NovelToon NovelToon
Bulan Merah Dari Timur

Bulan Merah Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Biruwarna

Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.

Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.

Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.

Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.

Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5 : Tragedi Lompat Tali

Pelarian Shen Rui, Shen Yuan, dan Lin Yue hanya bertahan sejauh sepuluh langkah. Jubah Rui yang kebesaran tersangkut di akar pohon cemara, membuat ketiganya jatuh bergulingan tepat di bawah bayang-bayang pedang spiritual para murid senior yang mengurung mereka.

Setengah jam kemudian, ketiganya sudah berlutut rapi di tengah hamparan lantai marmer Balai Pendisiplinan.

“JADI, KAU MENYEBUT INI SEBAGAI PENINGKATAN ES BUAT DI MAKAN?!”

Suara Tetua Pertama menggelegar dahsyat, membawa tekanan Qi tingkat tinggi yang membuat pilar-pilar batu di sekeliling ruangan bergetar hebat. Wajah pria tua berjanggut putih itu sudah semerah tomat rebus. Jari telunjuknya yang keriput menunjuk lurus ke arah jendela yang terbuka, memperlihatkan Paviliun Belakang di kejauhan yang kini berkilauan tertimpa sinar matahari berbentuk balok es raksasa yang membekukan siluman, perabotan, dan peninggalan leluhur di dalamnya.

Shen Rui, yang berlutut di posisi paling tengah, mengangguk dengan ekspresi wajah serius yang kelewat natural.

“Tentu saja, Tetua yang bijaksana,” jawab Rui tanpa beban sedikit pun, suaranya terdengar meyakinkan seolah ia sedang memberikan kuliah filsafat tingkat dewa. “Mari kita lihat dari sudut pandang seni keabadian. Kayu bangunan itu sudah tua dan bisa lapuk dimakan rayap, tapi es abadi milikku mengawetkan paviliun itu hingga seribu tahun ke depan! Siluman di dalamnya bahkan terlihat seperti pameran museum kualitas premium. Jika Tetua bersedia menarik tiket masuk sepuluh keping tembaga per orang, saya jamin sekte kita akan kaya raya dalam sebulan. Kita bisa memperbaiki genteng kantin yang bocor!”

Di sebelahnya, Shen Yuan menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya bergetar keras. Bukan karena menangis, tapi karena ia sedang menahan hasrat membunuh yang luar biasa terhadap adiknya sendiri.

“Tetua, tolong hukum mati saja dia,” gumam Yuan dari balik telapak tangannya. Suaranya terdengar sangat lelah dan putus asa. “Cabut kultivasinya. Buang dia ke Jurang Kematian. Saya sungguh, benar-benar tidak keberatan kehilangan satu saudara sedarah hari ini.”

“Hei! Kakak macam apa kau ini?!” protes Rui tidak terima. Ia menyenggol lengan Yuan keras-keras dengan sikunya. “Aku baru saja membuka ladang bisnis baru untuk sekte kita! Ini inovasi, Yuan! Inovasi!”

Tetua Pertama menarik napas panjang dan dalam, memejamkan mata untuk menenangkan aliran Qi-nya agar tidak muntah darah di tempat. Matanya yang setajam elang kemudian beralih menatap gadis berbaju kuning cerah yang duduk berlutut di sebelah kiri Rui. Lin Yue sejak tadi sibuk meniup-niup debu dari ujung lengannya, sama sekali tidak terlihat takut atau merasa bersalah.

“Dan kau!” bentak Tetua Pertama, membuat beberapa murid senior yang menjaga di pinggir ruangan ikut tersentak kaget. “Gadis dari Asrama Teratai Selatan! Kenapa kau bisa ada di wilayah Paviliun Laki-laki?! Apa kau tidak tahu aturan sekte melarang keras percampuran murid beda wilayah tanpa izin tertulis?!”

Lin Yue mendongak. Matanya yang bulat besar berkedip-kedip menatap sang Tetua. “Aku tersesat, Kakek Tetua.”

“Tersesat? Dari puncak selatan ke puncak utara, melewati tiga bukit, dua hutan bambu, dan dua jembatan gantung, kau sebut tersesat?!” raung Tetua Pertama tak habis pikir.

“Habisnya...” Lin Yue menunduk sambil memainkan ujung sabuk sutranya dengan malu-malu, pipinya sedikit merona. “Kata Kakak-kakak senior di asrama, di Paviliun Belakang banyak pria tampan yang sedang berlatih pedang tanpa baju kalau malam hari. Otot mereka konon berkeringat di bawah cahaya bulan. Jadi aku berniat mencari pemandangan indah... eh, maksudku, mencari pencerahan visual untuk memperlancar jalur kultivasiku!”

Keheningan mutlak langsung melanda Balai Pendisiplinan. Rahang para murid senior jatuh hingga nyaris menyentuh lantai. Yuan memukul dahinya sendiri hingga terdengar bunyi 'plak' yang amat nyaring.

Tetua Pertama membelalakkan mata, urat di leher dan pelipisnya seakan mau meledak. “PRIA TAMPAN?! Kau menyeberangi tiga bukit di tengah malam hanya untuk mencari pria tampan yang bertelanjang dada?! Tempat pria tampan elit itu ada di Pelataran Dalam bersama para murid inti! Bukan di asrama pinggiran tempat para pembuat onar dan murid luar ini berkumpul!”

Mendengar penghinaan itu, Rui langsung berdiri. Ia merapikan jubahnya yang kotor, dan mengibaskan rambutnya ke belakang dengan gaya paling dramatis dan congkak. Ia menatap Lin Yue sambil tersenyum miring.

“Tetua, Anda meremehkanku. Nona ini tidak salah tempat sama sekali,” ucap Rui percaya diri. “Dia sudah berhasil menemukan ketampanan paling absolut di Benua Timur. Pria jenius yang wajahnya dipahat oleh para dewa, dan yang kebetulan sangat pandai membuat es serut.” Rui mengedipkan mata pada Lin Yue.

Lin Yue membalas tatapan itu, lalu menoleh pada Tetua Pertama sambil mengangguk mantap. “Benar, Kakek! Walaupun dia tidak tampan-tampan amat dan lebih mirip burung merak yang sedang kedinginan, setidaknya es buah buatannya sangat enak dan manis! Tolong jangan hukum dia, Kakek. Kalau dia dihukum, siapa yang akan membuatkan camilanku nanti siang?”

“Kalian berdua...” Tetua Pertama memegangi dadanya, napasnya tersengal. Tubuhnya terhuyung ke belakang, buru-buru ditangkap oleh dua murid senior yang panik. “Bocah-bocah gila... Benar-benar sepasang idiot yang diciptakan langit untuk menguji umurku! Kalian semua akan kuhukum! Pelatihan Keseimbangan Elemen! Tiga hari penuh! Kalian semua, termasuk kau Yuan, dan seluruh murid divisi luar akan berlatih menyeimbangkan Qi di lapangan terbuka! Jika ada satu saja elemen yang meledak lagi di tanganmu, Shen Rui, kalian bertiga akan menyapu seluruh anak tangga gunung ini pakai sikat gigi!"

 

Hukuman pun dimulai tepat pada siang harinya. Lapangan utama sekte yang luas dipenuhi ratusan murid divisi luar yang sedang duduk bersila di bawah terik matahari. Keringat bercucuran membasahi jubah mereka saat mereka berusaha menahan dan memutar energi di 'Dantian' masing-masing. Shen Yuan tampak memejamkan mata di barisan depan, angin lembut berwarna hijau berputar harmonis dan tenang di sekeliling tubuhnya. Ia tampak sangat serius menjalani hukuman.

Namun, di sudut paling belakang lapangan yang berbatasan dengan batas area taman bermain, suasananya sangat jauh dari kata spiritual.

“Satu, dua, tiga, lompat! Hahaha, loncat lebih tinggi, Kakak!”

Alih-alih bermeditasi memutar Qi, Shen Rui justru sedang berdiri santai memegang ujung sebuah tali panjang yang terbuat dari energi es murni yang lentur. Di ujung tali satunya, Lin Yue ikut memeganginya dengan antusias. Di tengah-tengah mereka, tiga orang pria sedang melompat-lompat bergiliran melewati ayunan tali es tersebut sambil tertawa cekikikan.

“Ayo, ayo! Pertahankan iramanya! Siapa yang kakinya menyentuh es dan membeku duluan, dia yang harus mentraktir manisan tanghulu nanti sore!” seru Rui girang, memutar tali es itu dengan kecepatan yang pas, sementara energinya dengan santai mengalir menjaga tali itu tidak mencair di bawah sinar matahari.

Di kejauhan, tiga murid laki-laki berpakaian sutra perak menandakan mereka dari keluarga bangsawan kultivator berjalan mendekat dengan ekspresi jijik yang tak ditutupi. Mereka adalah Wang Jian, Li Mo, dan Zhao Qi. Tiga penguasa asrama utara yang selama ini selalu menjadi rival, atau lebih tepatnya, pembenci nomor satu Shen Rui karena muak dengan gaya pemuda itu yang selalu mencuri perhatian tapi kelewat malas.

“Cih, lihatlah sampah dari keluarga Shen itu,” cibir Wang Jian, menyilangkan tangan di depan dada. Ia sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh murid-murid lain. “Di saat kita semua berkeringat darah menstabilkan pondasi Qi agar tidak dikeluarkan dari sekte, dia malah bermain lompat tali dengan anak-anak laki-laki lain. Benar-benar aib bagi martabat kultivator laki-laki sejati.”

Li Mo tertawa meremehkan, matanya memicing sinis. “Namanya juga jenius palsu, Kakak Wang. Elemen esnya mungkin hanya berguna untuk mendinginkan minuman para gadis di musim panas. Dia bahkan pura-pura sakit perut agar tidak ikut latih tanding divisi luar minggu lalu, kan?”

Lompatan terhenti. Ketiga laki-laki junior itu menyingkir dengan wajah pucat ketakutan melihat kedatangan rombongan Wang Jian yang terkenal suka merundung. Lin Yue, yang tidak suka permainannya diganggu tepat di saat ia sedang bersenang-senang, langsung mengerucutkan bibir dengan kesal.

Rui menghela napas panjang dan berlebihan. Ia menurunkan tali esnya, lalu menoleh menatap ketiga antagonis itu dengan mata setengah tertutup sebuah tatapan merendahkan seolah ia sedang melihat serangga.

“Oh, lihat siapa yang datang merusak hariku,” kata Rui dengan nada bosan yang dibuat-buat. “Tiga babi hutan elit yang merasa dirinya naga langit. Ada apa? Kalian kepanasan bermeditasi dan butuh es serut? Maaf, layanan khusus untuk wajah jelek sedang tutup hari ini. Silakan cari pendingin ruangan di tempat lain.”

Wajah Wang Jian memerah padam karena marah. Harga dirinya sebagai tuan muda tercoreng. Ia melangkah maju, aura api yang panas memancar liar dari telapak tangannya. “Jaga mulut anjingmu, Shen Rui! Kau pikir kau hebat hanya karena berhasil membekukan siluman bodoh kemarin malam?! Itu pasti hanya kebetulan karena kau menumpang kekuatan kakakmu! Beraninya kau bersantai dan merendahkan kami di saat kau sedang dihukum?!”

“Bersantai?” Rui mengangkat sebelah alisnya. Bibirnya menyunggingkan senyum mengejek. Ia hanya menjentikkan jarinya pelan.

Tiba-tiba, tali es sepanjang lima meter yang tadi dipegangnya melesat melingkari tubuhnya seperti ular naga yang hidup, berputar dengan kecepatan tinggi sebelum terurai menjadi ribuan serpihan salju yang berkilauan indah, lalu tersedot masuk kembali ke dalam pori-pori telapak tangannya tanpa membuang setetes pun energi spiritual.

Kontrol elemen mikro tingkat tinggi. Sesuatu yang butuh belasan tahun untuk dikuasai oleh murid divisi dalam sekalipun.

Ketiga murid antagonis itu terbelalak kaget. Kaki mereka membeku di tempat, dan aura api di tangan Wang Jian langsung berkedut dan padam seketika karena tekanan Qi dingin yang barusan melintas.

Rui tersenyum miring, menepuk-nepuk tangannya seolah baru saja membuang debu. “Bodoh. Ini namanya sirkulasi Yin dan Yang dinamis tingkat lanjut. Aku menyeimbangkan aura esku yang terlalu buas ini dengan keceriaan energi murni untuk nona-nona cantik nantinya. Sedangkan kalian? Duduk bersila berjam-jam sampai ambeien, memaksa Qi kalian mengalir sambil menahan dengki di hati. Pantas saja wajah kalian boros sepuluh tahun dari umur asli kalian. Cepat menyingkir, bayangan kalian menghalangi cahaya matahariku.”

Lin Yue bertepuk tangan heboh dari samping, matanya berbinar-binar. “Wah! Mulutmu beracun sekali, Rui! Aku sangat suka! Bagus, hina mereka lagi! Ayo kita lanjutkan lompat talinya setelah ini!”

Wang Jian, yang harga dirinya benar-benar hancur lebur berkeping-keping di depan para murid laki-laki lain, kehilangan akal sehatnya. Ia mencabut setengah pedang spiritualnya dari sarung dengan tangan gemetar penuh amarah. “KAU... KAU BENAR-BENAR MENCARI MATI, SHEN RUI! HARI INI AKAN KUPOTONG LIDAHMU—”

“AKAN KAU POTONG APA, HAH?!”

Sebuah suara yang menggelegar bagai petir menyambar tepat dari belakang punggung Shen Rui.

Sebelum ada yang sempat bereaksi, sebelum Rui sempat menyombongkan diri lagi, sebuah tangan besar dengan urat menonjol mendarat mantap di telinga kanan Rui, menjepitnya dengan kekuatan jepitan kepiting besi.

“AW! AW! AW! SAKIT! AMPUN!”

Tetua Pertama ternyata sudah berdiri di sana entah sejak kapan, wajahnya seram seperti Dewa Kematian dari dunia bawah. Ia menjewer telinga Rui tanpa ampun dan menariknya ke atas hingga kaki pemuda congkak itu terpaksa berjinjit kesakitan.

“Sirkulasi Yin dan Yang dinamis?! Ambeien?! Menyeimbangkan aura es buas dengan anak perempuan?!” raung Tetua Pertama, semburan ludahnya nyaris mengenai wajah Rui. “Aku menyuruhmu bermeditasi mengendalikan intimu di lapangan ini, bukan bermain bersama murid laki-laki junior lainnya, membuat tali dari es, dan memancing keributan berdarah dengan sesama murid, dasar pembuat onar tidak berguna!”

“Ampun, Tetua! Tolong lepaskan, telingaku bisa putus! Ini aset ketampananku!” jerit Rui sambil meronta-ronta, kedua tangannya memegangi pergelangan tangan si kakek tua yang kuat seperti baja.

Sementara itu, Wang Jian dan kawan-kawannya buru-buru menyarungkan pedang dan kabur terbirit-birit ketakutan melihat kedatangan sang Tetua. Lin Yue, bukannya menolong, justru berdiri di tempat sambil tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya, melihat Rui diseret pergi bagai anjing kecil dengan telinga yang sudah merah padam.

Dan di kejauhan, Shen Yuan yang melihat kekacauan itu hanya bisa kembali memejamkan mata, memijat pelipisnya perlahan, sambil merapalkan doa ketabahan hati agar umurnya bisa mencapai usia kepala tiga.

****

Likeee Yaaaaa

1
Tai
kapan selesai nya pakai sikat gigi😭
Tai
cukup aku tertawa 😭
Tai
yuan tega🤣
Tai
Rui😭😭😭
Tai
bisa bisanya 😭dasar anak nakal
Tai
ngakak membayangkan nya😭
Tai
😭😭😭
Tai
aku membayangkan perannya anak sd😭
Tai
iya es buah emang enak Rui 😭
Tai
ada es buah juga 😭
Biru
🤭
Tai
gara gara lucu,😭
Tai
pink
Tai
suka pertama 😭
Tai
panik sendiri jadinya🤣
Tai
ngakak bagian ini😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!