NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romantis / Tamat
Popularitas:36.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.

Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.

Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.

Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.

Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GETARAN DI ANTARA DUA SEJADAH.

Keheningan seketika menyelimuti kamar mereka, setelah kalimat tegas Haikal selesai bergema. Ardiah masih terpaku di tempatnya berdiri, menatap suaminya yang pergi ke kamar mandi. Kata-kata mengenai kesucian pernikahan yang baru saja diucapkan Haikal seolah menampar logikanya, meruntuhkan anggapan bahwa hubungan mereka hanyalah sebuah bisnis di atas kertas.

Haikal yang baru keluar dari kamar mandi, melihat istrinya hanya diam membisu, perlahan mendekat. Ia berdiri tegap, mengikis jarak di antara mereka hingga Ardiah bisa menghirup aroma maskulin khas dari tubuh suaminya.

"Kenapa diam, Kak? Ucapan suamimu ini tadi ada yang salah?" tanya Haikal, sambil tersenyum tipis yang sarat akan pesona.

Ardiah berdeham gugup, buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain demi menyembunyikan semburat merah yang mendadak muncul di pipinya. "T-tidak ada yang salah. Aku hanya tidak menyangka kamu bisa seserius ini kalau bicara tentang agama."

Haikal terkekeh pelan, melangkah menuju lemari untuk mengambil sarung tenun dan kemeja koko putihnya. "Tentu saja harus serius, Kak. Aku ini memang pecicilan, tapi kalau sudah menyangkut tanggung jawabku sebagai imam, aku tidak pernah main-main. Apalagi imamnya untuk wanita sepertimu."

"Sudah, jangan banyak bicara lagi. Cepat pakai bajumu, waktu subuh hanya singkat, jadi cepatlah," potong Ardiah, mengalihkan perhatian dari detak jantungnya yang kian tidak keruan.

Haikal mengangguk patuh sambil mengedipkan sebelah matanya jahil. "Siap, Istriku. Tunggu sebentar, ya."

Lima menit kemudian, Haikal tampak sudah rapih. Di sudut kamar, Ardiah sudah menggelar dua lembar sajadah, dengan sajadah milik Haikal berada di depan sebagai posisi imam. Sedangkan Ardiah yang sudah mengenakan mukenanya langsung mengambil tempat di belakang suaminya. Ketika Haikal mengangkat kedua tangannya dan mengumandangkan takbiratul ihram, atmosfer di dalam kamar itu mendadak menjadi sangat khidmat.

Suara bariton Haikal kembali mengalun, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan sangat merdu dan penuh penghayatan. Hingga menyentuh ke lubuk hati Ardiah, menghadirkan rasa damai yang belum pernah ia rasakan selama ini. Ia bersyukur bahwa di balik keputusannya yang terdesak, Allah justru mengirimkan seorang pria yang mampu menuntunnya dalam doa.

Setelah ritual sholat subuh dan doa bersama selesai, Ardiah mencium punggung tangan Haikal dengan khidmat seperti biasa. Namun kali ini, Haikal tidak langsung melepaskan genggaman tangannya. Ia menahan jemari Ardiah sejenak, membuat wanita itu mendongak menatapnya heran.

"Hari ini kita berangkat ke kantor agak siangan saja, bagaimana?" tawar Haikal membuka obrolan.

Ardiah mengerutkan dahi di balik mukenanya. "Kenapa begitu? Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan di divisi desain hari ini, Haikal."

Haikal melepaskan genggamannya perlahan, lalu berdiri sambil melipat sajadahnya. "Aku ingin mengajakmu mampir ke suatu tempat dulu sebelum ke kantor. Ada hal penting yang harus kita urus bersama."

"Tempat apa?" tanya Ardiah penasaran.

"Rahasia. Pokoknya nanti Kak Diah ikut saja, ya. Sekarang kita turun untuk membantu Mama menyiapkan sarapan, bagaimana?" ajak Haikal, kembali menunjukkan sisi manisnya.

Ardiah mengangguk setuju. Setelah melepas mukena dan merapikan penampilannya dengan hijab instan yang senada dengan pakaian rumahnya, mereka berdua berjalan beriringan menuruni anak tangga menuju area dapur.

Di dapur, Astuti ternyata sudah sibuk memotong sayuran dibantu oleh seorang pelayan. Begitu melihat menantu dan anaknya turun bersama dengan wajah yang tampak lebih cerah dari kemarin, senyum lebar langsung terbit di wajah paruh baya itu.

"Selamat pagi, anak-anak Mama. Wah, kompak sekali turunnya," sapa Astuti dengan nada menggoda.

Ardiah tersenyum ramah, langsung mengambil alih pisau dari tangan mertuanya. "Selamat pagi, Mah. Biar Diah saja yang melanjutkan memotong sayurnya. Mama duduk saja."

Astuti tidak menolak, ia membiarkan Ardiah bekerja sambil matanya melirik ke arah Haikal yang kini sibuk mengambil segelas air putih di dispenser. Astuti mendekati anak bungsunya itu, lalu berbisik pelan. "Bagaimana malam pertama tanpa sofa panjang, Ikal? Aman?"

Haikal hampir saja tersedak air yang baru ditelannya. Ia menatap ibunya dengan wajah memerah, lalu berbisik balik. "Sangat aman, Mah. Strategi Mama memang paling top di dunia."

Astuti terkekeh puas, menepuk bahu anaknya dengan bangga sebelum kembali mendekati Ardiah untuk mengobrol santai mengenai menu sarapan pagi ini. Suasana di dapur itu terasa begitu hangat dan penuh tawa, sebuah pemandangan yang membuat Ardiah merasa benar-benar memiliki sebuah keluarga yang utuh.

***

Pukul sembilan pagi, mobil mewah yang dikemudikan oleh Roni bergerak membelah jalanan kota. Namun, rute yang diambil kali ini sama sekali bukan mengarah ke gedung kantor Artha Design. Ardiah yang menyadari hal itu sejak tadi mulai merasa tidak tenang. Ia melirik Haikal yang duduk santai di sampingnya sambil sibuk memeriksa beberapa berkas di tablet pribadinya.

"Haikal, kita ini sebenarnya mau ke mana? Ini bukan jalan menuju kantor," tanya Ardiah akhirnya membuka suara.

Haikal menurunkan tabletnya, lalu menoleh menatap Ardiah dengan senyuman misterius. "Kita mau ke dokter spesialis, Kak."

Kata 'dokter' seketika membuat tubuh Ardiah menegang kaku di atas kursi mobil. Wajahnya mendadak berubah pucat pasi, dan bayangan kelam masa lalu kembali berputar di otaknya seperti kaset rusak. Pikirannya langsung melayang teringat saat ia harus berobat agar memiliki keturunan saat bersama Ferdi.

"K-kenapa ke dokter? Siapa yang sakit?" tanya Ardiah dengan suara bergetar menahan kepanikan.

Haikal yang menangkap perubahan drastis pada raut wajah istrinya, langsung menyimpan tabletnya ke dalam tas. Ia menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat, lalu menggenggam kedua tangan Ardiah yang kini kembali terasa sedingin es.

"Tenang, Kak. Tidak ada yang sakit," balasnya dengan nada suara yang sangat lembut, mencoba menenangkan badai di dalam dada istrinya. "Kita ke dokter spesialis kandungan dan kesuburan terbaik di kota ini."

Jantung Ardiah terasa seolah berhenti berdetak mendengar penuturan Haikal. Ia mencoba menarik tangannya dari genggaman Haikal, namun pria itu menahannya dengan kekuatan yang pas, tidak menyakiti namun juga tidak memberi celah untuk lepas.

"Untuk apa, Haikal? Kamu tahu sendiri dari awal kan kalau aku... aku tidak bisa memberikanmu keturunan! Perjanjian kontrak kita juga berawal dari sana!" seru Ardiah dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena rasa takut dan terluka yang mendalam.

Haikal menggelengkan kepalanya perlahan, menatap lekat ke dalam manik mata Ardiah yang dipenuhi kecemasan. "Aku ingat semua isi perjanjian itu, Kak. Tapi aku ke sini bukan untuk menuntut keturunan darimu."

"Lalu untuk apa?" kejar Ardiah, air matanya kini lolos satu tetes membasahi pipinya.

"Aku ingin kita memeriksa ulang semuanya secara medis dari awal dengan dokter yang lebih kompeten," jawab Haikal dengan pandangan mata yang begitu tulus dan tegas. "Aku tidak mau Kak Diah terus-menerus hidup di bawah bayang-bayang vonis sepihak dari masa lalu yang membuatmu merasa tidak berharga. Kita periksa bersama, kita cari tahu kebenarannya. Kalaupun hasilnya nanti tetap sama, itu tidak akan mengubah statusmu sebagai istriku. Aku hanya ingin menyembuhkan trauma di hatimu, Kak."

Ardiah tertegun, kalimat tulus dari mulut Haikal sukses menyentak bagian terdalam dihatinya. Di saat semua orang di masa lalunya menganggap ketidaksuburannya sebagai aib, pria di depannya ini justru ingin menggandeng tangannya untuk menghadapi ketakutan terbesar dalam hidupnya. Getaran aneh yang sangat kuat kembali menyerang dada Ardiah, membuat hatinya mulai goyah oleh ketulusan sang suami.

"Roni, kita sudah sampai?" tanya Haikal memastikan.

"Sudah, Pak Bos. Kita sudah berada di area parkir rumah sakit," jawab Roni sigap dari depan.

Haikal kembali menatap Ardiah, mengulas senyum terbaiknya untuk memberi kekuatan. "Yuk, turun. Aku akan selalu ada di sampingmu, Kak. Jangan takut lagi."

1
sunaryati jarum
Jika sudah lahir jadi pangera,ya Banyak yang ikut merawat dan melayani
sunaryati jarum
Semoga sehat bayi dan ibunya
sunaryati jarum
Bu anak jika sudah berumah tangga jangan disetir atau ikut campur jika bukan untuk mendamaikan,saat kurang akur.Serta jangan asal nuduh sebelum ada bukti akurat.
Lia siti marlia
apa thorr udah tamat aja kok gak kerasa yah aku bacanya 🤭🤭🤭saking seru haru nya cerita haikal sama ardiah makasih thorr di tunggu judul barunya 🥰🥰🥰
Lia siti marlia
ais haikal bisa aja 🤭🤭🤭
memang yah bu nurul kalau penyesalan pasti datang terlambat 😁😁😁
Lia siti marlia
bener bener yah c haikal.kalau aku jadi ardiah udah aku jambak kamu 😁😁😁
Lia siti marlia
ardiah yang mau lahiran aku yang deg degan 🤭🤭🤭🤗🤗
Lia siti marlia
cie ikal dapat jagoan🤗🤗 nanti jagoan mu kalau udah lahir kamu jamgam cemburu yah karna di duain istrimu 🤭🤭🤭
Danny Muliawati
rasain nenek tua angkuh d sombong kena lo
Jaya Fandi
mantap Haikal,,lgsg dasdes,,
Lia siti marlia
hahaha bagus haikal orang sombong harus di balas dengan cara elegan supaya tahu diri 😁😁😁
sunaryati jarum
Nanti sifat anaknya niru siapa,Ya.
sunaryati jarum
Selamat semoga sehat baby dan ibunya
Eliermswati
haikal nnti q ksh permen y jangan nangis oke😂😂😂 dah mau jd ayah sifatnya g berubah ikal q jd ikut ketawa😂😂smngt thor up nya
Lia siti marlia
udah mau jadi ayah masih aja manja ikal ikal 🤭🤭🤭
Lia siti marlia
selamat yah haikal ardian kalian akan jadi orang tua 🤗🤗🤗 🥺🥺🥺
Jaya Fandi
m7dah mudahan hamil anak jembar kal
Danny Muliawati
hamil spt nya yah
Anonim
Cepet² ya updatenya thor
sunaryati jarum
Sudah tumbuh kecebong kamu Haikal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!