NovelToon NovelToon
Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:223
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yicheng Meminta Kesempatan Menjadi Ayah

Tiga hari setelah Xiaoqi dirawat di rumah sakit, dokter akhirnya menyatakan bahwa demamnya sudah turun stabil, infeksinya mereda, dan ia boleh pulang ke rumah asalkan tetap dijaga dan tidak terlalu lelah. Berita itu membuat hati Yicheng dan Su Wan merasa lega luar biasa — rumah sakit bukan tempat yang nyaman untuk anak kecil, dan melihat Xiaoqi kembali ke lingkungan yang ia kenal pasti akan mempercepat pemulihannya. Namun di balik kelegaan itu, ada kegelisahan baru yang mulai tumbuh — bagaimana kehidupan mereka akan berjalan setelah ini? Bagaimana peran Yicheng akan diatur? Berapa banyak waktu yang boleh ia habiskan bersama Xiaoqi? Di mana batas antara menjadi ayah yang hadir dan menjadi orang asing yang tidak diinginkan?

Su Wan sibuk merapikan barang-barang di ruang rawat — pakaian ganti, mainan kecil Xiaoqi, buku dongeng, dan botol minum — melipat dan menyusunnya dengan gerakan yang teratur namun agak kaku. Ia berusaha menyibukkan diri agar tidak terlalu banyak berpikir, agar tidak terlalu memperhatikan Yicheng yang berdiri di dekat pintu, menatapnya dengan tatapan penuh harap namun penuh kehati-hatian. Ia tahu percakapan penting akan datang — dan ia tahu Yicheng membutuhkan jawaban yang jelas.

Yicheng berjalan mendekat, membantu melipat selimut dan memasukkan barang ke dalam tas, gerakannya pelan dan tidak mengganggu. Ia tidak langsung berbicara, memberi Su Wan waktu untuk menenangkan diri, memberi ruang agar ia tidak merasa terdesak. Hanya setelah semua barang sudah rapi di dalam tas, dan perawat datang membawa surat izin pulang, Yicheng mengambil kursi dan duduk di tempat yang sama seperti kemarin — jarak yang aman, tatapan yang jujur, tanpa tuntutan.

"Su Wan," mulainya pelan, memastikan suaranya lembut, tidak menakutkan, tidak menekan. "Sebelum kita pulang… aku ingin bicara tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Tentang aku dan Xiaoqi. Tentang waktu, tentang kunjungan, tentang bagaimana aku bisa menjadi bagian dari hidupnya tanpa mengganggu rutinitas kalian."

Su Wan berhenti merapikan tas, duduk di tepi tempat tidur di samping Xiaoqi yang sedang bermain dengan mobil-mobilan kecil di kasur, lalu menatap Yicheng dengan napas yang ia tarik dalam-dalam. "Aku juga sudah memikirkannya. Aku tidak tahu apa yang benar, Yicheng. Aku tidak pernah harus membagi waktu dengan seseorang untuk mengurus anak. Selama ini aku sendirian, dan sekarang tiba-tiba ada kamu… aku butuh waktu untuk terbiasa."

"Aku tahu," jawab Yicheng dengan segera, mengangguk penuh pengertian. "Dan aku tidak memintamu langsung tahu semuanya. Kita bisa mulai pelan-pelan. Kita bisa membuat aturan bersama, dan kalau ada yang tidak cocok, kita ubah. Yang terpenting bagiku adalah aku bisa menjadi bagian dari hidupnya — tidak mengambil alih, tidak menggantikanmu, hanya menambahkan kehadiranku di sana."

Ia menarik napas panjang, menyusun kata-kata dengan hati-hati, memastikan tidak ada yang terdengar seperti tuntutan, melainkan permohonan yang tulus. "Aku ingin bertanya sesuatu padamu, Su Wan. Dan aku ingin kau menjawab dengan jujur, tanpa merasa tertekan. Kalau kau merasa tidak siap, katakan saja. Aku akan mengerti."

"Tanyakan saja," jawab Su Wan pelan, tangannya menyisir rambut Xiaoqi dengan gerakan menenangkan.

Yicheng menatapnya lekat-lekat, lalu menatap anak itu yang sedang tertawa melihat mobil-mobilannya bergerak di atas selimut, hatinya dipenuhi cinta dan kerendahan hati yang begitu dalam. "Aku ingin meminta kesempatan — kesempatan untuk benar-benar menjadi ayah bagi Xiaoqi. Bukan sekadar datang berkunjung sesekali, bukan sekadar memberikan nafkah, bukan sekadar menjadi orang asing yang ia panggil Ayah. Aku ingin ada di sana saat ia bangun pagi, saat ia sarapan, saat ia pulang sekolah, saat ia bermain, saat ia sedih, saat ia senang. Aku ingin tahu kebiasaan-kebiasaan kecilnya — makanan apa yang ia benci, lagu apa yang ia suka didengar sebelum tidur, benda apa yang membuatnya tenang saat takut, apa yang membuatnya tertawa paling keras. Aku ingin menjadi orang yang ia datangi saat ia butuh bantuan, orang yang ia panggil saat ia takut, orang yang tahu segalanya tentangnya."

Ia berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa pahit namun perlu, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lembut namun lebih tegas. "Aku tahu aku terlambat. Aku tahu aku melewatkan lima tahun yang tidak akan pernah kembali. Tapi aku tidak ingin melewatkan satu hari pun lagi. Aku ingin terlibat dalam hidupnya setiap hari — tidak mengambil alih peranmu, tidak menggantikanmu, hanya berdiri di sampingmu, membantu, berbagi, menjadi ayah yang ia butuhkan. Aku siap mengatur jadwal kerjaku agar bisa mengantar dan menjemputnya sekolah. Aku siap membacakannya dongeng setiap malam. Aku siap membantumu merawatnya saat sakit. Aku siap belajar segala hal yang belum aku ketahui tentangnya, bahkan hal-hal kecil yang terlihat tidak penting. Aku siap menjadi ayah yang hadir — sepenuhnya hadir — bukan hanya dengan tubuh, tapi dengan hati dan waktuku."

Su Wan mendengarkan setiap kata dengan saksama, merasakan ketulusan di dalamnya, melihat keinginan yang nyata di mata Yicheng. Ia tidak bisa menyangkal — setiap orang berhak tahu ayahnya, dan setiap anak berhak memiliki ayah yang hadir dalam hidupnya. Xiaoqi sudah kehilangan ayahnya selama lima tahun — tidak adil kalau ia harus kehilangan dia lagi sekarang saat dia sudah kembali. Tapi di sisi lain, ketakutannya masih ada — takut Yicheng akan lelah, takut ia akan kembali sibuk, takut ia akan pergi lagi setelah Xiaoqi mulai terbiasa dengannya. Itulah yang paling ditakuti Su Wan — melihat anaknya mencintai seseorang sepenuhnya, lalu ditinggalkan lagi. Ia tidak akan sanggup menenangkan hati Xiaoqi untuk kedua kalinya.

"Yicheng…" mulainya pelan, suaranya penuh keraguan. "Aku ingin percaya bahwa kau serius. Aku ingin percaya bahwa kau benar-benar ingin menjadi ayah yang hadir. Tapi aku takut. Aku takut kau terbiasa dengan kehidupan di mana pekerjaanmu menuntut sebagian besar waktumu, dan setelah beberapa minggu atau bulan, kau akan merasa lelah, merasa terbebani, dan pergi lagi. Xiaoqi akan terluka sekali kalau itu terjadi. Dan aku… aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskan padanya kenapa ayahnya pergi lagi."

Yicheng mengangguk, ia mengerti kekhawatiran itu — itu wajar, itu masuk akal, itu adalah ketakutan seorang ibu yang berjuang sendirian terlalu lama. "Aku tidak akan memintamu tidak takut. Itu tidak adil. Tapi aku berjanji padamu — bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan — aku tidak akan pergi. Aku sudah memikirkan ini dengan matang. Aku sudah berbicara dengan rekan kerjaku, mengatur agar aku bisa bekerja lebih fleksibel, tidak lagi harus lembur setiap hari, tidak lagi harus melakukan perjalanan bisnis yang lama. Aku ingin menata ulang hidupku — dan keluarga adalah prioritas utamaku. Kalau aku harus memilih antara pekerjaan dan Xiaoqi, aku akan memilih Xiaoqi setiap saat. Tanpa ragu. Tanpa penyesalan."

Ia menatap Su Wan dengan tatapan yang tulus dan tegas. "Aku tidak memintamu mempercayaiku sekarang. Tapi beri aku kesempatan untuk membuktikannya. Beri aku kesempatan untuk hadir setiap hari, dan lihat apakah aku bertahan. Kalau setelah beberapa bulan kau melihat aku berusaha, konsisten, tidak menyerah — mungkin kau akan merasa lebih tenang. Dan kalau aku gagal, kalau aku pergi lagi — kau berhak mengusirku dari hidup kalian selamanya. Aku tidak akan protes. Aku tidak akan menuntut hak apa pun. Tapi tolong… beri aku satu kesempatan ini. Satu kesempatan untuk menjadi ayah yang pantas bagi anak ini."

Su Wan menatap Xiaoqi yang masih bermain dengan mobil-mobilannya, wajahnya cerah dan polos, tidak tahu bahwa masa depannya sedang dibicarakan di hadapannya. Ia memikirkan betapa seringnya Xiaoqi bertanya tentang ayahnya selama bertahun-tahun, betapa seringnya ia menggambar keluarga lengkap, betapa bahagianya setiap kali Yicheng ada di dekatnya. Anak ini membutuhkan ayahnya — bukan ayah yang kaya atau terkenal, tapi ayah yang ada, yang hadir, yang tidak pergi. Dan Yicheng ada di sini, berusaha, memohon kesempatan, siap mengubah hidupnya demi anak mereka. Berapa lama lagi ia harus menghukumnya karena kesalahan yang lalu? Dan berapa lama lagi ia harus menyangkal hak anaknya untuk memiliki ayah yang hadir setiap hari?

"Baiklah," kata Su Wan akhirnya, suaranya bergetar namun tegas, keputusan itu berat tapi ia tahu itu yang benar. "Aku beri kau kesempatan, Yicheng. Tapi ada syarat-syaratnya. Dan kau harus mematuhinya. Kalau kau melanggar salah satu, aku berhak menarik kembali kesempatan ini tanpa penjelasan."

Yicheng langsung duduk lebih tegak, matanya bersinar penuh harap dan kesungguhan. "Aku terima. Apa pun syaratnya. Katakan padaku."

Su Wan menarik napas panjang, menyusun aturan yang melindungi mereka bertiga, yang memberi ruang namun juga menjaga batas. "Pertama — kau harus konsisten. Kalau kau berjanji datang jam enam sore, datanglah jam enam sore. Jangan terlambat tanpa kabar. Jangan membatalkan janji dengan alasan pekerjaan kecuali benar-benar darurat. Xiaoqi butuh bisa mengandalkanmu. Kedua — jangan memanjakannya berlebihan dengan hadiah atau kemewahan. Yang ia butuhkan bukan barang, tapi waktumu. Ketiga — jangan pernah berbicara buruk tentangku di depannya, dan jangan memintanya memihak salah satu dari kita. Keempat — kalau kau merasa lelah atau tidak bisa melanjutkan, katakan padaku lebih dulu. Jangan tiba-tiba menghilang lagi. Itu yang paling penting — jangan pernah hilang tanpa kabar lagi. Kelima — kita akan mulai bertahap. Awalnya kau datang setiap sore sampai malam, lalu kita lihat apakah kau bisa ikut makan bersama, membacakannya dongeng, dan perlahan-lahan menyesuaikan. Kalau ada yang tidak cocok, kita bicarakan dan ubah."

Ia berhenti sejenak, menatap Yicheng dengan tatapan yang serius namun terbuka. "Dan yang terakhir — soal kita, soal hubungan suami istri — itu tidak ada sekarang. Kita hanya orang tua yang bekerja sama untuk membesarkan anak ini. Tidak lebih, tidak kurang. Kalau di masa depan ada perubahan, itu keputusan bersama. Tapi untuk sekarang, ini batasnya. Bisa kau terima?"

Yicheng mendengarkan setiap syarat dengan saksama, tidak ada satu pun yang terasa berat atau tidak adil. Itu adalah batasan yang wajar, yang dibutuhkan untuk membangun kepercayaan kembali dari nol. Ia mengangguk dengan tekad yang kuat, hatinya penuh rasa syukur yang tak terlukiskan.

"Aku terima semua syaratmu," katanya tegas. "Dan aku akan mematuhinya. Konsisten, jujur, tidak memanjakan dengan barang, tidak berbicara buruk tentangmu, tidak menghilang, dan menghormati batasan tentang hubungan kita. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa dipercaya. Bukan dengan kata-kata — tapi dengan setiap hari yang aku lalui bersama kalian."

Su Wan tersenyum tipis, beban di pundaknya terasa sedikit lebih ringan. "Baiklah. Kalau begitu kita coba. Mulai hari ini. Mulai saat kita pulang dari rumah sakit."

Xiaoqi mendengar percakapan itu, menoleh ke arah mereka, lalu tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kebahagiaan. "Ayah akan datang setiap hari? Membacakan dongeng? Bermain bersamaku?"

Yicheng berlutut di samping tempat tidur, memeluk anak itu dengan lembut namun erat, mencium keningnya dengan penuh kasih sayang. "Ya, Nak. Mulai hari ini, Ayah akan datang setiap hari. Ayah akan bermain bersamamu, membacakan dongeng, mengantarmu sekolah, dan menjemputmu pulang. Ayah tidak akan pergi ke mana-mana. Ayah berjanji."

Xiaoqi memeluk leher ayahnya erat, wajahnya menempel di bahu Yicheng, tertawa bahagia. "Asyik! Aku punya Ayah setiap hari! Aku paling senang di dunia!"

Su Wan menatap mereka berdua, melihat kebahagiaan di wajah anaknya, melihat kelembutan di mata Yicheng, dan untuk pertama kalinya sejak Yicheng kembali, ia merasa ada harapan yang nyata — harapan bahwa mereka bisa menjadi keluarga, walau pelan, walau tidak sempurna, walau butuh waktu lama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!