Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.
Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Wanita dari Masa Lalu
Sudah dua minggu sejak makan malam keluarga Dimitri.
Dan sejak malam itu, Luna mulai melihat sisi lain dari Alex.
Pria itu memang masih dingin.
Masih irit bicara.
Masih sering membuat Luna kesal karena jawabannya yang pendek-pendek.
Tapi setidaknya sekarang Luna tahu satu hal.
Alex tidak membiarkan siapa pun merendahkannya.
Bahkan keluarganya sendiri.
Dan entah kenapa, setiap kali mengingat kejadian malam itu, sudut bibir Luna selalu terangkat tanpa sadar.
---
Pagi itu Luna sedang membantu merapikan rumah kaca milik mendiang ibu Alex.
Ia baru saja selesai menyiram bunga mawar ketika suara mobil terdengar dari halaman depan.
Karena penasaran, Luna berjalan keluar.
Sebuah mobil sport putih berhenti tepat di depan rumah.
Pintu mobil terbuka.
Seorang wanita turun.
Cantik.
Sangat cantik.
Rambut panjang bergelombang.
Tubuh tinggi semampai.
Dan wajah yang membuat siapa pun akan menoleh untuk melihatnya dua kali.
Luna mengernyit.
Ia belum pernah melihat wanita itu sebelumnya.
Namun yang membuatnya semakin bingung adalah reaksi para pelayan.
Mereka terlihat terkejut.
Bahkan sedikit gugup.
Wanita itu melepas kacamata hitamnya.
Lalu tersenyum.
"Aku ingin bertemu Alex."
Jantung Luna tiba-tiba merasa tidak nyaman.
---
Di ruang kerja lantai dua.
Alex sedang fokus membaca laporan keuangan ketika pintunya diketuk.
"Masuk."
Salah satu pelayan masuk.
"Tuan muda."
"Ada apa?"
"Ada tamu."
"Siapa?"
Pelayan itu tampak ragu.
Lalu menjawab pelan.
"Nona Michelle."
Tangan Alex langsung berhenti bergerak.
Ruangan mendadak sunyi.
Beberapa detik berlalu.
Namun Alex tidak mengatakan apa pun.
Sampai akhirnya ia berdiri.
"Aku akan menemuinya."
---
Luna yang sedang berada di ruang tamu hampir menjatuhkan cangkir teh ketika melihat Alex turun dari tangga.
Dan yang lebih mengejutkan lagi...
Ekspresi Alex berubah.
Bukan karena senang.
Bukan juga karena marah.
Melainkan sesuatu yang belum pernah Luna lihat sebelumnya.
Tegang.
Alex berjalan menuju wanita itu.
"Kenapa kamu datang?"
Wanita itu tersenyum.
Masih sama cantiknya seperti yang diingat Alex.
"Halo juga untukmu."
"Aku tanya kenapa kamu datang."
Luna yang berdiri tidak jauh dari sana langsung tahu.
Ini Michelle.
Wanita yang pernah diceritakan Ryan.
Wanita yang pernah menghancurkan hati Alex.
Dan sekarang dia ada di sini.
Di rumah mereka.
---
Michelle tertawa kecil.
"Kamu masih galak seperti dulu."
Alex tidak membalas.
Tatapannya tetap dingin.
"Aku ingin bicara."
"Kita tidak punya hal yang perlu dibicarakan."
Michelle terlihat terluka mendengar jawaban itu.
Namun ia tetap berusaha tersenyum.
"Alex."
"Aku sudah menikah."
Kalimat itu membuat senyuman Michelle membeku.
Tanpa sadar Luna ikut menahan napas.
Untuk pertama kalinya Alex menyebut dirinya sebagai pria yang sudah menikah.
Bukan tunangan.
Bukan calon suami.
Tapi suami.
Michelle akhirnya melirik ke arah Luna.
Tatapan wanita itu berubah.
Menilai.
Memperhatikan.
Lalu tersenyum tipis.
"Jadi ini istrimu?"
Luna mengangguk sopan.
"Halo."
"Halo."
Namun Luna bisa merasakan sesuatu dari tatapan itu.
Sesuatu yang tidak ia sukai.
---
"Aku hanya ingin minta maaf."
Michelle kembali menatap Alex.
"Untuk semua yang terjadi dulu."
Alex terdiam.
"Terlambat."
Michelle menundukkan kepala.
"Aku tahu."
"Tiga tahun terlambat."
Luna terkejut.
Tiga tahun?
Berarti luka itu masih cukup baru.
Michelle menggenggam tasnya erat.
"Aku membuat kesalahan."
"Kamu membuat pilihan."
Michelle langsung terdiam.
Alex memang tidak pernah meninggikan suara.
Namun kata-katanya selalu tepat sasaran.
Dan kali ini tidak berbeda.
"Kalau sudah selesai, kamu bisa pulang."
Michelle mengangkat kepala.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Jadi itu saja?"
"Apa yang kamu harapkan?"
Ruangan kembali sunyi.
Luna bahkan merasa tidak pantas berada di sana.
Karena jelas sekali ada masa lalu yang belum benar-benar selesai di antara mereka.
---
Beberapa menit kemudian Michelle akhirnya pergi.
Mobilnya meninggalkan halaman rumah.
Dan suasana langsung terasa berbeda.
Alex berdiri di dekat jendela.
Diam.
Sangat diam.
Luna tidak tahu harus berkata apa.
Ia ingin pergi.
Tapi juga tidak tega meninggalkannya sendirian.
"Alex."
Pria itu tidak menoleh.
"Hm."
"Kamu baik-baik saja?"
Alex tertawa kecil.
Tawa paling hambar yang pernah Luna dengar.
"Menurutmu?"
Luna langsung menyesal bertanya.
Namun beberapa detik kemudian Alex kembali bicara.
"Aku pernah berpikir dia orang yang akan menemaniku seumur hidup."
Luna membeku.
Ini pertama kalinya Alex berbicara sejauh ini tentang Michelle.
"Aku mempercayainya."
Suara pria itu terdengar pelan.
"Tapi ternyata aku salah."
Luna tidak menjawab.
Karena kadang seseorang tidak membutuhkan jawaban.
Mereka hanya butuh didengarkan.
"Aneh ya."
Alex menatap ke luar jendela.
"Dulu aku pikir aku nggak akan pernah bisa melupakannya."
"Lalu sekarang?"
Alex terdiam.
Pertanyaan itu ternyata lebih sulit dijawab daripada yang ia kira.
Karena saat Michelle berdiri di depannya tadi...
Ia tidak merasakan apa-apa.
Tidak ada rindu.
Tidak ada harapan.
Tidak ada keinginan untuk kembali.
Yang tersisa hanya kenangan lama.
Dan sesuatu yang sudah selesai.
---
Malam harinya.
Alex duduk sendirian di balkon kamar.
Pikirannya masih dipenuhi pertemuan tadi siang.
Sampai pintu balkon terbuka.
Luna keluar membawa dua cangkir cokelat hangat.
"Ini."
Alex menerimanya.
"Makasih."
Mereka duduk berdampingan.
Menatap langit malam.
"Ryan pernah bilang sesuatu."
Luna tiba-tiba membuka percakapan.
"Apa?"
"Katanya setelah Michelle pergi, kamu berubah."
Alex tersenyum tipis.
"Mungkin."
Luna memandangi cangkirnya.
"Kalau aku jadi kamu, mungkin aku juga akan berubah."
Alex menoleh.
Luna balas menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan dengan Michelle, hati Alex terasa sedikit lebih ringan.
Karena tanpa sadar...
Selama beberapa minggu terakhir, ia tidak lagi menghadapi semuanya sendirian.
Ada Luna.
Yang selalu mendengarkan.
Yang tidak pernah memaksa.
Yang selalu ada.
Dan entah sejak kapan...
Kehadiran wanita itu mulai menjadi bagian dari hari-harinya.
Bagian yang tidak ingin ia kehilangan.