Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Di luar cuaca masih hujan, Asri masih terduduk melamun---tangannya tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk warna putih bersih yang terselampir di pundaknya.
Tak lama pintu kamar kayu itu menutup perlahan.
Klik.
Asri masih terdiam, memikirkan kejadian yang menimpa dirinya.
"Aku nggak pernah berbuat jahat ama orang, kenapa Allah memberikan cobaan ini padaku," pikirnya dalam lamunannya.
Di dalam kamar tidur yang hangat itu, seolah menjadi benteng untuk melindunginya dari dunia luar yang kejam.
Bagi Asri kehangatan ruangan ini, justru terasa begitu asing----karena benteng ini sama saja tak bisa melindunginya, sentuhan pria itu masih melekat di tubuhnya.
"Ini lu minum dulu biar enakan," ucap Putri memberikan segelas teh hangat kepada sepupunya.
Asri meraih gelas itu dengan tangan gemetar, sementara wajahnya tetap melamun tanpa ekspresi, tangan yang tadi mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Kini memegang segelas teh hangat dengan gemetar, wajah terdiam tanpa ekspresi---pikirannya masih memikirkan soal sentuhan pria yang melekat di tubuhnya.
Kamar ini adalah milik Asri, dan hiasan untaian lampu tumblr dengan warna kekuningan menggantung rapi di dinding belakangnya----tepat di atas kasur.
Kamar ini terasa hangat dengan cahaya lampu temaram, di bawah cahaya lampu itu ada sebuah ranjang ukuran king size berbahan kayu jati----dan di bawah samping ranjang itu ada sebuah kasur tambahan yang bisa di tarik keluar.
Kasur tambahan yang bisa di tarik keluar itu, menjadi tempat tidur yang di tempati Putri.
Sementara Asri menempati tempat tidur atas---tempat tidur yang di siapkan agar mereka bisa tidur berdekatan, atau sekedar mengobrol bersama sebelum tidur---sampai larut malam.
Di sudut ruangan lain, ada sebuah sofa beludru dan lemari laci plastik warna abu-abu.
Di salah satu sudut kamar, sebuah meja belajar kayu yang biasanya menjadi tempat paling produktif untuk Asri.
Di atas meja itu ada beberapa buku sejarah karya peneliti terkenal, dan dua buah bingkai foto yang bersandar di atas meja.
Foto itu menampilkan sebuah bingkai Candi Borobudur, dan di sebelahnya ada gambar bingkai beberapa penari tradisional dengan pakaian adat masing-masing daerah.
Di tempat ini juga, Asri biasanya melakukan Zoom dengan perwakilan UNESCO---dan dari Universitas Cambridge mengenalkan budaya Indonesia.
Kini tempat itu, menjadi keluh kesah akan kehancuran Asri.
Pagi ini, tepat subuh yang sudah perlahan beranjak pagi.
Di meja belajar itu semua mimpi akademis itu terasa mati, semua impiannya sudah tercapai---namun kini kesuciannya yang di renggut paksa.
Rambut hitam legam Asri yang panjang masih setengah basah dan lepek, akibat guyuran hujan angin yang menimpanya.
Sesekali air mata itu, di seka oleh handuk yang ada di pundaknya.
Wajah Asri masih tampak pucat terdiam tanpa ekspresi, matanya menatap tajam ke depan dengan pandangan kosong.
Di bawah kakinya, Putri duduk bersimpuh di lantai yang dingin masih mengenakan mukena yang tadi di kenakannya saat solat subuh.
Kedua tangan Putri di katupkan erat di depan dada, bagai permohonan-----Putri mendongak dengan mata yang sembab karena ada rasa cemas pada sepupunya ini.
"As...lu kenapa? ayo coba cerita sama gua," tanya Putri dengan nada lembut, mengelus pelan kaki Asri.
Putri berusaha memelankan suaranya dengan lembut takut Asri bereaksi, jika suaranya agak keras.
Asri bahkan tak bisa bergeming sedikit pun, bahkan pandangannya tak sedikit pun di alihkan ke arah Putri.
Tangannya merasakan uap dari teh gelas hangat yang di pegangnya, di dalam kepala Asri saat ini hanya terpusat sebuah memori malam yang kelam.
Sentuhan kasar dari pria asing berkaos hijau Army itu, di sertai aroma alkohol yang memekakkan indra penciuman.
Asri juga mengingat saat sadar tubuhnya sudah terbaring dengan posisi di tindih oleh pria asing itu---Angga, bahkan selain area sensitifnya yang sakit.
Wajahnya saat sadar juga malah di tinju oleh Angga, agar kembali pingsan---Asri mengingat malam-malam yang mengerikan itu.
Setiap inci tubuhnya terasa kotor karena sudah ternoda.
"As...coba lu cerita sama gua, kok bisa lu pulang sampai subuh gini?" tanya Putri yang dari nada suaranya terdengar khawatir.
Keheningan yang mencekam, Putri menghela napas, matanya berkaca-kaca menahan rasa sesak melihat sepupunya seperti ini.
"Lu 'kan bisa nelepon gua...pasti gua jemput kok. Kenapa lu malah jalan sendirian di tengah hujan angin deres kayak tadi?" ungkap Putri dengan nada khawatir menahan emosi.
Putri tahu jika ada sesuatu yang salah pada sepupunya ini, Asri yang di kenal adalah sosok yang tangguh, mandiri dan pemikiran luas.
Bahkan jika Asri mau menginap atau mau pulang terlambat akan selalu mengabarinya, namun hari ini Asri sama sekali tak mengabarinya sama sekali sampai subuh.
Saat pulang pun, di jam subuh dengan keadaan yang sangat menghawatirkan---Asri menangis dengan tubuh yang basah kuyup karena guyuran air hujan.
Cara jalan Asri juga tertatih seperti menahan sakit, Putri berusaha mengungkap rahasia kelam yang sedang di sembunyikan oleh Asri.
Sungguh, baik Putri dan Asri berjanji untuk menjaga satu sama lain saat kedua orangtua mereka tiada.
Mendengar banyak pertanyaan dari Putri, akhirnya Asri perlahan membuka suara sembari menyesap tehnya.
Rasa bersalah yang teramat karena janjinya pada Putri agar selalu terbuka dalam hal apapun, namun rasa hawatir akan kejadian menjijikan itu membuat Putri menjauh darinya.
Akhirnya Asri membuka suara, dengan jawaban yang lirih dan siap jika Putri akan meninggalkannya dan menjauhinya.
"Gu-gua...gua di perkosa Put," jawabnya lirih.
Mendengar itu Putri langsung membulatkan mata, hatinya bagai di sambar petir---tak seperti di pikirkan Asri, malah Putri langsung menyambar tubuh Asri dengan pelukannya.
"Hiks..gua..hiks...di perkosa saat mau nelepon lu buat jemput gua...hiks," isak tangis Asri, yang menaruh gelasnya di atas meja.
Putri memeluk tubuh Asri yang setengah basah, tanpa peduli soal mukena yang di kenakannya.
"Lu kenapa nggak cerita dari tadi sih, As. Kalo lu cerita kita bisa langsung ke kantor polisi," ungkap Putri memeluk sepupunya seolah menguatkannya.
"Lu tahu nggak sih, gua khawatir ama lu. Lu kagak ngasih gua kabar semaleman...lu balik rumah keadaannya kaya gini," lanjut Putri yang juga menangis.
Putri langsung melepaskan pelukannya, lalu matanya yang berkaca-kaca dan malah menarik tangan Asri.
Tangannya lalu meraih kardigan warna krem miliknya, dan langsung memakaikannya pada Asri.
"Ayo ikut gua," ajak Putri dengan suara penuh tekad.
"Kemana?" tanya Asri lirih di sertai isak tangis.
"Kita ke kantor polisi, buat ungkap siapa yang memperkosa lu," lanjut Putri menarik Asri.
Asri memakai kardigan rajut warna krem yang di kasih Putri, sementara Putri melepas mukenanya lalu bersiap-siap.
*
*
*
*