NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romantis
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.

Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.

Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.

Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.

Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GETARAN DI ANTARA DUA SEJADAH.

Keheningan seketika menyelimuti kamar mereka, setelah kalimat tegas Haikal selesai bergema. Ardiah masih terpaku di tempatnya berdiri, menatap suaminya yang pergi ke kamar mandi. Kata-kata mengenai kesucian pernikahan yang baru saja diucapkan Haikal seolah menampar logikanya, meruntuhkan anggapan bahwa hubungan mereka hanyalah sebuah bisnis di atas kertas.

Haikal yang baru keluar dari kamar mandi, melihat istrinya hanya diam membisu, perlahan mendekat. Ia berdiri tegap, mengikis jarak di antara mereka hingga Ardiah bisa menghirup aroma maskulin khas dari tubuh suaminya.

"Kenapa diam, Kak? Ucapan suamimu ini tadi ada yang salah?" tanya Haikal, sambil tersenyum tipis yang sarat akan pesona.

Ardiah berdeham gugup, buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain demi menyembunyikan semburat merah yang mendadak muncul di pipinya. "T-tidak ada yang salah. Aku hanya tidak menyangka kamu bisa seserius ini kalau bicara tentang agama."

Haikal terkekeh pelan, melangkah menuju lemari untuk mengambil sarung tenun dan kemeja koko putihnya. "Tentu saja harus serius, Kak. Aku ini memang pecicilan, tapi kalau sudah menyangkut tanggung jawabku sebagai imam, aku tidak pernah main-main. Apalagi imamnya untuk wanita sepertimu."

"Sudah, jangan banyak bicara lagi. Cepat pakai bajumu, waktu subuh hanya singkat, jadi cepatlah," potong Ardiah, mengalihkan perhatian dari detak jantungnya yang kian tidak keruan.

Haikal mengangguk patuh sambil mengedipkan sebelah matanya jahil. "Siap, Istriku. Tunggu sebentar, ya."

Lima menit kemudian, Haikal tampak sudah rapih. Di sudut kamar, Ardiah sudah menggelar dua lembar sajadah, dengan sajadah milik Haikal berada di depan sebagai posisi imam. Sedangkan Ardiah yang sudah mengenakan mukenanya langsung mengambil tempat di belakang suaminya. Ketika Haikal mengangkat kedua tangannya dan mengumandangkan takbiratul ihram, atmosfer di dalam kamar itu mendadak menjadi sangat khidmat.

Suara bariton Haikal kembali mengalun, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan sangat merdu dan penuh penghayatan. Hingga menyentuh ke lubuk hati Ardiah, menghadirkan rasa damai yang belum pernah ia rasakan selama ini. Ia bersyukur bahwa di balik keputusannya yang terdesak, Allah justru mengirimkan seorang pria yang mampu menuntunnya dalam doa.

Setelah ritual sholat subuh dan doa bersama selesai, Ardiah mencium punggung tangan Haikal dengan khidmat seperti biasa. Namun kali ini, Haikal tidak langsung melepaskan genggaman tangannya. Ia menahan jemari Ardiah sejenak, membuat wanita itu mendongak menatapnya heran.

"Hari ini kita berangkat ke kantor agak siangan saja, bagaimana?" tawar Haikal membuka obrolan.

Ardiah mengerutkan dahi di balik mukenanya. "Kenapa begitu? Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan di divisi desain hari ini, Haikal."

Haikal melepaskan genggamannya perlahan, lalu berdiri sambil melipat sajadahnya. "Aku ingin mengajakmu mampir ke suatu tempat dulu sebelum ke kantor. Ada hal penting yang harus kita urus bersama."

"Tempat apa?" tanya Ardiah penasaran.

"Rahasia. Pokoknya nanti Kak Diah ikut saja, ya. Sekarang kita turun untuk membantu Mama menyiapkan sarapan, bagaimana?" ajak Haikal, kembali menunjukkan sisi manisnya.

Ardiah mengangguk setuju. Setelah melepas mukena dan merapikan penampilannya dengan hijab instan yang senada dengan pakaian rumahnya, mereka berdua berjalan beriringan menuruni anak tangga menuju area dapur.

Di dapur, Astuti ternyata sudah sibuk memotong sayuran dibantu oleh seorang pelayan. Begitu melihat menantu dan anaknya turun bersama dengan wajah yang tampak lebih cerah dari kemarin, senyum lebar langsung terbit di wajah paruh baya itu.

"Selamat pagi, anak-anak Mama. Wah, kompak sekali turunnya," sapa Astuti dengan nada menggoda.

Ardiah tersenyum ramah, langsung mengambil alih pisau dari tangan mertuanya. "Selamat pagi, Mah. Biar Diah saja yang melanjutkan memotong sayurnya. Mama duduk saja."

Astuti tidak menolak, ia membiarkan Ardiah bekerja sambil matanya melirik ke arah Haikal yang kini sibuk mengambil segelas air putih di dispenser. Astuti mendekati anak bungsunya itu, lalu berbisik pelan. "Bagaimana malam pertama tanpa sofa panjang, Ikal? Aman?"

Haikal hampir saja tersedak air yang baru ditelannya. Ia menatap ibunya dengan wajah memerah, lalu berbisik balik. "Sangat aman, Mah. Strategi Mama memang paling top di dunia."

Astuti terkekeh puas, menepuk bahu anaknya dengan bangga sebelum kembali mendekati Ardiah untuk mengobrol santai mengenai menu sarapan pagi ini. Suasana di dapur itu terasa begitu hangat dan penuh tawa, sebuah pemandangan yang membuat Ardiah merasa benar-benar memiliki sebuah keluarga yang utuh.

***

Pukul sembilan pagi, mobil mewah yang dikemudikan oleh Roni bergerak membelah jalanan kota. Namun, rute yang diambil kali ini sama sekali bukan mengarah ke gedung kantor Artha Design. Ardiah yang menyadari hal itu sejak tadi mulai merasa tidak tenang. Ia melirik Haikal yang duduk santai di sampingnya sambil sibuk memeriksa beberapa berkas di tablet pribadinya.

"Haikal, kita ini sebenarnya mau ke mana? Ini bukan jalan menuju kantor," tanya Ardiah akhirnya membuka suara.

Haikal menurunkan tabletnya, lalu menoleh menatap Ardiah dengan senyuman misterius. "Kita mau ke dokter spesialis, Kak."

Kata 'dokter' seketika membuat tubuh Ardiah menegang kaku di atas kursi mobil. Wajahnya mendadak berubah pucat pasi, dan bayangan kelam masa lalu kembali berputar di otaknya seperti kaset rusak. Pikirannya langsung melayang teringat saat ia harus berobat agar memiliki keturunan saat bersama Ferdi.

"K-kenapa ke dokter? Siapa yang sakit?" tanya Ardiah dengan suara bergetar menahan kepanikan.

Haikal yang menangkap perubahan drastis pada raut wajah istrinya, langsung menyimpan tabletnya ke dalam tas. Ia menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat, lalu menggenggam kedua tangan Ardiah yang kini kembali terasa sedingin es.

"Tenang, Kak. Tidak ada yang sakit," balasnya dengan nada suara yang sangat lembut, mencoba menenangkan badai di dalam dada istrinya. "Kita ke dokter spesialis kandungan dan kesuburan terbaik di kota ini."

Jantung Ardiah terasa seolah berhenti berdetak mendengar penuturan Haikal. Ia mencoba menarik tangannya dari genggaman Haikal, namun pria itu menahannya dengan kekuatan yang pas, tidak menyakiti namun juga tidak memberi celah untuk lepas.

"Untuk apa, Haikal? Kamu tahu sendiri dari awal kan kalau aku... aku tidak bisa memberikanmu keturunan! Perjanjian kontrak kita juga berawal dari sana!" seru Ardiah dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena rasa takut dan terluka yang mendalam.

Haikal menggelengkan kepalanya perlahan, menatap lekat ke dalam manik mata Ardiah yang dipenuhi kecemasan. "Aku ingat semua isi perjanjian itu, Kak. Tapi aku ke sini bukan untuk menuntut keturunan darimu."

"Lalu untuk apa?" kejar Ardiah, air matanya kini lolos satu tetes membasahi pipinya.

"Aku ingin kita memeriksa ulang semuanya secara medis dari awal dengan dokter yang lebih kompeten," jawab Haikal dengan pandangan mata yang begitu tulus dan tegas. "Aku tidak mau Kak Diah terus-menerus hidup di bawah bayang-bayang vonis sepihak dari masa lalu yang membuatmu merasa tidak berharga. Kita periksa bersama, kita cari tahu kebenarannya. Kalaupun hasilnya nanti tetap sama, itu tidak akan mengubah statusmu sebagai istriku. Aku hanya ingin menyembuhkan trauma di hatimu, Kak."

Ardiah tertegun, kalimat tulus dari mulut Haikal sukses menyentak bagian terdalam dihatinya. Di saat semua orang di masa lalunya menganggap ketidaksuburannya sebagai aib, pria di depannya ini justru ingin menggandeng tangannya untuk menghadapi ketakutan terbesar dalam hidupnya. Getaran aneh yang sangat kuat kembali menyerang dada Ardiah, membuat hatinya mulai goyah oleh ketulusan sang suami.

"Roni, kita sudah sampai?" tanya Haikal memastikan.

"Sudah, Pak Bos. Kita sudah berada di area parkir rumah sakit," jawab Roni sigap dari depan.

Haikal kembali menatap Ardiah, mengulas senyum terbaiknya untuk memberi kekuatan. "Yuk, turun. Aku akan selalu ada di sampingmu, Kak. Jangan takut lagi."

1
Lia siti marlia
nah kan kelimpungan jadinya 🤭maka kalau mau apa apa di obrolin dulu ...ngasih kejutan yang mengancan kesejahteraan rumah tangga kamu kal kal🤭🤭🤭
Eliermswati
smngat kal smga bs mndpt maaf dr istri mu dan bs segera d bwa plng😂😂smngt thor up nya
Nana Biella
semangat kal
Wardah Saiful
baguus critanya
Lia siti marlia
benar kamu mamah mu ikal kamu terlalu terburu buru 🥺🥺🥺ternyata aku swlah menilaimu kamu terlalu gegabah ikal ...sekara terima akibat nya diah petgi kamu harus bertanggung jawab atas kecerobohan mu 🥺🥺😭😭
Suren
ini mantap Diah suami mu ini
Alim
mantap
Jaya Fandi
suami yg luar biasa,,jgn disia" kn Diah,,
Mira Hastati
bagus
Lia siti marlia
nah itu baru suami bijak 😍😍mantap kal kamu hebat menerima kekurangan dengan cara memperbaiki💪💪💪
Rima R P
aku baru nemu novel mu ka selama ini penggemar noveltoon langsung suka sama karya yg ceo bujang lapuk.. kenapa ga di lanjutin ka padahal cerita nya bagus banget please ka lanjutin aja aku yakin banyak yg suka ko kalo udah tau dan baca🥺
Hikari_민윤기
di tunggu crezy upnya..
udah tak kasih kopi buat temen begadang...
sunaryati jarum
Nah,kan hati Diah mulai leleh,jadi perjanjian kontrak nanti dijadikan abu saja,Nak Ikal
sunaryati jarum
Buat Diah lupa niatnya untuk pisah darimu.Buat Diah terikat kuat di dalam hatinya hanya kamu.
Lia siti marlia
pandangan tentang suami mulai berubah entar entar mulai ada benih beni cinta dong diah😍😍😍😍
Suren
gercep Haikal..jgn biar kan Diah sampai minta cerai. buat dia hanyut dlm keromantisan yg kamu buat..good jobb👍
Lia siti marlia
sedikit sedikit yah ikal menggoda perasaan ardiah terus dikit dikit kecup kening entar kecup yang lainnn🤭🤭🤭🤣🤣🤣
Jaya Fandi
ya ampuunn biang kerok ,,
Lia siti marlia
kalau orang kaya beneran sayang nya sayang bangetttttt cintanya cinta bangettttt gak kaya OKB 🤣🤣🤣
Lia siti marlia
hais siapa lagi tub yang manggil jangan jangan c ferdi lagi🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!