Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Kebenaran yang Mengancam
Putra melesat naik mobilnya, meninggalkan kediaman Jenderal dalam kecepatan tinggi. Pesan singkat itu terus berputar di kepalanya, membakar segala keyakinan yang ia bangun bertahun-tahun. Ayahmu tidak dibunuh Haris Lestari… ada bukti asli… Kalimat itu menghantam dadanya lebih keras daripada peluru di medan perang. Selama ini ia hidup dengan satu tujuan: menghancurkan keluarga Lestari demi membalas darah orang tuanya. Ia menikahi Citra sebagai alat, menjadikan wanita itu sasaran kemarahannya, dan kini… ada kemungkinan besar semuanya adalah kesalahan fatal.
Di belakangnya, Citra berdiri terpaku di teras. Hatinya berdebar kencang, penuh kekhawatiran. Ia tidak tahu pesan apa yang dilihat Putra, tapi ekspresi wajah suaminya campuran keterkejutan, rasa bersalah, dan ketakutan menjadi tanda jelas bahwa sesuatu yang besar dan berbahaya baru saja terjadi. Tanpa berpikir panjang, Citra kembali masuk ke ruangan, berpamitan dengan tuan rumah dengan alasan suaminya dipanggil tugas mendadak, lalu segera menyusul menggunakan kendaraan sendiri. Naluri dokter dan perasaannya sebagai istri berteriak serentak: Putra dalam bahaya.
Di dalam mobilnya, tangan Putra memegang setir dengan gemetar. Gudang lama di pelabuhan. Tempat itu adalah kawasan terbengkalai, gelap, dan jauh dari pemukiman tempat yang sangat berisiko bagi siapa pun yang datang sendirian. Logika seorang prajuritnya berteriak waspada, namun rasa ingin tahu dan beban masa lalu mengalahkan segalanya. Ia harus tahu kebenaran, walau nyawanya jadi taruhan. Ia tidak bisa membiarkan Citra atau keluarganya terus dibenci jika memang mereka tidak bersalah. Pikiran pada wajah Citra yang selalu penuh pengertian, yang selalu berusaha lembut meski sering ia lukai, membuat dadanya terasa sesak luar biasa. Tuhan… apa yang sudah aku perbuat padanya? batinnya mengerang pedih.
Sesampainya di pelabuhan, suasana sunyi senyap. Angin laut bertiup kencang membawa aroma garam dan minyak tanah. Putra mematikan mesin dan lampu kendaraannya, turun perlahan sambil meraba gagang senjata di pinggangnya. Ia berjalan menyusuri bangunan-bangunan gudang yang berkarat dan lapuk. Hati-hati, ia mengintai setiap sudut, matanya yang terlatih meneliti setiap gerakan kecil di kegelapan.
Di sebuah gudang paling ujung, pintunya terbuka sedikit, menyisakan celah cahaya remang dari dalam. Putra menarik napas panjang, lalu masuk perlahan. Di sana, di tengah ruangan yang berdebu dan penuh kotak kayu tua, berdiri sesosok pria tua bertongkat, wajahnya tertutup sebagian bayangan namun sorot matanya sangat dikenang oleh Putra.
"Paman Rahmat?" seru Putra kaget. Itu adalah ajudan setia ayahnya yang dianggap hilang tewas di kejadian naas itu bertahun lalu.
Pria tua itu menoleh, matanya berair menatap sosok Letnan Kolonel yang kini tegap berdiri di depannya. "Anakku… Putra. Maafkan aku harus menghubungimu dengan cara ini. Hidupku terancam jika aku terlihat di tempat umum."
"Kau masih hidup… Tapi pesanmu tadi… apa maksudmu? Ayahku dibunuh Haris Lestari, bukan? Semua laporan, semua bukti yang aku temukan dulu menunjuk ke sana!" seru Putra, suaranya bergetar menahan emosi yang berkecamuk.
Rahmat menggeleng pelan, wajahnya penuh duka. "Itu diatur, Nak. Semua diatur. Haris Lestari memang ada di lokasi kejadian malam itu, tapi dia hanya korban jebakan. Dia dipaksa hadir, lalu dijadikan kambing hitam. Pelaku sebenarnya adalah orang yang paling kau percayai, orang yang kini duduk di kursi tinggi, orang yang paling dihormati di lingkunganmu."
Putra terhuyung mundur, rasa pusing menyerang kepalanya. "Siapa… siapa yang kau maksud?"
"Jenderal Adi Wijaya," jawab Rahmat pelan namun tegas.
Nama itu seperti petir di siang bolong. Jenderal Adi adalah mentor ayahnya, orang yang membesarkan karir Putra, orang yang selama ini dianggapnya sebagai ayah kedua. "Tidak mungkin… Paman salah lihat!" bantah Putra keras kepala.
"Aku ada di sana malam itu. Aku melihat semuanya. Adi menginginkan jabatan ayahmu, menginginkan kekayaan keluarga kita, dan menginginkan akses bisnis pelabuhan ini. Dia merencanakan kecelakaan itu, lalu menanam bukti palsu pada Haris Lestari yang saat itu sedang bermasalah bisnis dengannya. Aku selamat karena berpura-pura mati, dan sejak itu aku hidup dalam persembunyian menunggu waktu yang tepat untuk bicara," jelas Rahmat, lalu mengeluarkan sebuah kaset pita dan selembar dokumen dari saku jas lusuhnya.
"Ini rekaman percakapan dan surat-surat perintah asli. Bukti bahwa Adi lah dalang sebenarnya. Dia yang membuatmu membenci keluarga Lestari, dia yang diam-diam mendorongmu menjodohkan diri dengan Citra agar kau bisa menghancurkan mereka, sementara dia tertawa di belakang layar melihat kalian saling membunuh."
Dunia Putra rasanya runtuh seketika. Semua kebencian, semua rencana balas dendam, semua rasa sakit yang ia berikan pada Citra dan keluarganya… semuanya didasari kebohongan yang disusun musuh sesungguhnya. Ia baru saja menyakiti wanita yang mungkin adalah orang paling tak bersalah, atas perintah musuh besar ayahnya sendiri. Rasa bersalah yang luar biasa menyergapnya, jauh lebih menyakitkan daripada luka fisik apa pun.
Tiba-tiba, suara langkah kaki banyak terdengar dari luar gudang. Suara kendaraan dan terangan lampu sorot menerobos masuk lewat celah dinding. Rahmat mengerutkan dahi khawatir.
"Mereka sudah tahu aku ada di sini. Mereka mengikutimu, Putra!"
"Siapa? Jenderal Adi?" tanya Putra bersiap menarik senjatanya.
"Pasukan khusus bawahannya. Mereka dikirim untuk memusnahkan jejak dan memastikan bukti ini hilang selamanya. Dan sekarang kau ada di sini… kau juga jadi target mereka karena kau sudah tahu kebenarannya."
Pintu gudang terbuka lebar. Belasan orang berseragam lengkap dengan senjata siap bidik berdiri mengelilingi tempat itu. Di barisan paling belakang, muncullah sosok tua bertubuh gemuk dengan senyum licik yang selama ini disembunyikannya. Jenderal Adi Wijaya.
"Ah, Putra anakku… Sayang sekali kau harus tahu hal-hal yang tidak perlu kau ketahui," ucap Jenderal Adi dengan nada lembut namun penuh ancaman mematikan. "Kau anak yang cerdas dan berani, persis seperti ayahmu. Itulah sebabnya kau berbahaya jika tidak bisa dikendalikan. Kupikir dengan membuatmu sibuk membenci keluarga Lestari, kau tidak akan pernah menggali masa lalu. Ternyata aku salah."
"Tuan… Anda yang membunuh ayahku… Anda yang menjebak Pak Lestari… Anda yang membuatku hidup dalam dendam kosong ini!" bentak Putra, matanya memerah menahan amarah yang membara, kali ini bukan pada keluarga Lestari, melainkan pada orang yang berdiri di depannya.
"Semua demi kemajuan, Nak. Dan sekarang, kau dan Rahmat harus lenyap. Kabar yang akan tersebar: Letnan Kolonel Setiawan gugur saat membongkar jejak kejahatan keluarga Lestari yang ternyata masih berbahaya. Nama harummu akan dijaga, dan kebenaran ini akan terkubur selamanya."
Saat senjata mulai diarahkan tepat ke dada Putra dan Rahmat, terdengar suara deru mobil lain yang melaju kencang mendekat, disusul suara sirine kendaraan dinas yang membelah malam. Sebuah mobil sedan meluncur cepat dan berhenti tepat di depan gerbang gudang. Pintu terbuka, dan sosok wanita bergaun malam biru tua berlari keluar dengan wajah penuh ketakutan namun penuh tekad.
"Citra?!" seru Putra kaget dan panik sekaligus. Kenapa dia ada di sini?! Kenapa dia mengikuti aku?
Citra berdiri di hadapan barisan pasukan itu, tubuhnya gemetar namun ia tetap berdiri tegak, di antara Putra dan todongan senjata. Ia tidak peduli bahaya, ia hanya tahu ia tidak akan membiarkan suaminya mati.
"Mundurlah, Citra! Pergi dari sini!" teriak Putra berusaha melindungi istrinya, namun Jenderal Adi tertawa lebar.
"Wah, lengkap sudah perayaannya. Putri Lestari sendiri yang datang menyerahkan diri. Ini akan jauh lebih mudah. Setelah kalian mati berdua, aku akan pastikan keluarga Lestari ikut musnah, dan ceritaku akan sempurna."
Jenderal Adi memberi isyarat tangan. Satu orang pasukan melangkah maju, mengarahkan laras senjata tepat ke arah dada Citra. Putra berusaha menerjang ke depan namun ditahan dua orang bersenjata lainnya. Rahmat sudah jatuh terkapar terkena pukulan.
"Jangan sentuh dia! Dia tidak ada hubungannya dengan ini!" raung Putra, air mata amarah dan kepedihan akhirnya jatuh membasahi pipi gagahnya. "Ambil nyawaku saja, tapi lepaskan dia!"
"Maaf, Putra. Dia adalah bagian dari masalahmu, dan semua bagian harus dibersihkan," ucap Jenderal Adi dingin.
Di detik kritis itu, saat peluru hampir melesat, Citra yang terlatih sebagai dokter dalam situasi gawat darurat dengan sigap mengambil potongan kayu besi di dekat kakinya dan menghantam kaki prajurit di depannya, lalu berbalik menarik tangan Putra yang terlepas sejenak dari cengkeraman.
"Lari, Mas! Sekarang juga!" seru Citra berteriak.
Namun jalan keluar sudah tertutup. Mereka terpojok di sudut gudang, dikelilingi musuh yang jauh lebih banyak dan bersenjata lengkap. Putra menarik Citra ke dalam pelukannya, memosisikan tubuhnya sebagai tameng bagi wanita itu. Di detik itu, di tengah bahaya maut, rasa benci, dendam, dan jarak di antara mereka lenyap sepenuhnya. Yang tersisa hanya cinta yang menggebu dan tekad untuk saling melindungi.
Putra menatap wajah Citra lekat-lekat, matanya penuh penyesalan mendalam dan kasih sayang yang akhirnya berani ia akui.
"Maafkan aku… Maafkan aku karena sudah membencimu, menyakitimu, dan menuduh keluargamu. Aku bodoh sekali, Citra. Kau tidak bersalah sama sekali," bisik Putra parau, suaranya bergetar namun penuh ketulusan. "Kalau kita selamat dari sini… aku berjanji akan menebus semua rasa sakitku padamu seumur hidupku. Aku mencintaimu, Citra. Lebih dari nyawaku sendiri."
Citra menatap balik, air mata mengalir deras namun tersenyum lembut. "Aku tahu, Mas. Aku selalu tahu. Dan aku juga mencintaimu… apa pun yang terjadi."
Di depan mereka, Jenderal Adi tersenyum sinis sambil mengangkat pistolnya sendiri, siap menembak tepat ke arah dua hati yang akhirnya bersatu itu.
"Selamat tinggal, anak-anak bodohku. Nikmati akhir kisah tragis kalian."
Jenderal menarik pelatuknya… namun terdengar suara tembakan lain yang lebih dulu memecah keheningan malam tapi bukan dari arah Jenderal, melainkan dari atap gudang yang gelap.
Bersambung...