Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Mata yang Terbangun di Kegelapan
Tik... tik...
Air keruh menetes dari langit-langit gua, jatuh ke genangan batu dengan irama pelan.
Keheningan total menguasai Lorong Hitam. Di kedalaman yang jadi kuburan para budak, tubuh yang tadi tergeletak tiba-tiba tersentak.
"Hah!"
Ye Cangtian membuka mata, menarik napas panjang seperti baru ditarik dari dasar laut. Udara beracun itu masuk ke paru-parunya, tapi anehnya tidak membakar—ada sesuatu di dadanya yang menyaringnya lebih dulu sebelum menyebar.
Ia duduk perlahan, rambutnya masih berantakan. Ingatan terakhirnya hanya rasa sakit yang merobek jiwanya.
"Aku... belum mati?" suaranya parau.
Ia menatap telapak tangannya. Penglihatannya jauh lebih tajam sekarang—dengan cahaya tipis dari lumut fosfor saja, ia bisa melihat jelas tekstur kasar batu di sekitarnya.
Ia meraba kulitnya. Luka bakar dari cambuk Zhuo, yang seharusnya membuatnya cacat seumur hidup, hilang tanpa bekas. Yang tersisa hanya kulit baru yang halus tapi keras. Dadanya utuh, tulang rusuk yang tadinya retak terasa sempurna lagi.
Tapi bukan itu yang membuat Cangtian merinding.
Begitu ia memejamkan mata, ia merasakannya—sungai hangat mengalir di bawah kulitnya, bermuara di perut bawah, di Dantian, lalu mengalir lewat jalur-jalur yang sebelumnya tidak pernah ada.
Sumbatan yang selama ini mengunci meridian manusia fana sudah terputus.
"Bau apa ini?" Ia mengendus lengannya. Bau busuk menyengat seperti bangkai. Kulitnya dilapisi cairan hitam kental, campuran kotoran dan sisa racun yang dipaksa keluar saat ia pingsan. Ini cikal bakal dari apa yang nanti disebut orang-orang sebagai proses Pembersihan Sumsum dan Tulang.
Ia berdiri. Tubuhnya terasa ringan sekali, seperti rantai tak terlihat yang selama ini mengikatnya seketika terlepas.
Alat tambangnya tergeletak di tanah—gagang kayu satu meter dengan mata besi berkarat lima belas kilo, yang biasanya butuh dua tangan untuk diayun. Sekarang terasa seperti memegang ranting. Ia coba menggenggamnya erat-erat.
Krak!
Gagang kayu itu hancur berkeping-keping di dalam genggamannya.
Napas Cangtian tertahan. Ia menoleh ke dinding obsidian di sampingnya—batu paling keras di Gunung Darah, yang biasanya butuh ratusan ayunan hanya untuk retak sedikit.
Ia kepalkan tangan kanannya, tarik napas, lalu menghantam dengan satu pukulan.
Bamm!
Dinding itu meledak ke dalam, serpihan tajam berhamburan. Saat ia tarik tangannya, bekas kepalan sedalam tiga inci masih terlihat jelas di batu. Buku jarinya tidak berdarah, bahkan tidak lecet sedikit pun.
"Inikah..." suaranya bergetar menatap tinjunya sendiri, "...yang dirasakan para dewa itu?"
Rasa senangnya hampir meledak. Kekuatan murni yang selama ini ia inginkan—cukup untuk menghancurkan kepala Zhuo, membebaskan Paman Lu, meruntuhkan tambang neraka ini.
Tapi tiga detik kemudian, wajahnya kembali beku.
Jiwanya yang diasah sepuluh tahun bertahan hidup sebagai budak langsung memadamkan niat gegabah itu.
Bodoh, umpatnya dalam hati. Bunuh Zhuo sekarang? Zhuo cuma anjing penjaga paling bawah. Pengawas Kepala puluhan kali lebih kuat, dan pengawal di kawah ini ada ratusan. Mereka akan memanahku, membakar mayatku, lalu membantai semua budak sebagai hukuman. Kekuatan ini belum cukup.
Ia sadar posisinya. Sekarang memang sudah menembus batas fana, tapi baru menginjak satu kaki—tidak tahu teknik, tidak tahu cara memakai sungai hangat di tubuhnya dengan benar.
Menunjukkannya sekarang sama saja bunuh diri.
Dewa-dewa itu arogan karena lahir dengan kekuatan. Aku? Aku semut yang merangkak dari dasar kawah. Tapi aku punya yang tidak mereka punya. Kesabaran.
Ia menoleh ke meteorit di sudut lorong. Cahayanya sudah meredup, kini terlihat seperti obsidian kusam dengan urat emas tipis yang masih berdenyut pelan. Tapi ia masih merasakan tarikan antara Dantiannya dan batu itu.
Batu itu tidak bisa ditinggal di sini. Aku harus mengambilnya.
Ia berjongkok, merobek bagian bawah celananya, membungkus meteorit itu hati-hati, lalu mengikatkannya di pinggang.
Sekarang masalah terbesarnya: bagaimana kembali ke permukaan tanpa dicurigai.
Kalau budak yang dibuang ke Lorong Hitam pulang dengan kulit bersih dan tenaga lebih segar, Zhuo pasti curiga. Ia harus tetap terlihat seperti mayat hidup.
Tanpa ragu, ia meraup lumpur sulfat, mencampurnya dengan darah hitam kotorannya sendiri, lalu melumuri wajah, lengan, dan dadanya sampai kulit barunya tertutup rapat.
Belum cukup. Ia menatap batu tajam di dinding, mengertakkan gigi, lalu menghantamkan dahinya sendiri ke sana.
Trak!
Darah segar menetes dari dahi, mengalir lewat mata kiri ke pipi—luka yang terlihat mengerikan tapi tidak berbahaya. Ia juga merobek bahu jubahnya biar terlihat makin berantakan.
"Sempurna," bisiknya sinis.
Predator itu sudah selesai menyembunyikan taringnya di balik kulit yang berdarah.
Dengan punggung bungkuk dan langkah diseret, Cangtian mulai merangkak naik lewat terowongan curam menuju permukaan.
Matahari merah sudah condong ke barat saat suara langkah terseret terdengar dari mulut Lorong Hitam.
Di kawah utama, para budak berbaris menyetor hasil galian. Paman Lu berdiri paling belakang, bahunya dibalut perban kotor, matanya menatap kosong ke arah mulut lorong, meratapi pemuda yang mengorbankan diri untuknya.
Matanya terbelalak saat bayangan merangkak keluar dari kegelapan.
"C-Cangtian?!"
Satu seruan itu menghentikan semua aktivitas. Ribuan budak serentak menoleh. Para pengawal berzirah perak menyipitkan matanya.
Ye Cangtian keluar dalam kondisi mengenaskan—tubuh penuh lumpur hitam berbau busuk, darah segar mengalir dari dahi menutupi separuh wajahnya, napas tersengal, kaki diseret seperti tak bertulang. Seperti iblis kelaparan yang baru merangkak keluar dari bawah tanah.
"Tidak mungkin..." gumam seorang pengawal. "Manusia fana paling kuat pun mati dalam dua jam di Lorong Hitam. Bagaimana bocah ini bisa tahan seharian?"
Zhuo, yang sedang duduk di kursi tandu sambil minum anggur, menyipitkan mata kuningnya. Ia meletakkan cawan itu dan berdiri. Kehadiran budak yang menolak mati itu merusak selera minumnya.
"Minggir," perintahnya, mendorong Paman Lu sampai jatuh.
Ia melangkah angkuh mendekati Cangtian yang merangkak di atas batu, menutup hidung karena bau busuk.
"Semut yang gigih." Ia menendang bahu Cangtian hingga pemuda itu jatuh telentang. "Gas sulfat di bawah sana tidak cukup untuk membakar paru-parumu, bocah?"
Cangtian terbaring di tanah, napasnya dibuat seperti orang sekarat. Setiap otot di tubuh barunya menjerit ingin bangkit, mencengkeram leher Zhuo, meremukkan rahang biru itu sampai hancur.
Ia tahu satu pukulan penuh sekarang cukup untuk melepas kepala Zhuo dari lehernya.
Tapi ia menahan diri. Ia telan amarah itu jauh ke dasar jiwanya, membiarkan tubuhnya bergetar ketakutan.
"T-Tolong... Tuan..." rintihnya dengan suara serak yang dibuat-buat. "Saya... akan bekerja..."
Melihat wajah putus asa dan postur ketakutan dari pemuda yang tadi pagi berani melawannya, ego Zhuo puas total. Mematahkan semangat manusia memang selalu jadi hiburan terbaik para dewa tiran.
"Hahaha!" Zhuo tertawa keras hingga menggema seisi kawah. "Dengar kalian semua?! Begini akibatnya kalau berani membangkang! Bahkan kalau selamat dari Lorong Hitam, kalian akan kembali sebagai bangkai hidup yang merangkak minta belas kasihan!"
Ia mendengus jijik menatap Cangtian. "Bersihkan dirimu yang bau itu, kembali kerja besok. Kalau kuotamu tidak penuh, aku sendiri yang akan penggal kepalamu."
Zhuo berbalik ke tandunya. Para pengawal ikut tertawa merendahkan, lalu bubar.
Paman Lu segera merangkak mendekat, menangis sambil memapah tubuh Cangtian yang terlihat lemah. "Syukurlah, Nak... Syukurlah para dewa masih melindungimu..."
Cangtian tidak menjawab. Saat dipapah, ia menundukkan wajah, membiarkan rambut lepeknya menutupi ekspresinya.
Dewa melindunginya? Omong kosong.
Di balik rambut kotor itu, tidak ada rasa takut sama sekali. Mata hitamnya menatap tajam punggung Zhuo yang menjauh, dengan kilatan predator yang dingin dan mematikan.
Jari-jarinya yang kini sekeras baja diam-diam mencengkeram meteorit di balik jubahnya.
Tertawalah, Pengawas Zhuo, bisiknya dalam hati, senyum tipis iblis melengkung di balik debu dan darah di wajahnya. Kasih aku lima hari. Lima hari untuk mencerna batu ini di bawah hidungmu—dan aku sendiri yang akan mencabut jantungmu dari dadamu yang sombong itu.