Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Mulai perhatian
Keesokan harinya, sebelum semburat merah matahari terbit di ufuk timur, dapur bernuansa modern itu sudah dihiasi aroma harum tumisan rempah dan beras yang ditanak.
Aura sudah berkutat di depan kompor sejak pukul lima pagi. Rambut panjangnya diikat asal ke belakang, dan sebuah celemek sederhana melingkar di pinggangnya.
Walaupun pada biasanya Fadil jarang sarapan di rumah dan lebih sering langsung melenggang pergi ke kantor sebelum fajar menyingsing sempurna, Aura tetap konsisten membuatkannya.
Bagi Aura, menjalankan kewajibannya sebagai istri bukan lagi soal sandiwara, melainkan bentuk pengabdian dan ketulusannya dalam menjalani takdir.
Asap tipis mengepul dari wajan saat Aura mengangkat nasi goreng spesial yang dipadukan dengan telur mata sapi dan irisan daging asap.
Tepat saat ia mematikan kompor dan berbalik membawa mangkuk saji ke meja makan, langkah kakinya mendadak terhenti.
Fadil sudah berada di sana.
Pria itu duduk tegap di salah satu kursi meja makan dengan kemeja kerja yang sudah terpasang rapi. Jemari tangannya yang panjang dan kokoh sibuk menari di atas layar ponsel, fokus mengamati pergerakan saham dan email masuk dari kantornya.
Melihat Fadil yang begitu fokus dengan benda di tangannya, Aura tersenyum tipis.
Ia kemudian melangkah mendekat tanpa suara, lalu dengan telaten mengambilkan secentong nasi goreng hangat, meletakkan telur mata sapi sempurna di atasnya, serta menuangkan secangkir teh manis hangat tepat di sisi kanan piring suaminya, layaknya seorang istri yang berbakti pada sang suami.
Ketika piring itu terulur lembut di hadapannya, gerakan jemari Fadil di layar ponsel langsung terhenti. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menengadah menatap Aura.
"Terima kasih," ucap Fadil.
Aura sedikit terkejut mendengar ucapan itu. Manik matanya membelalak pelan sebelum akhirnya mengukir senyuman tulus yang sangat manis. "Sama-sama, Mas. Dimakan ya, mumpung masih hangat."
Aura kemudian melangkah mengambil piringnya sendiri, lalu duduk di kursi yang berseberangan dengan Fadil.
Mereka menikmati sarapan pagi itu dalam hening, diiringi denting sendok dan garpu yang beradu tipis dengan piring porselen.
Sejak hari itu, dinamika di antara mereka perlahan-lahan berubah secara alami. Tanpa perlu diucapkan dengan kata-kata manis, mereka mulai terbiasa dengan kehadiran dan peran satu sama lain.
Hingga akhirnya, akhir pekan pun tiba.
Fadil memanfaatkan hari libur kerjanya untuk tetap berada di rumah. Pria yang biasanya menghabiskan waktu di dalam ruang kerja tertutup itu kini memilih duduk di sofa ruang tengah dengan laptop terbuka di pangkuannya.
Namun, fokusnya hari ini tidak sepenuhnya tertuju pada laporan keuangan perusahaan.
Matanya berulang kali teralih, dan memperhatikan gerak-gerik Aura di seluruh sudut rumah.
Sejak pagi paska sarapan, Aura tidak berhenti bergerak. Gadis itu mulai menyapu lantai marmer ruang tengah yang luas, mengepel setiap sudut ruangan, menyerap debu di karpet, hingga mengangkat tumpukan pakaian kotor untuk dimasukkan ke mesin cuci.
Tak berhenti di situ, Aura melangkah ke dapur untuk mencuci perabotan memasak yang menumpuk, mengelap meja dapur, hingga memotong bahan makanan untuk makan siang.
Fadil memperhatikan dari kejauhan bagaimana bulir-bulir keringat dingin mulai bermunculan di dahi dan pelipis Aura.
Pria itu melihat betapa napas Aura sesekali terengah tipis saat mengangkat ember bilasan, serta bagaimana gadis itu sempat mengelus pinggang bagian belakangnya yang pegal saat mengelap kaca jendela besar.
Sebuah rasa bersalut iba mendadak menghentak dada Fadil. "Ternyata selama ini dia bekerja keras mengurus rumah."
Selama ini, alasan utama Fadil tidak menyewa Asisten Rumah Tangga (ART) adalah demi menjaga kerahasiaan. Ia takut kehidupan palsu dan ketegangan rumah tangga mereka terekspos ke luar atau menjadi bahan gosip.
Keputusan itu mungkin terasa benar dari sudut pandang efisiensi dan privasi, namun menyaksikan langsung bagaimana Aura mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga yang amat berat sendirian, tanpa pernah mengeluh sepatah kata pun, membuat ego Fadil luruh seketika.
‘'Dia bukan pembantu di rumah ini. Dia istriku,’' batin Fadil bergema tajam, merutuki ketidakpekaannya selama ini.
Saat Aura baru saja selesai mengeringkan tangannya dengan serbet dapur usai mencuci piring, Fadil menutup layar laptopnya dengan pelan lalu berdiri dari sofa.
"Aura," panggil Fadil.
Aura pun menoleh dari ambang pintu dapur, sambil mengusap helai rambutnya yang sedikit basah oleh keringat ke belakang telinga. "Iya, Mas Fadil? Mas butuh minum atau ada yang mau disiapkan?"
Fadil melangkah mendekat dengan santai. Matanya menatap lekat garis-garis kelelahan di paras cantik wanita di hadapannya itu.
"Duduklah sebentar," ujar Fadil seraya menunjuk ke arah sofa empuk di ruang tengah.
Aura mengernyitkan dahinya yang sedikit bingung, namun tetap menurut. Ia lalu melepas celemeknya dan duduk di tepi sofa. Fadil pun ikut duduk di sofa sebelah, menuangkan secangkir air putih hangat dari teko kaca lalu mengulurkannya pada Aura.
"Minum dulu," perintah Fadil terdengar halus.
Aura menerima gelas itu dengan canggung. "Terima kasih, Mas." Ia lalu meminumnya beberapa teguk hingga tenggorokannya yang kering terasa segar kembali.
Fadil kemudian menyandarkan punggungnya, lalu menatap Aura dengan pandangan yang penuh perhatian.
"Senin depan, aku akan memperkerjakan beberapa ART untuk mengurus rumah ini," ujar Fadil tanpa basa-basi.
Aura tersentak kaget. Ia lalu meletakkan gelasnya kembali ke atas meja dengan terburu-buru. "Eh? ART, Mas? Kenapa mendadak sekali?"
"Ini bukan hal yang mendadak, Aura," potong Fadil. "Aku memperhatikanmu seharian ini. Kamu mengurus rumah sebesar ini sendirian dari pagi sampai malam. Kamu menyapu, mengepel, mencuci, memasak, sampai mengelap kaca. Rumah ini terlalu besar untuk dikerjakan satu orang."
"Tapi, Mas... aku tidak merasa keberatan sama sekali," sanggah Aura. "Aku sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah. Lagipula, aku senang ada aktivitas yang bisa kubuat di rumah daripada hanya berdiam diri. Mas bukannya dulu tidak mau ada orang asing di rumah ini demi privasi kita?"
Fadil menatap manik mata Aura yang bening. Ia menghela napas panjang, lalu merendahkan posisi duduknya hingga sedikit lebih dekat dengan Aura.
"Dulu alasanku memang privasi," aku Fadil. "Tapi aku tidak bisa terus membiarkanmu kelelahan seperti ini. Kamu adalah istriku di rumah ini, Aura, bukan pekerja. Aku ingin kamu punya waktu untuk istirahat, melakukan hobimu, atau sekadar bersantai tanpa harus dipusingkan oleh tumpukan cucian dan piring kotor."
Kalimat “Kamu adalah istriku di rumah ini” meluncur begitu alami dari bibir Fadil, hingga menghantam dada Aura dengan getaran kehangatan yang luar biasa.
Spontan Aura memegangi pipinya yang tiba-tiba terasa panas, karena memang pipinya berubah jadi merah merona. "Kenapa pipiku panas sekali," batinnya.
"Mas..." bisik Aura yang tersentuh oleh perhatian tersembunyi yang ditunjukkan suaminya.
"Aku sudah meminta sekretarisku memvalidasi yayasan penyalur tenaga kerja terpercaya," lanjut Fadil tanpa memberi ruang untuk penolakan lagi. "Nanti akan ada satu ART yang menginap untuk urusan kebersihan dan cuci setrika, serta satu koki atau pembantu harian. Jadi tugasmu di rumah ini cukup mendampingiku dan memasak jika kamu memang sedang ingin memasak."
Fadil kemudian berdiri dari duduknya, dan menatap Aura sekali lagi dengan ukiran senyum tipis di sudut bibirnya, senyuman langka yang sangat menawan.
"Keputusan ini sudah bulat. Jangan membantah lagi, mengerti?" pungkas Fadil.
Aura mematung menatap punggung Fadil yang mulai melangkah kembali ke ruang kerjanya.
Di dalam ruang tengah yang luas itu, Aura memegangi dadanya yang berdegup kencang. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan nahas itu terjadi, Aura merasa benar-benar dihargai dan dilindungi oleh pria yang bertakdir menjadi suaminya.
"Ternyata Mas Fadil memperhatikan hal itu..."
Bersambung...
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣