Lin Xiu returned to civilization confident and proud after training with a master who cannot be named on a celestial island cut off from the real world. In his quest to uphold justice, he courageously picks fights with elites in the community wreaking havoc among the rich and the powerful. Be it ghosts, spirits, or seniors of the daoist association, he is fearless. Will the little girl Xiao Tong stay a little girl as she accompanies him on his journey to track down the rest of his friends from the orphanage they once shared?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Jejak Penatua
Setelah kekacauan besar di *Club Mirage*, nama Lin Xiu benar-benar menjadi momok yang menakutkan bagi eselon atas Kota Jiangnan. Konsorsium Empat Besar langsung mengadakan rapat darurat, sementara Asosiasi Daoist Jiangnan memperketat penjagaan di markas faksi mereka.
Namun, di dalam *Dragon’s Crest Villa* Nomor 1, suasana justru terasa sangat hangat.
Er Gou dan Mei Mei sudah selesai dibersihkan dan diobati menggunakan *Embun Penyembuh Surgawi*. Mereka berdua kini lahap menyantap makanan mewah yang disediakan oleh pelayan kiriman Keluarga Wang.
"Pelan-pelan makannya, Er Gou, Mei Mei. Gak bakal ada yang berani rebut makanan kalian lagi," kata Lin Xiu sambil tersenyum hangat, sangat berbeda dengan sosok dewa kematian yang menghajar puluhan master di pasar gelap tadi.
Er Gou meletakkan sumpitnya, matanya yang tajam menatap Lin Xiu dengan penuh rasa kagum sekaligus penasaran. "Kak Lin Xiu... kekuatan Kakak tadi... itu beneran ilmu kultivasi? Keren banget! Aku juga mau jadi kuat kayak Kakak biar bisa ngelindungin Mei Mei sama Xiao Tong!"
Lin Xiu tertawa kecil, lalu menepuk pundak Er Gou. "Tubuhmu punya *Tulang Perunggu*, Er Gou. Itu bakat yang langka banget buat jalur bela diri fisik. Mulai besok, Kakak bakal ajarin kamu teknik *Tubuh Emas Sembilan Matahari*. Tapi sebelum itu, Kakak mau nanya sesuatu."
Ekspresi Lin Xiu berubah serius, membuat ketiga anak panti itu ikut terdiam. "Xiao Tong bilang, Da Xiao—kakak tertua kita—dibawa oleh seseorang dari Asosiasi Daoist karena katanya punya bakat spiritual khusus. Kalian tahu di mana dia sekarang?"
Er Gou dan Mei Mei saling berpandangan dengan raut wajah ketakutan.
"Aku tahu, Kak," kata Er Gou dengan suara bergetar. "Waktu aku masih dikurung di sel bawah tanah Mirage, aku sempat dengar percakapan para pengawal. Mereka bilang... Kak Da Xiao dibawa langsung ke Menara Kultivasi pusat milik **Penatua Mo**. Tapi... dia bukan dijadikan murid."
"Maksudmu?" Lin Xiu menyipitkan matanya.
"Mereka bilang... Kak Da Xiao punya *Jiwa spiritual murni*. Penatua Mo mau mengorbankan Kak Da Xiao dalam ritual gerhana bulan merah lima hari lagi untuk menyerap seluruh energinya demi menembus tingkat *Grandmaster*!" Mei Mei menyela sambil menangis, mengingat nasib kakak tertua mereka yang teramat tragis.
*BRAK!*
Meja marmer di depan Lin Xiu retak seketika oleh tekanan energi murni yang keluar dari tubuhnya tanpa sengaja. "Mengorbankan manusia demi kultivasi... Bajingan tua itu benar-benar menantang maut."
Tepat pada saat itu, Xiao Tong tiba-tiba mengerang pelan. Dia memegangi dadanya, wajahnya mendadak memucat dan keringat dingin bercucuran.
"Xiao Tong?!" Lin Xiu langsung bergerak kilat, menangkap tubuh Xiao Tong sebelum jatuh dari kursi.
Saat Lin Xiu memeriksa nadinya, dia terkejut. Segel kuno *Konstitusi Spiritual Tersembunyi* di dalam tubuh Xiao Tong tiba-tiba bergejolak hebat, melepaskan gelombang hawa dingin yang luar biasa. Anehnya, hawa dingin ini seolah-olah merespons energi amarah Lin Xiu tadi. Tubuh Xiao Tong perlahan memancarkan pendaran cahaya biru es yang samar.
*Sial, segelnya mulai retak karena pengaruh energi murniku,* batin Lin Xiu panik. Dia segera menempelkan telapak tangannya ke punggung Xiao Tong, mengalirkan *Zhenqi* Sembilan Matahari miliknya yang hangat untuk menekan kembali hawa dingin tersebut.
Setelah beberapa menit yang menegangkan, napas Xiao Tong kembali stabil dan cahaya biru itu meredup. Dia pingsan karena kelelahan di pelukan Lin Xiu.
"Er Gou, jaga Mei Mei dan Xiao Tong di kamar atas. Jangan keluar apa pun yang terjadi," perintah Lin Xiu dengan nada yang tak terbantahkan.
"Siap, Kak!" Er Gou mengangguk tegas, langsung membantu memapah Xiao Tong ke lantai atas.
Lin Xiu berjalan ke balkon vila, menatap langit malam Kota Jiangnan. Emosinya benar-benar tersulut. Da Xiao dalam bahaya maut, dan rahasia tubuh Xiao Tong harus segera dipecahkan sebelum terlambat.
*Drrrt... Drrrt...*
Ponsel di saku jas Lin Xiu bergetar. Itu adalah panggilan dari nomor asing, namun Lin Xiu sudah bisa menebak siapa yang menelepon.
Begitu tombol hijau digeser, terdengar suara tawa yang berat, berwibawa, namun penuh dengan hawa licik di seberang sana.
"Hehehe... Lin Xiu, kan? Pemuda luar biasa yang meratakan kediman Keluarga Wang dan menghancurkan pasar gelap Mirage milik Konsorsium."
"Penatua Mo?" Lin Xiu menjawab dingin, langsung ke inti masalah.
"Tepat sekali. Aku sudah menerima pesan yang kau titipkan pada Penatua Gu si sampah itu," suara Penatua Mo terdengar sangat santai, seolah-olah dia tidak menganggap ancaman Lin Xiu sebagai sesuatu yang serius. "Kau ingin kepalaku? Menarik sekali. Jarang ada anak muda dari dunia luar yang punya nyali sebesar ini di Jiangnan."
"Lepaskan Da Xiao, dan aku mungkin akan memberimu kematian yang cepat," kata Lin Xiu tanpa ekspresi.
"Hahaha! Lepaskan dia? Bocah ingusan, apa kau tahu seberapa berharganya *Jiwa Spiritual Murni* miliknya untuk kultivasiku? Dalam lima hari, dia akan menjadi batu loncatanku untuk menguasai kota ini!" Penatua Mo terkekeh sinis. "Tapi tenang saja, aku tidak akan membuatmu menunggu lama. Jika kau ingin menyelamatkannya, datanglah besok malam ke **Kuil Anggrek Hitam** di pinggiran barat Jiangnan. Aku sudah menyiapkan 'pesta penyambutan' khusus untukmu."
"Umpan yang murahan," cibir Lin Xiu. "Tapi aku akan datang. Siapkan saja peti matimu sendiri."
"Aku tunggu kedatanganmu, Dokter Surgawi," kata Penatua Mo sebelum memutus sambungan telepon.
Lin Xiu meremas ponselnya hingga hancur menjadi serpihan plastik dan besi di tangannya. Dia tahu Kuil Anggrek Hitam pasti sudah dipasangi formasi jebakan maut dan ratusan ahli mistis Asosiasi Daoist. Penatua Mo sengaja memancingnya keluar agar bisa menghabisinya sebelum ritual gerhana bulan dimulai.
Namun, di hadapan kekuatan mutlak dari Pulau Surgawi, semua taktik kotor dan jebakan kaum elite hanyalah lelucon yang sia-sia.
Lin Xiu tersenyum sinis, matanya berkilat tajam membelah kegelapan malam. "Besok malam... Asosiasi Daoist Jiangnan akan kehilangan satu penatua lagi."