Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 KUTUKAN JARUM HITAM
Meskipun benteng pertahanan sarang preman pimpinan Jaka dan Bara Hitam telah berhasil dihancurkan tanpa sisa oleh kedahsyatan kolaborasi Raka Ardian dan Arga, pertarungan sesungguhnya rupanya belum sepenuhnya menemui titik akhir. Di sebuah rumah panggung tua yang tersembunyi jauh di dalam pekatnya pedalaman hutan Kalimantan—jauh dari jangkauan hukum maupun pengawasan warga Pak Prabowo tengah dilanda kepanikan yang luar biasa. Pengusaha lokal yang serakah dan kini terpojok akibat runtuhnya seluruh jaringan preman serta terbongkarnya buku catatan hitam suap itu menyadari bahwa hidupnya benar-benar di ujung tanduk.
Merasa tidak memiliki cara lain untuk menyelamatkan imperium bisnis kotornya, Pak Prabowo mengambil langkah terakhir yang paling nekat, keji, dan berbahaya: ia memutuskan untuk menggunakan jalur gaib.
Malam itu, di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh temaram cahaya pelita minyak kelapa berbau tengik, Pak Prabowo duduk bersila di hadapan seorang dukun sakti beraliran hitam paling ditakuti di tanah Borneo.
Dukun itu adalah Ki Sancaka, seorang pria tua renta dengan mata sepenuhnya putih tanpa bola mata normal, sementara sekujur kulit tubuhnya dipenuhi oleh tato ritual rajah kuno berwarna kehitaman yang tampak hidup bergerak-gerak di bawah kulit.
Di atas sebuah nampan kayu di hadapan sang dukun, terbentang sebuah boneka jerami lusuh yang diikat erat menggunakan sehelai kemeja milik Raka sehelai kain yang berhasil diambil secara diam-diam oleh salah satu anak buah Pak Prabowo yang sempat melarikan diri dari gudang barat beberapa malam lalu.
"Habisi pemuda luar pulau yang sok pahlawan itu, Ki Sancaka! Jangan biarkan dia bernapas lebih lama lagi!" desis Pak Prabowo dengan wajah pucat pasi penuh kebencian yang mendalam, lalu mendorong sekantong penuh mata uang emas mengkilap ke hadapan sang dukun. "Hancurkan dia dari jarak jauh! Buat darahnya mendidih, bakar organ dalamnya, dan buat dia mati tersiksa malam ini juga!"
Ki Sancaka menyeringai mengerikan, memperlihatkan deretan gigi depannya yang hitam legam dan runcing. Ia mulai merapal mantra pemujaan kuno menggunakan bahasa purba yang asing, membakar kemenyan hitam pekat yang mengeluarkan asap berbau bangkai busuk, lalu mencengkeram sebilah jarum baja beracun bertuliskan aksara kutukan kutukan maut. Dengan seringai kemenangan di wajahnya, Ki Sancaka menusukkan jarum beracun itu tepat ke dada boneka jerami yang merepresentasikan Raka.
Jauh di dalam pondok pengawas tempat Raka dan Arga beristirahat...
Suasana malam yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi mencekam. Raka Ardian, yang sedang duduk bersila di atas tikar usang sambil merapikan gulungan jarum perak pusakanya, tiba-tiba merasakan hantaman gelombang energi negatif yang sangat pekat, dingin, dan mematikan menghantam dadanya tanpa peringatan.
Deg!
Napas Raka tercekat seketika. Matanya membelalak lebar, dan dalam hitungan detik, setetes darah segar mengalir perlahan dari sudut bibirnya akibat hantaman tekanan batin luar biasa yang menyerang pembuluh darahnya dari arah yang tidak kasat mata.
"Raka! Ada apa denganmu?!" seru Arga kaget setengah mati. Sepupunya itu langsung melompat mendekat, mencengkeram bahu Raka dengan cemas melihat darah di bibir sang tabib.
Raka tidak sempat menjawab. Ia segera memejamkan kedua matanya rapat-rapat, mengerahkan seluruh intisari tenaga dalam Welingan Sejati untuk membentengi aliran darah, jantung, dan seluruh jalur meridian tubuhnya dari serangan gaib jarak jauh yang berupaya merusak organ dalamnya secara paksa. Ia langsung mengenali pola serangan ini: ini adalah Santet Teluh Pembalik Darah, sebuah ilmu hitam tingkat tinggi yang memanfaatkan media pribadi untuk mengirimkan kutukan maut menembus ruang dan jarak.
"Mereka menyerang dari jarak jauh menggunakan perantara dukun ilmu hitam," ucap Raka dengan suara tertahan, sementara keringat dingin mulai bercucuran deras membasahi pelipisnya. "Tapi... mereka salah besar dalam memilih lawan."
Alih-alih hanya bertahan dan membiarkan tubuhnya digerogoti oleh energi hitam tersebut, Raka mengambil keputusan tegas. Ia membuka mata batinnya selebar-lebarannya, membiarkan kesadarannya terbang melintasi batas ruang. Melalui jejak getaran gelombang energi hitam yang dikirimkan oleh sang dukun, Raka berhasil melacak titik asal koordinat spiritual serangan tersebut, menembus ribuan kilometer langsung ke dalam bilik gelap dukun Ki Sancaka di pedalaman hutan Borneo.
"Arga, lindungi ragaku sejenak dari gangguan fisik. Aku akan mengirim balik serangan ini langsung kepada pengirimnya!" perintah Raka dengan intonasi suara yang tegas dan penuh wibawa mutlak.
Tanpa membuang waktu, Raka kembali bersila dengan posisi sempurna, mengangkat kedua telapak tangannya ke depan dada dalam gestur penyeimbang semesta, lalu merapalkan intisari jurus pamungkas pembalik kutukan warisan leluhurnya: Cermin Pantul Tenaga Batin Welingan Sejati.
Bum!
Di dalam bilik gelap pondok dukun Ki Sancaka di pedalaman hutan Kalimantan, mantra mematikan yang sedang dirapalkan dengan suara parau mendadak terhenti seketika. Energi hitam yang dikirimkan berbalik arah dengan kecepatan kilat, menghantam balik sang dukun dengan kekuatan ribuan kali lipat lebih dahsyat dari semula.
Boneka jerami di hadapan Ki Sancaka meledak berkeping-keping dalam kobaran api berwarna biru terang yang menyala tanpa bahan bakar.
Argh! Sial—!
Ki Sancaka memekik histeris sejadi-jadinya, matanya melotot keluar sebelum akhirnya ia memuntahkan darah hitam pekat dalam jumlah besar dari mulutnya. Tubuhnya terlempar ke belakang, lalu tersungkur tak bernyawa dengan kulit sekujur tubuh yang gosong melepuh akibat hantaman tenaga batinnya sendiri yang terpantul balik.
Di sampingnya, Pak Prabowo menjerit histeris ketakutan setengah mati, merangkak mundur ketakutan melihat dukun sakti yang diandalkannya itu tewas mengenaskan dalam hitungan detik.
Kembali ke pondok pengawas, gelombang serangan gaib lenyap seketika bagai ditelan angin. Raka membuka kedua matanya secara perlahan, menghembuskan napas panjang yang teratur, lalu menghirup udara malam yang kembali tenang. Arga menghela napas lega yang teramat sangat melihat sepupunya kembali pulih tanpa kurang suatu apa pun.
Malam itu, di bawah temaram cahaya bulan Borneo, ilmu hitam paling keji dan mematikan takluk tak berdaya di hadapan kesucian serta kemurnian intisari Welingan Sejati.