Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Brayen Alkantara
Pintu galeri lantai 2 baru saja tertutup setelah Carla pergi dengan langkah menghentak. Isyana masih gemetar di sofa beludru, air matanya masih menetes di pipi, menempel di kemeja putih Brayen.
Brayen tidak langsung mengejar Carla. Dia memilih berlutut di depan Isyana, menyamakan tinggi mata mereka.
"Berlian, lihat Mas," bisiknya lembut, tangannya yang besar menghapus air mata Isyana dengan ibu jari, "Kamu gak perlu takut. Kamu gak salah apa-apa. Yang salah dia."
Isyana menggeleng pelan, "Tapi... tapi dia bener Mas, aku cuma model katalog, aku-"
"Ssst," Brayen menempelkan jarinya di bibir Isyana, "Dengerin Mas. Mas nikah sama kamu bukan karena kamu model apa. Mas nikah sama kamu karena kamu Isyana. Gadis yang dulu Mas lihat foto kamu di majalah kecil itu dan Mas langsung bilang ke Kakek, _aku mau dia jadi istriku_. Bukan karena karir kamu, tapi karena hati kamu."
Isyana terisak lagi, memeluk leher Brayen erat.
Brayen memeluk balik, mencium keningnya lama, "Udah, kamu di sini ya, istirahat. Biar Mas yang beresin sampah tadi."
Mata Brayen yang tadi lembut untuk Isyana, dalam sekejap berubah. Tatapan hangat itu hilang, berganti tatapan dingin, tajam, tatapan CEO Alkantara Group yang ditakuti semua orang di Jakarta.
Dia berdiri, merapikan kemejanya yang kusut karena pelukan Isyana, dan turun ke lantai 1 dengan langkah cepat dan berat.
Di ruang tamu utama, Carla masih ada. Dia belum pulang, malah duduk di sofa, minum teh yang disajikan ART, pura-pura menangis sambil mengadu ke Mama Alkantara yang baru pulang dari arisan.
"Tante... aku cuma mau kasih selamat, tapi Isyana malah... Brayen malah ngusir aku, Tante..."
Mama Alkantara terlihat bingung, tidak tau harus bela siapa.
Saat itu juga Brayen muncul dari tangga. Suaranya menggelegar memenuhi seluruh ruang tamu.
"CARLA WIJAYA!"
Semua orang di ruang tamu kaget. ART yang lagi beres-beres langsung menunduk takut.
Carla berdiri, sedikit takut tapi masih mencoba jual mahal, "Brayen, kamu kenapa siak sama aku? Aku cuma-"
Brayen berjalan mendekat, berdiri hanya satu meter di depan Carla. Tangannya dimasukkan ke saku celana, tapi aura marahnya membuat ruangan sesak.
"Jangan pernah panggil aku Brayen lagi. Panggil saya Pak Brayen Alkantara," kata Brayen dingin, setiap kata ditekankan, "Dan dengarkan saya baik-baik, karena saya cuma akan ngomong sekali."
Carla menelan ludah.
"Pertama, galeri di lantai 2 itu bukan galeri umum. Itu kamar hati istri saya. Itu hadiah pernikahan saya untuk dia. Kamu tidak punya hak, tidak punya izin, dan tidak punya level untuk masuk ke sana dan menghina lukisan istri saya."
"Yang kedua," lanjut Brayen, matanya menatap Carla tanpa kedip, "Kamu menghina istri saya sebagai model katalog murah? Kamu lupa? Papah kamu dulu sebelum kerja sama dengan keluarga saya, juga cuma pedagang kain di Tanah Abang. Istri saya kerja keras dari bawah, dia tidak malu. Saya bangga sama dia. Sedangkan kamu? Kamu lahir sudah enak, tapi kelakuan kamu murahan."
Mama Alkantara menutup mulutnya kaget, tidak pernah melihat Brayen semarah ini demi perempuan.
Carla wajahnya sudah pucat pasi, bibirnya bergetar, "Brayen... Pak Brayen, saya minta maaf, saya gak bermaksud-"
"Saya belum selesai," potong Brayen, "Ketiga, ini yang paling penting. Kamu dengar ya, Carla, dan sampaikan ke Papah kamu, Pak Wijaya."
Brayen mendekat selangkah lagi, suaranya pelan tapi ancamannya sangat jelas.
"Alkantara Group dan Wijaya Group ada kontrak 2 triliun untuk proyek resort di Bali. Kontrak itu belum saya tanda tangani. Kalau sampai saya dengar sekali lagi, sekali lagi saja, kamu hina istri saya, kamu sindir dia model kecil, kamu datang ke rumah saya tanpa izin dan bikin istri saya nangis lagi..."
Brayen berhenti, menatap lurus ke mata Carla.
"Saya batalkan kontrak itu hari itu juga. Saya tarik semua investasi. Dan saya pastikan tidak ada satu pun perusahaan di grup Alkantara, dan semua rekanan kami, yang akan mau kerja sama lagi dengan perusahaan keluarga kamu. Kamu paham?"
Diam. Ruang tamu itu hening total. Hanya suara AC yang terdengar.
Carla langsung lemas, hampir jatuh ke sofa. 2 triliun! Itu proyek terbesar Papahnya tahun ini. Kalau batal karena dia, Papahnya bisa bangkrut dan dia bisa diusir dari rumah.
"Pak... Pak Brayen, jangan... Papah saya gak tau apa-apa, saya janji gak akan ganggu Isyana lagi, saya janji!" Carla akhirnya menangis beneran, bukan pura-pura lagi. Takut.
Brayen tidak kasihan sama sekali. Dia menatap Mama Alkantara, "Ma, tolong ingetin keluarga Wijaya, kalau mau main ke sini, aturannya sekarang beda. Rumah ini sudah ada Nyonya Alkantara. Hormati Nyonya rumah ini, kalau tidak, jangan datang."
Mama Alkantara langsung mengangguk cepat, "Iya, Brayen, Mama paham. Mama nanti omongin ke Papah Carla."
Brayen lalu berteriak ke satpam, "Antar pulang Nona Carla sampai gerbang depan! Pastikan dia keluar dari komplek!"
Carla dibawa keluar satpam dengan wajah berantakan, makeup luntur karena nangis. Sangat berbeda dengan saat dia datang dengan anggun tadi.
Setelah Carla hilang dari pandangan, Brayen menghela napas panjang. Amarahnya pelan-pelan turun. Dia langsung balik naik ke lantai 2, kembali ke galeri.
Di sana, Isyana masih duduk di sofa, tapi sudah tidak nangis. Dia memegang kunci galerinya lagi, menatap lukisan Maladewa yang tadi dihina Carla. Matanya sembab.
Brayen datang, duduk di sampingnya, langsung menarik Isyana ke pangkuannya. Isyana kaget, tapi langsung nyaman melingkarkan tangannya di leher Brayen.
"Udah Mas usir?" bisik Isyana kecil.
"Udah Mas ancam," jawab Brayen jujur, "Mas bilang kalau dia hina kamu lagi, perusahaan papahnya gak akan kerja sama lagi sama kita."
Isyana membelalak, "Mas... jangan gitu, itu kan proyek besar-"
"Gak ada proyek yang lebih besar dari air mata kamu, Berlian," potong Brayen, "Uang bisa Mas cari lagi. Tapi kalau hati kamu yang dihina, siapa yang ganti?"
Isyana terdiam. Hatinya meleleh lagi.
Brayen memeluk Isyana lebih erat, membaringkan Isyana di sofa yang lebar itu. Dia berbaring di samping Isyana, memeluk Isyana dari belakang seperti saat mereka di Maladewa.
"Mas tau kamu capek jadi model dulu. Mas tau kamu sering dihina orang. Mulai hari ini, gak ada lagi yang boleh hina kamu. Kalau ada yang hina kamu, dia berurusan sama Mas."
Isyana berbalik, menatap wajah Brayen yang begitu dekat. Hidung mereka hampir bersentuhan.
"Mas Brayen... makasih ya udah belain aku," bisik Isyana, suaranya serak habis nangis.
Brayen tersenyum, senyum yang hanya untuk Isyana, senyum lembut yang tidak pernah dia tunjukkan di kantor.
"Bukan belain, ini tugas Mas sebagai suami," bisik Brayen balik, lalu mencium kening Isyana lama dan dalam, "Sekarang tidur di sini aja ya, di galeri kamu. Mas temenin sampai kamu gak takut lagi."
Isyana mengangguk, menggenggam kunci galerinya lagi, dan memejamkan mata di dada Brayen yang hangat dan aman. Di galerinya sendiri. Di rumahnya sendiri.
Sebagai Nyonya Alkantara yang sudah berani dan dicintai sepenuhnya.
Di luar, matahari Jakarta mulai terbenam, cahayanya masuk melalui jendela besar galeri, menyinari tulisan emas _ISYANA'S GALLERY_ dan dua orang yang berpelukan di sofa.
Indah. Tenang. Aman.
---Bersambung---