NovelToon NovelToon
5 Tahun Pasca-Cerai

5 Tahun Pasca-Cerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Ibu Tiri
Popularitas:19.8k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Tiga tahun menjadi istri Anugrah Pratama, Cynara hanya dianggap sebagai beban. Pernikahan mereka bahkan disembunyikan karena Anugrah mengaku lajang demi mendapatkan pekerjaan. Ketika Anugrah memilih membuka hati untuk perempuan lain, Cynara menyerah dan perceraian pun terjadi.

Dua bulan kemudian, Cynara mengetahui dirinya hamil.
Lima tahun berlalu. Cynara kembali sebagai pemimpin Narendra Group, bersama putranya, Naren. Takdir mempertemukannya kembali dengan Anugrah, kini menjadi seorang manajer di perusahaan besar. Namun, bukan Anugrah yang akan mengubah hidupnya.
Ada Alvin Mahendra, CEO dingin yang diam-diam menyimpan luka kehilangan istrinya.

Pertemuan mereka membuka kembali rahasia masa lalu yang seharusnya terkubur.

#anakrahasia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Runtuhnya Kesombongan sang CEO

Cynara langsung menggeleng. “Tidak perlu. Aku bisa meminta mereka datang sendiri.”

“Aku tidak bertanya apakah kamu bisa.”

Cynara kembali menelengkan kepalanya menatap Alvin.

“Aku sendiri yang akan menjemput mereka.”

Entah kenapa, ucapan pria ini membuat perasaan Cynara sedikit aneh. Sungguh berbeda di masa Anugrah yang enggan datang ke desa kecilnya yang berada di antara lembah Bukit Barisan di Sumatera.

“Mas, aku rasa kita tak per—”

“Aku tahu pernikahan ini hanya pernikahan kedua.” Tatapan Alvin yang biasanya dingin, kini terlihat sedikit lebih hidup.

“Tapi, kita tetap bisa menghargainya karena kita tak tau ke depannya bagaimana, kecuali kamu sendiri yang memutuskan untuk patah di tengah jalan.”

Cynara membeku mendengar keseriusan pria itu. Sungguh berbeda dengan dirinya yang mungkin terlalu santai menanggapi pernikahan ini. Mungkin karena ia tak berharap banyak.

Menjadi perempuan yang pernah gagal dalam pernikahan dan menelan kekecewaan, masih membuatnya cukup menutup hati untuk benar-benar menerima orang baru. Apalagi, dalam pikirannya, pernikahan ini hanya pintu masuk untuk benar-benar menjadi orang yang bisa selalu menemani anak dari perempuan baik bernama Kania.

“Meski begitu, kita harus tetap memberikan penghormatan kepada kedua keluarga kita," tambah Alvin.

Cynara sedikit tersentak, dan akhirnya hanya bisa menghela napas tidak mampu membantah.

Ia akhirnya memberikan alamat rumah orang tuanya.

Alvin melihat alamat tersebut.

Alisnya perlahan terangkat. “Jauh.”

Cynara tersenyum kecil. “Yakin mau ke sana? Di sana tak ada signal loh?"

Alvin sedikit mengusap dagunya. Ia tampak berpikir keras karena wilayah itu tak memiliki jaringan internet. Ini pasti cukup sulit baginya yang terpaksa keluar dari kantor.

“Kamu biasanya pulang naik apa?”

“Kalau ada dana, aku naik pesawat. Tapi dari bandara kita masih harus melanjutkan perjalanan darat dan biasanya naik ojek motor trail.”

Alvin kembali melihat alamat itu. Kali ini ia menggaruk pelipisnya. “Berapa lama perjalanan ke sana?”

“Kalau cuaca cerah, untuk masuk menuju desanya, kita masih membutuhkan empat jam dari jalur utama.”

Alvin tampak menghela napas berat, dan mengangguk. “Baik.”

Cynara menatapnya. “Kamu tetap mau datang?”

“Tentu.”

.

.

Beberapa hari kemudian setelah menyelesaikan pekerjaan untuk satu minggu ke depan, Alvin benar-benar pergi menjemput orang tua Cynara. Tentu saja Cynara, Naren, dan Keanu ikut bersamanya.

Perjalanan mereka membawa mereka jauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Gedung-gedung tinggi perlahan menghilang. Jalanan semakin sepi.

Cynara memandang keluar jendela. Sudah sangat lama ia tak kembali ke kampung halamannya. Terakhir, ia ke sini saat Anugrah mengajaknya menikah.

“Masih jauh?”

“Sabar ya, kita perlu tracking dulu,” jawab Cynara.

Wajah Alvin mulai menyiratkan rasa yang bercampur aduk.. Ia melihat perkebunan di kanan dan kiri jalan.

“Orang tuamu bekerja di sini?”

“Bukan. Ini masih jalur utama. Orang tuaku masih harus kita temui dengan menyewa kendaraan double gardan, karena kita membawa anak-anak.”

Cynara terdiam sebentar. “Orang tuaku dulunya hanya buruh tani kopi. Setelah memiliki usaha kecil-kecilan, aku mulai membelikan lahan bagi mereka. Di sana harga tanah memang lebih murah. Tapi, untuk memulai menjadi petani, harganya sangat mahal karena ongkos membuat semuanya menjadi mahal."

Alvin menatap Cynara. Ia baru tau, ternyata kehidupan wanita sederhana ini, tidak sesederhana penampilannya.

Alvin tidak mengatakan apa-apa. Dan tidak hanya itu, ia mulai memahami sesuatu. Ia mulai memahami mengapa dahulu keluarga Anugrah begitu mudah merendahkan Cynara.

Bukan karena Cynara tidak mampu. Bukan karena Cynara tidak berpendidikan. Melainkan karena keluarganya berasal dari kehidupan yang sederhana.

Dan bagi keluarga Anugrah, kesederhanaan itu dianggap sebagai kekurangan.

Akhirnya mereka menyewa mobil tangguh yang mampu membawa mereka memasuki desa kecil yang terisolir di antara lembah bukit barisan. Alvin memutuskan untuk membawanya sendiri.

"Mas yakin tidak membutuhkan supir yang terbiasa menghadapi jalanan ekstreem?"

"Bagaimana kita tahu kalau kita tak mencobanya sendiri?"

.

.

Alvin menatap jalan di hadapan mereka. Awalnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Aspal hitam masih membentang cukup mulus, meskipun semakin lama jalan terasa semakin sempit. Di kanan dan kiri, pepohonan tumbuh rapat. Sesekali mereka berpapasan dengan sepeda motor atau kendaraan pengangkut hasil perkebunan.

Namun, beberapa kilometer kemudian, jalan mulai menanjak. Tanjakannya cukup curam, tetapi permukaannya masih berupa cor beton.

Alvin mengurangi kecepatan. Mesin mobil meraung pelan ketika kendaraan mulai mendaki.

Cynara yang duduk di sampingnya hanya melirik sebentar. “Setelah ini jalannya mulai berubah.”

Alvin mengangkat sebelah alis. “Berubah bagaimana?”

“Ya... lihat saja nanti.”

Jawaban itu justru membuat Alvin semakin penasaran. Beberapa menit kemudian, cor beton berakhir. Di depan mereka terbentang jalan yang permukaannya dipenuhi batu-batu kecil.

Jalan koral.

Alvin memperhatikan sebentar, lalu kembali menginjak pedal gas. “Apa jalannya akan seperti ini terus?”

“Tidak.”

“Bagus.” Alvin tersenyum tipis. “Ah, gampang.”

Cynara menoleh. Tatapannya jatuh pada wajah pria yang terlihat begitu percaya diri. “Kamu yakin?”

Alvin meliriknya. “Mobil ini dibuat untuk medan seperti ini.”

Cynara menahan senyum. “Kalau begitu, aku tidak perlu khawatir kan?”

Alvin hanya fokus pada jalan, ia sendiri tak tau harus yakin atau tidak. Mobil terus bergerak melewati jalan koral. Sesekali ban menghantam batu besar yang membuat tubuh mereka sedikit berguncang.

Keanu dan Naren di kursi belakang justru terlihat senang.

“Wooowwww!”

Naren menempelkan wajahnya ke kaca. “Jalannya bunyi!”

Keanu ikut melihat. “Kenapa batunya banyak sekali?”

Cynara tersenyum. “Karena ini jalan menuju desa.”

Namun, senyum di wajah Cynara perlahan menghilang ketika ia melihat sesuatu di depan. Jalan koral itu telah berakhir.

Alvin juga menyadarinya. Di hadapan mereka bukan lagi batu. Melainkan jalan tanah. Tanah merah.

Dan karena hujan deras mengguyur wilayah itu semalam, permukaannya berubah menjadi kubangan lumpur.

Beberapa bagian bahkan terlihat seperti aliran air kecil.

Alvin mengurangi kecepatan. “Ini yang kamu maksud tadi?”

Cynara mengangguk. “Setelah ini, kita masuk jalan tanah.”

Alvin menatap jalan itu beberapa detik. Kemudian melirik Cynara. “Masih bisa dilewati?”

“Kan sejak awal aku bilang tak usah.”

Alvin mendengus kecil. “Mari kita coba.”

Ia kembali memegang kemudi dengan kedua tangan. “Aku bisa.”

Mobil mulai memasuki jalan tanah. Baru beberapa meter... ban depan langsung sedikit bergeser.

Alvin mengerutkan kening. Ia mengendalikan kemudi, kemudian mencoba mempertahankan laju kendaraan.

“Licin,” gumamnya.

Cynara menahan tawa. “Bukannya tadi bilang gampang?”

Alvin meliriknya sekilas. “Masih gampang.”

Mobil bergerak lagi. Namun jalan di depan ternyata tidak rata. Ada bagian yang menurun, kemudian langsung menanjak. Ada kubangan di sisi kiri dan kanan. Beberapa bagian jalan bahkan miring karena tanahnya tergerus air hujan.

Dan di tengah semua itu... terdapat beberapa ekor kerbau. Hewan-hewan besar itu sedang berkubang santai di tengah lumpur.

Keanu langsung membulatkan mata. “Itu apa?”

Naren ikut berdiri sedikit dari tempat duduknya. “Besal cekali!”

Keanu menunjuk ke luar jendela. “Itu sapi?”

Cynara tertawa. “Bukan. Itu kerbau.”

“Kerbau?”

“Iya.”

Naren menempelkan telapak tangannya ke kaca. “Kenapa dia mandi di ail kotol?”

Keanu ikut penasaran. “Dia tidak punya kamar mandi?”

Cynara tidak mampu menahan tawa. “Kerbau memang suka berkubang di lumpur.”

Kedua anak itu terus memandangi kerbau-kerbau tersebut dengan mata penuh kekaguman.

“Wooowww!”

“Dia kotor!”

“Lihat tanduknya!”

Suara mereka bersahutan. Namun, kegembiraan itu mendadak berubah ketika mobil melewati bagian jalan yang miring.

Tubuh kedua anak itu ikut terdorong ke samping. Cynara refleks langsung memutar tubuh.

“Naren!” Tangannya segera meraih putranya. Keanu juga langsung ia tarik mendekat.

“Kalian berdua pegangan sama Mama ya.”

Cynara memeluk keduanya sekaligus, memastikan tubuh kecil mereka tidak terbentur ketika mobil kembali berguncang.

Keanu tertawa kecil karena merasa seperti sedang menaiki wahana di taman bermain. “Seru!”

“Jangan berdiri,” tegur Cynara.

Naren langsung duduk. “Iya, Mama.”

Di depan, Alvin semakin serius. Kedua tangannya mencengkeram kemudi. Matanya terus berpindah dari jalan ke kaca spion.

Mobil perlahan menanjak. Sedikit. Bergerak.

Kemudian...

WUUUUNG!

Mesin meraung. Tetapi mobil tidak maju. Alvin mengerutkan dahi. Ia mengurangi gas. Kemudian mencoba lagi.

WUUUUNG!

Kali ini roda belakang berputar. Namun kendaraan tetap berada di tempat.

Alvin terdiam. Cynara menoleh.

Mata mereka bertemu.

“Mas?”

“Diam sebentar.” Alvin mencoba mengendalikan kendaraan.

Sedikit mundur. Kemudian maju lagi. Roda kembali berputar. Tanah merah langsung terciprat ke belakang. Tetapi mobil tidak bergerak.

Keanu melihat ke luar jendela. “Papa...”

“Hm?”

“Mobilnya kenapa?”

Alvin menarik napas. “Tidak apa-apa.”

Naren ikut melihat. “Om, mobilnya lari di tempat.”

Cynara langsung menutup mulut. Bahu perempuan itu bergetar.

Alvin meliriknya. “Kamu tertawa?”

“Tidak.”

“Kamu jelas tertawa.”

Cynara akhirnya tidak mampu menahannya. “Hahaha!”

Alvin mengembuskan napas panjang. “Ini hanya karena tanahnya terlalu licin.”

“Katanya mobil ini dibuat untuk medan seperti ini?”

Alvin terdiam.

Cynara semakin geli. “Katanya gampang?”

Alvin menatap jalan di depan dengan wajah semakin serius. “Cynara.”

“Iya?”

“Jangan mengganggu konsentrasiku.”

Cynara tertawa lagi.

Sementara di kursi belakang, kedua bocah itu ikut tertawa meskipun tidak sepenuhnya memahami masalah yang sedang dihadapi ayah mereka.

Alvin kembali mencoba. Mesin meraung. Roda berputar. Lumpur kembali terciprat. Tetapi kendaraan masih bergeming.

Alvin akhirnya menyandarkan tubuhnya sebentar. Tatapannya jatuh pada jalan tanah merah yang licin di hadapannya. Selama ini ia terbiasa mengemudikan mobil melewati jalan beraspal, jalan tol, bahkan perjalanan panjang antarkota.

Tetapi ternyata... jalan menuju rumah orang tua Cynara jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Cynara meliriknya sambil tersenyum. “Masih yakin tidak perlu sopir?”

Alvin diam beberapa detik. Kemudian menjawab dengan wajah datar. “Masih.”

“Serius?”

“Serius.” Ia kembali menggenggam kemudi. “Tapi mungkin setelah ini aku akan mempertimbangkan untuk berteman baik dengan warga desa.”

Cynara langsung tertawa. “Kenapa?”

Alvin menunjuk jalan berlumpur di depan mereka. “Karena sepertinya hanya mereka yang tahu bagaimana caranya melewati jalan seperti ini.”

Dan tepat saat itu, dari kejauhan terdengar suara mesin kendaraan lain mendekat.

Cynara menoleh. Senyumnya melebar. “Oh... sepertinya pertolongan datang.”

Alvin ikut melihat ke arah depan. Sebuah kendaraan tua dengan ban besar perlahan muncul dari balik tikungan.

Pengemudinya bahkan tampak santai melewati kubangan yang baru saja membuat mobil Alvin menyerah.

Alvin menatap kendaraan itu. Kemudian menatap mobilnya sendiri.

"Kok bisa?"

*bersambung*

1
Esther
Gadiza sdh mengerti kode2 dari Cynara dan pura2 tidak mengerti ada hubungan apa antara Gadiza dan Cynara.
Seru nih apalagi kalau mereka bertiga kompak kerjasama, bikin Anugrah tidak berkutik😂
Esther
Cepat sembuh thor.
terimakasih sudah update mskipun kondisi tidak fit
Sri Widiyarti
lanjut kak..🥰
Safira Aurora
semangat ya thor
Aku Rajin Membaca
yaaaahh cuman 1
sunaryati jarum
Semoga kontrak segera keluar, semangat
Esther
Semoga kontraknya segera keluar, ceritanya bagus.
SoVay: terima kasih kakakku, nanti kalau hari ini kontraknya udah keluar, aku langsung up ❤️
total 1 replies
yulithong
mulai dh pf bikin penulis stuck n reader resah...
yulithong: semangatttt kal...💪💪💪💪
total 2 replies
Aidil Kenzie Zie
apa tentang nafkah batin yang tertunda 🤭🤭🤭🤭
MomyWa
😭😭😭😭😭 mewek loh, sakit bgt jadi org yang diikat, tp malah disembunyika. dalam keadaan terikat
Safira Aurora
kamu akan kaget mngetahui status lo gadza sang pncuri suami org
MomyWa
kok malah nyalahin cynara? yg pelakor itu elooo.. terus yg ngajak nikah itu kkk lo 🤣
Safira Aurora
gimana cengonya anugrah nantinya
MomyWa
ada 3 org yg akan mainin anugrah 🤭
arielskys
aku malah nangis saat menjadi cynara 😭😭😭 harusnya membiayai keluarga di kampung, ternyata malah dpkasa berhenti
Safira Aurora
😭😭😭😭 jgn bilang cnra jtuh cnta dluan
MomyWa
oke, aku dngeeer
arielskys
kena Lo anugrah... tu mkanya
arielskys
mau ngomongin apa nihhh
yulithong
hemmm...poor gadiza🥺...lanjut kak...👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!