Turnamen Peringkat Langit baru saja dimulai. Di hadapan para penguasa Alam Tiran, Arka Yudhistira melangkah ke arena bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai naga yang tengah terjaga.
Di antara bayang-bayang Ratna, Citra, dan kesetiaan Larasati, Arka siap mengguncang tatanan dunia. Panggung telah siap, pedang telah terhunus, dan sejarah baru akan segera ditulis.
Inilah awal dari...
LEGENDA ARKA YUDHISTIRA
Biarkan dunia bersujud pada sang naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pimpinan penjaga gerbang, Yanto, menarik napas panjang. “Dua hal yang pasti. Pertama, prestasi Kerajaan kali ini akan jadi yang paling buncit. Kedua, pada penilaian kekuatan besok pagi, mereka akan jadi bahan tertawaan seantero negeri. Padahal dulu leluhur kita dan leluhur Kerajaan adalah saudara angkat. Sungguh disayangkan melihat mereka merosot sejauh ini.”
Arka dan rombongannya berjalan menyusuri jalan pegunungan yang megah. Meski kompleks perguruan masih jauh, aura tajam yang memancar sudah terasa menusuk kulit.
“Memang pantas disebut Perguruan Pedang Surgawi. Suasananya seolah ada ribuan pedang tak kasat mata yang menari di sekeliling kita,” gumam Arka kagum.
“Waaah… Paman Hadi saja belum tentu pernah menginjakkan kaki di sini. Ini seperti mimpi!” Banu terus membelalak, mulutnya menganga takjub melihat pemandangan kiri-kanan.
Larasati tersenyum melihat semangat Banu, lalu berbisik lembut kepada Arka, “Adik Arka, tempat ini adalah tanah suci nomor satu di negeri kita. Penjaga gerbang tadi saja sudah di Alam Bumi. Itu tingkat instruktur di tempat lain, tapi di sini cuma jadi penjaga. Fondasi mereka sangat menakutkan.”
“Kak Laras, aku mengerti. Jangan khawatir,” Arka mengangguk tipis. “Selama mereka tidak menyentuh batas dasarku, aku akan menahan diri.”
Larasati tahu maksud Arka. Arka bukan tipe orang yang mau mengalah jika diprovokasi. Tapi di tempat sehebat ini, menyinggung tuan rumah bisa berakibat fatal. Arka tersenyum menenangkan, meski dalam hatinya ia sendiri yang akan menentukan di mana letak "batas dasar" itu.
Pada saat yang sama, rombongan lima wanita dari Padepokan Awan Beku tiba di gerbang utama kompleks perguruan.
“Kak, kenapa kali ini kau bersikeras datang sendiri ke turnamen ini?” tanya Dewi penasaran. “Padahal kau sudah lebih dari sepuluh tahun tidak pernah meninggalkan perguruan.”
Mata Citra tampak sebening kristal tanpa riak. Suaranya lembut namun menyimpan dingin yang menusuk tulang. “Aku hanya ingin melihat perkembangan generasi muda saat ini.”
Dewi menggeleng. “Kak, aku yang paling mengenalmu. Alasan itu mungkin mempan bagi orang lain, tapi tidak bagiku. Sejak kau kembali dari perjalanan rahasiamu bulan lalu, hatimu tidak tenang. Kau tiba-tiba ingin ke sini… pasti ada alasannya.”
“Cukup. Jangan tanyakan hal yang tidak perlu,” potong Citra dingin. Nada bicaranya membuat tiga murid di belakang, termasuk Ratna, gemetar ketakutan.
Dewi terdiam. Sebelum masuk, ia berpaling pada Ratna yang bercadar. “Ratna, pakai kalung ini. Jangan dilepas sampai saat terakhir.”
“Baik, Guru,” sahut Ratna seraya melingkarkan kalung kristal beku itu di lehernya yang seputih salju.
Luhur Pangestu, Ketua Perguruan Pedang Surgawi, menyambut tamu dengan keanggunan seorang ahli Alam Tiran. Meski sudah kepala lima, penampilannya masih seperti pria tiga puluhan. Di sampingnya berdiri istrinya, Ningsih Pangestu, ibu dari Yoga dan Yogi.
Begitu rombongan Padepokan Awan Beku mendekat, jantung Luhur berdegup kencang. Meski wanita itu bercadar, ia mengenali mata itu dalam sekejap. Mata yang menghantuinya selama tiga puluh satu tahun.
“Selamat datang, para peri dari Padepokan Awan Beku,” sapa Luhur, berusaha keras menjaga suaranya tetap stabil.
Istrinya, Ningsih, menyadari perubahan sikap suaminya. Ia menatap Citra dengan senyum penuh makna. “Jadi ini 'Peri Es' yang melegenda itu? Nama besar kecantikan nomor satu Kerajaan Surya Kencana. Bolehkah aku meminta Peri melepas cadarnya agar keinginanku melihat kecantikan itu terpenuhi?”
Citra hanya diam, matanya menatap lurus ke depan dengan dingin, seolah menganggap Ningsih tidak ada. Suasana mendadak menjadi tegang.
Luhur segera menengahi dengan tawa canggung. “Istriku, jangan terburu-buru. Tamu kita bahkan belum masuk.”
“Tentu saja,” sahut Ningsih dengan nada tajam yang disembunyikan. “Silakan masuk, para peri.”
Setelah rombongan wanita itu masuk, Ningsih langsung mencibir suaminya. “Luhur, cintamu ternyata sangat awet. Kita sudah menikah dua puluh tahun, tapi melihat bayangannya saja kau langsung melamun.”
“Istriku, kau salah paham,” Luhur mencoba merayu sambil menggenggam tangan istrinya. “Itu hanya kenangan masa muda yang bodoh. Cintaku padamu tidak tertandingi.”
Ningsih tersenyum, awan gelap di wajahnya hilang. Namun ia tidak tahu, di dalam hati Luhur, sebuah teriakan bergema berkali-kali:
Dia benar-benar datang… Akhirnya, aku bisa melihatnya lagi!
Tak lama setelah rombongan dari Padepokan Awan Beku memasuki kompleks, empat orang dari Perguruan Pusat Surya Kencana menyusul masuk tanpa sempat berpapasan dengan mereka. Begitu tiba, seorang pelayan segera mengarahkan mereka menuju paviliun penginapan. Standar hunian sementara itu benar-benar jauh melampaui bayangan Arka dan Banu.
Tempat itu bukanlah sekadar kamar tamu biasa, melainkan sebuah paviliun pribadi yang asri—bahkan lebih tepat disebut vila kecil. Di dalamnya terdapat delapan kamar terpisah yang mengelilingi sebuah taman kecil dengan pepohonan rindang. Sebuah kolam ikan memantulkan cahaya rembulan di sudut halaman, bersanding dengan rak senjata yang berisi belasan jenis pusaka berbeda.
“Wah! Ini gila... Awalnya kupira kita harus berdesakan satu kamar berdua. Tak kusangka tempatnya seluas dan semewah ini!” seru Banu berkali-kali, matanya berbinar menatap sekeliling.
“Memang pantas menyandang nama Perguruan Pedang Surgawi. Bahkan dalam menjamu tamu saja, tak ada perguruan lain yang bisa menandingi kemewahan ini,” ujar Arka dengan nada tak kalah takjub.
Satya tertawa ringan melihat tingkah mereka. “Jumlah tim peserta Turnamen Peringkat Langit kali ini lebih dari lima ratus, dan setiap tim mendapat paviliun seperti ini. Perguruan ini sangat luas; jangankan lima ratus, seribu tim pun masih bisa mereka tampung dengan layak.”
“Para tamu terhormat, silakan memilih kamar masing-masing. Saat malam tiba, pelayan akan mengantar makanan langsung ke sini. Untuk menjaga ketenangan sebelum turnamen, tidak diadakan jamuan besar di aula utama. Mohon dimaklumi,” ucap seorang murid perempuan Perguruan Pedang Surgawi yang mengantar mereka dengan sikap sangat santun.
Dengan delapan kamar untuk empat orang, mereka bebas memilih. Satya mengambil kamar di sisi kanan, Banu di tengah, sementara Arka memilih kamar di sisi kiri yang berhadapan langsung dengan kamar Larasati. Meski hanya kamar tamu, perabot di dalamnya sangat elegan, jauh lebih mewah daripada asrama murid inti di Ibu Kota.
Karena masing-masing memiliki cincin penyimpanan, tak ada barang bawaan yang perlu dibongkar. Satya Wibowo kemudian berkata, “Ini pertama kalinya kalian berkunjung ke sini. Mumpung masih siang, bagaimana kalau kalian jalan-jalan? Sayang sekali kalau tidak melihat kemegahan perguruan nomor satu ini.”
“Setuju!” Arka dan Banu menjawab serempak.
“Aku ikut juga,” sahut Larasati cepat. “Tiga tahun lalu aku pernah ke sini dan masih ingat beberapa tempat menarik, terutama Teras Ribuan Pedang. Aku bisa jadi pemandu kalian. Pak Satya, Anda tidak ingin ikut?”