Rakanza Elson adalah mimpi buruk bagi musuh-musuhnya. Dingin, tak tersentuh, dan bos terkuat organisasi Teratai Hitam. Namun di balik kekuasaan dan ketampanannya, Rakanza menyimpan dua rahasia. Mysophobia parah dan ketakutan akan sentuhan yang membuatnya menganggap pernikahan sebagai sebuah kutukan.
Hingga suatu malam di Meksiko, sebuah misi membawanya pada Annabella. Gadis misterius yang terkurung di laboratorium eksperimen ilegal. Dipenuhi rasa jijik pada tempat yang kotor dan terkontaminasi, Rakanza seharusnya membiarkan gadis itu tewas. Namun, karena tuntutan orang tuanya untuk segera menikah, Rakanza terpaksa menikahi gadis itu. Namun tak sangka, setelah wajah istrinya disembuhkan, ternyata istrinya mirip dengan adik iparnya.
Di sisi lain, Rafandra, adik Rakanza merasa telah menemukan cinta sejati saat berhasil melamar Luviana Winston. Namun, dibalik senyum manis Luviana sang pianis terkenal, ada kebohongan besar yang siap menghancurkan segalanya. Luviana yang dicintainya ternyata menyimpan agenda balas dendam yang mematikan.
Siapa sebenarnya Annabella? Dan apa hubungannya dengan keluarga Winston?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tes DNA?
Rakanza menatap layar ponselnya, memperlihatkan titik koordinat keberadaan si kembar yang terus berpindah lokasi dengan cepat, mulai dari gedung Winston Group, studio musik Lucky, hingga kini berhenti di halte bus. Dahi Rakanza berkerut dalam. Ia bingung melihat pola pergerakan itu. Bagaimana bisa istrinya pergi ke tiga tempat berbeda dalam kurun waktu sesingkat ini?
Gavin yang mengemudikan mobil melirik lewat spion tengah, ikut merasa pusing. "Bos... kenapa Nyonya Muda bisa muter-muter ke tiga tempat gitu?"
Rakanza menghela napas berat lalu menyandarkan punggungnya.
"Dari kemarin... dia terus-menerus bilang kalau dia itu Luviana yang asli. Dan wanita yang dinikahi Rafa adalah Annabella, Gavin."
Gavin hampir saja menginjak rem karena terkejut. Keningnya berkerut hebat mencerna ucapan bosnya. "Hah? Gimana bisa, Bos? Jelas-jelas dari semua dokumen, latar belakang, dan data yang saya dapatkan, istri Bos itu Annabella. Kenapa Nyonya Muda malah ngaku jadi Luviana?"
"Itu yang bikin kepala aku mau pecah," sahut Rakanza datar namun kentara sekali rasa pusingnya. "Makanya aku sudah suruh Julian buat nyembuhin wajahnya secepat mungkin."
Gavin berpikir sejenak, lalu menyahut, "Bos, kalau mau cara yang paling cepat dan pasti tanpa tunggu wajahnya sembuh... kenapa gak pakai tes DNA aja?"
Tes DNA?
Rakanza terdiam. Matanya menatap lurus ke depan. Rencana itu memang sangat masuk akal dan efisien. Namun, sebuah hambatan besar langsung terlintas di kepalanya. Ia tahu betul betapa keluarga Winston membenci dirinya.
Gavin pun ikut diam, baru menyadari rumitnya masalah itu. "Tapi iya juga ya, Bos... gimana caranya kita ambil sampel Tuan Arsen? Kalau kita minta terang-terangan, yang ada kita malah diamuk dan makin dibenci."
Sebelum Rakanza menjawab, ponselnya bergetar. Titik koordinat si kembar telah berhenti tepat di area mall.
"Gavin, ke mall itu sekarang. Cepat!" perintah Rakanza tegas.
__
Sementara itu di mall, Luviana mencoba menerobos masuk. Namun di pintu masuk, dua security berbadan tegap langsung menghadangnya.
"Maaf, Mbak! Gak bisa masuk! Penampilannya kotor begini, baunya juga merusak kenyamanan pengunjung lain!" cegah security itu tegas.
"Pak, tolong saya! Saya cuma mau ketemu keluarga saya di dalam! Tolong, Pak!" mohoh Luviana setengah frustrasi. Dari sudut matanya, ia melihat Arsen, Adara, dan Layla sudah sangat dekat dengan mobil mereka di area parkir, bersiap untuk pulang.
Lily dan Elio tidak tinggal diam. Mereka ikut mengomeli security tersebut dengan kepolosan mereka.
"Paman satpam ini belisik sekali. Aunty sama Lily bukan olang jahat tau. Ndak lihat apa ini muka Lily kayak anak olang kaya?" seru Lily nyaring.
Melihat security itu tetap berkacak pinggang dan tak tergoyahkan, otak cerdik Lily bekerja. Tiba-tiba Lily menunjuk ke bawah kaki security dengan muka panik buatan. "Eh, Paman! Dompet Paman jatuh tuh!"
Security itu refleks menunduk melihat ke bawah. Saat perhatian security teralih, Lily langsung menarik ujung abaya Luviana dan tangan Elio.
"Aunty, Kakak, laliiii!!!"
Luviana, Lily, dan Elio langsung menerobos masuk!
"HOI, TRIO KAMPRET! TUNGGU! JANGAN LARI!" teriak security itu geram dan mengejar mereka.
Luviana berlari sekuat tenaga. Mengabaikan kaki dan tubuhnya yang lemas, ia berlari lurus menuju tiga sosok yang sangat ia rindukan.
"TUNGGUUUUUU!" teriaknya lantang dengan sisa napasnya.
Langkah Arsen, Adara, dan Layla sontak berhenti. Ketiganya berbalik badan, menatap bingung ke arah seorang wanita bercadar yang berlari ngos-ngosan menghampiri mereka. Pakaian wanita itu basah dan tercium sedikit bau.
Namun, perhatian mereka mendadak teralihkan ketika melihat dua anak kecil yang berlari di samping wanita itu.
Layla membelalakkan mata. "Loh... Elio? Lily?"
Adara menoleh heran pada putri bungsunya. "Layla, kamu kenal anak-anak ini?"
"Kenal, Mom! Mereka ini anak kembar Dokter Julian," jawab Layla, ia sering melihat mereka ikut Rafandra atau Rakanza.
Adara cukup terkejut mengetahui dokter Julian ternyata punya anak kembar selucu ini. Sementara itu, Arsen hanya bergeming sambil menatap intens ke arah wanita bercadar yang tampak bersusah payah mengatur napas dan detak jantungnya di depan mereka.
Layla pun mendekat pada si kembar. "Elio, Lily... kenapa kalian bisa ada di mall? Sama siapa? Mana Ayah Julian kalian?"
"Kami datang sama Aunty ini!" jawab Lily polos sambil menunjuk Luviana. "Aunty... istlinya Uncle Laka."
"Ehh...?" Layla dan Adara kaget.
“Wanita ini istrinya Raka? Berarti... dia kakak iparnya kak Luvia?!”
Dada Luviana langsung bergemuruh hebat mendengar sebutan itu.
“Kakak ipar?! Aku ini Luviana, Layla! Aku kakak kandungmu! Daddy, Mommy, ini aku!”
Ingin rasanya Luviana berteriak keras menyuarakan kebenaran itu. Namun tenggorokannya tercekat. Ia sangat takut jika ia langsung mengaku tanpa bukti, mereka akan menganggapnya gila dan mengusirnya.
Di saat yang bersamaan, dua security yang mengejar tadi akhirnya tiba dengan wajah merah padam.
"Maaf Tuan, Nyonya! Orang ini menerobos masuk!" ujar security kasar sambil memegang paksa lengan Luviana untuk menyeretnya keluar.
"Lepaskan! Jangan pegang-pegang! Lepasin saya!" jerit Luviana memberontak dengan sekuat tenaga.
Suara jeritan yang nyaring, serak, dan penuh emosi itu seketika menembus udara. Suara yang begitu familiar hingga membuat Layla, Adara, dan Arsen terlonjak kaget di tempat mereka berdiri. Suara wanita itu sangat mirip dengan suara Luviana.
"Lepaskan saya! Saya cuma mau bicara sebentar sama mereka!" teriak Luviana sambil mencoba mendorong dua satpam yang memegang lengannya.
Suara jeritan itu meski agak serak dan kehabisan napas, terdengar bergema keras di area parkir mall. Suara yang begitu khas, dengan nada dan intonasi yang memicu kilas balik instan di kepala Arsen, Adara, dan Layla.
Adara terdiam. Tangannya yang memegang tas belanja mendadak lemas. "Suara ini..." gumamnya lirih, matanya menatap lekat -lekat wanita bercadar di depannya.
"Mami..." Layla menoleh ke arah ibunya. "Mami juga dengar, kan? Suaranya... mirip banget sama Kak Luvia."
Arsen yang sejak tadi diam, mengambil satu langkah maju. Aura dominan dan tegas dari seorang kepala keluarga terpancar membuat dua satpam yang tadinya mau menyeret Luviana mendadak ragu.
"Tunggu," perintah Arsen dingin dan tenang.
Dua satpam itu langsung berhenti. "Tapi Tuan Arsen, wanita gila ini mengganggu dan baunya—"
"SAYA BILANG TUNGGU!!!" potong Arsen dengan nada tajam yang mengancam. Satpam-satpam itu menunduk dan otomatis melonggarkan cengkraman mereka.
Luviana terengah-engah sambil memegangi lengannya yang agak memar. Napasnya memburu saat matanya bertemu langsung dengan mata Arsen, mata sang Ayah yang selama empat tahun ini hanya bisa ia lihat dalam mimpi-mimpinya.
"Daddy..." bisik Luviana tanpa sadar. Suaranya kecil, tapi cukup jelas di tengah heningnya area parkir.
Dada Arsen bergemuruh hebat mendengar panggilan itu. Hanya anak-anaknya yang memanggilnya dengan sebutan itu. Ia meneliti penampilan wanita di depannya. Abaya hitam yang kotor dan basah, telapak tangan yang terbalut perban asal-asalan, tapi tatapan mata di balik cadar itu... tatapan mata yang teramat sangat ia kenali.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Tuan Arsen mencoba mempertahankan nada suaranya tetap datar meskipun hatinya mulai goyah.
“Kenapa kamu panggil saya Daddy?”
___
dasar anabella hantu gila astaga 😡😡😡
jangan lama ya thor 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻