Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Detik Terakhir
Di permukaan, Tetua Kang tiba-tiba tersentak, matanya yang berurat gelap melebar seolah merasakan sesuatu yang jauh dari sana.
"Tidak," desisnya, suara ganda dalam dirinya kini terdengar panik untuk pertama kalinya. "Mereka sedang memurnikannya. Bocah itu benar-benar mencoba—"
Ia melompat mundur dari pertarungan dengan Yun Xia, mengabaikan luka gores di lengannya, dan mengarahkan konstruksi tulang-kayunya untuk menyerang lebih brutal, berusaha menerobos langsung ke arah reruntuhan bangunan utama.
"Tidak akan kubiarkan!" Su Mei berteriak, menyalurkan sisa kekuatan jiwanya sepenuhnya ke Boneka Akar Kembar, memaksa akar-akar raksasa itu melilit erat konstruksi Tetua Kang, menahannya meski tubuhnya sendiri mulai gemetar oleh beban yang jauh melampaui batas amannya.
"Kau akan menghabiskan dirimu sendiri!" Old Bo berteriak cemas, melihat wajah Su Mei yang mulai pucat pasi.
"Kalau itu yang dibutuhkan untuk memberi mereka waktu, aku rela," Su Mei membalas, giginya terkatup rapat.
Tetua Kang, melihat jalannya terhalang, mengubah taktik—dengan kekuatan gelap yang mengalir semakin deras dari dalam dirinya, tubuhnya sendiri mulai berubah, urat-urat hitam menjalar lebih jauh ke seluruh wajah dan lehernya, matanya berubah sepenuhnya menjadi warna ungu pekat yang mengerikan.
"Kalau begitu aku akan menerobos dengan caraku sendiri," suara itu kini sepenuhnya bukan suara Tetua Kang lagi, melebur dengan sesuatu yang jauh lebih tua, lebih jahat.
Ia melepaskan gelombang kekuatan jiwa gelap yang jauh lebih besar dari sebelumnya, cukup kuat untuk merobek lilitan akar Su Mei dan melemparkan Yun Xia yang mencoba menghalanginya beberapa meter ke belakang.
Di bawah tanah, ritual mencapai titik paling kritis—cahaya di kotak besi kini terbagi jelas antara ungu gelap dan hijau lembut, bertarung satu sama lain dalam gejolak yang membuat seluruh ruangan bergetar.
"Sekarang," Tetua Feng berkata, napasnya terengah menahan beban ritual yang semakin berat, "dorongan terakhir. Salurkan semua yang kau punya, Ji Ming. Ini akan sakit, tapi kalau kita berhenti sekarang, semua yang sudah kita lakukan akan sia-sia—energi yang belum sepenuhnya dimurnikan bisa meledak lebih berbahaya dari sebelumnya."
Ji Ming merasakan setiap tetes kekuatan jiwanya seolah ditarik keluar sekaligus, rasa sakit yang luar biasa menjalar dari dadanya yang kosong—tempat yang selama delapan belas tahun dianggap kutukan, kini terasa seperti dipaksa memberikan segalanya sampai batas terakhir.
Menyerahlah, bisikan Mo Yan kembali menggema di kepalanya, lebih putus asa kali ini, lebih marah. Kau tak akan pernah cukup kuat untuk ini. Biarkan aku pergi, dan aku akan membiarkanmu hidup.
Pintu batu di belakang mereka tiba-tiba meledak, serpihan batu berhamburan ke seluruh ruangan saat sesosok figur berjubah hitam dengan mata ungu pekat melangkah masuk, kekuatan gelap mengalir liar di sekelilingnya.
"BERHENTI!" Tetua Kang—atau apa pun yang tersisa darinya—berteriak, tangannya terangkat siap melepaskan serangan final.
Tapi terlambat.
Cahaya hijau dalam kotak besi itu akhirnya menang, melebur sepenuhnya menelan sisa kegelapan ungu dalam ledakan cahaya lembut yang menyilaukan namun tak menyakitkan, gelombang kekuatan jiwa murni menyebar ke seluruh ruangan seperti napas lega yang tertahan selama tiga ratus tahun akhirnya terlepas.
Tetua Kang berhenti di tempat, tubuhnya tersentak keras seolah tali yang selama ini mengikatnya tiba-tiba terputus. Urat-urat hitam di wajahnya memudar perlahan, matanya kembali ke warna aslinya yang cokelat gelap, dan ia terhuyung mundur, terjatuh berlutut di tengah reruntuhan pintu batu, napasnya memburu seperti seseorang yang baru saja bangun dari mimpi buruk yang sangat panjang.
"Apa—" suaranya sendiri kini, lemah dan bingung. "Apa yang telah kulakukan..."
Ji Ming, yang kini terduduk lemas di lantai dengan kekuatan jiwanya terkuras habis, menatap kotak besi yang kini hanya memancarkan cahaya hijau lembut yang tenang—tak lagi menyimpan kebencian atau kegelapan, hanya kekosongan damai dari sesuatu yang akhirnya benar-benar berakhir.
"Berhasil," Tetua Feng berbisik, air mata mengalir di wajah tuanya yang lelah. "Setelah tiga puluh tahun... akhirnya berhasil."
Di atas mereka, suara pertarungan yang sejak tadi menggema di seluruh lembah perlahan mereda menjadi keheningan yang aneh dan asing.