Setelah tewas dalam invasi brutal yang meluluhlantakkan kotanya, Yang Zhen tiba-tiba terbangun kembali ke masa remaja saat ia masih menjadi murid akademi yang selalu dicap sebagai pecundang.
Namun, berbekal ingatan masa depan dan pusaka kuno Gulungan Dewa Naga yang memberinya kekuatan, ia kini bersumpah untuk memutarbalikkan takdir dan menginjak-injak siapa pun yang berani meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Keheningan di dalam kelas akhirnya pecah saat bel akademi berbunyi nyaring. Guru Lin sudah dibawa ke ruang medis oleh beberapa murid kelas lain yang kebetulan lewat.
Seluruh murid di kelas elit itu perlahan mulai mengemasi barang-barang mereka. Namun tatapan mereka tidak pernah lepas dari sosok Yang Zhen yang duduk santai di bangkunya.
"Hei, apa kau melihat wajah Guru Lin tadi?" bisik seorang murid kepada temannya.
"Tentu saja aku melihatnya, wajahnya pucat seperti mayat hidup." jawab temannya.
"Tapi dari mana si sampah Yang Zhen tahu soal penyakit Guru Lin?" timpal murid lain yang masih tidak percaya.
"Mungkin dia hanya menebaknya secara asal dan kebetulan benar." cibir murid berambut cepak. "Tunggu saja besok, Guru Lin pasti akan mematahkan kedua kakinya."
Yang Zhen mendengar semua ocehan itu dengan sangat jelas. Namun ia sama sekali tidak peduli dengan komentar orang-orang lemah di sekitarnya.
"Aku benar-benar harus mencari makanan bernutrisi secepatnya." batin Yang Zhen sambil memegangi perutnya. "Tubuhku saat ini terlalu kurus dan kekurangan banyak energi spiritual."
Ia menoleh ke arah sahabat gemuknya yang sedari tadi menatapnya dengan mulut menganga.
"Tutup mulutmu itu, Hao." ucap Yang Zhen santai. "Kau bisa menelan lalat jika terus membuka mulut seperti itu."
Wang Hao seketika tersadar dan langsung mencengkeram kedua bahu Yang Zhen.
"Kau gila! Kau benar-benar gila, Yang Zhen!" teriak Wang Hao panik. "Apa yang baru saja kau lakukan pada Guru Lin?!"
"Aku hanya memberitahu kelemahan kultivasinya." jawab Yang Zhen. "Bukan salahku jika dia mempraktikkannya dengan cara yang salah."
"Tapi dia itu Master Bela Diri Bintang Tiga, kau bisa mati dipukuli olehnya besok!" racau Wang Hao tanpa henti. "Habislah kita, aku pasti akan ikut disalahkan karena duduk di sebelahmu."
"Hao, apakah kau akan terus mengeluh seperti perempuan tua?" potong Yang Zhen sambil berdiri dari kursinya. "Lebih baik kau ikut aku sekarang juga."
"Ikut ke mana?" tanya Wang Hao bingung.
"Kita akan membolos kelas sore ini." jawab Yang Zhen tenang. "Kita pergi ke perpustakaan akademi sekarang."
"Apa?! Membolos?" mata Wang Hao kembali membelalak lebar. "Kau benar-benar ingin dikeluarkan dari akademi ini ya?"
"Terserah kau mau ikut atau tidak." Yang Zhen melangkah pergi meninggalkan mejanya. "Jika kau tidak ikut, jangan salahkan aku jika Guru Lin mencari kambing hitam nanti."
Wang Hao langsung merinding mendengar ancaman itu. Ia buru-buru mengambil tasnya dan berlari mengejar langkah Yang Zhen.
"Tunggu aku, sialan!" teriak Wang Hao. "Aku akan menuntut ganti rugi jika uang jajanku dipotong oleh ayahku gara-gara ini!"
Yang Zhen dan Wang Hao berjalan keluar dari ruang kelas elit tersebut. Tanpa mereka sadari, sepasang mata jernih terus memperhatikan kepergian mereka berdua.
"Sikapnya benar-benar berubah drastis." batin Su Lin sambil menatap pintu kelas yang kosong. "Dia tidak terlihat seperti pemuda penakut yang selalu menundukkan kepala lagi."
"Tatapan matanya tadi... itu adalah tatapan seorang pembunuh yang sudah terbiasa dengan kematian." gumam Su Lin pelan.
Gadis jenius itu merasa ada rahasia besar yang disembunyikan oleh Yang Zhen. Rasa penasarannya yang tinggi membuat Su Lin memutuskan untuk mengikuti mereka berdua secara diam-diam.
Di sisi lain, Yang Zhen dan Wang Hao sedang berjalan melintasi koridor akademi yang mulai sepi. Tujuan mereka adalah bangunan tua di ujung barat akademi.
Perpustakaan Akademi Bela Diri Awan Merah memiliki tiga lantai yang dipenuhi ribuan gulungan usang. Tempat ini jarang dikunjungi oleh murid karena kebanyakan teknik bela diri di sini dianggap sudah ketinggalan zaman.
Cring.
Bunyi lonceng pintu terdengar saat Yang Zhen mendorong pintu kayu raksasa perpustakaan. Aroma debu dan kertas tua langsung menyambut penciuman mereka.
"Untuk apa kita datang ke tempat berdebu ini?" gerutu Wang Hao sambil mengusap hidungnya. "Tidak ada teknik bela diri bagus di sini, semuanya hanya teori kuno."
"Kau ini banyak bicara." sahut Yang Zhen tanpa menoleh. "Kau duduk saja di meja itu dan jangan menggangguku."
Wang Hao hanya bisa mendengus kesal dan menjatuhkan tubuh gempalnya ke sebuah kursi kayu. Ia langsung menelungkupkan kepalanya di atas meja, bersiap untuk tidur siang.
Yang Zhen berjalan menyusuri rak-rak buku tua yang berjejer rapi. Ia mencari tempat yang paling tersembunyi agar tidak ada yang bisa melihat apa yang akan ia lakukan.
Ia berhenti di sudut paling gelap di lantai satu perpustakaan. Tempat ini diapit oleh dua rak buku raksasa yang sudah reyot.
"Tempat ini cukup aman." batin Yang Zhen. "Aku bisa mulai memeriksa kondisi Gulungan Dewa Naga sekarang."
Yang Zhen duduk bersila di lantai kayu yang berdebu. Ia memejamkan matanya dan mulai mengatur ritme pernapasannya menjadi sangat tenang.
"Energi spiritual di ruangan ini sangat tipis." batin Yang Zhen lagi. "Namun ini sudah cukup untuk memancing respons dari pusaka itu."
Ia memusatkan seluruh kesadarannya ke arah dada bagian tengah. Di sanalah ia bisa merasakan hawa hangat yang sangat familiar, tempat di mana Gulungan Dewa Naga bersemayam.
Wuuush.
Suara angin pelan berhembus di sekitar tubuh Yang Zhen saat ia mulai menyerap Qi dari udara. Energi alam yang tipis itu perlahan masuk melalui pori-pori kulitnya dan mengalir menuju jantungnya.
Tiba-tiba, sebuah cahaya kebiruan yang sangat redup memancar dari balik baju Yang Zhen. Cahaya itu membentuk pola sisik naga yang melingkari dadanya.
"Akhirnya kau merespons juga." ucap Yang Zhen pelan dengan senyum tipis di bibirnya.
Sebuah sensasi dingin dan menyejukkan tiba-tiba meledak di dalam tubuh Yang Zhen. Energi besar menyembur dari gulungan tersebut, menyapu bersih semua kotoran di dalam urat nadinya.
"Sangat sakit tapi menyegarkan." batin Yang Zhen sambil menggertakkan giginya menahan nyeri.
Energi murni itu terus mengalir deras ke pusat Dantian miliknya. Dantian Yang Zhen yang tadinya kering kerontang kini terisi penuh oleh Qi yang sangat padat.
Krak.
Suara retakan pelan terdengar dari dalam tubuh Yang Zhen, menandakan batas ranahnya telah hancur. Ia berhasil menembus Tahap Pengumpulan Qi Tingkat Dua hanya dalam hitungan detik.
Namun energi dari Gulungan Dewa Naga sama sekali belum berhenti. Energi itu terus mendorong kapasitas Dantiannya hingga mencapai batas maksimal lagi.
Krak.
Batas ranahnya kembali hancur berkeping-keping untuk kedua kalinya. Yang Zhen kini resmi mencapai Tahap Pengumpulan Qi Tingkat Tiga dengan sangat mudah.
"Ini benar-benar luar biasa." batin Yang Zhen dengan mata berbinar-binar. "Pusaka ini secara otomatis memurnikan Qi di sekitarku dan mengubahnya menjadi energi tingkat tinggi."
Jika orang normal butuh waktu berbulan-bulan untuk naik satu tingkat, ia hanya butuh beberapa tarikan napas. Pengalamannya sebagai kultivator tingkat tinggi di masa depan membuatnya bisa mengendalikan lonjakan energi ini tanpa melukai nadinya.
Cahaya kebiruan di dada Yang Zhen perlahan meredup dan berubah menjadi sebuah simbol air. Simbol itu menempel di dadanya seperti sebuah tato kuno.
"Segel pertama telah terbuka." ucap Yang Zhen sambil membuka matanya secara perlahan. "Elemen Air adalah awal dari segalanya."
Yang Zhen mengangkat telapak tangan kanannya dan memusatkan pikirannya. Ia mencoba mengingat teknik paling dasar dari manipulasi air yang pernah ia pelajari di kehidupan sebelumnya.