Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Hari Pertama Di Lantai Tertinggi
Kesunyian lantai paling atas gedung Vanguard Corp terasa sangat menekan, berbanding terbalik dengan sinyal data yang terus berbisik di sudut penglihatanku.
Karpet tebal berwarna abu-abu gelap meredam setiap langkah kakiku secara sempurna. Dinding berlapis marmer hitam memantulkan bayangan samar diriku yang kini mengenakan setelan kerja formal pinjaman dari Halifa. Pakaian ini sedikit kebesaran di bagian bahu, tetapi jauh lebih baik daripada kemeja basah kuyupku kemarin.
Pintu lift di belakangku tertutup rapat, memutus aksesku dari dunia luar. Lantai lima puluh lima ini adalah jantung pertahanan Vanguard Corp. Pusat dari segala keputusan bernilai triliunan rupiah.
Seorang pria muda berkacamata dengan kemeja rapi melangkah menghampiriku dari arah meja bundar di tengah ruangan. Senyumnya lebar dan ramah, sangat kontras dengan aura kaku tempat ini.
[Memindai Subjek: Luis. Posisi: Asisten Pribadi CEO. Status Emosi: Santai, Loyalitas Tinggi, Ramah. Tingkat Ancaman: Rendah.]
"Tera, benar?" sapa pria itu seraya mengulurkan tangan. "Aku Luis. Asisten pribadi Pak Sakti untuk urusan jadwal dan korespondensi eksternal. Selamat datang di pusat kendali Vanguard."
Aku menyambut jabatan tangannya dengan anggukan mantap. "Terima kasih, Luis."
Seorang pria lain berdiri tak jauh dari meja Luis. Tubuhnya tegap seperti balok baja, mengenakan setelan gelap tanpa ekspresi sedikit pun di wajahnya. Mata pria itu menatap tajam ke arahku, seolah sedang menghitung setiap inci kelemahan fisikku.
[Memindai Subjek: Khan. Posisi: Kepala Keamanan dan Analis Data Senior. Status Emosi: Waspada, Observatif, Tertutup. Tingkat Ancaman: Sangat Tinggi.]
"Itu Khan," Luis menunjuk pria tegap tersebut tanpa menghilangkan senyumnya. "Dia tidak banyak bicara, tapi dia mengawasi semua pergerakan data rahasia dan keamanan fisik di seluruh gedung ini. Jangan berani-berani memalsukan dokumen di dekatnya."
Khan hanya memberikan anggukan kaku yang sangat singkat ke arahku sebelum kembali menunduk, mengunci fokusnya pada layar tablet di tangannya.
Luis membimbingku menyusuri koridor pendek menuju sebuah meja kerja berbahan kaca tebal. Posisinya sangat strategis. Meja ini berhadapan langsung dengan pintu ganda ruang kerja Sakti. Setiap orang yang ingin menemui CEO Vanguard Corp harus melewati mejaku terlebih dahulu.
"Ini mejamu. Akses sistem dasar sudah kubuka," jelas Luis seraya mengetuk permukaan layar monitor tipis di atas meja. "Pak Sakti sedang ada rapat direksi darurat di lantai bawah. Beliau akan naik sekitar dua jam lagi. Pastikan kau siap saat beliau tiba."
Aku duduk dan menyalakan layar monitor. Aku siap memulai pekerjaanku, memastikan posisiku aman di perusahaan ini demi menopang seluruh biaya pengobatan Ibu.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Suara ketukan hak sepatu tinggi memecah keheningan koridor lantai lima puluh lima.
Seorang wanita berpenampilan sangat modis melangkah mendekati mejaku. Setelan blazernya bermerek mahal, melekat pas di tubuh rampingnya. Lipstik merah menyala menghiasi bibirnya yang melengkung membentuk senyum sinis. Matanya memindai penampilanku dari atas ke bawah dengan tatapan penuh penilaian yang merendahkan.
[Memindai Subjek: Silamoy. Posisi: Analis Eksekutif. Status Emosi: Arogan, Iri Hati, Mengancam. Analisis Niat: Menjatuhkan Reputasi Inang.]
Silamoy menjatuhkan tiga tumpuk map tebal berisi ratusan lembar kertas ke atas mejaku. Bunyi berdebam keras menggema, membuat layar monitorku sedikit bergetar.
"Anak baru," sapa Silamoy dengan nada suara melengking yang dibuat-buat. "Pak Sakti sangat benci melihat stafnya duduk diam menerima gaji buta. Kerjakan ini."
Aku menatap tumpukan kertas itu, lalu menatap lurus ke arah matanya tanpa mengubah postur dudukku.
"Ini adalah laporan evaluasi proyek ekspansi kuartal lalu. Data mentahnya sangat berantakan," lanjut Silamoy, melipat tangan di depan dada dengan penuh kebanggaan. "Aku butuh rangkuman analisis, identifikasi celah investasi, dan perbaikan kalkulasinya. Seluruhnya harus selesai sebelum Pak Sakti tiba."
Pak Sakti akan tiba kurang dari dua jam lagi.
Aku melihat ketebalan dokumen tersebut. Itu adalah beban kerja yang mustahil diselesaikan oleh tiga orang analis senior dalam waktu satu minggu penuh. Membaca ribuan sel angka tanpa format yang jelas membutuhkan ketelitian tingkat tinggi, apalagi untuk menyusun rangkuman perbaikan kalkulasi dalam waktu hitungan jam.
Silamoy sengaja memberiku tugas bunuh diri di hari pertamaku. Wanita ini ingin membuktikan kepada jajaran direksi bahwa keputusan Sakti merekrutku secara mendadak adalah sebuah kesalahan fatal yang memalukan.
"Baik," jawabku tenang. Aku menarik tiga tumpukan map tebal itu mendekat ke arah keyboard.
Senyum meremehkan di wajah Silamoy semakin melebar, memperlihatkan deretan giginya. "Jangan menangis kalau kau gagal menyelesaikan setengahnya, Anak Baru. Posisi asisten khusus ini terlalu berat untuk ukuran otak staf administrasi rendahan sepertimu. Pintu keluar lift selalu terbuka lebar untukmu."
Wanita itu memutar tubuhnya dengan gaya angkuh dan melangkah pergi kembali ke ruangannya.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Aku membuka map pertama. Lembaran kertas di dalamnya dipenuhi barisan tabel rumit, grafik fluktuasi pasar yang saling tumpang tindih, dan ribuan sel angka yang tidak terstruktur sama sekali.
Ini bukan sekadar data mentah biasa. Seseorang di departemen Silamoy dengan sengaja mengacak beberapa variabel penting untuk membuat laporan ini terlihat semakin rumit. Angka-angka ini dirancang sebagai jebakan untuk menjatuhkan analis mana pun yang mencoba memperbaikinya secara manual.
Sayangnya bagi Silamoy, aku tidak bekerja secara manual.
Aku menyandarkan punggungku ke kursi. Mataku memfokus pada tumpukan kertas.
[Mengaktifkan Mode Pemrosesan Paralel. Titik Fokus: Data Ekspansi Kuartal Vanguard Corp.]
Hamparan teks hijau menyala seketika menutupi seluruh pandanganku. Lapisan antarmuka digital A.U.R.A membingkai setiap lembar dokumen di atas meja. Kecepatan baca mataku meningkat drastis hingga ribuan kali lipat.
Aku membalik setiap halaman dokumen dengan tangan kiriku dalam waktu kurang dari dua detik per lembar.
[Memindai Variabel Data. Mencari Anomali. Mengkalibrasi Ulang Algoritma Kalkulasi Finansial.]
Otakku bekerja dengan ritme yang brutal. Sensasi hangat menjalar di kedua pelipisku saat sistem mencocokkan setiap baris angka pengeluaran dengan rasio probabilitas keuntungan perusahaan.
Jemariku mulai menari di atas papan ketik dengan kecepatan luar biasa. Suara ketukan tombol terdengar seperti rentetan senapan mesin yang tak memiliki jeda. Layar monitorku dipenuhi puluhan baris kode dan tabel baru yang tersusun secara rapi dalam hitungan menit.
[Anomali Terdeteksi: Penggelembungan Dana Estimasi Pembangunan di Sektor Timur Sebesar Dua Belas Persen.]
Sistem menandai angka tersebut dengan blok warna merah menyala. Aku mengetikkan koreksi finansial tersebut langsung ke dalam draf laporanku tanpa ragu.
[Kesalahan Logika Terdeteksi: Silang Data Antara Laporan Pemasaran dan Logistik Tidak Sinkron pada Bulan Ketiga.]
Aku membuat tabel perbandingan baru, merangkum seluruh kekacauan tersebut menjadi sebuah infografis yang tajam, sangat akurat, dan mudah dipahami oleh pembaca setingkat CEO.
Tidak ada satu pun celah kecil yang terlewat oleh ketajaman A.U.R.A.
Waktu berlalu dengan sangat cepat. Mesin pencetak di sudut mejaku mulai berdengung nyaring, menarik kertas kosong dan memuntahkan lembaran laporan akhir yang sempurna.
Aku melirik jam digital di sudut bawah layar monitor.
Delapan belas menit.
Aku menyelesaikan seluruh tugas pembersihan dan analisis data berskala raksasa itu hanya dalam waktu delapan belas menit.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Aku menjepret rapi hasil cetakan laporanku dan memasukkannya ke dalam sebuah map hitam berbahan kulit premium.
Langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah koridor lift. Pintu ganda terbuka lebar. Sakti melangkah masuk dengan postur tegapnya yang sangat mendominasi ruangan. Khan berjalan cepat tepat di belakangnya, sementara Luis berusaha mengimbangi langkah panjang atasannya.
Kehadiran Sakti membuat seluruh aktivitas di lantai lima puluh lima itu terhenti seketika.
Silamoy muncul dari balik koridor samping, berjalan tergesa-gesa menghampiri mejaku dengan raut wajah penuh antisipasi. Wanita itu bermaksud merendahkanku tepat di depan mata Sakti. Ia yakin aku masih berkutat membolak-balik kertas mentah dengan kepanikan luar biasa.
Sakti menghentikan langkahnya tepat di depan meja kerjaku. Tatapannya yang tersembunyi di balik lensa kacamata perak langsung mengunci keberadaanku. Wajahnya keras, menuntut hasil dari hari pertamaku bekerja.
"Di mana laporan ekspansi kuartal lalu?" Suara bariton Sakti memecah ketegangan, terdengar sangat dingin dan penuh otoritas mutlak.
Silamoy melangkah maju mendahuluiku. "Saya sudah memberikan seluruh data mentahnya kepada asisten baru Anda, Pak Sakti. Namun sepertinya, volume data tersebut terlalu rumit untuk dipahami olehnya dalam waktu singkat."
Silamoy tersenyum meremehkan ke arahku. "Tera belum menghasilkan satu baris laporan pun."
Aku berdiri dari kursiku, menatap lurus ke arah Sakti dengan ketenangan absolut. Aku mengabaikan sepenuhnya ocehan Silamoy.
Aku mengambil map hitam dari mejaku dan mengulurkannya tepat di atas meja kerja Sakti.
"Laporannya sudah selesai, Pak," ucapku lugas.
Pergerakan Silamoy membeku. Ia menatap map hitam itu dengan dahi berkerut tajam.
Sakti tidak mengambil map tersebut. Ia memberikan isyarat melalui gerakan dagunya. Khan melangkah maju menggantikan posisi Sakti. Tangan kekar Kepala Keamanan itu membuka map hitamku dan mulai membaca lembar demi lembar laporan dengan mata yang memicing kritis.
Keheningan mencengkeram seluruh ruangan. Aku bisa mendengar suara detak jantung Silamoy yang berpacu kencang dalam frekuensi pendengaran sistemku.
Alis kaku Khan terangkat naik perlahan. Ia menutup map itu dan menatap Sakti dengan raut wajah yang jarang sekali menunjukkan kekaguman.
"Ini laporan analisis ekspansi yang sangat presisi, Pak," lapor Khan tanpa ragu. "Koreksi anomali keuangannya dicantumkan dengan detail yang luar biasa. Visualisasi datanya jauh melampaui standar draf tim eksekutif biasa. Semuanya diselesaikan dengan sangat sempurna."
Sakti memindahkan tatapannya ke arah Silamoy. Aura membunuh memancar kuat dari pria berjas gelap itu. "Kau bilang dia tidak menghasilkan apa-apa?"
Silamoy menelan ludah dengan susah payah. Mulutnya terbuka lebar, namun tidak ada satu patah kata pun yang berhasil keluar dari tenggorokannya. Wajah wanita itu sepucat kertas putih.
"Saya juga menemukan fakta menarik dari data mentah yang diserahkan kepada saya," tambahku, memotong kebisuan memalukan Silamoy.
Aku menatap Silamoy tajam, menggunakan temuan akurat yang kuterima dari A.U.R.A beberapa menit lalu.
"Kesalahan pada data mentah tersebut bukan sekadar kelalaian hitung. Ada manipulasi penggelembungan dana estimasi di Sektor Timur sebesar dua belas persen yang sengaja dibiarkan lolos oleh tim analis sebelumnya."
Aku membongkar kesalahan fatal itu dengan volume suara yang cukup lantang untuk didengar oleh seluruh staf yang ada di koridor.
Silamoy melotot tak percaya saat aku menyerahkan berkas laporan yang jauh lebih presisi dibandingkan miliknya tepat di depan meja kerja Sakti.
TERA itu ......
T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?