Di Kota Chang’an zaman modern, hiduplah seorang pemuda bernama Mu Chen. Ia berusia 22 tahun, bertubuh tegap dan gagah, tapi dikenal sebagai kutu buku yang haus akan pengetahuan sejarah dan filsafat Tiongkok kuno. Suatu sore di pasar loak, ia menemukan sebuah batu giok berwarna hijau pucat yang diukir pola Yin-Yang. Tanpa sadar, ia membawanya pulang. sebuah perjalanan yang merubah hidupnya dari jaman modern ke jaman kuno hidupnya para dewa Dewi dan iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon premier MT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 BERTEMU TEMAN LAMA
Beberapa minggu telah berlalu sejak kejadian di mana tanaman layu di sekitarnya tumbuh kembali menjadi lebih subur. Kabar tentang pemuda aneh dengan kemampuan yang tidak biasa mulai menyebar ke luar Sekte Angin Hijau. Suatu hari, sekte kedatangan tamu dari Sekte Angin Emas — sekte tetangga yang sering mengadakan pertukaran ilmu dan persahabatan.
Di antara rombongan tamu itu, ada satu sosok yang membuat mata Mu Chen berbinar.
"Mu Chen! Benarkah itu kau?!" teriak seorang pemuda berusia sekitar tujuh belas tahun, berlari menghampirinya dengan wajah gembira.
Mu Chen menoleh dan langsung mengenalinya — Bai Hao, pemuda yang dulu pernah ia temui di desa dekat hutan sebelum masuk sekte, yang pernah memberinya makanan saat ia tersesat.
"Bai Hao! Lama tidak bertemu! Ternyata kau sudah masuk Sekte Angin Emas ya!" seru Mu Chen sambil menepuk bahu temannya dengan antusias.
Mereka bercerita banyak hal. Bai Hao tersenyum mendengar kisah Mu Chen — tentang tulang bintangnya, dantian gandanya, sampai kebiasaan anehnya menggunakan energi untuk memasak dan mendinginkan air.
"Benar-benar luar biasa! Tapi... sungguh kau tidak bisa mengeluarkan serangan biasa seperti orang lain?" tanya Bai Hao penasaran.
"Bisa saja, tapi terlalu berat. Kalau saya lemparkan, bisa-bisa tanahnya berlubang besar. Lebih baik dipakai untuk hal yang bermanfaat saja," jawab Mu Chen santai.
Saat mereka berbicara, seorang gadis berambut perak sebahu dan bermata jernih mendekat. Ia terlihat tenang dan sopan, mengenakan jubah berwarna emas muda.
"Maaf mengganggu. Namaku Su Ling, murid dari Sekte Angin Emas. Aku sering mendengar cerita tentangmu. Apakah benar tanaman di belakang asrama di sini tumbuh lebih subur dari tempat lain?" tanyanya dengan sopan.
Mu Chen mengangguk polos: "Benar saja. Entah kenapa tanahnya jadi bagus sekali. Mau lihat? Kalau mau, nanti saya buatkan air dingin juga — saya bisa membuatnya cepat!"
Su Ling tertawa kecil mendengar tawarannya yang unik. Sejak saat itu, mereka bertiga sering menghabiskan waktu bersama. Su Ling ternyata pandai mengidentifikasi tumbuhan obat, sehingga ia dan Mu Chen sering berdiskusi — meski kadang diskusi mereka berubah menjadi percakapan tentang cara mengolah tumbuhan menjadi makanan lezat 😂
Namun, tidak semua orang bersikap ramah. Di kejauhan, seorang pemuda tampan dengan wajah sombong memperhatikan mereka dengan tatapan dingin. Ia adalah Zhao Feng, murid berbakat Sekte Angin Emas yang memiliki bakat luar biasa dan selalu menjadi pusat perhatian.
Ia berjalan menghampiri dengan langkah angkuh, menatap Mu Chen dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan.
"Jadi kau pemuda yang menjadi pembicaraan banyak orang? Yang dikatakan memiliki tulang langka, tapi ternyata tidak bisa berkultivasi dengan benar dan hanya pandai berbicara?" cemoohnya dengan nada tinggi.
Bai Hao langsung menegur: "Zhao Feng, jangan bicara sembarangan! Mu Chen memiliki jalannya sendiri!"
"Jalannya sendiri?" Zhao Feng tertawa sinis. "Itu hanya alasan untuk menutupi ketidakmampuan! Orang yang benar-benar kuat bisa mengendalikan energinya untuk bertarung dan melindungi dirinya sendiri. Kalau hanya bisa memasak dan membuat tanaman tumbuh subur, apa gunanya dalam bahaya?"
Su Ling mengerutkan kening: "Zhao Feng, ini bukan cara yang sopan!"
Namun Mu Chen hanya menggaruk kepalanya dan tersenyum santai — tidak marah sedikit pun.
"Kalau begitu, apa masalahnya? Saya tidak mengganggu siapa-siapa, saya bisa makan enak dan hidup tenang. Lagipula, kalau saya pakai tenaga saya sepenuhnya, takutnya tempat ini jadi rusak. Lebih baik disimpan saja untuk keadaan darurat," jawabnya polos.
Jawaban itu justru membuat Zhao Feng semakin kesal — ia merasa Mu Chen sedang meremehkannya.
"Berlagak seolah hebat! Kalau begitu, beranikah kau mencoba menguji kemampuan? Tidak perlu bertarung sampai terluka parah, hanya ujian sederhana saja!" tantangnya.
Sebelum para tetua sempat melarang, Zhao Feng sudah menunjuk sebuah batu besar seberat 2.000 kilogram di dekat sana.
"Ujiannya sederhana — angkat batu ini dan berjalan mengelilingi lapangan sekali. Siapa yang bisa melakukannya dengan lebih cepat, dialah yang lebih baik!"
Zhao Feng yakin Mu Chen tidak akan bisa — meski ia mendengar kabar tentang kekuatan fisiknya, ia tidak percaya sampai melihatnya sendiri.
Bai Hao dan Su Ling terlihat khawatir, tapi Mu Chen hanya mengangkat bahu: "Tidak apa-apa, saya coba saja. Tapi kalau rusak, jangan salahkan saya ya."
Zhao Feng tertawa: "Hahaha! Cobalah saja!"
Zhao Feng berjalan mendekati batu itu, memutar energinya di tubuhnya, lalu mengangkatnya dengan susah payah. Ia berjalan perlahan mengelilingi lapangan, napasnya memburu, dan butuh waktu sekitar dua menit untuk menyelesaikannya.
"Lihat! Ini cara yang benar — menggunakan energi dengan tepat! Sekarang giliranmu!" tantangnya sambil meletakkan batu itu kembali dengan bunyi berdebum.
Mu Chen berjalan mendekati batu itu. Ia tidak memutar energi secara mencolok, hanya mengalirkan sedikit lapisan Air Neraka yang sangat tipis di telapak tangannya — cukup untuk membuatnya padat dan tidak licin.
Ia memegang sisi batu itu, lalu mengangkatnya dengan mudah seolah itu hanya karung beras biasa. Bahkan ia bisa mengayunkannya sedikit!
"Berat juga... tapi masih bisa," gumamnya santai.
Lalu ia berjalan — bahkan bukan berlari — dengan langkah tenang, dan menyelesaikan satu putaran lapangan hanya dalam waktu sepuluh detik! Ia meletakkan batu itu kembali dengan hati-hati tanpa ada goresan di tanah.
Semua orang tertegun. Zhao Feng melotot lebar-lebar, matanya hampir terjatuh. Ia baru saja melihat sesuatu yang mustahil baginya.
"Imposs... bagaimana bisa?! Batu itu seberat 2.000 kilogram!" serunya tidak percaya.
Mu Chen tersenyum kikuk: "Kan saya sudah bilang, tulang saya agak kuat. Tapi ini cuma kekuatan biasa saja, tidak ada jurus hebatnya kok. Kalau mau, saya bisa ajari cara mengangkatnya dengan tenang juga — tidak perlu napas memburu!"
Jawaban polos itu justru membuat Zhao Feng semakin marah dan malu. Ia merasa dipermalukan, meski Mu Chen tidak bermaksud begitu.
"Kau... kau hanya beruntung! Lain kali aku akan tunjukkan bahwa kekuatan asli adalah yang bisa dipakai untuk bertarung!" bentaknya, lalu berbalik pergi dengan langkah cepat.
Setelah Zhao Feng pergi, Bai Hao dan Su Ling tertawa lega.
"Kau benar-benar selalu membuat orang terkejut, Mu Chen," kata Su Ling sambil tersenyum.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Ia hanya memiliki pemikiran yang berbeda. Lagipula, kalau saya bertarung sungguhan, saya takut tidak bisa mengendalikan beratnya. Lebih baik tidak berkelahi kalau tidak perlu," jawab Mu Chen santai.
Di dalam benaknya, suara Kitab Jalan Bintang berkomentar pelan:
"Ia akan kembali lagi. Orang yang terlalu sombong dan membenci hal yang tidak ia mengerti tidak akan berhenti begitu saja."
Mu Chen hanya mengangguk dalam hati: "Tidak apa-apa. Kalau ia datang lagi, saya masih bisa membuatkan air dingin untuknya — siapa tahu ia jadi lebih tenang kalau kepalanya dingin!"
Dan begitulah — pertemuan dengan teman lama dan baru berjalan menyenangkan, sementara benih persaingan dengan musuh baru mulai tumbuh. Tapi seperti biasa, Mu Chen hanya memandang semuanya dengan pandangan sederhana dan konyolnya sendiri