*𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘼𝙡𝙠𝙚𝙢𝙞𝙨 𝙎𝙚𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙎𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣 𝘿𝙪𝙖*
Ini adalah kisah Lin Xuan Sang Dewa Alkemis yang tidak sengaja bertemu dengan musuh terkuatnya Mo Xie, dua orang dari alam bawah yang tanpa sengaja terjerumus ke alam semesta yang jauh lebih tinggi.
Namun, mereka segera menyadari bahwa gelar agung, bahkan kekuasaan yang dianugerahkan oleh para Dewa dan Iblis Kuno bukanlah berkah, melainkan umpan untuk memelihara tubuh mereka hingga matang sebelum akhirnya dijadikan santapan.
Alih-alih terus saling membunuh, dua anomali ini akhirnya mengesampingkan permusuhan mereka untuk sementara.
Sebab sebelum menentukan siapa yang akan mati di tangan siapa, mereka sepakat melakukan satu hal terlebih dahulu...
Membantai para dewa serta iblis munafik dan membuat seluruh Alam Tinggi berlumuran darah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Api Surgawi di Jantung Sang Kaisar
Jauh di sebuah batu obsidian, kehancuran sedang berlangsung di dalam tubuh Lin Xuan.
Sang Kaisar Alkemis terbaring di atas tanah dengan tangan kanan masih mencengkeram Telinga Naga, fragmen Yang dari Kuali Pembelah Surga. Cahaya perak yang menyilaukan memancar dari fragmen itu dan mengalir deras ke dalam meridian serta Tungku Dagingnya.
Energi Yang ini berbeda dari energi Yin yang mengikis tubuh Mo Xie. Ia membawa daya penciptaan yang mendorong segala sesuatu untuk tumbuh dan berkembang. Namun bagi Lin Xuan, yang tubuhnya sedang berusaha menembus tingkat baru, kekuatan penciptaan sebesar itu justru berubah menjadi bencana.
Hukum Tolak di dalam tubuhnya mengamuk.
Tak ada lagi sesuatu di luar tubuh yang dapat ditolak. Akibatnya, hukum tersebut mulai berbalik dan menghantam tubuhnya sendiri. Organ-organ dalamnya saling berbenturan, darah mengamuk di sepanjang pembuluh, bahkan tulang rusuknya mulai terdorong menjauh dari paru-parunya.
"Uaaarghh!"
Lin Xuan memuntahkan darah perak.
Kulit dadanya retak dan cahaya putih menyembur dari dalam. Jika keadaan ini terus berlanjut, tubuhnya bukan hanya akan hancur, tetapi seluruh Reruntuhan Bintang Mati juga bisa ikut terkoyak.
"Tuanku! Lepaskan fragmen itu!" Suara Hun Yuan terdengar dari dalam bayangan. "Tubuhmu sudah tidak sanggup menahannya!"
"Tidak!"
Lin Xuan menggertakkan gigi.
Ia tidak akan melepaskannya.
Jika gagal di sini, ia akan tetap menjadi mangsa yang dipelihara Kaisar Taichu.
Pikirannya bergerak cepat. Masalahnya sudah jelas. Daya penciptaan dari fragmen itu terlalu kuat, sedangkan tubuhnya membutuhkan kekuatan yang mampu menahannya dan menjaga keseimbangannya.
Tatapan Lin Xuan jatuh pada bayangannya sendiri.
"Hun Yuan." Suaranya berat.
"Wujud aslimu terbentuk dari delapan belas Api Surgawi Sembilan Benua. Kau membawa Hukum Kehancuran dan kehidupan. Masuklah ke dalam jantungku."
Hun Yuan terdiam.
"Apa?"
"Masuk sekarang."
"Tuanku, jika Api Surgawi dan energi Kuali bertabrakan di dalam tubuhmu, kau bisa hancur dari dalam!"
Senyum tipis muncul di wajah Lin Xuan yang telah berlumuran darah.
"Aku tidak membutuhkan kuali." Ia menekan dadanya. "Tungku Daging-ku adalah kuali terbaik di alam semesta."
Kegilaan terpancar dari matanya.
"Jadilah api alkimia-ku. Kita jinakkan kekuatan ini bersama."
Hun Yuan terdiam sesaat sebelum akhirnya menghela napas.
"Jika itu kehendakmu, aku akan mengikutinya."
Boom!
Kabut hitam dan putih meledak dari bayangan Lin Xuan.
Hun Yuan kembali ke wujud aslinya. Delapan belas Api surgawi berputar membentuk pusaran yang melahap cahaya di sekitarnya. Dalam sekejap, pusaran itu menerjang dada Lin Xuan dan menembus langsung ke dalam jantungnya.
Booom!
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh Labirin Gravitasi.
Delapan belas Api Surgawi membawa Hukum Kehancuran dan kehidupan, sedangkan Telinga Naga membawa Hukum Penciptaan. Ketika kedua kekuatan itu bertabrakan di dalam tubuh Lin Xuan, penyiksaan yang sesungguhnya pun dimulai.
Lin Xuan menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tungku.
Jantungnya menjadi tempat peleburan, meridiannya menjadi jalur aliran, dan setiap bagian tubuhnya menjadi wadah bagi dua hukum yang saling bertentangan.
Hukum Tolak terus mendorong segala sesuatu menjauh.
Api Kehancuran membakar dan menarik segala sesuatu ke dalam.
Kedua kekuatan itu bertarung tanpa henti di dalam tubuhnya.
"Diam!"
Lin Xuan meraung.
Ia mengerahkan seluruh kehendaknya dan membentuk tangan tak kasatmata dari esensi jiwanya. Layaknya seorang alkemis mengendalikan api di bawah tungku, ia mulai mengatur setiap aliran energi dengan ketelitian mutlak.
Saat Hukum Tolak hendak merobek tulangnya, Api surgawi menahannya. Ketika Api surgawi mulai menggerogoti organ dalamnya, daya penciptaan dari kuali segera memulihkannya.
Tubuhnya terus mengalami siklus yang mengerikan.
Hancur, lalu pulih.
Pulih, lalu kembali hancur.
Lin Xuan menahan semuanya hanya dengan kehendaknya.
Rambut peraknya berkibar liar. Darah perak menguap dari pori-porinya dan membentuk kabut tebal yang menyelimuti tubuhnya.
Waktu berlalu.
Satu jam terasa seperti seribu tahun.
Namun perlahan, pertarungan kedua kekuatan itu mulai mereda. Mereka tidak mampu menghancurkan tubuh Lin Xuan. Sebaliknya, setelah bentrokan tanpa akhir, kekuatan yang berlawanan itu mulai menemukan keseimbangan.
Lalu perubahan besar terjadi.
Otot, tulang, dan meridian Lin Xuan mengalami transformasi. Tubuhnya tidak lagi sekadar menjadi wadah bagi energi. Setiap bagian tubuhnya perlahan berubah menjadi pusat Hukum Tolak.
Keseimbangan sempurna akhirnya tercapai.
Wuusshh!
Kekuatan yang sebelumnya mengamuk di dalam tubuh Lin Xuan mendadak tenang.
Kabut perak di sekelilingnya tersedot kembali ke dalam tubuh.
Lin Xuan menarik napas panjang sebelum mengembuskannya perlahan.
Boooom!
Cincin cahaya perak menyebar dari tubuhnya.
Tidak terdengar suara apa pun, tetapi ke mana pun cincin itu lewat, tanah obsidian lenyap. Reruntuhan kuno hancur menjadi debu, lempeng-lempeng tembaga yang melayang pecah, bahkan ruang di sekitarnya terkoyak oleh Hukum Tolak yang begitu kuat.
Seluruh sisa Labirin Gravitasi berubah menjadi kehampaan putih.
Di tengah kehampaan itu, Lin Xuan perlahan membuka mata.
Tatapan peraknya kini jauh lebih dalam. Tidak ada lagi kegelisahan.
Yang tersisa hanyalah ketenangan yang membuat seluruh ruang seakan tunduk.
Tubuhnya telah kembali sempurna. Jubah putihnya pun pulih tanpa meninggalkan sedikit pun bekas kerusakan.
Lin Xuan bangkit.
Kakinya tidak benar-benar menyentuh kehampaan. Ada jarak tipis antara telapak kakinya dan ruang di bawahnya, seolah-olah seluruh dunia telah ditolak oleh tubuhnya.
Hukum Tolak kini sepenuhnya tunduk pada kehendaknya.
Tungku Daging Tahap ke-11!
Lin Xuan tidak lagi sekadar memiliki Kekuatan Bintang Kuno. Kini setiap bagian tubuhnya telah menjadi pusat Hukum Tolak.
Bahkan kekuatan Dewa Kuno di bawah Tahap ke-12 akan sulit menyentuh tubuhnya.
"Luar biasa..." Suara Hun Yuan terdengar dari dalam lautan roh. "Ini benar-benar keajaiban penciptaan."
Hun Yuan kembali bersemayam di dalam bayangan Lin Xuan. Setelah menjadi api alkimia bagi tuannya, wujudnya tampak jauh lebih tenang.
Lin Xuan mengangkat tangan kanannya.
Telinga Naga telah kehilangan seluruh kekuatannya. Fragmen Yang itu kini hanya tersisa sebagai lempengan perunggu tua.
Lin Xuan meremasnya.
Krek!
Lempengan itu berubah menjadi debu, lalu Hukum Tolak meniupnya hingga lenyap ke dalam kehampaan.
Lin Xuan menatap jauh ke depan. Dari kejauhan, ia dapat merasakan aura Mo Xie.
Tulang Tahap ke-11.
Mo Xie juga berhasil. Keduanya telah mencapai tingkat baru.
Senyum tipis muncul di wajah Lin Xuan. "Saatnya meninggalkan tempat terkutuk ini."
Tatapannya beralih ke luar reruntuhan.
"Para penjaga di luar sana pasti sudah menunggu."
Ia mengangkat tangan dan menunjuk ke depan.
Satu sentilan jari merobek ruang. Celah menuju Reruntuhan Bintang Mati terbuka di hadapannya.
Lin Xuan melangkah masuk tanpa ragu.
Sang Kaisar Alkemis telah menembus Tungku Daging Tahap ke-11.
Kini ia membawa kekuatan barunya menuju gerbang kekaisaran purba.
Perburuan Kuali Pembelah Surga telah berakhir.
Namun badai yang jauh lebih besar segera mengguncang Alam Primordial.