NovelToon NovelToon
Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Selingkuh / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:540.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 08 - Pulang Membawa Bukti

Ketika Ratna pulang, Bambang sudah menunggu di teras.

Ia duduk dengan wajah kusut, rokok mati di asbak, kopi tidak disentuh. Begitu Ratna turun dari ojek, ia berdiri.

"Apa yang kamu katakan pada Sari?"

Tidak ada salam. Tidak ada bertanya apakah Ratna sudah makan. Tidak ada rasa malu karena istrinya baru saja bertemu perempuan yang selama sepuluh tahun ia sembunyikan.

Yang pertama ia pikirkan tetap Sari.

Ratna membayar ojek, menunggu motor itu pergi, lalu baru menatap Bambang.

"Kamu takut dia tersinggung?"

"Jawab saja."

"Aku bertanya apakah dia siap merawatmu kalau nanti stroke, pikun, atau tidak bisa jalan."

Wajah Bambang berubah.

"Mulutmu keterlaluan."

"Kenapa? Itu pertanyaan penting. Kamu mau menua bersamanya, bahkan sudah menyiapkan makam. Merawat orang tua bukan cuma makan malam di hotel."

Bambang melirik ke arah rumah tetangga. "Masuk. Jangan bicara di luar."

"Sekarang kamu takut tetangga dengar?"

"Ratna!"

Ratna berjalan melewatinya dan masuk ke rumah.

Di ruang tengah, Dimas dan Raka sudah datang lagi. Melati juga ada, duduk di sofa dengan wajah tegang. Rupanya anak-anak berkumpul tanpa menunggu Ratna. Rizal duduk di sudut, canggung, sementara Yuni, istri Dimas, berdiri di dekat dapur membawa termos air panas. Anisa, istri Raka, belum bisa datang karena menjaga anak-anak di rumah.

Suasana seperti rapat keluarga.

Ratna memandang mereka satu per satu.

"Kalian sudah mulai?"

Melati berdiri. "Bu, kami khawatir."

Raka mendengus. "Khawatir atau takut malu?"

"Mas Raka, jangan begitu," kata Melati cepat. "Aku juga anak Ibu."

"Kalau begitu berdiri di pihak Ibu."

"Aku berdiri di pihak keluarga."

"Keluarga siapa? Bapak yang punya perempuan lain?"

"Cukup," kata Ratna.

Semua terdiam.

Bambang masuk terakhir. Ia melihat anak-anak berkumpul, wajahnya semakin keras.

"Ini apa? Pengadilan?"

Raka menjawab, "Kalau perlu, nanti ke Pengadilan Agama sungguhan."

"Raka!" Melati berseru.

Dimas mengusap wajah. "Kita bicara baik-baik."

Bambang tertawa sinis. "Baik-baik? Ibumu sudah menemui Sari, membawa masalah rumah tangga keluar. Sekarang kalian mau mengadili aku di rumahku sendiri?"

Ratna meletakkan tas di meja.

"Rumah ini bukan rumahmu sendiri."

Bambang menatapnya.

"Apa?"

"Rumah ini dibangun setelah kita menikah. Uang tanah dari orang tuaku, biaya bangunan dari hasil kerjaku dan sedikit pinjaman. Sertifikat memang atas namamu karena dulu kamu bilang urusan laki-laki lebih mudah. Tapi rumah ini harta bersama."

Dimas langsung menatap ibunya. Ia tampak baru mendengar detail itu.

Melati juga terkejut.

Bambang membentak, "Jangan ungkit-ungkit."

"Aku baru mulai mengungkit."

Raka tersenyum dingin. "Akhirnya."

Ratna membuka tas, mengeluarkan map, lalu meletakkan bukti satu per satu di meja.

Foto lama. Chat. Bukti transfer. Kuitansi makam. Fotokopi perjanjian jual beli rumah. Tangkapan layar percakapan dengan kantor pemakaman.

Yuni menutup mulut, kaget. Rizal menunduk, jelas ingin berada di tempat lain.

Melati menangis pelan. "Pak, kenapa sampai begini?"

Bambang memandang putrinya. Wajahnya melembut sedikit.

"Mel, kamu jangan ikut termakan emosi. Bapak tidak pernah meninggalkan kalian."

Raka langsung berkata, "Bapak meninggalkan Ibu setiap tahun baru."

"Aku pulang!"

"Pulang setelah selesai jadi kekasih orang."

Bambang berdiri. "Aku bisa tampar kamu."

Raka juga berdiri. "Coba."

Ratna memukul meja sekali.

Tidak keras, tetapi cukup membuat semua menoleh.

"Duduk."

Raka duduk. Bambang tidak.

Ratna menatap suaminya. "Kamu juga."

Bambang seperti ingin melawan, tetapi akhirnya duduk.

Dimas mengambil peran. "Pak, kami perlu tahu uang untuk rumah Sari dari mana."

"Uangku."

"Uang Bapak dari mana?"

"Tabunganku."

"Tabungan selama menikah adalah harta bersama kalau tidak ada perjanjian pisah harta," kata Dimas, suaranya berusaha tenang. "Ibu berhak tahu."

Bambang menatap anak sulungnya dengan marah. "Kamu sekarang mengajari bapakmu hukum?"

"Kalau Bapak tidak menyakiti Ibu, aku tidak perlu."

Melati menyela, "Mas, jangan bikin Bapak semakin emosi. Kita cari solusi."

Raka menoleh tajam. "Solusi apa menurutmu?"

Melati menangis. "Aku tidak tahu! Tapi jangan langsung cerai. Ibu sudah tua. Bapak juga. Apa tidak bisa diselesaikan tanpa menghancurkan rumah?"

Ratna menatap Melati. "Rumah ini sudah hancur saat bapakmu membeli rumah lain untuk Sari."

Melati terdiam.

Bambang mendengus. "Kamu membesar-besarkan. Rumah itu kecil. Sari tidak punya tempat tinggal layak."

Ratna bertanya, "Lalu aku punya tempat layak di hatimu?"

Bambang tidak menjawab.

Rizal yang sejak tadi diam akhirnya berkata pelan, "Pak, maaf. Tapi kalau masalahnya sudah ada bukti rumah dan makam, memang sulit dianggap biasa."

Melati menoleh pada suaminya, kaget. "Mas..."

Rizal menunduk lagi. "Aku cuma bilang."

Yuni menyahut dari dekat dapur, suaranya hati-hati. "Bu, kalau butuh tempat tinggal sementara, rumah kami sempit, tapi Ibu bisa datang."

Dimas menatap istrinya.

Ratna tersentuh, tetapi juga menangkap rasa takut di mata Dimas. Tawaran Yuni tulus, namun hidup mereka tidak mudah. Orang tua Yuni sering datang meminta uang. Anak mereka masih sekolah. Rumah kecil mereka penuh barang toko.

Raka langsung berkata, "Ibu tinggal sama aku. Anisa pasti setuju."

Melati mengusap air mata. "Aku juga anak Ibu. Jangan seolah aku tidak mau menerima Ibu."

Raka menatapnya. "Kamu tadi pagi bilang rumahmu kecil dan mertuamu sering datang."

Melati pucat. "Ibu cerita?"

Ratna menjawab, "Aku tidak perlu cerita. Kamu sendiri yang mengatakannya."

Melati menangis lebih keras. "Aku cuma takut, Bu. Aku hamil. Aku takut semua berubah."

Ratna melembut sedikit. "Aku tahu."

"Kalau Ibu cerai, nanti Lebaran bagaimana? Cucu-cucu datang ke mana? Orang-orang tanya apa? Mertuaku pasti bilang keluargaku tidak benar."

"Jadi aku harus tetap menikah agar mertuamu nyaman?"

Melati tidak bisa menjawab.

Bambang melihat celah lagi. "Ratna, dengar anakmu. Jangan egois. Kita sudah tua. Orang tua cerai itu jadi bahan tertawaan. Mau kamu dipanggil janda tua? Mau cucu-cucu diejek?"

Ratna menatapnya.

Dulu kata-kata itu mungkin efektif. Ia takut menjadi bahan omongan. Takut anak-anak malu. Takut cucu-cucu bertanya.

Sekarang, setelah melihat wajah Sari yang merasa berhak, setelah membaca chat Bambang yang menyebutnya nurut, setelah mendengar anak-anak memikirkan rumah dan Lebaran, ketakutan itu berubah bentuk.

Ia lebih takut mati sebagai perempuan yang tidak pernah membela dirinya sendiri.

"Aku belum memutuskan apa pun malam ini," kata Ratna.

Bambang menghela napas lega terlalu cepat.

Ratna melanjutkan, "Tapi mulai hari ini, kamu tidur di kamar belakang."

Bambang terperangah. "Apa?"

"Kita tidak tidur sekamar."

"Ratna, jangan kekanak-kanakan."

"Aku serius."

"Ini rumahku!"

Raka berdiri lagi. "Pak."

Ratna mengangkat tangan. "Biarkan dia bicara."

Bambang menunjuk Ratna. "Kamu pikir karena anak-anak ada, kamu bisa mempermalukan aku?"

"Aku tidak mempermalukanmu. Aku hanya tidak mau berbagi ranjang dengan laki-laki yang menyiapkan makam bersama perempuan lain."

Sunyi.

Dimas menunduk. Yuni diam. Rizal memalingkan wajah. Melati menangis tanpa suara. Raka menatap ibunya dengan mata merah.

Bambang seperti kehilangan napas.

Ratna mengambil kotak besi, lalu menyerahkannya kepada Bambang.

"Simpan foto-fotomu. Aku sudah punya salinan yang kubutuhkan."

Bambang menerima kotak itu dengan tangan kaku.

"Besok," kata Ratna, "kita bicara soal rumah Sari, uang yang kamu pakai, dan pilihanmu."

"Pilihanku?"

"Iya. Kamu pilih menyelesaikan semuanya dengan benar, atau kamu pilih terus bermain korban."

Bambang tertawa getir. "Kamu berubah."

Ratna menatapnya.

"Tidak. Aku hanya berhenti pura-pura tidak melihat."

Malam itu, Bambang benar-benar pindah ke kamar belakang.

Ketika Ratna masuk ke kamar utama sendirian, ia duduk di tepi ranjang yang terasa terlalu luas. Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, tidak ada suara dengkur Bambang di sampingnya.

Ia pikir ia akan menangis.

Ternyata tidak.

Ia hanya merasa sepi.

Dan dalam sepi itu, ada sedikit ruang untuk bernapas.

Ia mengambil sajadah dari lemari dan membentangkannya, tetapi cukup lama hanya duduk tanpa berdoa apa pun. Biasanya ia punya daftar panjang permintaan: anak sehat, cucu pintar, rezeki cukup, pasien sembuh.

Malam itu, untuk pertama kalinya, doanya pendek saja.

"Ya Allah, jangan biarkan aku takut pada hidupku sendiri."

Di luar kamar, suara Bambang membuka pintu kamar belakang terdengar pelan.

Ratna tidak bergerak.

Dulu, suara sekecil itu cukup membuatnya bangun dan bertanya apakah Bambang butuh air panas. Malam itu ia tetap duduk di atas sajadah sampai suara langkah suaminya menghilang.

Ia baru sadar, berhenti melayani juga perlu latihan.

1
ika
Bu Rini skrg di apartemen???
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
Ida Yudiawati
bagus banget ceritanya
Tismar Khadijah
untuk menjadi penguat diri
ika
Bambang ma bu Ratna udah resmi cerai kah?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ika
gagal paham dech
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ika
ntar ntar...
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
Annisa
sedih nangis bombay/Sob//Sob//Sob/
Rika Yudesni
emosi oii
emosiiii akuuuuu
Annisa
bukannya ayah nya Arman sudah meninggal?
Bernadette Ivonne
😍💪Bu Ratna bina keluarga baru penu kebahagiaan
tris tanto
bisa move on gk aku dr nopel ini
tris tanto
sari gimn ituu
tris tanto
part dimana akan direal kehidupan kita dan semoga diusia senja kita sll ingat ALLAH SWT
santi suryaatmaja
😁😁 kadang agak membingungkan jalannya cerita, meskipun begitu masih dg bahasa yg tertata.
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan
santi suryaatmaja
katanya di rmh sewa, tp bu Rini koq masih bisa dengar dn pak Mahfud jg bisa langsung keluar dr pagar 😵‍💫
Bernadette Ivonne
👍
arniya
tetangga pada kepo
santi suryaatmaja
kalimat terakhir itu semua sama persis, dn sdh 33 th,, sakit memang meskipun semua bukan soal selingkuh 😔
Anita Tanjung
luarr biasa.. memberi batasan... itu penting. terimakasih author.. ini bagus sekali
Sri Supriatin
Say setuju alur ceritany bagus 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!