Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.
Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu! Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.
Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02 - Bus Nomor 666
Kalimat terakhir Madam Helga terngiang-ngiang di dalam kepala Damar bagaikan lonceng kematian.
Hidangan penutup?!
Tenggorokan Damar rasanya tersumbat batu besar. Lututnya lemas, sampai-sampai dia harus berpegangan pada pinggiran meja agar tidak ambruk ke lantai marmer yang makin dingin.
"M-Madam ... bercandanya nggak lucu," cicit Damar dengan suara gemetaran. "Saya ini pelamar kerja, bukan tumbal!"
Namun, Madam Helga bahkan tidak menoleh lagi. Dengan gaya berjalan anggun seolah sedang melintasi panggung catwalk, wanita itu mendorong pintu mahoni ruko hingga terbuka lebar.
Angin malam yang berembus masuk tidak lagi membawa bau asap kendaraan kota, melainkan aroma tanah basah, kabut tebal, dan wangi bunga kantil yang menyeruak tajam menyengat hidung.
Di depan ruko, terparkir sebuah bus antar-kota berukuran besar yang tampak sangat tidak wajar. Karoseri bus itu dicat hitam legam tanpa kilap, dilapisi lapisan embun tipis dan noda tanah kering.
Lampu depannya menyala redup dengan cahaya berwarna merah keunguan, memotong kepekatan kabut malam. Di atas kaca depan, papan LED digital berwarna merah menyala menampilkan nomor armada.
BUS 666 – TANGGA MENUJU ABERASI.
Tiiiiinnnnnn ...!
Klakson berat itu berbunyi sekali lagi. Kali ini getarannya membuat kaca-kaca ruko bergetar hebat.
Madam Helga melipat kedua tangannya di dada, berdiri tegak di samping pintu bus yang terbuka dengan suara desisan angin hidrolik yang berdecit ngilu. Suara pintu bus itu terdengar seperti pintu besi peti mati yang digeser paksa.
"Berdirilah di samping pintu, Damar!" perintah Madam Helga tanpa kompromi. Tangannya yang lentik menunjuk ke anak tangga pertama bus. "Tersenyum, pasang wajah ramah, dan sapa setiap penumpang yang masuk. Ingat, attitude seorang pemandu tur adalah cerminan dari reputasi Last Trip Express. Paham?!"
"Tapi, Madam ... itu... itu bus apa?!" Damar melangkah mundur dua tindak, memegang dada kirinya yang berdegup kencang bak dentuman mesin giling. "Kenapa baunya kayak kuburan baru?!"
"Tiga detik lagi rombongan pertama akan tiba. Kalau kamu tidak berdiri di posisimu sekarang, saya sendiri yang akan memastikan gajimu bulan ini dipotong seratus persen ... plus nyawamu," ancam Madam Helga dengan nada santai, namun matanya memancarkan pendar berbahaya.
Damar meneguk ludahnya yang terasa pahit. Ancaman itu terasa sangat nyata. Dengan langkah kaki serasa dibatui timah berat, Damar merayap mendekati tangga bus.
Dia berdiri canggung di samping pintu, merapikan kemejanya yang kusut, lalu menyilangkan tangan di depan perutnya—mencoba mengingat gaya pramugari atau staf hotel bintang lima yang pernah dia lihat di televisi.
Lalu, kabut tebal di jalanan sepi itu mulai terbelah.
Dari kegelapan malam, muncul sosok-sosok yang berjalan beriringan menuju arah bus. Damar menyipitkan mata, berharap penglihatannya hanya tertipu oleh rasa lelah dan stres keuangan semata.
Namun, makin dekat rombongan itu melangkah, makin buyar harapan Damar untuk tetap waras.
Sosok pertama yang mendekat adalah seorang pria paruh baya mengenakan kemeja batik yang koyak di beberapa bagian. Pria itu tidak melangkah menggunakan kaki. Keduanya mengambang kira-kira sepuluh sentimeter di atas permukaan trotoar. Wajahnya pucat pasi seperti kertas, dengan lingkaran hitam pekat mengelilingi matanya yang melotot hampa.
"S-selamat malam ... selamat datang di ... di Last Trip Express," ucap Damar. Suaranya tercekat di tenggorokan, begitu pelan sampai-sampai hampir tak terdengar.
Pria berbaju batik itu berhenti tepat di depan Damar. Udara di sekitarnya mendadak menjadi begitu dingin hingga membuat kulit lengan Damar merinding hebat.
Pria itu perlahan menoleh. Namun, yang berputar bukan hanya lehernya—seluruh kepalanya berputar seratus delapan puluh derajat ke belakang dengan suara retakan tulang yang mengerikan! Krek ... krek ... krek.
"Mas, busnya AC-nya dingin nggak?" tanya pria itu. Wajahnya kini berada di posisi punggungnya, menatap Damar dengan lidah menjulur sedikit. "Saya kalau kepanasan suka gatal-gatal, bekas otopsi saya belum kering soalnya."
"AAAAAARRRRGHHHH!" Damar menjerit histeris.
Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, hampir saja tersungkur ke belakang kalau saja cengkeraman tangan Madam Helga tidak menahan kerah belakang kemejanya dari belakang.
"Jangan buat saya malu, Damar!" bisik Madam Helga tajam di telinga Damar. Tangannya yang mungil ternyata memiliki kekuatan cengkeraman luar biasa. "Tersenyum! Atau saya pelintir kepalamu seperti bapak ini!"
Damar mengatupkan mulutnya rapat-rapat, giginya bergelatuk hebat hingga beradu satu sama lain. Dia mencoba memasang senyuman paling palsu dan paling mengenaskan di sepanjang hidupnya. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya.
Pria berbaju batik itu berlalu masuk ke dalam bus sambil bergumam pelan tentang resep herbal memudarkan jahitan bekas bedah mayat.
Belum sempat Damar menata napasnya yang memburu, penumpang kedua sudah menaiki tangga bus.
Sosok kali ini adalah seorang wanita muda yang mengenakan gaun putih panjang bertumpuk. Gaun itu bagian bawahnya tampak koyak-koyak dan berlumpur.
Saat wanita itu melangkah naik, aroma bunga kantil dan melati busuk mendadak merebak begitu tajam hingga membuat perut Damar mual seketika.
"Selamat malam, Mas Tour Guide yang manis," sapa wanita itu dengan suara mendayu-dayu yang sangat lambat dan bergema.
"S-s-selamat ... malam, Mbak," jawab Damar, berusaha keras menatap ke arah dahi wanita itu agar tidak perlu menatap matanya secara langsung.
Namun, wanita itu mendadak menundukkan kepalanya. Rambut hitamnya yang panjang dan basah terurai ke depan, menutupi seluruh wajahnya.
Saat dia merogoh sesuatu dari balik lipatan gaunnya, Damar melihat jemari wanita itu tidak memiliki kuku, melainkan cakar hitam yang panjang.
"Tiket saya," ucap wanita itu seraya mengulurkan selembar kertas lusuh berwarna cokelat yang berbercak darah kering. "Bisa minta tolong pegangin dulu? Saya mau benerin posisi usus saya yang mau keluar, nih."
Damar melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana wanita itu menyibak bagian perut gaunnya, memperlihatkan rincian luka robek yang mengerikan di mana organ dalamnya tampak hampir meluncur keluar.
Brak!
Damar tak sanggup lagi.
Pandangannya mendadak berbayang. Kesadarannya goyah, dan tubuhnya ambruk pingsan meluncur ke lantai tangga bus.
"Astaga, dasar manusia tak berguna!" omel Madam Helga gusar. Wanita berpenampilan elegan itu menepuk dahinya sendiri, lalu menendang pelan kaki Damar yang tergeletak memalangi pintu bus. "Helo! Bangun! Kamu baru kerja sepuluh menit dan sudah pingsan dua kali?!"
Rombongan penumpang hantu di belakang mulai berbisik-bisik.
"Duh, tour guide-nya kok lemah banget ya?" komplain seorang hantu kakek-kakek yang berjalan menggunakan kepalanya sendiri sebagai pengganti tongkat. "Gimana mau bantu kita menyelesaikan urusan duniawi kalau liat kita aja udah pingsan?"
"Iya nih! Penyelenggara macam apa ini? Saya minta refund karma ya!" timpal hantu wanita bergaun putih yang tadi, sambil sibuk memasukkan kembali kain kassa ke perutnya.
Madam Helga mendesis kesal. Dia menjepit hidung Damar dengan dua jari berkuku tajamnya dan menepuk-nepuk pipi pemuda itu dengan keras.
Plak! Plak!
"Aduh! Panas!" Damar tersentak bangun, tersedak napasnya sendiri. Matanya yang liar langsung mendapati wajah Madam Helga yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari mukanya.
"Berdiri!" perintah Madam Helga dingin. "Semua penumpang sudah masuk ke dalam bus. Sekarang tugasmu adalah naik ke atas bus, pegang mikrofon, dan berikan kata sambutan!"
"M-Madam ... saya mau pulang ... saya kembalikan uang lima belas jutanya ... saya ikhlas diusir ibu kos." Tangis Damar pecah. Airmata ketakutannya benar-benar menetes. "Saya tidak mau mati dimakan hantu!"
Madam Helga tersenyum sangat manis—jenis senyuman yang biasanya dimiliki oleh antagonis dalam film-film teror. Dia merengkuh pundak Damar, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga pemuda yang sedang gemetaran hebat itu.
"Satu-satunya cara untuk keluar dari sini hidup-hidup adalah menyelesaikan perjalanan tur pertama ini dengan sukses," bisik Madam Helga, suaranya pelan namun penuh penekanan yang mematikan. "Kalau kamu kabur sekarang, kontrak gaib di jarimu akan menyedot habis seluruh darahmu dalam hitungan tiga detik. Pilih mana ... dipandu hantu, atau jadi hantu baru di bus ini?"
Damar mematung. Dia melirik jempol kanannya yang kini memiliki bekas lingkaran hitam samar menyerupai tato cincin. Dia menelan ludah. Pilihan yang diberikan bosnya sama sekali bukan pilihan. Itu adalah vonis mati dua arah.
Dengan sisa kekuatan yang tersisa di tulang-tulang kakinya, Damar berdiri perlahan. Dia memegang pegangan pintu bus, melangkah menaiki tangga terakhir, dan memutar badannya menghadap ke seluruh isi lorong bus.
Di dalam bus nomor 666 itu, 30 pasang mata—beberapa di antaranya menggantung di luar rongga mata, beberapa bercahaya merah dalam gelap—kini tertuju sepenuhnya kepada Damar. Bau kemenyan, bunga kantil, tanah kuburan, dan formalin menyatu menjadi satu kombinasi udara terburuk yang pernah dihirup Damar.
"S-selamat malam ... para ... para tamu yang terhormat ...." Suara Damar melengking tinggi akibat panik berlebihan, bergema kasar melalui speaker bus yang kusam.
Perjalanan paling mengerikan dalam hidup Damar Prasetya ... baru saja dimulai.
😂
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
tour kemana kita yakk
ngga ngompol di tempat
😂😂
serreemmm bgt