Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18
Tulang yang Rapuh
Pintu ruang trauma tertutup tepat di depan Damar. Dari balik kaca buram terdengar perintah pendek, roda alat bergerak, dan bunyi monitor yang tidak mampu ia bedakan. Ia berdiri di luar garis merah sambil menggenggam buku nikah, satu-satunya benda yang memberinya hak menunggu sebagai keluarga.
Seorang perawat keluar meminta riwayat penyakit, alergi, obat rutin, dan kemungkinan kehamilan. Damar tidak dapat menjawab satu pun dengan pasti.
"Saya suaminya," katanya, kali ini tanpa ragu. "Tapi kami baru tinggal bersama. Tolong lakukan pemeriksaan yang diperlukan."
Petugas menerima dokumen Senja dan mencari rekam kesehatan pegawainya. Karena Senja bekerja di rumah sakit itu, data pemeriksaan dasar tersedia, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan kondisi tulangnya. Sampel darah dikirim, kepala dan tulang belakang dipindai, lalu tim ortopedi dipanggil.
Bik Inah datang membawa tas dokumen serta pakaian. "Non Bintang masih menangis. Saya tinggalkan dengan penjaga rumah."
"Jangan bawa dia ke sini dulu."
"Bagaimana Bu Senja?"
Damar melihat pintu yang masih tertutup. "Belum tahu."
Jawaban itu membuat wajah Bik Inah pucat. Ia duduk sambil meremas ujung kerudung, sedangkan Damar tetap berdiri. Botol air yang menggelinding di tangga terus muncul dalam pikirannya. Senja tidak bersembunyi dan tidak hendak menemui siapa pun. Ia turun untuk anak yang beberapa jam sebelumnya membuat Damar mengancam akan mengusirnya.
Dokter trauma akhirnya memanggil Damar. Citra menunjukkan patah pada lengan kiri, tulang betis, dan bagian tulang belakang. Benturan di belakang kepala harus dipantau karena Senja sempat kehilangan kesadaran. Cedera tulang belakang memerlukan stabilisasi segera.
"Apakah dia bisa berjalan lagi?" tanya Damar.
"Kami belum bisa menjanjikan sebelum operasi dan evaluasi saraf selesai. Saat ini prioritas kami mencegah kerusakan bertambah."
Damar menerima lembar persetujuan dengan tangan yang tidak pernah bergetar saat menulis angka miliaran. Setiap kolom riwayat yang kosong menambah daftar hal yang tidak pernah ia tanyakan kepada istrinya.
Dokter menjelaskan tindakan yang akan dilakukan: stabilisasi cedera tulang belakang, penanganan lengan dan betis, pengawasan benturan kepala, serta risiko yang mungkin muncul. Damar mendengarkan tanpa memotong, lalu menandatangani persetujuan.
"Selamatkan fungsi geraknya," katanya. "Lakukan yang terbaik."
"Kami akan lakukan sesuai indikasi medis, Pak."
Pintu operasi menutup pukul dua lewat. Damar duduk di kursi plastik, masih memakai pakaian rumah. Bayu datang membawa pakaian ganti dan ponsel kerja, tetapi Damar tidak menyentuh keduanya.
"Rapat Singapura pukul sembilan," ingat Bayu pelan.
"Batalkan."
"Mereka sudah datang ke Jakarta."
"Ganti rugi semua biaya. Aku tidak pergi."
Bayu belum pernah melihat atasannya membatalkan pertemuan sebesar itu tanpa berpikir. Ia hanya mengangguk dan menjauh untuk menelepon.
Bik Inah datang setelah memastikan Bintang dijaga. Ia membawa mukena Senja, pakaian, dan charger. Ketika melihat noda air pada lengan Damar, ia menyerahkan handuk.
"Pak, ganti baju dulu."
"Nanti."
"Kalau Ibu Senja bangun dan melihat Bapak sakit, dia juga khawatir."
Kalimat itu akhirnya membuat Damar berganti pakaian di ruang keluarga pasien. Saat melepas kemeja, ia melihat memar kecil di telapak akibat menggenggam pagar ambulans terlalu kuat. Rasa sakit itu begitu remeh dibandingkan tubuh Senja di balik pintu.
Menjelang subuh, dokter keluar membawa hasil awal. Tindakan utama berhasil dan tidak ada perdarahan otak besar, tetapi Senja harus dipantau ketat. Damar langsung berdiri.
"Dia akan berjalan lagi?"
"Kemungkinan baik, tetapi rehabilitasi panjang. Jangan meminta kepastian malam ini."
"Kenapa tulangnya bisa patah sebanyak itu?"
Dokter menunjukkan citra kepadatan tulang dan hasil darah. Kekurangan nutrisi tidak hanya terlihat pada berat badan. Ada anemia, cadangan protein rendah, dan kepadatan tulang yang jauh di bawah usia Senja.
"Apakah dia sengaja tidak makan?" tanya Damar.
"Kami tidak menyimpulkan penyebab psikologis. Dari riwayat sosial pegawai, ia sering mengambil shift tambahan dan berasal dari keluarga ekonomi sulit. Kondisi ini biasanya terbentuk lama."
Damar teringat piring-piring Senja: nasi sedikit, lauk dipotong untuk Bintang, sarapan dilewatkan. Ia pernah menganggapnya mencari simpati. Bahkan ketika menyuruhnya tidak masuk dapur, ia tidak bertanya apakah Senja sudah makan.
"Susun pemulihan gizi yang aman," katanya. "Jangan hanya beri suplemen tanpa pengawasan."
Dokter mengangguk. "Tim gizi klinik akan menilai setelah stabil."
"Berapa lama kondisi ini terbentuk?" tanya Damar.
"Bertahun-tahun, bukan sejak tinggal di rumah Bapak. Kekurangan protein, vitamin D, kalsium, dan berat badan rendah dapat saling memperburuk. Kami tetap perlu pemeriksaan lanjutan untuk menyingkirkan penyebab lain."
Bik Inah yang berdiri beberapa langkah di belakang menutup mulut. "Bu Senja sering bilang sudah makan di rumah sakit."
"Catat semua yang Ibu ingat," ujar dokter. "Tim gizi membutuhkan riwayat pola makan. Pemulihannya tidak boleh dipaksa dengan pemberian berlebihan sekaligus."
Damar meminta Bayu menghubungi kepala dapur rumah dan mengumpulkan menu Senja sejak tinggal di sana. Bukan untuk menyalahkan staf, melainkan agar dokter tahu apa yang benar-benar masuk ke tubuhnya. Untuk pertama kalinya, ia menggunakan kekuasaan untuk memahami, bukan menghakimi.
Di ICU, Damar melihat Senja melalui kaca sebelum diizinkan masuk. Gips dan penyangga membuat tubuhnya tampak lebih kecil. Monitor berbunyi teratur, satu-satunya suara yang memberi keyakinan bahwa ia masih ada.
Damar mencuci tangan, mengenakan pelindung, lalu duduk di samping. Ia tidak berani menyentuh pipi atau rambut, hanya ujung jari kanan yang bebas dari alat.
"Aku salah menilaimu," bisiknya. "Bangun dan marahi aku."
Tidak ada reaksi.
Ia duduk berjam-jam. Ketika perawat memeriksa respons pupil, Damar berdiri dan bertanya tentang setiap angka. Perawat menjawab sabar, lalu meminta ia beristirahat.
"Saya baik-baik saja."
Kata-kata itu terdengar seperti kebohongan yang sering diucapkan Senja.
Pukul enam, Bintang menelepon melalui video. Bik Inah hanya memperlihatkan wajah Damar, bukan ruang ICU.
"Mama mana?"
"Masih tidur setelah diobati dokter."
"Papa pegang tangannya. Biar Mama enggak takut."
Damar menunduk pada jemari Senja. "Papa pegang."
"Jangan tinggalin."
"Tidak."
Setelah panggilan berakhir, Damar tetap di sana sampai dokter menyatakan kondisi stabil. Baru ketika Bayu datang kedua kali, ia pergi mandi dan mengurus hal mendesak di kantor.
Sebelum keluar, Damar memberi nomor pribadinya kepada perawat penanggung jawab. "Kalau ada perubahan sekecil apa pun, telepon saya. Jangan tunggu laporan berkala."
"Kami akan mengikuti kondisi klinis pasien, Pak. Informasi penting pasti disampaikan."
Damar mengangguk. Malam itu semua orang terus mengingatkannya bahwa uang dan jabatan tidak memberinya hak mengganggu keputusan medis. Anehnya, ia tidak marah. Selama aturan itu menjaga Senja, ia bersedia menjadi orang terakhir yang didengar.
Sebelum pergi, ia membatasi akses data Senja. Hanya tim perawatan, direktur, dirinya, dan pendamping yang boleh membuka informasi. Ia tidak ingin Vania atau pegawai lain menemukan pernikahan dari rekam medis. Namun kali ini kerahasiaan bukan untuk menyangkal Senja, melainkan melindunginya.
Saat Senja sadar menjelang siang, rasa pertama yang datang adalah haus. Perawat membasahi bibirnya, menjelaskan bahwa ia belum boleh minum bebas, dan meminta tidak bergerak.
"Operasi selesai. Kondisi stabil," kata perawat. "Kalau ada kebas atau nyeri berubah, beri tahu."
Senja mencoba menggerakkan jari kaki. Gerakan kecil terasa, meski disertai nyeri. Ia menangis lega karena masih dapat merasakan tubuhnya.
Perawat memintanya menyebut nama lengkap, lokasi, dan hari untuk menilai kesadaran setelah benturan kepala. Senja menjawab dua pertanyaan pertama, lalu salah menyebut hari. Kepalanya terasa berat, tetapi ia mengenali suara Bik Inah ketika perempuan itu diizinkan masuk.
Bik Inah masuk setelah izin diberikan. Senja langsung bertanya tentang Bintang, kemudian Hana, baru setelah itu tentang pekerjaannya.
"Rumah sakit tahu saya pasien di sini?"
"Pak Damar atur kamar tertutup. Teman kerja Ibu belum tahu."
"Gaji saya..."
"Jangan pikirkan uang dulu."
Bik Inah mengambil ponsel dan membacakan pesan Hana yang sudah kembali ke kampus dengan aman. Senja meminta jawaban sederhana agar adiknya tidak cemas.
Ia juga meminta kabar Bintang. Saat diberi tahu anak itu terus mencari Mama, mata Senja kembali basah.
"Jangan bawa ke sini dulu kalau dia takut lihat gips," bisiknya. "Bilang Mama cuma istirahat."
Tubuhnya sendiri dipenuhi alat dan nyeri, tetapi pertanyaan pertama tetap tertuju kepada dua orang yang bergantung kepadanya. Bik Inah menunduk agar Senja tidak melihat air matanya.
Setelah itu ia melihat meja samping. Ada wadah makanan yang masih tersegel, kopi dingin, dan jas Damar terlipat di kursi. Jejak seseorang yang berjaga semalam tampak lebih jelas daripada penjelasan apa pun.
"Dia marah?" tanya Senja.
"Ke dirinya sendiri, mungkin. Bukan ke Ibu."
Senja mengingat tangan Damar yang sempat terangkat sebelum ia jatuh. Ingatan itu kabur, tertutup rasa sakit. Ia tidak yakin apakah lelaki itu terlambat atau sengaja ragu.
Yang pasti, setelah jatuh, Damar membawanya kemari dan tidak pergi.
Senja memandang kursi kosong. Lelaki yang semalam menyebutnya berlebihan ternyata tidak meninggalkannya sedetik pun.
Di bawah selimut, jemari Senja bergerak perlahan ke bekas tempat tangan Damar menggenggam. Kehangatan itu sudah hilang, tetapi rasa aman yang tertinggal membuat matanya kembali basah.
Ia belum tahu bagaimana membayar biaya operasi, berapa lama tidak dapat bekerja, atau apakah Damar masih menginginkannya di rumah setelah sembuh. Untuk sementara, suara monitor dan kabar Bintang aman cukup membuatnya bertahan.
Bik Inah membetulkan selimut. "Tidur lagi, Bu. Pak Damar bilang semua urusan lain biar dia yang tanggung."
Senja menutup mata. Kalimat itu terlalu besar untuk langsung dipercaya, tetapi untuk pertama kalinya sejak menikah, ia membiarkan sebagian beban berpindah ke bahu suaminya.