Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 — Rencana Tersembunyi
Setelah pertemuan yang berakhir dengan keputusan Aliansi untuk "mempertimbangkan" nasib keluarga Moretti — sebuah kalimat diplomatis yang menyembunyikan ancaman nyata di baliknya — Don Ricci meminta pertemuan pribadi dengan Gerald sebelum kepulangannya ke Milan.
"Kau melakukan hal yang berani hari ini, Gerald," katanya, menuangkan dua gelas wine merah tua di ruang kerja pribadinya yang dipenuhi buku-buku sejarah mafia Italia yang berdebu. Yao, yang duduk diam di sudut ruangan, memperhatikan sebuah foto berbingkai perak di rak buku — foto lama yang menunjukkan Don Ricci jauh lebih muda, berdiri di antara beberapa pria berjas mahal di sebuah pelabuhan yang tidak ia kenali. Salah satu wajah di foto itu terasa familiar, meski ia tidak bisa langsung mengenalinya di bawah cahaya temaram ruangan. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menyimpan detail itu dalam ingatannya untuk diselidiki nanti. "Kejujuran semacam itu jarang terlihat di dunia kita."
"Aku tidak melakukannya untuk mendapat pujian," jawab Gerald waspada, tidak sepenuhnya mempercayai keramahan tiba-tiba dari pria yang dikenal karena kelicikan politiknya selama puluhan tahun berkarier di dunia mafia.
"Tentu saja tidak," jawab Don Ricci, tersenyum tipis. "Tapi kejujuran memiliki harga, Gerald. Beberapa anggota Aliansi menginginkan hukuman berat untuk keluarga Moretti — bahkan penghapusan total dari Aliansi. Aku bisa membantumu mempertahankan posisimu... dengan syarat tertentu."
Gerald merasakan firasat buruk mulai menjalar. "Syarat apa?"
"Wilayah pelabuhan yang saat ini diperebutkan dengan keluarga Russo," jawab Don Ricci santai, seolah sedang membicarakan cuaca. "Serahkan pengelolaannya padaku sebagai 'penengah netral' selama masa transisi kepemimpinanmu. Sebagai gantinya, aku akan menggunakan pengaruhku untuk meyakinkan Aliansi agar tidak menghukum keluargamu terlalu berat."
Kata-kata itu, meski dibungkus dengan bahasa diplomatis, jelas merupakan pemerasan terselubung. Gerald menyadari bahwa Don Ricci telah lama menginginkan wilayah strategis itu, dan skandal keluarganya kini memberikan kesempatan sempurna untuk merebutnya tanpa perlu berperang secara langsung.
"Aku perlu waktu untuk mempertimbangkannya," jawab Gerald hati-hati, tidak ingin menunjukkan kecurigaannya secara terbuka.
"Tentu saja," jawab Don Ricci, tersenyum licik. "Tapi jangan terlalu lama, Gerald. Aliansi bertemu lagi dalam dua minggu untuk memutuskan nasib keluargamu secara final."
Sepulangnya dari pertemuan itu, Gerald segera menceritakan tawaran mencurigakan itu pada Yao, yang mendengarkan dengan alis berkerut penuh kecurigaan.
"Ini terlalu rapi," kata Yao pelan. "Skandal keluargamu terungkap tepat pada waktu yang sempurna untuk menguntungkan Don Ricci. Aku tidak percaya ini kebetulan."
"Apa maksudmu?" tanya Gerald.
"Maksudku," jawab Yao, matanya menyipit penuh perhitungan, "kita perlu mencari tahu apakah Don Ricci memiliki hubungan dengan Enzo — atau bahkan dengan keluarga Russo. Karena jika benar, kita baru saja lolos dari satu ular, hanya untuk masuk ke sarang ular yang jauh lebih besar."
Gerald menghela napas panjang, kelelahan yang mendalam terlihat jelas di wajahnya. "Aku lelah, Yao," katanya jujur. "Lelah menghadapi satu ancaman demi ancaman lainnya, seolah dunia ini tidak akan pernah membiarkan kita beristirahat barang sejenak."
"Aku tahu," jawab Yao lembut, menggenggam tangannya. "Tapi kita sudah sejauh ini. Kita tidak bisa berhenti sekarang, bukan ketika masa depan yang kita perjuangkan begitu dekat untuk diraih."
Gerald mengangguk, menemukan kembali tekadnya dari kekuatan yang terpancar dari wanita di sampingnya. "Kau benar," katanya. "Mari kita cari tahu kebenaran tentang Don Ricci ini."