Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Malam Berdarah di Sekte Awan Langit
Latihan sore itu berlangsung hingga matahari benar-benar tenggelam, jauh lebih lama dari biasanya karena tekad baru yang membara di dada Chu Feng sejak membaca surat Su Yue siang tadi. Ketika akhirnya Tetua Wang menghentikan sesi dan mengizinkan mereka beristirahat, kelima anggota tim ambruk kelelahan di tepi lapangan, namun kali ini kelelahan itu terasa memuaskan—hasil dari dorongan yang tulus, bukan sekadar rutinitas.
"Kau benar-benar mendorong diri terlalu keras hari ini," komentar Zhao Lin, menyodorkan sebotol air pada Chu Feng yang masih terengah. "Ada apa sebenarnya?"
"Hanya ingin lebih siap," jawab Chu Feng singkat, tidak sepenuhnya menjelaskan kekhawatiran yang masih mengganjal sejak membaca surat itu. Ia meneguk air itu, menatap ke arah langit malam yang mulai dipenuhi bintang, pikirannya masih separuh melayang pada Su Yue dan apa yang mungkin sedang terjadi padanya di wilayah tengah.
Ia tidak menyadari bahwa malam ini, kesiapan yang selama ini ia latih akan diuji jauh lebih cepat dari yang pernah ia bayangkan.
Sekitar tengah malam, ketika sebagian besar penghuni sekte sudah terlelap, Hei tiba-tiba terbangun di samping ranjang Chu Feng, bulunya berdiri tegak, geraman rendah namun tajam keluar dari tenggorokannya—sesuatu yang belum pernah Chu Feng dengar sejak malam Han Lei tertangkap basah di perpustakaan.
Chu Feng langsung terjaga penuh, insting yang sudah terasah selama berbulan-bulan segera mengambil alih. Ia meraih Tombak Awan Kelabu yang selalu tersandar di dekat ranjangnya, mengaktifkan Mata Dewa dalam sekejap.
Dan yang ia lihat membuat darahnya membeku.
Belasan pola energi asing—jauh lebih banyak dari sekadar satu mata-mata seperti Han Lei—bergerak cepat dari arah hutan menuju tembok luar sekte, kecepatan dan koordinasi mereka jelas menunjukkan pasukan terlatih, bukan penyusup tunggal.
"Mereka datang," suara di dalam dirinya bergema, nada yang jauh lebih tegang dari yang pernah Chu Feng dengar sebelumnya. "Aula Kegelapan Malam. Mereka tidak lagi hanya mengamati, Pangeran Ketujuh—mereka menyerang."
Chu Feng melompat dari ranjangnya, berlari keluar asrama sambil berteriak membangunkan murid-murid di sekitarnya. "Serangan! Kita diserang!"
Kekacauan segera melanda seluruh kompleks sekte. Lonceng bahaya dibunyikan dari menara pusat, murid-murid berhamburan keluar dari asrama mereka dengan senjata seadanya, sementara ketiga tetua bergegas menuju gerbang utama yang sudah mulai diterobos oleh sosok-sosok berjubah hitam yang bergerak dengan kecepatan dan presisi mematikan.
Chu Feng berlari menuju garis depan bersama Zhao Lin dan Liu Bo yang sudah lebih dulu tiba, Jiang Rou tidak jauh di belakang mereka, matanya sudah mulai membentuk pola formasi darurat meski tangannya masih sedikit gemetar menghadapi situasi senyata ini.
"Berapa banyak dari mereka?" seru Liu Bo, pedangnya sudah terhunus, menghadapi dua penyerang berjubah hitam yang menerjang ke arahnya dengan kecepatan mengejutkan.
"Terlalu banyak untuk dihitung dengan tenang," jawab Chu Feng, menangkis serangan pertama yang mengarah padanya dengan Tombak Awan Kelabu, merasakan kekuatan lawan yang jauh melampaui tingkat kultivasi murid biasa sekte manapun.
Pertempuran meletus di berbagai sudut kompleks sekte—jeritan, dentingan senjata, dan kilatan-kilatan teknik kultivasi memenuhi malam yang seharusnya tenang. Tetua Wang sendiri bertarung sengit melawan sosok bertopeng perak yang tidak asing bagi Chu Feng—pemimpin yang sama yang pernah mengamati Kerajaan Chu dari kejauhan bulan-bulan lalu.
"Kalian pikir bisa menyembunyikan pembawa pecahan selamanya?" seru pria bertopeng itu, suaranya dingin menembus riuhnya pertempuran, pedangnya berkelebat cepat menangkis serangan Tetua Wang yang meski sudah tua, masih menunjukkan sisa-sisa kekuatan seorang kultivator berpengalaman. "Sekte kecil seperti ini tidak akan pernah cukup untuk melindunginya!"
Di tengah kekacauan itu, Chu Feng bertarung mati-matian melindungi Jiang Rou yang berusaha menyelesaikan formasi pertahanan darurat untuk melindungi murid-murid yang lebih lemah, ketika sebuah serangan tak terduga datang dari arah samping—seorang penyerang lain yang berhasil menerobos garis pertahanan mereka.
"Awas!" teriak Chu Feng, mendorong Jiang Rou menjauh dari jalur serangan itu.
Ia berhasil melindungi Jiang Rou, namun harganya mahal—bilah pedang penyerang itu menggores lengan kirinya dalam, darah segera membasahi lengan bajunya, rasa sakit yang tajam menembus fokusnya sesaat.
"Chu Feng!" jerit Jiang Rou, ngeri melihat lukanya.
"Aku baik-baik saja," Chu Feng meringis, mengeratkan pegangan pada tombaknya meski lengannya berdenyut hebat. "Selesaikan formasimu. Aku akan menahan mereka."
Dengan luka yang membakar dan qi yang mulai terkuras karena harus bertarung defensif sekaligus melindungi rekan-rekannya, Chu Feng merasakan untuk pertama kalinya sejak tiba di sekte ini bahwa kekuatannya, sebesar apa pun kemajuannya selama ini, masih jauh dari cukup untuk menghadapi ancaman sebenarnya yang kini berdiri di hadapannya.
Zhao Lin dan Liu Bo, di sisi lain, sama-sama berjuang menahan gelombang penyerang, tubuh mereka juga mulai menunjukkan luka-luka kecil di sana-sini—goresan, memar, kelelahan yang mulai terlihat jelas di wajah mereka yang biasanya penuh percaya diri.
Pertempuran berlangsung hampir satu jam penuh, waktu yang terasa seperti keabadian bagi mereka yang bertarung di dalamnya. Akhirnya, ketika langit mulai menunjukkan tanda-tanda fajar, pria bertopeng perak itu melompat mundur dari pertarungannya melawan Tetua Wang, mengangkat tangannya sebagai isyarat mundur bagi seluruh pasukannya.
"Kali ini kami hanya menguji pertahanan kalian," serunya, suaranya masih dingin meski napasnya sedikit memburu—tanda bahwa pertempuran ini juga menguras tenaganya lebih dari yang ia perkirakan. "Lain kali, kami tidak akan semurah hati ini."
Sosok-sosok berjubah hitam itu menghilang ke dalam kegelapan hutan secepat kedatangan mereka, meninggalkan kompleks Sekte Awan Langit dalam keadaan berantakan—beberapa bangunan rusak, murid-murid terluka bergeletakan di berbagai sudut, dan suasana ketakutan yang belum pernah dirasakan sekte kecil ini sejak tragedi sepuluh tahun lalu.
Chu Feng ambruk berlutut begitu ancaman benar-benar berlalu, lengannya masih mengalirkan darah meski sudah mulai melambat, tubuhnya gemetar bukan hanya karena kelelahan, melainkan karena kesadaran pahit yang baru saja menghantamnya.
Mereka hanya menguji kita, pikirnya, menatap kekacauan di sekelilingnya dengan perasaan campur aduk antara marah dan takut. Dan bahkan dengan pengujian sekecil ini, kita nyaris hancur.
"Kau terluka," suara di dalam dirinya berkata, nada khawatir yang jarang sekali terdengar sejelas ini. "Biarkan aku membantu menyembuhkan sebagian lukamu."
Sensasi hangat mulai mengalir dari tulang belakang Chu Feng menuju lengannya yang terluka, mempercepat proses penyembuhan meski tidak sepenuhnya menghilangkan rasa sakitnya. Ia menghela napas, menatap ke sekeliling lapangan yang kini dipenuhi murid-murid yang sedang dirawat, tetua-tetua yang tampak lelah namun masih berusaha menenangkan situasi.
Tetua Wang mendekat, wajahnya penuh luka namun matanya menatap Chu Feng dengan campuran kekhawatiran dan tekad baru. "Kita harus mempercepat persiapan kalian," katanya, suaranya berat. "Kalau mereka kembali sebelum kompetisi, sekte ini tidak akan mampu bertahan dua kali."
Chu Feng mengangguk lemah, kesadaran akan taruhan sesungguhnya dari perjalanan ini—bukan lagi sekadar pembuktian diri atau kompetisi antar-sekte, melainkan pertahanan hidup dan mati bagi orang-orang yang kini ia anggap sebagai keluarga barunya—menghantam dirinya dengan bobot yang belum pernah ia rasakan sejelas ini sebelumnya.
Di tengah reruntuhan kecil bekas pertempuran, ketika fajar mulai merekah sepenuhnya, giok komunikasi di dalam jubah Chu Feng yang robek tiba-tiba bergetar—pesan mendesak dari Su Yue, suaranya terdengar jauh lebih panik dari pesan-pesan sebelumnya.
"Chu Feng, aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan. Para tetua klan baru saja mengumumkan—mereka menetapkan tenggat waktu tiga bulan untuk aku menerima perjodohan dengan salah satu putra Klan Zhao, aliansi dagang terbesar di wilayah tengah. Aku... aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku akan berusaha mencari cara, tapi aku butuh kau tahu ini sekarang, sebelum semuanya terlambat."
Pesan itu terputus tiba-tiba, seolah Su Yue harus buru-buru menyembunyikan giok komunikasinya sebelum ketahuan.
Chu Feng menatap giok kecil yang kini kembali sunyi di telapak tangannya, lukanya yang belum sepenuhnya sembuh terasa semakin berat dibandingkan beban baru yang baru saja menghantam dadanya—dua ancaman yang kini berjalan semakin dekat secara bersamaan, satu mengincar nyawanya, satu lagi mengancam merenggut seseorang yang mulai ia sadari begitu berarti baginya, dan keduanya kini memiliki tenggat waktu yang sama-sama mendesak: sebelum Kompetisi Sekte Wilayah Selatan tiba.