NovelToon NovelToon
Beyond The Contract

Beyond The Contract

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Baru saja aku membuka mulut untuk meluruskan salah paham ini, pria itu sudah memotong lebih dulu dengan decakan tidak sabar.

“Sandi tabletnya tanggal berdirinya perusahaan ini, kosong-dua-kosong-lima-sembilan-delapan,” potongnya cepat sambil kembali berbalik dan berjalan menuju ruang rapat. “Cepat buka. Kita tidak punya banyak waktu.”

Aku mengerjap. Kosong dua kosong lima sembilan delapan? Jariku yang gemetar refleks mengetikkan angka 020598 di layar.

Klik. Layarnya terbuka, menampilkan aplikasi kalender yang penuh dengan blok warna-warni tanda jadwal yang super padat. Napas yang sempat tertahan di dada akhirnya keluar juga.

“Maaf, Pak...” panggilku sambil setengah berlari kecil menyamai langkah lebarnya. “Bapak tadi bilang jadwal rapat investor Singapura dimajukan jadi jam sepuluh?”

“Iya. Kenapa?” sahut Adrian tanpa menoleh.

“Tapi di sini, jam sepuluh Bapak ada jadwal teleconference dengan cabang Surabaya, Pak. Terus, rapat investornya kan butuh waktu minimal dua jam, sedangkan jam dua belas Bapak sudah ada janji makan siang bisnis dengan perwakilan bank,” cerocosku refleks. Aku menunjuk-nunjuk layar tablet seolah-olah sedang menjelaskan kekosongan stok barang ke supervisor toko. “Kalau investor Singapura dimajukan sekarang, jadwal Surabaya ini mau digeser ke jam berapa, Pak? Apa tidak bentrok?”

Adrian mendadak menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ganda ruang rapat.

Ia berbalik perlahan, membuatku hampir saja menabrak dada bidangnya lagi. Pria itu menunduk, menatapku dengan tatapan intens yang sulit diartikan. Di bawah tatapan tajam itu, aku langsung menciut.

Aduh, Aruna, bodoh banget sih! Kenapa kamu malah menceramahi atasan sendiri?!

“Kamu...” Adrian menggantung kalimatnya, matanya menyipit menatapku dari balik helai rambutnya yang tertata rapi. “Ternyata kamu lebih teliti dari yang saya bayangkan. Bagus.”

Aku melongo. Hah? Bagus?

“Hubungi pihak Surabaya, undur jadi jam empat sore. Sekarang, kamu ikut saya masuk. Bantu saya catat poin penting dari investor Singapura,” perintah Adrian tegas, lalu mendorong pintu ruang rapat yang megah itu terbuka.

Aku mematung di tempat. Telepon Surabaya?! Pakai telepon yang mana?! Aku bahkan tidak tahu nomor telepon kantor ini!

Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang tercecer. Begitu Adrian hendak mendorong pintu kaca ganda di depan kami, aku menahan ujung jasnya dengan dua jari. Refleks, pria itu berhenti dan menoleh, menatap jemariku di jasnya dengan satu alis terangkat.

Aku buru-buru menarik tanganku kembali. “Maaf, Pak. Tapi sebelum kita masuk, ada satu hal penting yang harus saya luruskan. Sebenarnya, saya itu—“

“Aruna,” potong Adrian cepat, nadanya mutlak tidak bisa dibantah. Ia melirik jam tangannya lagi. “Tiga menit lagi investor masuk. Kalau kamu mau izin ke toilet atau mengeluh soal beban kerja, simpan nanti setelah rapat selesai.”

Pintu kayu besar itu didorongnya terbuka. Adrian melangkah masuk ke ruangan yang didominasi meja kaca panjang dan kursi-kursi kulit mewah. Suasananya sepi, karena pihak investor memang belum datang.

“Jangan Cuma berdiri di sana. Lihat tumpukan kertas di ujung meja itu?” Adrian menunjuk segepok dokumen tebal yang baru selesai dicetak. “Itu bahan presentasi hari ini. Tolong rapikan, urutkan sesuai nomor halamannya, lalu bagikan satu per satu di setiap meja sebelum yang lain datang. Pastikan tidak ada yang terbalik atau kurang.”

Aku melongo menatap tumpukan kertas setinggi gunung itu.

Ya Tuhan... gagal lagi mau jujur.

Namun, melihat tumpukan kertas itu berantakan dan tidak rapi itu sangat menggangguku.

“Baik, Pak,” jawabku pasrah.

Aku meletakkan tablet Adrian di meja, lalu setengah berlari menghampiri tumpukan kertas tersebut. Jemariku bergerak dengan kecepatan luar biasa, kecepatan yang terlatih dari bertahun-tahun menghitung uang kembalian dan menyusun kupon belanjaan dengan cepat di depan antrean pelanggan yang mengular.

Sret! Sret! Sret!

Aku memilah, mengetuk-ngetukkan kertas ke meja agar rapi, lalu meletakkannya dengan presisi di depan tiap-tiap kursi kosong. Adrian yang sedang menyalakan proyektor di depan ruangan sempat mencuri pandang ke arahku. Matanya agak melebar, mungkin takjub melihat cara kerjaku yang secepat kilat dan sangat efisien untuk ukuran sekretaris baru.

Tepat saat aku meletakkan dokumen terakhir di kursi ujung, pintu ruang rapat kembali terbuka. Beberapa pria asing berjas klimis masuk sambil bercakap-cakap dalam bahasa Inggris.

Jantungku langsung merosot ke lambung. Mampus. Rapatnya beneran mulai!

Rapat dimulai dengan atmosfer yang langsung terasa tegang. Tiga orang investor dari Singapura itu duduk di seberang meja, langsung mencecar pria di sebelahku dengan berbagai pertanyaan presentasi dalam bahasa Inggris yang cepat dan beraksen kental.

“So, Mr. Adrian, regarding the market expansion in Asia...”

Mendengar nama itu disebut oleh investor asing, aku sempat mengerjap. Oh, jadi namanya Adrian. Aku membatin sambil melirik pria di sampingku dari sudut mata. Nama yang bagus, batin kecilku sempat-sempatnya memuji, sebelum rasa panik kembali menampar kesadaranku.

Untungnya, selama menjadi kasir di supermarket yang lokasinya dekat dengan area ekspatriat, aku sudah terbiasa mendengarkan turis asing berbicara. Otakku bisa mencerna dengan baik saat mereka membahas tentang profit margin. Aku paham apa yang mereka inginkan. Masalahnya Cuma satu, kalau aku disuruh membalas omongan mereka, lidahku langsung sekaku kompor mati.

“Aruna,” bisik Pak Adrian tiba-tiba, tubuhnya sedikit condong ke arahku tanpa mengalihkan pandangan dari layar proyektor. “Tolong jelaskan ke mereka bagian poin grafis ketiga. Kenapa progresnya melambat di bulan lalu.”

DEGG. Jantungku serasa copot.

Aku menoleh kaku ke arah Pak Adrian, lalu beralih menatap tiga investor Singapura yang kini semuanya sedang memandangiku, menunggu jawaban.

Otakku tahu jawabannya karena tadi sempat membaca berkasnya sekilas itu karena keterlambatan pengiriman bahan baku dari vendor utama. Tapi gimana cara ngomongnya dalam bahasa Inggris korporat yang keren?!

Karena panik dan tidak bisa menjawab, daripada aku bicara terbata-bata dan mempermalukan perusahaan, aku memilih metode non-verbal.

Aku tidak bersuara sama sekali. Dengan wajah yang diusahakan tetap tenang dan sedingin es padahal aslinya panik setengah mati, aku membuka tablet, mencari dokumen laporan vendor, lalu menggeser layar tablet itu ke tengah meja di hadapan para investor. Jariku menunjuk langsung pada baris data yang memerah tanda keterlambatan supply.

Aku menatap mata investor itu satu per satu, lalu mengangguk sekali dengan tegas tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Persis seperti ekspresi kasir yang sedang menunjuk tulisan “Mesin EDC Sedang Offline” kepada pelanggan yang rewel.

Para investor itu mengerjap, lalu menunduk membaca data yang kutunjukkan.

“Ah, I see. Supplier issue on late April. Clear enough,” ucap salah satu investor sambil mengangguk-angguk puas.

Aku menghembuskan napas lewat hidung pelan-pelan. Selamat.

Namun, saat aku menarik kembali tablet itu, aku bisa merasakan tatapan intens dari samping. Aku menoleh sedikit dan mendapati Pak Adrian sedang menatapku dengan alis bertaut sebelah. Matanya menyelidik, tampak sangat heran melihat asisten barunya yang super hemat kata, tidak mau bicara, tapi intervensinya sangat efisien dan langsung tepat sasaran.

Rapat di lantai tujuh ini masih berlangsung sengit ketika ponsel di atas meja tepat di sebelah tablet yang kupegang bergetar hebat. Di layarnya muncul tulisan Lobi Utama – Front Desk.

Karena Pak Adrian sedang sibuk berargumen dengan salah satu investor tentang proyeksi saham, ia melirik ponselnya, lalu memberi kode dengan ketukan jari agar aku yang mengangkat telepon tersebut. Aku menyambar ponsel itu, mendekatkannya ke telinga dengan gerakan pelan.

“Halo, selamat siang,” bisikku sepelan mungkin setelah pergi ke pojok ruangan.

Di seberang sana, suara resepsionis lobi terdengar tersentak kaget. “Loh? Maaf, ini dengan siapa ya? Apa Pak Adrian-nya ada?”

Jantungku langsung mencelos. Waduh, dia bingung kenapa yang angkat perempuan. Aku buru-buru membalikkan badan membelakangi meja rapat, lalu mendekat ke arah Pak Adrian. Sambil mencondongkan tubuh, aku berbisik di dekat telinganya. “Maaf, Pak... dari resepsionis lobi utama, menanyakan Bapak.”

Pak Adrian melirikku sekilas, lalu mengangkat satu tangannya ke arah investor Singapura sebagai tanda izin interupsi sebentar. “Excuse me, Gentlemen, I need to take this phone call for a moment,” ucapnya dengan bahasa Inggris yang sempurna.

Ia mengambil ponsel dari tanganku, lalu menempelkannya ke telinga. “Ya, ada apa?”

Aku berdiri mematung di samping kursinya, bisa mendengar suara resepsionis yang bocor dari speaker ponsel karena jarak kami yang dekat.

“Oh, Pak Adrian. Maaf mengganggu, Pak. Ini saya mau mengonfirmasi kalau asisten baru Bapak yang namanya Mbak Ariana baru saja sampai di lobi bawah. Tadi dia terlambat karena ban mobilnya kempes di jalan tol. Jadi Mbak Ariana sudah saya arahkan untuk langsung naik dan menunggu di ruangan Bapak.”

1
Alia Chans
Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Agatha soul: terima kasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!