NovelToon NovelToon
Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Sri Wahyuni

Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35: Video yang Tak Sengaja Terlihat

Kevin Loh tidak berniat membuka video itu.

Pagi itu, tim CSR Loh Group sedang menguji ulang kanal kerja sama baru dengan beberapa yayasan sosial. Salah satunya Yayasan Temu Kembali, yayasan yang fokus pada pencarian anak hilang dan reunifikasi keluarga. Sebagai bagian dari pengamanan sistem, Kevin diminta mengecek apakah materi publik yang masuk ke server perusahaan sudah melewati filter privasi.

Biasanya pekerjaan seperti itu bisa ia delegasikan.

Namun pagi itu rapatnya dibatalkan, dan Kevin sedang butuh sesuatu untuk mengalihkan kepala dari laporan akuisisi yang terlalu kering. Ia duduk sendirian di ruang kerjanya, membuka dashboard internal, lalu menekan satu file video berdurasi dua menit.

Layar menampilkan logo yayasan, musik piano pelan, lalu beberapa potongan gambar: tangan ibu tua memegang foto anak, sepatu kecil yang sudah pudar, boneka lusuh, dan tulisan singkat tentang anak-anak yang belum pulang.

Kevin hampir menutupnya.

Lalu suara seorang perempuan terdengar.

"Dua puluh tahun lalu, saya kehilangan anak saya."

Jari Kevin berhenti di atas mouse.

Suara itu.

Ia menaikkan volume sedikit.

Gambar di layar menampilkan seorang perempuan duduk membelakangi cahaya jendela. Wajahnya tidak sepenuhnya disorot, sebagian dibuat lembut oleh filter privasi. Namun Kevin tetap mengenal bentuk bahu itu, cara tangan itu saling menggenggam, dan suara yang selalu terdengar tenang meski sedang menahan sesuatu di dada.

Ci Liana.

Kevin menekan pause.

Video berhenti pada frame ketika Liana menunduk. Di meja di depannya ada beberapa benda yang diburamkan: selembar foto, kain biru, dan dokumen lama. Tulisan di bawah layar hanya memuat informasi umum.

Anak laki-laki, hilang sekitar dua puluh tahun lalu di Jakarta. Ciri khusus disimpan untuk verifikasi keluarga.

Kevin membaca kalimat itu dua kali.

Sekitar dua puluh tahun lalu.

Jakarta.

Anak laki-laki.

Ia menekan play lagi.

Suara Liana kembali memenuhi ruangan.

"Saya tidak tahu apakah dia masih mengingat saya. Saya juga tidak tahu apakah dia hidup dengan nama lain sekarang. Tapi kalau suatu hari dia melihat ini, saya hanya ingin dia tahu, ibunya tidak pernah berhenti mencari."

Napas Kevin tersangkut.

Ibunya.

Kata itu seharusnya biasa saja dalam video pencarian anak. Namun di telinga Kevin, kata itu terasa seperti benda kecil yang jatuh ke dalam sumur dalam. Bunyi jatuhnya tidak keras, tetapi gema di dalamnya tidak habis-habis.

Ia memutar ulang bagian itu.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Setiap kali Liana menyebut "ibunya", Kevin merasakan sesuatu di bawah tulang rusuknya bergerak. Bukan ingatan yang jelas. Bukan gambar utuh. Hanya rasa. Bau hujan di aspal. Suara perempuan memanggil dari jauh. Sesuatu yang basah menempel di kulit. Tubuh kecilnya menggigil.

Kevin mematikan suara.

Ruangan kembali hening.

Ia mengangkat tangan tanpa sadar ke bahu kirinya, tepat di bawah tulang selangka. Di balik kemeja, ada tanda lahir kecil yang sejak kecil ia anggap tidak penting. Oma pernah menyentuhnya satu kali ketika Kevin masih remaja, lalu berkata, "Beberapa tanda di tubuh itu seperti alamat dari Tuhan. Simpan saja."

Saat itu Kevin hanya tertawa.

Sekarang, ujung jarinya berhenti di tempat yang sama.

Pintu ruang kerja diketuk.

"Masuk," kata Kevin, suaranya terdengar lebih serak dari yang ia mau.

Arman masuk membawa tablet. "Kevin, Boss minta update draft MoU sebelum jam tiga. Kamu sudah lihat file..."

Kalimat Arman berhenti ketika melihat layar.

Kevin terlalu cepat menutup jendela video. Gerakan itu justru membuatnya tampak bersalah.

Arman menatapnya sebentar. "Ada masalah?"

"Tidak." Kevin membuka folder lain. "Cuma materi CSR. Ada iklan yayasan yang wajahnya terasa familiar."

"Yayasan Temu Kembali?"

Kevin menahan diri agar tidak langsung menoleh. "Kamu tahu?"

"Beberapa minggu ini mereka masuk daftar kerja sama CSR. Bu Liana juga pernah punya urusan dengan mereka, kalau tidak salah."

Jantung Kevin memukul sekali.

"Urusan apa?"

Arman berhenti sepersekian detik. Ia adalah orang yang hati-hati. Terlalu hati-hati untuk menyebut informasi pribadi karyawan tanpa izin.

"Lebih baik kamu tanya langsung ke Bu Liana kalau memang perlu," jawabnya netral. "Saya tidak pegang detailnya."

Kevin mengangguk, tetapi kepalanya justru makin penuh.

Setelah Arman keluar, Kevin membuka video itu lagi.

Kali ini ia tidak memutar suara. Ia hanya memperbesar frame yang menampilkan tangan Liana. Tangan itu pernah meletakkan kopi di meja pantry untuknya. Tangan itu pernah menahan sendok saat mengingatkan bahwa tahu mengandung kedelai. Tangan itu pernah menulis catatan kecil di sticky note: Jangan lupa makan sebelum rapat.

Kevin menutup mata.

Ci Liana tahu alerginya tanpa ia pernah cerita panjang.

Ci Liana memperhatikan ia kidal.

Ci Liana pernah memandangnya terlalu lama saat ia menandatangani dokumen, lalu buru-buru menunduk seolah ketahuan menyimpan rasa sakit.

Semua itu dulu terasa seperti perhatian seorang kakak kantor.

Sekarang, setelah melihat video itu, perhatian itu berubah bentuk. Tidak lebih jelas. Justru lebih menakutkan karena terlalu samar.

Kevin membuka mesin pencari internal. Ia mengetik Yayasan Temu Kembali Liana Liem. Hasil yang muncul hanya halaman CSR, berita umum, dan satu potongan video yang sama. Data lengkap pencarian anak dilindungi. Nama, tanggal, ciri fisik, dan dokumen verifikasi tidak bisa diakses tanpa otorisasi yayasan dan keluarga.

Ia mencoba kata lain.

Anak hilang Jakarta dua puluh tahun.

Laki-laki hilang sweater biru.

Tidak ada hasil yang cukup jelas.

Kevin membuka email asal materi CSR itu. Di sana ada catatan dari tim yayasan:

Detail identitas anak, ciri tubuh, dan dokumen keluarga tidak ditampilkan untuk mencegah klaim palsu. Verifikasi hanya melalui petugas resmi yayasan.

Di bawahnya tercantum nama kontak.

Bryan Thung.

Kevin menatap nama itu lama. Ia mengenal keluarga Thung di lingkaran bisnis, tetapi Bryan bukan orang yang biasa ia hubungi. Kalau ia mengirim pesan sekarang, pertanyaan pertama pasti: untuk apa Kevin Loh ingin tahu detail anak hilang milik Liana Liem?

Ia mengetik satu kalimat di ponselnya.

Ko Bryan, saya Kevin Loh. Boleh tanya tentang salah satu video Yayasan Temu Kembali?

Ibu jarinya berhenti di atas tombol kirim.

Terlalu aneh.

Ia menghapus pesan itu.

Setelah itu ia membuka penyimpanan foto keluarga di laptop. Folder lama itu jarang disentuh. Kebanyakan berisi acara ulang tahun Oma, liburan singkat ke Singapura, dan foto sekolah Kevin saat mulai memakai seragam rapi. Ia menggulir ke tahun-tahun paling awal yang tersedia.

Tidak ada foto bayi.

Tidak ada foto ia baru belajar berjalan.

Foto tertua yang tersimpan hanya menampilkan dirinya sebagai anak kecil berwajah pucat, duduk di teras Rumah Besar dengan sweater kebesaran, sementara Oma Loh memegang mangkuk bubur. Di belakang foto, tanggalnya kabur, tetapi Kevin ingat cerita Oma: setelah sakit demam panjang, ia sulit makan dan hanya mau disuapi kalau Oma bernyanyi pelan.

Dulu ia tidak pernah bertanya kenapa tidak ada foto sebelumnya.

Anak-anak konglomerat biasanya punya album sejak lahir. Foto rumah sakit. Foto ulang bulan. Foto pertama kali duduk. Kevin tidak punya semua itu, atau setidaknya tidak pernah melihatnya.

Ia bahkan tidak punya foto saat gigi pertamanya tumbuh, sesuatu yang dulu sering dibanggakan teman-teman sekolah lamanya.

Ia menutup folder dengan tangan dingin.

Ponselnya kembali ia buka. Kali ini jari Kevin mencari nama Liana.

Ci Liana, saya melihat video...

Kalimat itu tampak terlalu berbahaya.

Ia menghapusnya.

Ci, dulu anak Ci hilang umur berapa?

Lebih buruk.

Ia menghapus lagi.

Akhirnya ia hanya menatap layar chat kosong, sadar bahwa ada pertanyaan yang begitu besar sampai cara menanyakannya saja terasa seperti merusak sesuatu.

Kevin bersandar di kursi, menatap langit-langit.

Ia merasa bodoh.

Berapa banyak anak hilang di Jakarta? Berapa banyak ibu yang masih mencari? Hanya karena Ci Liana baik padanya, hanya karena ia merasa nyaman di dekat perempuan itu, bukan berarti...

Pikirannya berhenti.

Bukan berarti apa?

Bukan berarti ia berharap?

Harapan itu muncul begitu memalukan sampai Kevin hampir tertawa pada dirinya sendiri. Ia sudah dewasa. Ia punya Papa, Oma, keluarga Loh, nama besar, pekerjaan, hidup yang tersusun rapi. Mengapa satu video buram dari seorang perempuan yang baru beberapa bulan ia kenal bisa membuat dadanya kosong seperti anak kecil yang tertinggal di tempat ramai?

Sore turun pelan di balik kaca ruang kerja.

Kevin berdiri, berjalan ke jendela besar, lalu melihat Jakarta di bawah sana: gedung, jalan tol, lampu yang mulai menyala satu per satu. Di kaca, bayangannya sendiri memantul. Seorang pria dewasa dengan kemeja rapi, jam mahal, dan mata yang tiba-tiba terlihat terlalu muda.

"Ci Liana..." gumamnya.

Kata berikutnya tidak keluar.

Apa mungkin?

Ia berbalik hendak mengambil tas. Pandangannya tanpa sengaja jatuh pada bingkai foto di rak samping meja. Foto lama: Edwin berdiri kaku dengan jas gelap, Kevin kecil di sampingnya memakai kemeja putih dan celana pendek. Oma Loh duduk di kursi, tersenyum dengan tangan di bahu Kevin.

Di belakang foto itu, samar-samar ia mengingat suara Oma bertahun-tahun lalu.

Malam hujan itu, Tuhan mengirim kamu ke rumah kita.

Dulu Kevin mengira itu hanya kalimat Oma yang puitis.

Sekarang, di ruang kerja yang perlahan gelap, kalimat itu terasa seperti pintu yang belum pernah ia berani buka.

1
sri rahayu
Dari awal sampai episode ini masih menarik dan bikin penasaran.
Yusnani Siregar
👍
Yusnani Siregar
👍👍
Lulu kartika Mediani
aduuh beneran yaah..pantesan Albert sifat nya gitu..licik dan manipulatif ternyata nurun dr emak nya...Kim hwa ,buah jatuh tak jauh dr pohon nya.. 😄😄..parraaahh..dasar ratu drama...😌
Lia Aulia
tapi yang ini menantu mode badas
Lia Aulia
kok aku ketemunya mertua laknat semua ya
Lulu kartika Mediani
si Albert licik nya kebangetan yah...suhu nya manipulatif ..😮‍💨😮‍💨
Lulu kartika Mediani
Bagus sekali cerita ini...tidak bertele2..tapi konflik nya seru dan tak mudah ditebak.....dan masih relate dgn dunia nyata...cuman duuh yg jahat ,jahat nya kebangetan..kayak si Yuni itu ..udah mah merebut tpi masih ada niat juga buat nyelakain ,fitnah istri sah .. dunia jetset itu penuh duri tajam yah... kejahatan pun bisa datang dr keluarga sendiri,, apalagi klo bukan soal harta... bnerr lah ..harus bermental baja masuk kedunia org2 kaya raya mah...
Lulu kartika Mediani
Liana apa kamu lupa...Dede punya tanda lahir bentuj bulan sabit berwarna coklat kan di bahu nya..knp ga di cek...😌😮‍💨
Aprilinda
novel nya keren
EMINEM Resi
lanjut baca,
Lisa sari katriani
Karya yang bagus thor 👍

Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan

Terimakasih 🙏
Lisa sari katriani
Semangat thor 💪

Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan

Terimakasih 🙏
Soraya Febriyanti
thor.. berarti Kevin dan Isha nikah beda agama yah..??
Yusnani Siregar
siapa yg bocor rahasia klrg loh
Yusnani Siregar
👍👍👍
Soraya Febriyanti
apa apa an ini..baru satu kali nyangkul..kok langsung garis dua.. ngapain nyimpen teks pack. di tas Kalu gk pernah maen sama cowok.. author ini bikin pusing pembaca aja
Yusnani Siregar
yes
/Pray/
Yusnani Siregar
ok
Yusnani Siregar
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!