NovelToon NovelToon
Sistem: Suplai Tak Terbatas

Sistem: Suplai Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.

Ia hanya ingin kaya.

Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.

Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 - Di Balik Topeng VIP dan Insting Bertahan Hidup

Kancing manset berbahan platinum itu berbunyi klik ringan.

Wan Chen menarik kerah kemejanya sejari. Jas hitam pekat kini membalut rapat bahunya. Tidak ada lagi sisa tanah Hutan Besi. Tidak ada lagi anyir darah yang menempel di balik lehernya.

Lin Yu Yan nyaris menahan napas saat sosok itu melangkah keluar dari suite. Wanita yang kini merangkap status sebagai asisten dadakan itu langsung menunduk. Matanya menghindari kontak langsung.

"Jalannya sudah bersih?" tanya Wan Chen pelan.

"Kendaraan lapis baja sewaan sudah menunggu di pelataran bawah. Khusus jalur tamu elit." Lin Yu Yan menjawab cepat.

Mereka turun dalam diam. Roda baja kendaraan khusus itu melibas mulus jalanan distrik pusat yang terang benderang. Tidak ada lubang aspal. Tidak ada monster nyasar. Hanya pendar neon yang mencetak bayangan angkuh gedung-gedung tinggi Zona Aman Elit.

Balai Lelang Era Baru berdiri layaknya benteng raksasa di ujung jalan raya. Pilar-pilar granit menopang atap kaca yang berpendar emas.

Antrean panjang mengekor di pintu utama. Para hunter bayaran dengan zirah lecet. Saudagar kelas menengah yang memeluk tas berisi kristal monster. Mereka semua berdesakan di jalur verifikasi standar.

Wan Chen tidak menoleh sedikit pun ke arah kerumunan itu.

Ia berjalan lurus melewati garis batas. Seorang staf keamanan berbadan tegap maju satu langkah, bersiap menghentikan penyusup.

Satu lambaian plakat emas dari tangan Lin Yu Yan menghentikan gerakan staf itu di udara. Raut wajah sang penjaga berubah pucat seketika. Ia menunduk dalam, membuka tali pembatas beludru merah tanpa berani meminta pemindai retina.

Pintu elevator khusus tamu VIP terbuka. Kaca tebal antipeluru langsung menutup begitu Wan Chen dan Lin Yu Yan melangkah masuk.

Mesin pengangkat berdesis. Lantai demi lantai mulai tertinggal di bawah kaki mereka.

Sunyi yang merayap di dalam kabin kaca itu terasa menekan. Wan Chen hanya berdiri diam, matanya terpaku pada pantulan kota di luar kaca.

"Kau bisa saja lari saat mengurus token ini." Wan Chen memecah kesunyian tanpa memutar kepalanya. "Membawa lari sisa uang operasional. Atau menjual namaku pada faksi lain."

Lin Yu Yan meremas ujung lengan kemejanya. Napasnya tertahan sebentar.

"Tidak, Aku memang hidup di jalanan dengan cara kotor," jawab Lin Yu Yan pelan. Suaranya sedikit bergetar. "Tapi aku lebih mempercayai firasatku dalam bertahan hidup."

Wan Chen memutar tubuhnya perlahan. Matanya menatap datar wanita di sudut kabin.

"Hanya karena itu?" selidik Wan Chen.

Lin Yu Yan menggigit bibir bawahnya. Tangannya merogoh saku, lalu membiarkan telapak tangannya terbuka kosong di udara.

"Ini lebih pada kemampuan bawaanku," tukas wanita itu. Ia menarik napas panjang. "Aku punya sebuah Gift. Skill bawaan sejak awal aku bangkit. Namanya Enchanted-Survival Sense."

Alis Wan Chen terangkat sebelah.

"Insting untuk menghindari bahaya," lanjut Lin Yu Yan, nadanya kini lebih stabil. "Itu alasan utama kenapa scout sepertiku bisa keluar masuk selokan Rift dan tetap bernapas. Kemampuanku berteriak setiap kali maut mendekat."

"Lalu?"

"Lalu..." Lin Yu Yan menatap lurus mata Wan Chen untuk pertama kalinya malam ini. "Setiap kali otakku merencanakan pengkhianatan padamu sejak awal kita bertemu... instingku menjerit, menjerit bahwa kau berbahaya... Juga perasaan aman yang aneh."

Hening kembali merampas udara elevator.

Wan Chen tidak merespons dengan senyum meremehkan. Ia tidak menganggap lelucon pengakuan itu.

'Kejujuran yang didasari rasa takut jauh lebih berharga daripada sumpah setia yang buta,' batin Wan Chen.

Logika bertahan hidup. Ia sangat memahami bahasa itu. Jika ketakutan adalah tali kekang yang menahan wanita ini, maka ia akan memastikan tali itu tidak pernah putus.

"Keputusan yang bagus," balas Wan Chen singkat. Ia kembali menghadap pintu kaca elevator tepat saat angka di layar menyentuh lantai tertinggi.

Denting pelan berbunyi. Pintu bergeser terbuka.

Seorang pelayan berjas rapi sudah berdiri menanti. Ia membungkuk dalam, lalu memandu mereka menyusuri koridor berkarpet merah gelap menuju satu bilik privat di ujung lorong.

Bilik VIP nomor nol.

Ruangan itu menggantung tepat di atas aula utama balai lelang. Kaca tebal satu arah membentang lebar di bagian depan. Sofa kulit hitam mengitari meja marmer yang sudah disajikan sebotol minuman tua. Di sudut meja, layar terminal anonim berkedip siaga.

Wan Chen melepas satu kancing jasnya. Ia menjatuhkan diri ke sofa kulit. Tubuhnya meresap ke dalam bantalan empuk itu. Tangannya meraih gelas kristal berisi cairan merah marun.

Bau anggur pra-kiamat menyengat hidungnya. Ia meneguknya pelan.

'Nyaman,' pikirnya. 'Sangat nyaman sampai membuat otot mudah membusuk.'

Lin Yu Yan tidak ikut duduk. Ia melangkah mendekati kaca satu arah, memandang ratusan kepala yang mulai memenuhi kursi pelelangan di lantai bawah.

"Kau lihat pria gemuk di barisan paling depan? Yang memakai jubah sutra hijau?" tunjuk Lin Yu Yan ke bawah. "Itu Ketua Faksi Gagak. Kudengar paru-parunya mulai mengeras karena racun Miasma. Dia butuh penawar tingkat tinggi secepatnya."

Wan Chen ikut menatap ke bawah dari posisinya. Layar terminal di sebelahnya menampilkan denah tempat duduk yang terhubung langsung dengan sistem lelang.

"Lalu wanita berseragam militer di bilik VIP seberang kita," Lin Yu Yan melanjutkan tugasnya. "Kapten Hunter elit dari Distrik Tujuh. Seluruh tim utamanya cacat permanen setelah raid bulan lalu. Uangnya tidak berseri, tapi dia butuh obat regenerasi jaringan parah."

Wan Chen meletakkan gelas kristalnya. Denting pelan beradu dengan marmer meja.

Matanya menyapu seluruh aula. Mereka bukan manusia. Di mata Wan Chen, faksi-faksi besar yang saling lempar senyum palsu di bawah sana hanyalah lumbung sumber daya. Kumpulan orang-orang yang terlalu lama hidup nyaman hingga lupa cara menghadapi kematian.

Ketukan palu kayu menggema dari pengeras suara.

Seorang pria tua dengan rambut perak berdiri di atas panggung utama. Juru lelang. Aula mendadak senyap.

Pelelangan bergulir. Senjata modifikasi dipamerkan. Inti monster tingkat menengah dilepas di angka puluhan ribu kredit. Sorak-sorai tawar-menawar memenuhi ruangan bawah. Para elit saling sikut lewat papan angka.

Wan Chen menopang dagu. Bosan.

Harga yang dilempar di bawah sana tidak lebih dari recehan yang dibakar untuk barang rongsokan.

'Saatnya bekerja,' batin Wan Chen.

Jari telunjuknya mengetuk layar terminal anonim di atas meja. Ia menembus sistem menu, mengabaikan daftar barang yang sedang berjalan. Jari-jarinya mengetikkan satu baris perintah langsung menuju bilik penilai (appraiser) rahasia di ruang bawah tanah balai.

Layar meminta validasi pengiriman barang.

Wan Chen memutar pergelangan tangannya. Kotak dimensionalnya terbuka kecil. Tiga tangkai Bunga Darah dengan warna merah sempurna termaterialisasi tepat di atas nampan transmisi khusus di samping terminal.

Cahaya pekat langsung menelan udara bilik VIP. Baunya menyesakkan.

Panel transmisi berdesis. Tiga bunga sakti itu tersedot ke bawah tanah dalam kedipan mata.

Di sistem, Wan Chen mengetik pesan singkat tanpa nama.

"Daftarkan ini sekarang. Kuantitas tiga. Kualitas sempurna. Tidak ada harga dasar."

Lima detik terlewat. Terminal penilai di ujung sistem terdiam.

Sepuluh detik. Tidak ada balasan masuk.

Di bawah sana, juru lelang baru saja mengangkat palu kayunya tinggi-tinggi. Ia bersiap menutup penawaran untuk sebuah inti monster berelemen api.

"Lima puluh ribu kredit untuk meja sembilan... ada yang berani l—"

Suara interkom di telinga juru lelang mendadak menyala terang. Pria tua di atas panggung itu tersentak. Palu kayunya berhenti menggantung di udara. Matanya mendelik lebar, nyaris melotot hingga urat matanya terlihat.

Keringat dingin seukuran biji jagung seketika menetes dari dahi sang juru lelang. Ia menelan ludah kasar. Tangannya yang memegang palu bergetar hebat.

Aula utama mulai dipenuhi kasak-kusuk kebingungan. Para pembeli elit berbisik satu sama lain melihat sang penanggung jawab acara mendadak bisu.

Juru lelang itu menurunkan palunya dengan canggung. Ia mengusap layar podiumnya dengan tangan gemetar. Tarikan napasnya terdengar keras menembus mikrofon, menyapu bersih sisa suara di seluruh aula.

"T-Tuan dan Nyonya..." Suara pria tua itu pecah berantakan. "Lupakan barang rongsokan di depan kalian."

Seluruh ketua faksi terdiam tegak.

"Kami baru saja menerima pasokan darurat dari ruang VIP." Juru lelang itu menekan tombol di mejanya. Layar holografik raksasa di belakang panggung meledak menjadi warna merah darah. "Acara malam ini... resmi diambil alih."

1
Yui
Karya ini sangat luar biasa, setelah baca novel ini aku jadi sedikit mengingat kenanganku yang telah lama menghilang, terimakasih Author 🔥🔥🔥🔥🔥
Ironside: /Toasted/
total 1 replies
Ironside
Ada error /Sweat/, biarlah, nanti di fix Editor
Gege
dan Wang Chen pun jualan obat...🤣😄
HiaTus
/Rose/
Wakana
wow sangat menarik & unik 👀
Ironside: Terima kasih telah membaca, semoga betah /Smile/
total 1 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir
ada insectnya gak kak?
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir: yah, kecewa kak.
total 2 replies
The Ironheart
darkfantasy ini kak☺️
Ironside: /Slight/
total 1 replies
Ironside
Pliss... Like, Subscribe dan Upvote jika kalian menyukai karya ini /Determined/.
Ironside: Mr. Willheim /Scare/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!