NovelToon NovelToon
Terbelenggu Cinta Sahabat Suamiku

Terbelenggu Cinta Sahabat Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Selingkuh
Popularitas:45.9k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Dua tahun pernikahan yang Nara jalani bersama dengan Arga mulai terasa hambar ketika Arga memilih untuk sibuk dengan pekerjaan. Hingga suatu malam dia menyaksikan suaminya itu tengah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.

‎Saat dunianya terasa gelap, sosok Aditya Narendra yang merupakan sahabat baik Arga muncul sebagai pelindungnya. Rendra selalu ada di sisi Nara, memberikan dukungan dan perhatian yang telah lama tidak dia dapatkan dari suaminya.

‎Sentuhan lembut dan kata-kata hangat Rendra menjadi obat yang menyembuhkan luka dalam hatinya, sekaligus membawanya pada permainan penuh gairah pria itu. Namun, Nara tak menyadari bahwa di balik kebaikan Rendra tersembunyi sebuah rahasia besar.

‎"Jawab pertanyaanku, Nara. Lebih puas denganku, atau dengan suamimu yang selalu meninggalkanmu sendirian?" ~ Aditya Narendra.

‎‎📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34

‎Zoya memicingkan matanya, berusaha mengenali wajah wanita yang sedang berada dalam pelukan Rendra itu. Jarak yang agak jauh dan posisi mereka yang membelakangi sinar matahari membuatnya sulit melihat dengan jelas.

‎‎Namun sebelum dia bisa memastikan, Rendra sudah menarik wanita itu masuk ke dalam mobil hitamnya dan melaju pergi dengan cepat, meninggalkan Zoya yang masih termangu di tempat.

‎‎"Ah, siapa sih wanita itu? Bikin penasaran saja," Zoya memukulkan tangannya ke setir, rasa penasaran terus menyelimuti dirinya. "Sebaiknya aku ke kantor Arga, siapa tahu Arga tahu siapa wanita yang sedang dekat dengan Rendra itu."

‎‎Zoya pun menyalakan mesin mobilnya dan melaju menuju gedung perkantoran tempat Arga bekerja.

‎‎-

‎‎Sementara itu, suasana di ruangan kerja Arga masih terasa sangat berat. Pria itu duduk diam di kursi kerjanya, menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong yang menakutkan. Pikirannya kacau balau. Kata-kata Nara tadi malam terus terngiang di benaknya. Sebenarnya siapa pria yang sudah berani merebut Nara darinya?

‎‎Tiba-tiba pintu ruangan terbuka tanpa ketuk terlebih dahulu. Arga mendongak kaget. Di ambang pintu, berdiri seorang wanita dengan gaya busana yang modis.

‎‎"Apa kabar, Ga?" sapa Zoya sambil berjalan santai mendekati meja Arga, lalu duduk dengan lepas di sofa tamu persis di tempat Rendra duduk beberapa jam yang lalu.

‎‎Arga menghela napas panjang, berusaha menyembunyikan kekacauan di hatinya. Dia tersenyum tipis, senyum yang terlihat sangat lelah.

‎‎"Tumben, ngapain kamu kesini?" tanya Arga mencoba bersikap normal, lalu beranjak bangun dari kursinya dan ikut duduk di sofa.

‎‎"Aku bosan. Jadi aku main saja kesini," jawab Zoya. Dia menatap wajah Arga lekat-lekat, lalu mengerutkan kening. "Kenapa dengan wajahmu itu? Sangat tidak enak dilihat,"

‎‎Arga tertawa getir, "Mau tahu saja sama urusan orang. Cuma kurang tidur doang."

‎‎"Kurang tidur apanya, wajah kamu itu seperti orang habis kehilangan harapan hidup," ceplos Zoya. Dia lalu melihat sekeliling ruangan. "Rendra tidak pernah main kemari, Ga?"

‎‎"Dia baru saja pergi," jawab Arga singkat.

‎‎Zoya tersenyum saat ingatannya tiba-tiba terlempar ke masa lalu, "Siapa yang menyangka ya, dulu kita bertiga teman kuliah, sekarang kalian berdua jadi penguasa perusahaan besar."

‎‎Zoya bersandar santai, lalu tiba-tiba teringat sesuatu.

‎‎"Oh iya Ga, tadi aku kebetulan lihat Rendra di jalan, dan dia sama perempuan. Selama ini dia begitu dingin sama perempuan, seperti tidak butuh wanita. Tapi tadi aku lihat mereka sangat mesra, mereka berpelukan."

‎‎"Perempuan? Perempuan seperti apa?" tanya Arga penasaran.

‎‎Zoya mengingat-ingat. "Wajahnya tidak terlalu kelihatan sih, tapi kelihatan cantik dan anggun jika dilihat dari penampilannya,"

‎‎"Kamu yakin itu Rendra, Zoy?" tanya Arga pelan, suaranya terdengar serak.

‎‎"Kamu pikir mataku sudah rabun apa," jawab Zoya sedikit ketus, dia sedikit mendekatkan tubuhnya. "Aku tidak mungkin salah lihat, itu memang Rendra."

‎‎Zoya menghela napas, mencoba mengingat detail yang dia lihat tadi.

‎‎"Selama kita kenal dia, dari jaman kuliah sampe sekarang, dia itu kan tipe yang dingin banget sama cewek. Jarak aman selalu dijaga. Aku saja ditolak berkali-kali sama dia, tapi tadi... tadi dia benar-benar pelukan sama perempuan."

‎‎"Rendra itu tipe pria yang kalau dilihat wanita saja matanya datar seperti papan tulis kosong. Bahkan di acara gala dinner kemarin aku coba dekati dia lagi, tapi dia langsung kasih tembok setinggi langit. Dia bilang dia sudah punya seseorang. Awalnya aku tidak percaya, tapi tadi..." Zoya menggeleng-gelengkan kepalanya, masih tak habis pikir.

‎‎Arga menatap Zoya, matanya memancarkan rasa penasaran yang sangat besar. "Kamu benar-benar tidak lihat wajahnya? Akhir-akhir ini kami sering bertemu tapi Rendra tidak pernah cerita apapun."

‎‎Zoya mengerutkan keningnya dalam-dalam, memutar otaknya sekuat tenaga untuk mengingat detail wajah yang samar itu.

‎‎"Posisinya sedikit ketutupan dan silau kena matahari, jadi tidak kelihatan jelas," jawab Zoya jujur. "Kamu kan dekat nih sama Rendra, coba kamu cari tahu siapa wanita itu, Ga. Aku penasaran saja, siapa wanita yang bisa lebih unggul dariku dan bisa meluluhkan hati Rendra."

‎‎Arga terdiam lama. Selama ini Rendra memang tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun. Tidak pernah cerita punya pacar, tidak pernah mengenalkan satupun wanita ke dirinya. Rendra selalu tertutup soal urusan pribadinya.

‎‎"Ya sudah, nanti aku coba tanya ke Rendra langsung," jawab Arga.

‎‎Zoya mengangguk, lalu menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa, sudut bibirnya menyunggingkan senyum penuh arti. "Aku penasaran, siapa wanita hebat yang bisa meluluhlantakkan hati Rendra yang sekeras batu itu. Pasti wanita itu luar biasa istimewanya bagi Rendra."

‎-

‎-

‎-

‎Pintu ruangan kerja Rendra terbuka pelan. Pria itu masuk dan matanya langsung tertuju pada sosok wanita yang berdiri mematung di depan jendela kaca besar yang menghadap ke pemandangan kota.

‎‎Rendra menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat perlahan hingga berdiri tepat di belakang Nara.

‎‎"Sudah, Jangan dipikirkan lagi. aku antar kamu pulang ya," ucap Rendra lembut, suaranya rendah dan menenangkan, berbeda jauh dengan nada marahnya tadi siang.

‎‎Nara tidak berbalik, dia hanya menggelengkan kepala pelan, suaranya bergetar. "Aku merasa berdosa sekali. Apa kita salah? Apa perasaan kita ini memang salah?"

‎‎Rendra mengerutkan kening, rasa sakit menusuk dadanya mendengar keraguan Nara. Dengan gerakan lambat dia memutar tubuh wanita itu hingga menghadapnya. Wajah Nara terlihat pucat, mata merah dan bengkak karena menangis.

‎‎"Jangan pernah bilang begitu lagi," desis Rendra lembut namun tegas. Dia mengangkat tangan, mengusap lembut pipi Nara dengan ibu jarinya. "Cinta itu tidak pernah salah, Ra. Yang salah mungkin hanya waktunya, atau posisinya. Tapi perasaan kita... itu nyata."

‎‎Dia menarik tubuh Nara ke dalam pelukannya, membenamkan wajah wanita itu di dadanya agar Nara bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu untuknya.

‎‎"Kamu lelah. Pikiranmu sedang kacau. Kalau kamu diam disini terus, kamu akan semakin sakit. Ayo pulang. Aku janji, aku akan pastikan kamu sampai di rumah dengan aman."

‎‎Nara diam di dalam pelukan itu, menyerah pada rasa nyaman yang hanya bisa diberikan oleh pria ini. Tangannya perlahan mencengkeram kemeja Rendra, mencari kekuatan.

‎‎"Kita pulang sekarang ya,"

‎‎Rendra melepaskan pelukannya sedikit, menatap manik mata Nara dalam-dalam. Tangannya turun untuk menggenggam tangan wanita itu, lalu dia berbalik badan, namun sebelum dia sempat melangkah, Nara menahan tangan Rendra yang sedang dalam genggaman.

‎‎"Aku pulang sendiri saja, Ren."

‎‎Gerak Rendra tertahan. Dia berbalik dan menatap Nara dengan kening berkerut.

‎‎"Kenapa?" tanya Rendra pelan, "Kamu takut Arga melihat kita berdua?"

‎‎"Tidak, bukan seperti itu... tolong jangan salah paham..."

‎‎"Aku akan menyuruh orangku untuk mengantarmu." potong Rendra cepat, dia tidak mau mengambil resiko sedikitpun.

‎‎Dia mengeluarkan ponselnya, jari-jarinya dengan lincah menekan layar, memerintahkan sopir pribadinya untuk segera mempersiapkan mobil dan datang ke depan gedung kantornya. Meskipun dia sangat ingin duduk di samping Nara, menemaninya sepanjang jalan, namun dia sadar kondisi Nara saat ini terlalu rapuh. Jika dia yang mengantar, mungkin Nara akan semakin gelisah memikirkan pandangan orang lain atau takut ketahuan Arga.

‎‎"Supaya kamu tenang, orangku yang akan mengantarmu pulang," ucap Rendra lembut, mencoba menurunkan pertahanan Nara. "Aku tidak akan membiarkan kamu pulang sendiri dalam keadaan seperti ini. Orangku bisa dipercaya, dia akan mengantarmu sampai ke rumah dengan aman."

‎‎Nara menatap Rendra tak percaya. Pria ini benar-benar keras kepala. Segala cara dilakukan agar dia tidak pergi sendirian.

‎‎"Tapi Ren, ini berlebihan..."

‎‎"Tidak," potong Rendra singkat. Matanya menatap Nara dalam, menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. "Tidak ada yang berlebihan jika itu tentang kamu, Nara. Aku akan selalu menjaga dan melindungi kamu."

‎‎Nara tersenyum, senyum yang baru terlihat lagi sejak kejadian tadi siang. Senyum yang tipis, namun cukup untuk membuat wajah pucatnya terlihat sedikit lebih hidup.

‎‎"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Nara.

‎‎"Tanyakan," jawab Rendra singkat, mengusap lembut pipi Nara.

‎‎Nara terdiam sejenak, menatap mata Rendra dalam-dalam. "Sudah sejak kapan kamu mencintaiku, Ren?"

-

-

-

Bersambung...

1
Zuri
vote dulu
Zuri
minta kepastian lamaran ya Pa?🤭
Zuri
bersatu kerena kecobong gak sih ini nantinya
Zuri
kupikir udah sadar.. ternyata masih nyalahi orang lain/Sweat//Sweat/
Zuri
dengerin nohh Nar.. rendra salah,,, arga juga salah.. kamu lebih salah lagi/Facepalm//Facepalm/
Zuri
dirimu juga sama.. harusnya colab aja, kan sesama.. ehhh🤭🤭🤭🤭
Zuri
kotormu ah kak.. bukan motormu /Silent//Silent//Silent/🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
Zuri
aku mo jadi bawang merah aja ah.. aku gak iba ma dirimu🤣
Zuri
itu panggilan.. aku ada di sini🤭
W I 2 K
semoga papah wira adalah jembatan bt perbaikan hubungan Nara dan Rendra...
falea sezi
urus cerai cwek kok menye kebanyakan di indo nih cwek di selingkuh in menye menye kadang mikir anak halah pret bilang aja lu bergantung ma. suami. g bs nyari krja sendiri makanya jd wanita harus punya keahlian
Zuri
skak mat kan pertanyaan Nara Ga?😏
Zuri
kalo kamu beneran cinta.. kamu gak bakal kegoda Ga.. jadi jangan nyalahin orang laah.. koreksi diri sendiri aja napa🤧🤧
Zuri
arganya kan tergoda.. kamu juga tergoda kan😏
Zuri
tapi di sini arga juga salah ya.. dia tergoda sampe berkali kali icip🤭
Zuri
jujur aja dah jujurr
W I 2 K
cinta itu buta... anggap aja Rendra begitu Nara....
Zuri
nara denger gak tuhhh/Blush/
Zuri
oh.. ternyata Nara taunya Ren bongkar aob sendiri🤭.. kyaknyaa🤣
Zuri
berarti kamu iblis juga dong🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!