusan bangsawan berpakaian mewah. Suara alunan musik waltz bergema, berbaur dengan tawa palsu dan dentingan gelas sampanye.

Elena melangkah masuk ke dalam aula, dan seketika itu juga, beberapa pasang mata langsung tertuju padanya. Ia mengenakan gaun sutra berwarna merah marun dengan potongan elegan yang mengekspos leher jenjangnya. Rambut emasnya disanggul rapi, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang rupawan. Aura naif yang dulu melekat pada dirinya kini telah sirna, digantikan oleh keanggunan seorang penguasa yang penuh wibawa.

Di sudut aula, Gavin berdiri dengan setelan formal berwarna putih keperakan, tampak menawan seperti seorang pangeran dalam dongeng. Di sampingnya, Clara menggelayut manja pada lengannya, mengenakan gaun berwarna merah muda pucat yang dirancang untuk membuat dirinya terlihat seperti gadis suci yang butuh perlindungan.

Elena merasakan dorongan kuat untuk menghujamkan belati ke jantung Gavin saat itu juga, namun ia menahannya. Belum saatnya, bisiknya pada diri sendiri. Kematian yang cepat terlalu indah untuk bajingan sepertimu.

Saat Gavin melihat kedatangan Elena, ekspresi wajahnya sedikit berubah. Ada kilatan keterkejutan sekaligus kekaguman yang lewat sekilas di matanya. Di kehidupan ini, Elena belum menjadi istrinya, dan ia menyadari bahwa Elena yang sekarang tampak jauh lebih sulit digapai dibandingkan Elena yang dulu selalu mengejar-ngejarnya dengan tatapan memuja.

Gavin melangkah mendekati Elena, diikuti oleh Clara yang memasang wajah cemas yang dibuat-buat.

"Elena," sapa Gavin, suaranya mencoba terdengar selembut mungkin, suara yang dulu selalu berhasil membuat jantung Elena berdegup kencang. "Kau tampak luar biasa malam ini. Aku tidak menyangka kau akan hadir, mengingat belakangan ini kau begitu sulit ditemui."

Elena tersenyum tipis, sebuah senyuman formal yang terasa begitu berjarak. "Terima kasih atas pujian Anda, Pangeran Gavin. Saya memiliki beberapa urusan penting yang harus diselesaikan, itulah mengapa saya sedikit sibuk."

"Kak Elena..." Clara menyela dengan suara yang bergetar lembut, menatap Elena dengan mata yang berkaca-kaca. "Apakah Kakak masih marah padaku? Aku tidak bermaksud mengabaikan surat Kakak tempo hari. Aku hanya... aku hanya sedang membantu Pangeran Gavin mempersiapkan proyek barunya."

Elena menatap adik tirinya dengan pandangan merendahkan. Di kehidupan dulu, tatapan seperti ini akan membuat Elena merasa bersalah dan meminta maaf. Namun sekarang, ia hanya melihat seekor badut yang sedang memainkan perannya di atas panggung komedi.

"Marah? Untuk apa aku marah pada adik kecilku yang rajin?" ucap Elena dengan nada santai namun tajam. "Hanya saja, Clara, berhati-hatilah saat membantu proyek orang lain. Aku mendengar kabar burung bahwa proyek perbatasan barat yang sedang dikerjakan Pangeran Gavin sedang diawasi ketat oleh pihak keamanan kekaisaran karena isu... barang ilegal. Aku hanya tidak ingin namamu ikut terseret jika sesuatu yang buruk terjadi."

Wajah Gavin langsung memucat mendengar ucapan Elena. Proyek perbatasan barat adalah rahasia terbesarnya yang hanya diketahui oleh segelintir orang kepercayaannya. Bagaimana bisa Elena, seorang Nona Muda yang seharusnya hanya peduli pada pesta teh dan gaun, mengetahui hal tersebut?

"Elena, dari mana kau mendengar omong kosong seperti itu?" tanya Gavin, suaranya naik satu oktav, mencoba menyembunyikan kepanikannya. Beberapa bangsawan di sekitar mereka mulai menoleh, tertarik dengan ketegangan yang terjadi.

"Omong kosong?" Elena tertawa kecil, suara tawanya terdengar merdu namun dingin. "Tentu saja saya harap itu hanya omong kosong, Pangeran. Namun, desas-desus di kalangan pedagang atas biasanya jarang meleset. Bukankah begitu, Marsekal?"

Tepat pada saat itu, sebuah langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Kerumunan bangsawan di sekitar mereka seketika membuka jalan dengan wajah penuh ketakutan dan hormat.

Duke Killian datang, berdiri di samping Elena dengan keagungan yang mutlak. Jubah hitamnya berdesir, dan auranya yang mencekam langsung mendominasi seluruh ruangan.

"Ada masalah apa di sini, Pangeran Gavin?" tanya Killian, matanya yang merah menatap Gavin dengan pandangan yang meremehkan, seolah-olah sang pangeran tidak lebih dari sebutir debu di sepatunya. "Saya mendengar Anda menyebut tentang perbatasan barat. Kebetulan sekali, pasukan saya baru saja mengamankan sebuah karavan besar yang membawa persenjataan tanpa izin di wilayah tersebut tadi sore. Apakah Anda tahu sesuatu tentang hal itu?"

Tubuh Gavin menegang hebat. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Karavan senjata ilegalnya telah ditangkap? Oleh pasukan Killian? Ini adalah pukulan telak bagi finansial dan rencana pemberontakannya.

Clara, yang merasakan situasi berbalik menjadi sangat berbahaya, melepaskan lengan Gavin dan mundur satu langkah dengan wajah ketakutan. Ia menatap Killian dengan tubuh bergetar, benar-benar terintimidasi oleh sang tirani.

Elena melirik Gavin yang kini tampak terpojok, lalu beralih menatap Killian yang memberikan kode tipis lewat tatapan matanya. Kemenangan pertama malam ini telah berhasil mereka raih dengan sempurna.

"Tampaknya Pangeran Gavin butuh waktu untuk mencerna informasi ini, Duke," ujar Elena dengan nada mengejek yang halus. "Kalau begitu, kami permisi dulu."

Elena meletakkan jemarinya di atas lengan Killian yang kokoh, dan bersama-sama, mereka berjalan melewati Gavin dan Clara yang membeku dalam kehancuran reputasi mereka yang perlahan mulai retak.

Di bawah cahaya lampu kristal, aliansi berdarah dingin antara Elena dan sang Duke tirani baru saja menancapkan taring pertamanya, dan Elena tahu, ini adalah awal dari penderitaan panjang yang akan ia berikan kepada orang-orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.

1
Pelangi Jingga
ceritanya di ulang trus
jenny
pelayan setianya ganti kak? bukannya namanya Yana?
jenny
Misha atau Dara
Nycthophile
banyak bener nih adik tiri punya nama😌
jenny: ha ha hs
total 1 replies
Nycthophile
Thor mohon maaf nih sebelum nya minta tolong kalo ada pergantian nama karakter kasih tau Thor soal nya nama adik tiri nya Elena ganti ganti terus 🙏😔
jenny: saya pikir bukan cuma saya yang bingung cz banyak nama di setiap chapter... 🤭 atau mungkin adik tirinya lebih dari satu dan semuanya tergila-gila dengan Gavin 😄
total 1 replies
Nycthophile
nama adik tiri nya yang benar Mya atau Misha Thor😔
Nycthophile
lagi perasaan tiga bab udah di ulang terus😔
Nycthophile
nama adiknya ganti ya terus Thor awalnya Dara abis itu Misha sekarang Mya😔
Siskasuryaningsih
namanya semua di ganti2, eh bambang lu ye, buat kepala ane pening tau, 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!