Satu foto. Terkirim ke orang yang salah. Dengan sengaja.
Kirana Adiwijaya punya satu rahasia yang ia jaga rapat-rapat: ia berpacaran dengan Bram Kusuma, dan tak seorang pun di keluarganya boleh tahu. Tapi malam itu, sebuah pesan panas yang ia niatkan untuk sang kekasih justru mendarat di layar ponsel pria yang paling tak boleh ia sentuh—Krisna Kusuma. Kakak Bram. Tunangan kakaknya sendiri.
Krisna tak membalas. Ia hanya menyimpannya. Dan sejak saat itu, garis antara "terlarang" dan "menginginkan" mulai kabur.
Krisna dingin, penuh perhitungan, terbiasa memiliki apa pun yang ia mau. Kirana pandai berpura-pura polos, padahal setiap langkahnya sudah ia rencanakan. Di antara pesta keluarga, ruang kerja bertirai kaca, dan perjalanan mewah yang jauh dari mata orang, keduanya memainkan permainan berbahaya yang tak boleh ketahuan siapa pun—terutama oleh dua orang yang paling mereka khianati.
Tapi rahasia punya harga. Dan ketika kebenaran mulai retak satu per satu—tentang masa lalu Kirana yang ia kubur dalam-dalam, tentang alasan sesungguhnya semua ini bermula—pertanyaannya bukan lagi apakah mereka akan tertangkap.
Melainkan: seberapa jauh keduanya rela jatuh, saat menyadari bahwa yang paling terlarang justru adalah yang paling mereka inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ophelia Blaire, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter-008
Bab 8: Tiga Menit
Kirana tak bisa menemukan foto itu.
Ia memeriksa galeri kamera dan utas pesan mereka. Pertanyaan Kak Rosa tentang gelang masih ada di sana, lengkap dengan jawaban Kirana. Foto dan keterangannya sudah lenyap.
Ia menggulir kembali sepanjang utas untuk memastikan.
Ia mencari namanya sendiri dan keterangan itu, lalu memeriksa berkas dan galeri awan. Tak ada.
Album tersembunyi dan album terhapus butuh Face ID. Ia mengangkat ponsel ke arah pria itu, memeriksa keduanya, lalu memeriksa juga pesan yang terhapus. Krisna membuka setiap kunci tanpa bertanya apa yang sedang dicarinya.
Sesaat Kirana begitu lega hingga ia hampir menangis. Lalu ia menunduk ke stokingnya yang robek.
Krisna sudah mengambil penanya lagi. Ia tak pernah sekali pun perlu memberitahu Kirana harus mencari di mana.
"Di mana fotonya?"
Krisna tetap di balik meja. "Kamu ingin aku menghapusnya."
"Kapan?"
"Malam itu."
Kirana menatapnya. "Kamu biarkan aku melakukan semua itu untuk sia-sia?"
"Kamu minta memeriksa. Kamu sudah memeriksa."
"Kamu bisa saja menunjukkan ponsel kosong."
"Bisa saja."
Ketenangannya membuat rasa malu itu tak tertanggungkan.
Krisna sudah menghapusnya empat malam lalu. Sebelum sarapan. Sebelum Kirana berdiri di taman berbohong kepadanya. Kirana tak bisa tidur karena sebuah foto yang sudah tak lagi ada padanya.
Dan pria itu membiarkannya memanjat ke atas mejanya.
"Kalau begitu bagaimana kamu bisa ingat tahi lalatnya?" tanyanya. "Kalau kamu langsung menghapusnya?"
"Aku melihat cukup untuk mengenalimu. Aku tak punya alasan untuk terus melihatnya."
Ia menghabiskan berjam-jam membayangkan reaksi pria itu. Ternyata Krisna hanya melihat cukup lama untuk mengenalinya, lalu menghapusnya.
Kenapa itu mengganggunya? Ia sendiri yang ingin foto itu lenyap.
"Jadi semua itu sama sekali tak berarti bagimu."
Perhatian Krisna menajam. "Itu yang membuatmu marah?"
Kirana berharap ia tak memberi pria itu celah tadi.
"Aku marah karena kamu sakit jiwa."
"Sudah kamu sebutkan itu."
"Kamu memerasku."
"Tidak."
"Kamu memaksaku—"
"Kamu bisa saja pergi." Suaranya mendingin. "Sudah kubilang begitu."
Kirana tak sanggup menahan sedetik pun lagi mendengar pria itu bicara seolah ia tak berbuat salah. Kirana mengitari meja.
Ia mendorong ponsel ke arah dada pria itu saat Krisna mulai bangkit. Pinggulnya membentur sudut meja dan ia tersandung menabrak tubuh Krisna.
Krisna terjatuh kembali ke kursi, menangkap Kirana di pinggang. Roda kursi tergelincir beberapa senti di lantai.
Mereka mendarat dengan Kirana melintang di pangkuan pria itu, satu lutut bertumpu di jok kulit, satunya lagi masih di lantai. Ponsel masih tergenggam di kepalannya. Roknya tersingkap cukup tinggi hingga stoking yang rusak itu tak lagi menutupi apa pun yang berguna.
Krisna tampak sama terkejutnya dengan yang Kirana rasakan. Tak bertahan lama.
"Turun."
"Ambil ponselmu."
Kirana melemparnya melewati bahu pria itu.
Ponsel itu membentur dinding dengan bunyi retak tajam lalu jatuh ke karpet.
Casingnya pecah di satu sudut. Layarnya masih menyala, masih menampilkan folder kosong yang telah mempermainkannya. Krisna mengikutinya dengan pandangan, lalu kembali menatap Kirana.
"Sudah selesai?"
Setiap naluri warasnya menyuruhnya berdiri, minta maaf, pergi. Sebaliknya, Kirana menaruh kedua lututnya di kursi dan duduk penuh menindih pria itu.
"Kirim aku tagihannya."
Tangan Krisna mengerat di pinggangnya.
"Turun dariku."
"Paksa aku."
Ia tahu ia sedang memancing pria itu. Ia memang menginginkannya.
Salah satu tangan Krisna terperangkap di bawah paha Kirana. Sesuatu yang dingin menekan lewat celah robek di stokingnya, tergelincir menyentuh katun basah yang gagal ia sembunyikan.
Kirana menunduk. Pria itu masih memegang penanya. Batang logamnya terbaring di sepanjang telapaknya, halus dan dingin menempel pada kulit yang belum pulih dari kejadian di meja tadi.
Kirana mendadak sadar akan posisinya sekaligus: kedua lututnya mengapit pria itu, roknya tergulung di pinggul, celana dalamnya basah dan melenceng ditarik stoking yang robek. Ia tadi berniat membuat pria itu bergerak, dan sekarang justru ia yang tak bisa menentukan harus berbuat apa.
"Kesempatan terakhir," kata Krisna.
"Untuk apa?"
"Untuk berhenti berpura-pura kamu tak tahu apa yang kamu minta."
Ia mengendurkan cengkeramannya dan menunggu. Kirana bisa saja berdiri saat itu. Ia tak melakukannya.
Krisna menggeser tangan yang di bawah tubuh Kirana. Pena itu ikut bergerak, sebuah garis dingin ditarik di sepanjang sisi dalam pahanya. Ujungnya menyentuh tepi basah celana dalamnya. Kirana menyedot napas begitu tajam hingga terasa nyeri.
"Masih mau bertengkar?"
"Aku mau kamu mengaku kamu menikmati mempermalukanku."
"Aku menikmati menontonmu." Suaranya mengasar. "Itu bukan hal yang sama."
Ternyata memang tak setidak-tertarik itu.
Ibu jari Krisna menyusuri jalur yang telah ditarik pena tadi. Ia menyingkap katun basah itu dengan satu buku jari dan menyentuh belahan kewanitaan Kirana yang bengkak dan terbuka. Jemari Kirana mencengkeram bahu pria itu.
"Krisna."
"Begitu lebih baik."
Berulang kali, ia membawa ibu jarinya nyaris ke kelentit Kirana, lalu menariknya kembali hingga penahanan diri itu berubah menjadi siksaan tersendiri.
"Kamu tadi mau bukti aku tak terpengaruh," katanya. "Sekarang kamu punya buktinya."
"Ini membuktikan kamu pendendam."
"Tanganmu ada di bahuku."
Kirana menunduk. Jemarinya terbenam di kemeja pria itu. Ia mengendurkannya.
Krisna menekan langsung ke kelentitnya. Cengkeraman Kirana kembali mengerat. Pria itu melirik tangannya. Kirana membiarkannya tetap di sana.
Pena itu kembali.
Logamnya masih dingin di kulitnya. Krisna memutarnya sekali di antara jarinya, di mulut basah tubuh Kirana, dan gerakan itu terasa dua kali, mula-mula sebagai kejutan, lalu sebagai tarikan tumpul yang membuat lututnya mengerat di kursi.
"Kamu menikmati ini," katanya.
"Aku membencimu."
Ia menatap Kirana sesaat, lalu menunduk ke tangannya sendiri.
Ia menekankan pena itu ke mulut tubuh Kirana lalu berhenti. Kirana menunggu ia bergerak. Krisna sedang mengamati wajahnya.
"Bilang tidak," katanya.
Kirana ingat ia sendiri yang tadi memutar kunci pintu. Tangan Krisna longgar di pinggangnya.
Kirana menatapnya dan terpikir Bram, lalu berusaha tidak.
Lalu ia berkata, "Jangan buat aku menunggu."
Mata Krisna menggelap.
Pena itu masuk hanya cukup untuk merampas napas Kirana berikutnya.
Tak lebih dari terobosan paling dangkal, nyaris tak melewati bibir basah kewanitaannya. Cukup untuk membuatnya kaku. Cukup untuk membuat rasa dingin itu mustahil dikira sebuah kebetulan.
Keningnya jatuh ke kening pria itu. Krisna tak bergerak lagi.
Kirana menunggu sampai ia bisa bicara.
"Kamu tunangan kakakku," bisiknya.
"Dan adikku pacarmu."
Rasa bersalah menembus hawa panas itu. Krisna menariknya keluar seketika. Kehilangan itu membuat Kirana limbung.
Krisna meletakkan pena di atas selembar kertas di meja. Ibu jarinya menyentuh tepi robek stoking Kirana.
"Kita harus berhenti."
Kirana masih cukup marah untuk menampar pria itu. Ia tak bisa menjelaskan kenapa ia belum turun dari pangkuannya.
Krisna menatap pena, lalu menatap wajah Kirana yang memerah.
"Kamu juga sudah merusak yang ini."
Kirana mengikuti pandangannya. Batang mengilap itu berkilau di bawah lampu kantor.
Bu Reni bicara kepada seseorang di lorong. Kirana mengangkat kepala dan mendengarkan sampai langkah kaki itu menjauh.
Krisna meraih selembar tisu.
"Jangan bergerak," katanya.