NovelToon NovelToon
BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.

Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.

Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.

Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Srak.

Srak.

Akar merambat yang rapuh itu langsung putus saat ditarik oleh puluhan tangan sekaligus.

Setelah akar-akarnya berhasil disingkirkan, sebuah lubang lorong batu berbentuk setengah lingkaran perlahan menampakkan dirinya.

Ukuran lubang itu cukup besar untuk dimasuki oleh dua orang dewasa yang berjalan berdampingan sekaligus.

Dari dalam lorong gelap tersebut, berhembus angin yang terasa sangat sejuk menerpa wajah para warga desa.

"Angin dari dalam goa ini membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang sangat segar."

Arga menghirup udara itu dalam-dalam untuk memastikan hidungnya tidak salah mencium aroma.

"Ini pasti lorong goa rahasia yang tidak sengaja ditemukan oleh burung-burung pencari makan ini."

"Burung kecil itu tidak bohong, goanya benar-benar ada di sini."

Natasya bergumam pelan sambil tersenyum bangga pada burung temannya yang sedang bertengger di atas batu jauh.

"Dia sudah mengarahkan warga tepat ke depan pintu masuk tanpa membuatku harus repot-repot menjelaskan macam-macam."

"Tunggu apa lagi, ayo kita masuk ke dalam sana sekarang juga."

Bu Rini yang tadi ketakutan tiba-tiba berubah menjadi sangat berani dan menerobos barisan warga paling depan.

Rasa laparnya jelas sudah seratus persen mengalahkan rasa takutnya pada hantu penjaga candi.

"Tunggu sebentar, jangan bertindak bodoh dan gegabah masuk begitu saja."

Arga langsung menarik kerah baju wanita paruh baya itu dengan kasar untuk menahannya menerobos masuk.

"Lorong goa ini sangat gelap gulita, kalau ada ular berbisa atau lubang jebakan di dalam sana bagaimana?"

"Benar kata Arga, kita butuh obor atau alat penerangan lain sebelum berani masuk menjelajahi tempat ini."

Pak Joko mengangguk setuju dan menahan langkah warga lain yang sudah bersiap ikut menerobos.

"Kita harus kembali ke desa dulu untuk mengambil obor kayu dan memberitahu warga lain tentang penemuan besar ini."

Para warga setuju dengan usul tersebut dan mereka semua segera bergegas kembali ke rumah masing-masing dengan semangat membara.

Harapan baru akhirnya muncul setelah berbulan-bulan mereka hidup dalam bayang-bayang kelaparan yang menyiksa.

Malam harinya, pelataran candi tua yang biasanya gelap gulita kini terang benderang oleh puluhan cahaya obor warga desa.

Hampir seluruh penduduk desa berkumpul di sana membawa berbagai macam keranjang, karung, hingga gerobak kayu tua.

Wajah mereka semua dihiasi oleh senyuman penuh harapan yang sangat jarang terlihat akhir-akhir ini.

"Ingat, kita semua harus berjalan perlahan dan tidak boleh saling mendorong di dalam goa sempit ini."

Kepala Desa memberikan instruksi tegas dari atas sebuah batu besar sebelum rombongan mulai bergerak masuk.

"Keselamatan bersama jauh lebih penting daripada berebut posisi di depan."

Arga berjalan di barisan pertengahan sambil memegang tangan Natasya dengan ekstra erat.

Pria itu memegang obor bambunya tinggi-tinggi untuk menerangi setiap pijakan di dalam goa batu yang sedikit licin tersebut.

Suhu di dalam goa terasa semakin menurun dan sejuk seiring dengan semakin jauhnya mereka melangkah masuk.

Suara tetesan air dari atap goa terdengar bergema indah memecah kesunyian di dalam kegelapan.

Tes.

Tes.

"Air yang menetes dari atas sana terasa sangat dingin menyentuh pundakku, Ayah."

Natasya mengusap pundaknya sambil terus melangkah lincah mengikuti ritme jalan ayahnya.

"Itu pertanda bagus, Natasya, berarti kita semakin dekat dengan sumber air tawar yang tidak pernah mengering."

Perjalanan menyusuri lorong bawah tanah itu memakan waktu sekitar tiga puluh menit penuh.

Tiba-tiba, sebuah titik cahaya terang berwarna kebiruan mulai terlihat dari ujung lorong di depan mereka.

"Lihat itu, ada pintu keluar di depan sana."

Seorang pemuda yang memimpin di barisan paling depan berteriak histeris kegirangan menunjuk sumber cahaya tersebut.

Rombongan warga langsung mempercepat langkah kakinya setengah berlari menuju cahaya tersebut saking tidak sabarnya.

Saat mereka akhirnya berhasil keluar dari mulut goa, sebuah pemandangan yang sangat luar biasa indah langsung menyambut mereka.

Mereka semua telah tiba di sebuah lembah cekung yang sangat luas dan dikelilingi oleh bukit batu karang curam di segala sisi.

Sinar rembulan purnama menyinari seluruh area lembah itu dengan sangat terang dan jelas benderang.

Pemandangan di depan mereka sangat kontras berbeda seratus delapan puluh derajat dengan keadaan desa mereka yang tandus kering.

Tanah di lembah ini seluruhnya ditumbuhi oleh rumput hijau yang sangat subur sejauh mata memandang.

Pohon-pohon ubi jalar liar merambat bebas dengan daun yang sangat lebat dan umbi raksasa yang menyembul berceceran dari tanah basah.

Berbagai jenis tanaman sayuran hutan dan pohon buah liar tumbuh berdempetan dengan sangat rimbun dan sehat.

Di tengah-tengah lembah hijau itu, mengalir sebuah sungai kecil dengan air tawar yang sangat jernih dan segar gemericik.

"Ini benar-benar sebuah surga rahasia yang sangat luar biasa indahnya."

Pak Joko langsung berlutut di tanah dan mencabut sebatang ubi jalar raksasa dengan air mata deras membasahi pipi tirusnya.

"Tuhan benar-benar tidak menutup mata membiarkan kita semua mati kelaparan begitu saja."

"Air sungainya sangat segar dan dingin, ini adalah air paling enak yang pernah aku minum."

Bu Rini membasuh wajahnya dan meminum air langsung dari pinggir sungai kecil itu dengan sangat rakus dan lahap.

"Kita semua tidak akan pernah mati kehausan lagi mulai malam ini."

Suasana lembah seketika berubah menjadi sangat ramai penuh tangis haru bahagia dan sorak-sorai kemenangan dari seluruh warga desa.

Mereka langsung menyebar ke seluruh penjuru lembah untuk memanen ubi jalar, sayuran, dan memetik buah liar sebanyak yang mereka bisa bawa.

Arga hanya berdiri terdiam sambil memeluk bahu putrinya erat-erat memandangi pemandangan mengharukan tersebut.

"Firasatmu itu benar-benar sangat hebat dan tajam, Natasya."

Arga bergumam pelan dengan suara bergetar menahan tangis rasa syukurnya.

"Kalau saja kamu tidak memaksa Ayah untuk menunda keberangkatan sampai sore tadi, kita pasti tidak akan pernah mengikuti kawanan burung penunjuk jalan itu."

"Dan desa kita pasti sudah akan hancur menjadi kuburan massal dalam waktu beberapa hari ke depan saja."

Arga mengecup kening Natasya berulang kali dengan rasa bangga dan cinta yang teramat besar.

"Semua ini adalah rencana Tuhan yang kebetulan lewat melalui firasat kecilku saja kok, Ayah."

Natasya tersenyum polos dan merendah menyembunyikan senyum kemenangan liciknya dengan sangat baik di balik sikap anak-anaknya.

Gadis kecil itu menoleh ke arah puncak bukit karang dan melihat bayangan seekor burung kecil sedang terbang melintas pergi menjauh.

"Terima kasih banyak atas kerja sama sempurnanya, teman-teman bersayapku."

Natasya bergumam pelan di dalam hatinya mengirimkan pesan kebaikan kepada hewan-hewan penyelamat aslinya.

"Berkat kalian semua, rahasia kekuatanku tetap aman dan perut warga desaku akan segera kenyang kembali."

Sejak malam penemuan lembah rahasia itu, kehidupan di desa perlahan mulai bangkit dan berubah drastis menjadi lebih makmur.

Keluarga Arga selalu mendapat bagian makanan dan jatah air yang cukup berlimpah.

Kondisi fisik Mira kembali membaik dengan sangat cepat dan kini sudah bisa ikut ke lembah hijau untuk memanen sayuran bersama ibu-ibu lain.

Namun, rentetan kebetulan yang terus-menerus menyelamatkan desa itu perlahan mulai memicu pembicaraan aneh di balik pintu rumah warga.

Mulai dari kesembuhan ajaib dan instan Mira dari demam darah yang mematikan.

Hingga keberuntungan Arga yang selalu mendapat firasat tepat yang berujung pada penemuan besar yang menyelamatkan desa.

Sebuah rumor rahasia mulai berhembus kencang bagaikan angin topan di antara ibu-ibu penggosip desa.

Mereka mulai menyadari bahwa semua keajaiban itu berpusat pada satu keluarga kecil dan pada satu orang gadis cilik bernama Natasya.

1
Fauziah Daud
mantap Natasha 👍👍
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!