Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.
SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.
Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.
Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16: Lantai-lantai Apartemen
Dengan langkah yang berat, kami menaiki anak tangga satu per-satu. Pelan, penuh keraguan, tapi harus dilakukan.
Setibanya di lantai dua. Aku masih bisa melihat karena bantuan cahaya lampu dari handphone.
Hendra berusaha untuk membuka pintu darurat di lantai dua, tapi masih dengan hasil serupa, tidak bisa terbuka.
“Ini kalo sampai lantai 8 begini, gimana? Kita naik juga sia-sia kalo pintunya nggak bisa kebuka, yang ada kita makin kejebak nanti,” keluh Hendra.
“Kita fokus cari Bang Jef aja dulu,” kata Shinta.
Menganggap apa yang diucapkan Shinta ada benarnya, Hendra pun mengikuti.
Kami melangkah dengan lebih santai karena merasa hanya perlu menaiki tangga ini. Penglihatan pun juga sudah mulai terbiasa karena meski gelap, kemampuan mata melihat telah beradaptasi.
Aku bisa melihat anak tangga dengan cukup jelas.
Namun ketenangan tak bertahan lama karena saat kami hampir sampai di lantai tiga, tiba-tiba saja sejumlah tikus berlarian ke arah kami.
Shinta refleks menjerit, “Aaa..! Tikus!”
Ia kelihatan sekali, merasa sangat jijik.
Kakinya lompat-lompat menghindari binatang pengerat itu. Shinta hampir terjatuh, untung saja ditangkap oleh Hendra yang spontan langsung memegang badannya.
Aku pun juga sempat terkejut, merasa geli pada tikus-tikus yang muncul mendadak.
“Cuma tikus kok, nggak perlu khawatir,” ucap Hendra.
Setelah suasananya mulai tenang, Hendra melangkah mantap lalu berusaha untuk membuka pintu di lantai tiga. Masih tidak bisa dibuka.
Lanjut ke lantai empat, kami tersenyum karena melihat cahaya lampu yang begitu terang. Hendra mempercepat langkahnya, berusaha untuk membuka pintu di lantai tersebut, namun sayang karena masih tidak bisa dibuka juga.
“Bang Jef?” ujar Shinta.
Aku dan Hendra langsung menoleh. Kami melihat Jefry berada di sisi tangga atas menuju lantai lima. Wajahnya tersenyum aneh, tangannya melambai, seperti mengajak kami untuk naik ke atas.
Dengan cepat, kami langsung mengejar Jefry.
Tapi kami terkejut karena selain Jefry mendadak menghilang lagi. Lantai lima juga kembali disertai dengan kegelapan.
Hawanya mendadak berubah. Terasa dingin, perasaan takut pun meningkat drastis.
Aku merasa kalau ada sesuatu yang sedang menunggu kami.
Hendra pun sepertinya merasa demikian. Ia mulai membaca sejumlah ayat suci al-qur’an untuk perlindungan diri.
“Shinta, lo jalan di belakang gua,” katanya.
Meskipun diliputi rasa takut luar biasa, kami terus melangkah. Tidak ada jalan kembali.
Setibanya di lantai lima, kami diam sejenak. Melirik kesana kemari. Bukan karena ingin mencari keberadaan Jefry, tapi hanya sekedar meyakinkan bahwa situasinya aman.
“Sebentar.. Gua mau buka pintu dulu,” ujar Hendra pertanda ingin Shinta melepaskan pegangan tangannya.
Shinta langsung tersadar kalau ia sedang menggenggam lengan Hendra sangat erat.
Dengan kedua tangannya, Hendra membuka pintu dan terbuka. Namun begitu pintu bergeser, angin dingin langsung berhembus kencang sehingga membuat Hendra langsung menutupnya kembali.
“Apaan itu tadi?” ucapnya keheranan.
“Nggak tau bang,” sahutku.
Aku menduga kalau dengan suasana seperti itu, tidak mungkin ada yang tinggal di lantai itu.
“Kayaknya nggak mungkin Bang Jef ke situ deh, gelap banget,” kataku.
“Jadi kita naik lagi?” tanya Hendra.
Tak punya pilihan lain, aku hanya menganggukkan kepala dengan ragu. Tapi baru saja kami akan melangkah ke atas, terdengar suara pukulan keras dari pintu.
“Brak, brak!”
Kami semua terkejut.
“Astaghfirullahal’adzim”
Kalimat istighfar tidak lepas dari bibir Shinta yang kini wajahnya menjadi semakin pucat.
Tiba-tiba kami mendengar suara samar dari balik pintu, “Sakit.. Tolong.. Sakit sekali.. Tolong!”
Dari yang awalnya tidak jelas, lama-lama menjadi semakin tegas. Suara pun bertambah. Seperti banyak orang menyuarakan hal serupa.
“Tolong obati kami.”
“Ibu saya sekarat! Saya butuh dokter!.”
Aku merinding, seperti ada rasa kesengsaraan yang meluap dari balik pintu. Seketika aku langsung mengingat tentang cerita Dayat dan Jeje mengenai korban meninggal penghuni apartemen akibat covid.
Apakah ini suara mereka?
Suara-suara dari balik pintu semakin berisik. Mereka saling bersahutan, meronta minta pertolongan. Kami hanya bisa terengah-engah, terjerembab ke dalam ketakutan.
Untungnya Hendra dengan cepat meminta agar kami membaca surat al-fatihah.
“Ayo, cepat! Kita doakan mereka,” ujarnya.
Aku melihat Hendra dan Shinta segera melafalkan, sedangkan aku masih terdiam. Dalam benakku justru teringat kalau para korban, mayoritas merupakan keturunan tionghoa, yang tentu saja hampir pasti bukan beragama islam.
“Apakah dengan membaca surat al-fatihah bisa berguna?” pikirku.
Tapi anehnya, setelah mereka selesai membaca lalu mendoakan para arwah, suasana berubah menjadi hening. Suara-suara menghilang seketika.
“Gas?” Hendra menegurku.
“Lo masih islam kan?”
Aku merasa canggung, “Maaf, Bang. Tadi gua panik banget, jadinya blank.”
Tiba-tiba terdengar suara lain, “Psst..!”
Kami spontan menoleh ke atas, rupanya Jefry terlihat samar di antara kegelapan, kembali mengajak kami untuk naik ke atas.
Untuk kali ini kami tidak langsung mengikuti, hanya saling lirik, mulai mempertanyakan apakah itu benar Jefry atau bukan.
Dengan sisa keberanian yang ada, kami kembali melangkah naik tangga, menuju lantai enam.
Di sini kami merasakan suasana sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Bukan lagi hawa dingin terasa, tapi merinding sekujur tubuh.
“Apa kita sebaiknya turun aja ya? Nunggu pagi, baru minta bantuan,” kata Shinta.
Hendra tidak yakin, “Sekarang jam satu, masih lama banget. Kita udah di lantai enam, dua lagi sampe. Entah kenapa, gua yakin Jefry mungkin sekarang udah di kamar. Mungkin dia lagi ngisengin kita aja kali.”
“Dia bawa kunci kan?”
“Iya, satu di gua, satu lagi dia yang bawa,” jawab Shinta.
Setuju dengan apa yang diucapkan Hendra, aku juga minta agar Shinta menghilangkan rasa takutnya, “Yakin bisa, dua lantai lagi aja kok.”
Setibanya di lantai enam, Hendra memutuskan untuk tidak membuka pintu. Ia takut kejadian di lantai lima terulang.
“Kita lanjut aja ya, sampai lantai delapan, baru kita buka.”
Namun tidak sesuai harapan, begitu kami ingin melanjutkan langkah ke lantai tujuh. Tiba-tiba saja pintu darurat terbuka sendiri. Memperlihatkan lorong koridor yang gelap, membuat kami terperangah.
Terjebak dalam rasa takut luar biasa. Meski tidak terlihat apa-apa, hanya hitam tak berujung. Tapi kami bisa merasakan ada sesuatu di sana.
“Bang, gimana ini?” bisik Shinta ke Hendra.
Setelah berpikir sejenak, Hendra memutuskan untuk mendekat ke arah pintu, berniat menutupnya kembali.
“Ngeek..”
Suara pintu berderit.
“Jeglek!”
Pintu pun tertutup.
Kami kompak menghembuskan nafas lega. Tapi kemudian, pintu kembali terbuka dengan kencang, seperti ada yang mendobraknya.
“Aaa..!” teriak Shinta kaget.
Hendra hampir saja terjepit, beruntung ia spontan mundur sehingga hanya terhempas oleh angin bukaan pintu.
Aku refleks meraih sudut pintu, lalu menutupnya kembali dengan gesit, “Ayo kita naik ke atas, cepat!”
Layaknya seorang pemimpin, aku berjalan menaiki tangga diikuti Shinta dan Hendra. Langkahku bahkan melompat dua hingga tiga anak tangga dengan cahaya minim dari handphone yang aku pegang.
Suara langkah kami terdengar sangat jelas karena hentakan kaki terburu-buru.
Baru setengah jalan menuju lantai tujuh, aku menghentikan langkah kaki karena tiba-tiba saja lampu menyala. Pintu darurat yang ada di sana terbuka sendiri.
“Jeglek!”
Mataku terfokus pada pintu yang posisinya sudah menganga lebar, koridor apartemen terlihat jelas karena semua lampu menyala.
Setelah saling lirik, kami melangkahkan kaki perlahan menaiki tangga. Mendekat ke arah pintu. Kami melihat lorong panjang, layaknya koridor apartemen biasa.
Tampilan interiornya terlihat masih sangat baik, bahkan terkesan baru. Kami merasa bingung karena setahu kami visual apartemen tidak sebagus ini.
Tanpa disadari, kami masuk ke dalam koridor apartemen. Penasaran dengan apa yang ada di sini.
Seketika itu juga, pintu darurat tertutup dan sesuai dugaan, pintu tidak dapat dibuka lagi.